Sufisme Saridin, Putra Ki Ageng Kiringan

 

Masih banyak yang perlu digali dari kisah Saridin. Dikenal sebagai Wali Allah penuh karomah, Mbah Saridin punya sejarah panjang dengan berbagai macam versi dan terus menjadi buah bibir bagi masyarakat luas. Dari segi nama, ada yang menyebut Syekh Jangkung karena kisahnya bersama Sunan Kalijaga, meskipun aslinya sudah punya panggilan Sayyid Raden Syarifuddin. Serta ada juga yang menjulukinya Kiai Landoh, karena pernah memelihara Kerbau Landoh.

Melalui ringkasan Drs. W. Darmanto, Penilik Kebudayaan Kecamatan Kayen dalam “Saridin, Seri I” yang sumbernya didapat dari cerita lisan masyarakat sekitar, Ki Ageng Kiringan merupakan ayah angkat dari Mbah Saridin. Ki Ageng Kiringan alias Syekh Abdullah Asyiq, merupakan suami dari Dewi Limaran dan keduanya merupakan murid setia Sunan Muria. Kakak angkat Mbah Saridin, adalah Nyai Branjung, anak tunggal dari Ki Ageng Kiringan dan Dewi Limaran.

Darmanto menulis, ketika masih bayi, Mbah Saridin dilarung di aliran Sungai Tayu, Yitna. Dipondong Sunan Kalijaga, kemudian diberikan kepada Ki Ageng Kiringan yang sebelumnya telah bertirakat penuh tiga hari tiga malam di pinggiran sungai saat fajar sidiq tiba. Ibu kandung Mbah Saridin sendiri, disinyalir merupakan Dewi Sujinah.

Ada dua versi kisah kelahiran dan masa kecil Mbah Saridin. Versi pertama, dari kisah tutur masyarakat ada yang menceritakan bahwa Mbah Saridin merupakan anak kandung Sunan Muria dan Dewi Sujinah, sengaja dipondokkan ke tempat Ki Ageng Kiringan. Mengingat hubungan dekat antara dua keluarga; yaitu Syekh Muhammad Abdul Syakur, Bapak kandung dari Ki Ageng Kiringan yang merupakan santri kesayangan Sunan Muria.

Sementara versi kedua, menurut ringkasan Drs. W. Darmanto Mbah Saridin setelah ditemukan dari upaya pelarungan, dijadikan anak angkat karena Nyai Branjung meminta adik namun tak kunjung kesampaian. Selain itu, kisah Dewi Sujinah (dikenal juga Dewi Samaran) yang diusir dari padepokan Sunan Muria juga berpengaruh besar terhadap jalan kewalian Mbah Saridin. Bila ditarik kesimpulan secara runtut, Mbah Saridin memiliki nasab kewalian dari Sunan Muria, dinaikkan garis ke atas sampai pada nama Sayyidina Hasan cucu Kanjeng Nabi salallahualaihi wa salam. Namun mendapat gemblengan kanuragan dari tiga tokoh besar yakni Ki Ageng Kiringan, Sunan Kudus, serta Sunan Kalijaga.

Mbah Saridin memilih mondok di Sunan Kudus. Bertolak belakang dari tradisi keluarga Ki Ageng Kiringan yang fanatik pada ajaran Raden Umar Said (Sunan Muria). Selama di Kudus inilah karomah demi karomah dimunculkan Mbah Saridin. Mulai dari perdebatan bersama para santri sampai dengan guru sekaligus kerabatnya sendiri, Raden Ja’far Sodiq (Sunan Kudus).

Selama di Kudus inilah karomah demi karomah dimunculkan Mbah Saridin. Mulai dari perdebatan bersama para santri sampai dengan guru sekaligus kerabatnya sendiri, Raden Ja’far Sodiq (Sunan Kudus).

Hal-hal aneh (ikonik) melekat pada sosok Mbah Saridin yang dikenal sakti mandraguna. Seperti, menimba air dengan keranjang, ketika stok ember sudah habis dipakai para santri. Bersembunyi di bawah saptik-teng, untuk lari dari kejaran para santri selepas bikin onar. Sampai, munculnya epik pertentangan logika dengan Sunan Kudus bahwa menurut Mbah Saridin — di setiap ada air, di situ terdapat ikan. Sebagai pembuktian, buah kelapa muda pun dipecah dan ternyata memang di dalamnya ada seekor ikan.

Pementasan kisah Saridin disertai segala kesaktiannya, biasa dipentaskan grup seni Kethoprak Sri Kencono. Mbah Saridin juga sering disebut dalam naskah Babad Pati. Sementara di daerah Jogja, karena kesaktiannya Mbah Saridin dikenal sebagai tangan kanan andalan Sultan Agung, Raja Mataram.

Sufisme Syahadatain Saridin

Syekh (Syaikh) Abdul Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali memiliki perspektif tentang sufisme watak manusia demi menuju jalan kesejatian. Dijelaskan dalam Majmu’ah Rasail al Imam al Ghazali, cetakan I, halaman 101, yang terbit di Beirut. Pendapat intim tersebut ada pada bab “Raudlatutthalibin wa Umdatussalikhin”.

Dibagi menjadi tiga macam bagian; pertama biasa disebut tabiat. Pemberdayaan kepada watak diri untuk menjadikan diri berkepribadian baik. Berdasarkan keseimbangan unsur psikis (ruh, qalb, aql, nafs).

Bagian kedua, mengoptimalkan amal perbuatan baik yang searah dengan tata aturan sebagai hamba Allah, Jalla Jalaluhu. Sementara yang ketiga, memberdayakan akhlak dan amal baik sampai merasakan sepenuhnya hakikat mensyukuri segalanya. Dari semua bagian tersebut, Mbah Saridin membentuk karakter dirinya. Nyeleneh, tetapi waskita.

Hal serupa ditiru Samin Surasentika. Lebih jauh Mahatma Gandhi, dari bagaimana cara mereka melawan kepongahan dunia politik melalui jalan (nir) kekerasan. Lebih jauh, Mbah Saridin punya andil besar soal cara beliau menyikapi kehidupan. Kepada semua makhluk, dan hubungan sentimentilnya terhadap alam sekitar.

Salah satu contoh betapa Mbah Saridin memiliki hubungan yang sentimentil dengan alam sekitarnya, adalah kisah saat memelihara Kebo Landoh. Karomah yang beda dari kebanyakan orang nampak, yaitu tepat selepas salat di sekitaran tempat Kebo Landoh berbaring, kerbau tersebut dielus-elus tanduknya. Sekian waktu ekor Kebo Landoh mengibas pelan, tanda kehidupan telah kembali. Demikian bertuahnya tangan Sayyid Raden Syarifuddin, pada binatang yang sebelumnya dianggap tak bernyawa.

Sekian waktu ekor Kebo Landoh mengibas pelan, tanda kehidupan telah kembali. Demikian bertuahnya tangan Sayyid Raden Syarifuddin, pada binatang yang sebelumnya dianggap tak bernyawa.

Dilansir dari bangkitmedia.com, artikel berjudul “Sejarah dan Suluk Saridin (Syekh Jangkung) Pati yang Menggetarkan Hati” menuliskan sub-bab tentang Syahadatain. Selain itu, Suluk Syekh Jangkung, juga dituliskan secara rapi oleh Alang Alang Kumitir. Mulai dari caranya bermakrifat, sampai memaknai syariat.

Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep mantep ananing iman.

Asyhadu an la ila ha illallah, wa asyhadu anna Muhammad rasulullah. Tinucapo mawi lisan, sareh legowo tanpa pameksan, mlebet wonten njroning ati. Dadiho pusoko anggoning ngabdi.

Tan ana Pangeran, kang wajib den-sembah. Kejawi Gusti Allah, semanten ugi rasul Muhammad, kang dadi lantaran pinuturing umat.

Pada intinya, menjelaskan bahwa sudah semestinya orang yang memiliki iman kepada Islam bersyahadat. Secara sungguh-sungguh tanpa ada unsur paksaan. Nah, kata “tanpa unsur paksaan” inilah yang menjadi titik paling penting Mbah Saridin dalam upayanya memahami Islam sebagai rahmatan lil alamin. Sikap pluralis, yang diturunkan dari Sunan Kalijaga, untuk mengenalkan muka Islam yang amat kultural.

Orang-orang Jawa memang dikenal punya watak yang bebal bila menyangkut urusan menyikapi tradisi dan budaya. Sikap semacam itu disadari betul, sehingga muncul tradisi mistik tidak dianjurkan memakan daging sapi bagi orang Kudus, demi menghormati penganut Hindu. Tidak dianjurkan menyantap ikan mladang bagi orang Kajen, karena ikan tersebut pernah menyelamatkan Mbah Ahmad Mutamakkin dari musibah di laut lepas, sepulang berhaji. Termasuk, menyimpan lulang Kebo Landoh milik Mbah Saridin, sebagai jimat keselamatan.


Ilustrasi: Amazing Liquid Experiments by Alberto Seveso

Resza Mustafa
Aktif menulis sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk tahun 2013. Sempat bergabung dengan Gatra.com pada 2019 untuk menulis isu-isu politik, perkotaan, sosial dan budaya. Bisa di sama melalui akun istagram @resza_mustafa