Rokok Terakhir Pram

“Bung Pram, jangan pergi dulu. Soeharto masih hidup.” Dari luar jendela rumah di Utan Kayu, Jakarta Timur, seseorang berteriak. Ia suara seorang sahabat yang ikut berkerumun di rumah Pramoedya Ananta Toer malam itu. Sejak sore hari itu sang pengarang besar dikabarkan sakit berat.

Bahkan ada isu Pram meninggal. Informasi itu sempat beredar melalui pesan pendek menyebar dari satu ponsel ke lainnya. Pram memang sedang sakit berat, ia sempat dirawat di rumah sakit, tapi berkeras minta pulang ke rumah. Siapa pun yang melihatnya terbaring waktu itu di rumahnya, setuju ia sedang sekarat. Tapi Pram belum mau pergi.

Ia berkaos oblong putih, dan memakai celana gombrong coklat. Tubuhnya tergolek di ranjang. Di sekelilingnya bersimpuh sanak saudara, kerabat, dan sahabat. Lampu di kamar itu agak temaram, tapi saya bisa melihat jelas wajah Pram.

 

Foto Pram saat sedang merokok

Matanya terpejam membentuk dua garis terputus yang terbenam di antara pelupuk mata dan dua tonjolan tulang pipi. Wajahnya yang tampak tirus masih memancarkan sikap keras, perangai tak mudah ditundukkan. Sesekali ia membuka matanya. Kadang ia hendak berbicara tapi tak terdengar ada suara, kecuali semacam gumam samar. Sungguh saya tak berharap dia pergi pada malam itu.

Suara seseorang dari arah teras rumah terdengar lagi. “Bung Pram jangan pergi dulu. Soeharto masih hidup,” ujar lelaki itu. Ia saya kenal sebagai seorang penulis isu-isu kebudayaan. Wajahnya risau melihat Pram yang sedang sakit berat. Beberapa tamu seperti ikut mengamini dengan suara-suara pemberi semangat agar lelaki yang tergeletak di ranjang itu mendapatkan kembali daya hidupnya.

Entah mendengar suara itu atau tidak, Pram menggeliat. Tangannya ingin menggapai sesuatu, tapi tak jelas apa yang hendak dicarinya. Ia mengeluarkan suara gumam lagi. “Rokok?”

Entah mendengar suara itu atau tidak, Pram menggeliat. Tangannya ingin menggapai sesuatu, tapi tak jelas apa yang hendak dicarinya. Ia mengeluarkan suara gumam lagi. “Rokok?” istrinya yang saat itu berada di sampingnya bersuara.

Pram rupanya minta rokok. Lalu seorang kerabat memberinya sebatang, tapi Pram tak mampu memegangnya dengan baik. Seseorang lalu membantunya, dan juga menyulut rokok itu, lalu membiarkan Pram mengisapnya beberapa tarikan. Tapi itu juga tak meredakan sakit Pram. Ia kembali bergumam. Lalu tertidur.

Pram memang tak segera pergi malam itu. Sejumlah tamu pulang setelah tahu Pram bisa istirahat dan berhenti bergumam karena sakitnya.

Sehari kemudian kabar duka itu datang. Pram meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Karet. Sejumlah sastrawan, aktivis, dan tokoh masyarakat datang menghadiri pemakamannya. Tak ada tembakan salvo atau penghormatan dari negara meski Pram ikut angkat senjata dan bergerilya melawan Belanda.

Sejumlah aktivis anti Orde Baru lalu menyanyikan lagu Darah Juang di makam yang masih basah itu, lagu gerakan mahasiswa yang pernah dinyanyikan di sekujur nusantara saat gerakan itu bangkit melawan kediktatoran rezim Soeharto. Juga terdengar lagu Internasionale dikumandangkan sekelompok pelayat, anak-anak muda yang mencintai Pram. Ia meninggal pada 30 April 2006, sehari sebelum perayaan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei. Kemarin tepat satu dekade hari kematiannya.

Pram dan kawan-kawannya pernah sangat menderita di bawah rezim Orde Baru. Ia sempat disingkirkan lama dan dipenjara di Pulau Buru.

Pram dan kawan-kawannya pernah sangat menderita di bawah rezim Orde Baru. Ia memang bergabung dengan Lekra, organisasi berafiliasi ke PKI, partai yang dituding Jenderal Soeharto sebagai dalang pembunuhan para jenderal TNI pada 30 September 1965.

Ia sempat disingkirkan lama dan dipenjara di Pulau Buru. Novel dan karyanya yang lain dilarang beredar, dan bahkan sejumlah sastrawan anti komunis masih terus menghujatnya sebagai biang penghancuran karya-karya sastra yang dianggap tak sejalan dengan revolusi saat Lekra berjaya di era 1950-60an.

Generasi baru, yang lahir jauh setelah tragedi 1965 itu, kemudian memuliakan kembali Pram. Di bawah penindasan kebebasan berpendapat di zaman Orde Baru, buku-buku Pram dibaca kembali sembunyi-sembunyi. Ada risiko ditangkap dan dipenjara dengan dakwaan undang-undang anti subversi, seperti dialami anak-anak muda di Yogya pada 1988.

Pram adalah sedikit dari para sastrawan era revolusi yang setia dengan pendirian dan kecintaannya terhadap bangsa, terutama agar bangsa ini bisa berdiri sama tingginya dengan bangsa lain, dan mengerti arti keadilan dan kebebasan.

Itu sebabnya tak ada sastrawan setelah Pram, terutama mereka yang berjaya setelah Lekra disingkirkan, bisa mendapat tempat sekuat Pram di hati generasi muda. Pram konsisten dengan sikap dan ia membayar lunas segala risiko pendirian politiknya itu tanpa harus mengemis ataupun meminta maaf pada Orde Baru.

Tak ada karya sastrawan dari zamannya yang dibaca oleh generasi muda dengan tangan gemetar di saat Orde Baru berkuasa.

Tak ada karya sastrawan dari zamannya yang dibaca oleh generasi muda dengan tangan gemetar di saat Orde Baru berkuasa. Pram mengisi jagad batin anak-anak muda yang digunting pengetahuan sejarahnya oleh orde pembungkam itu, sebuah rezim yang akhirnya terbukti berjalan mencong dari cita-cita revolusi 1945.

Lewat karya-karyanya itu semangat generasi baru dibentuk, dan menemukan kembali arti menjadi sebuah bangsa merdeka.

May 1, 2016

Nezar Patria
Nezar Patria, Digital Editor in Chief The Jakarta Post dan anggota Dewan Pers.