Tentang Weton dan Kisah Cinta Pilu di Belakangnya

Beberapa bulan lalu tempat kami, Langgar.co, kedatangan tamu salah satu mahasiswa dari Kobe University, Jepang. Namanya Saki Maeta. Perempuan. Usianya masih sangat muda, kira-kira baru 21 tahun. Walaupun begitu, ia sudah menempuh jenjang pendidikan S2 di kota Kobe, kampusnya berada. Yang membuat saya kaget adalah ketika ia menceritakan maksud dan tujuannya. Yaitu ia tertarik untuk meneliti soal weton atau perhitungan Jawa. Suatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya di benak saya: seorang anak muda dari negeri jauh ingin meneliti salah satu khasanah pengetahuan kita yang hari ini mungkin sudah hampir banyak ditinggalkan oleh generasi muda Jawa.

Terlepas dari hal itu, soal maksud dan tujuan Saki Maeta di atas, saya jadi teringat salah satu peristiwa yang kadang membuat saya mau tidak mau harus belajar lagi terkait diskursus pengetahuan weton ini. Pasalnya, di Pantura daerah saya tumbuh dan besar, keyakinan perihal tradisi pengetahuan ini masih melekat begitu kuat dan menjadi satu instrumen penting dalam menentukan peristiwa daur hidup acara-acara masyarakat, terutama seperti acara pernikahan. Kaitannya dengan weton pernikahan ini, saya ingin bercerita terlebih dahulu agar konteks tulisan ini bisa tergambar dengan utuh.

Jadi, saya mempunyai teman dari daerah Pantura. Teman saya ini sedang gandrung dengan seorang perempuan. Saya tidak ingin menceritakan detil kenapa keduanya bisa dipertemukan. Apakah dari proses pandangan pertama atau yang lain, tentu saya tidak tahu. Singkat cerita, kedunya kemudian saling mencintai dan akhirnya menjalin hubungan khusus. Tetapi, setelah teman saya itu sudah mengikat dalam ikatan cinta, sebut saja pacaran, keduanya lantas memutuskan untuk saling memperkenalkan kepada orang tua masing-masing. Sebenarnya dalam proses saling mengenalkan pasangan satu sama lain ini menjadi hal biasa dalam suatu hubungan. Tapi yang tidak biasa adalah menurut kepercayaan dari pihak laki-laki, bahwa suatu hubungan harus sesuai dengan perhitungan weton seperti orang-orang tuanya pernah lakukan. Soal hitungan ini, pada dasarnya tidak menjadi soal selama kebetulan hitungannya pas/cocok dan sesuai. Namun naasnya nasib teman saya itu hitungan weton dengan calon yang akan dipinangnya, menurut pandangan orang tuanya––hasil tanya orang tua (orang pintar)––tidak baik, bahkan menandakan hal buruk. 

Hasil perhitungan weton tidak cocok itu lantas mengubah kisah cinta keduanya. Menurut teman saya, keputusan orang tua terutama bapaknya sendiri sudah bulat. Bahkan sudah tidak bisa diganggu gugat. Bagi bapaknya , soal hitungan ini menjadi batu pijakan pertama dalam menjalin suatu hubungan. Bapaknya meyakini bahwa weton sangat berpengaruh terhadap bahagia dan celaka dalam relasi rumah tangga.

Maka, sebagai anak yang berbakti, teman saya tampaknya pasrah dengan keputusan bapaknya yang kukuh itu sehingga akhirnya sampai tulisan ini dibuat, kabarnya hubungan mereka kandas. Saya sendiri tidak tahu persis bagaimana hasil dari hitungan weton antara mereka, sehingga membuat hubungan mereka tidak bisa diselamatkan.

Terlepas dari itu semua, yang ingin saya tekankan dari cerita di atas ialah di era hari ini dengan segala kemajuan gagasan rasionalnya, ternyata cengkeraman tradisi masih begitu kuat dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa terutama sebagian besar masyarakat Pantura, daerah saya. Dalam kasus di atas, bahkan sampai mengakibatkan kisah cinta teman saya akhirnya kandas. Saya tidak bisa membayangkan jika hal tersebut terjadi dalam diri saya, ketika saya sudah benar-benar mencintai pasangan saya, tiba-tiba hanya karena perhitungan weton ini saya tidak bisa menikahi calon pasangan saya. Suatu hal yang membuat saya bertanya, apakah tidak ada alternatif lain untuk memecahkan persoalan cinta dalam belenggu tradisi itu? Karena dengan penuh curiga, saya merasa dalam banyak tradisi yang tersisa di tengah masyarakat termasuk mengenai keilmuan weton ini banyak pengetahuan yang terputus, bahkan tidak terhubung lagi dengan gagasan awalnya. Maka dari itu, tulisan ini mencoba mendudukkannya.

Konsep Weton Dalam Jantung Keilmuan Jawa

Cerita singkat di atas sebenarnya sering saya temui dalam lingkungan sosial saya sendiri. Bahkan kasus tersebut terjadi dalam keluarga saya sendiri. Ceritanya sering kali berujung pada dilema. Dalam takaran tertentu, keluarga saya juga masih memegang  konsep hitungan weton, walaupun tidak terlalu fanatik. Bahkan sampai sekarang, Pak Lek (adik bapak saya) bisa dikatakan menjadi salah satu praktisi yang sering ditanya mengenai persoalan Weton banyak orang di desa. Konteks inilah, dengan pantikan cerita di atas, membuat saya tergerak untuk membaca ulang tradisi weton kesadaran orang Jawa hari ini.

Sebelumnya, saya ingin memulai dengan menelisik makna kata dan bagaimana logika keilmuan ini berkembang. Misalnya, kata weton dari kata wetu berarti lahir (derivasi: metu, artinya keluar—red), sedangkan weton berarti waktu kelahiran. Dalam kerangka keilmuan Jawa, weton dalam kategori primbon (asal: per-imbu-an, sesuatu yang di-imbu, disimpan—red) yang berarti simpanan, bentuknya kini berupa kitab catatan kumpulan ilmu-ilmu keseharian orang Jawa. Biasanya, dalam kitab primbon terdapat berbagai jenis keilmuan yang tersimpan. Mulai dari perhitungan hari-hari baik, peramalan nasib, peramalan watak manusia, ritual “slametan,” membaca karakter alam “pranata mangsa,” cara melakukan ritual pengantin, membuat rumah, jenis-jenis tumbuhan pengobatan, mantra tolak balak, dan ilmu kesaktian hingga rajah kekebalan. Sejauh ini yang saya temukan primbon itu dalam 11 jenis buku––mungkin jumlahnya bisa lebih banyak dari itu. Beberapa jenis primbon tersebut antara lain: Lukman Hakim, Betal jemur Adammakna, Atassadhur, Adammakna, Bektidjamal dan sebagainya.

Pertanyaannya kemudian dari mana nama-nama asing itu diambil? Setelah saya lacak lebih jauh, nama-nama tersebut ternyata terinspirasi dari Serat Menak. Sebuah kitab epos besar yang bernafaskan Islam dari Persia yang menceritakan paman Nabi Muhammad, Amir Hamzah yang kemudian populer di tanah Melayu dengan nama Hikayat Amir Hamzah. Cerita epos ini kemudian berkembang ke tanah Jawa yang hari ini menyisakan sekuel-sekuel cerita dalam bentuk lakon Wayang Golek dan tari Wayang Orang. Sebelumnya, Serat Menak digubah secara kreatif oleh pujangga besar Jawa Pangeran Yasadipura I, dari Kasunanan Mangkunegaran, sehingga melalui kitab gubahan ini nama-nama tokoh yang terdapat dalam kisah Menak dijadikan nama-nama buku primbon seperti diuraikan. Lebih jauh, saya sendiri kurang bisa menjelaskan perihal kenapa nama-nama primbon diidentikkan dengan serat tersebut. Tetapi seturut pelacakan saya memang dalam cerita Serat Menak, ada sekuel cerita yang diperankan Lukman Hakim, tokoh yang diberi anugerah oleh Tuhan mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan makhluk selain manusia, seperti hewan dan jin. Seperti dikisahkan bahwa dalam suatu perjalanan, Lukman bertemu salah satu jin, lalu oleh sang jin, ia diajari cara mengakses prenik-prenik keilmuan terkait daur hidup manusia. Dugaan saya, dari cerita itulah kemudian salah satu nama kitab primbon identik dengan nama tokoh tersebut.

Kita bisa ambil contoh lagi misalnya dalam kitab primbon Adammakna kategori petungan, dijelaskan panjang lebar bahwa konsep hari dan pasaran baik dan buruk sebenarnya didasarkan pada hukum kosmologi yang dipercayai masyarakat Jawa. Secara sederhana, konsep petungan ini didasarkan pada ilmu falak atau astrologi, yaitu ilmu yang mempelajari orbit dan garis edar bintang-bintang. Ilmu perbintangan ini merupakan salah satu jenis ilmu peninggalan peradaban lama. Bahkan, setiap bangsa-bangsa besar pasti mempunyai khasanah keilmuan ini.

Jika di peradaban Eropa kita mengenal Zodiak, di Timur Tengah Ilmu Falak, di China ilmu Shio, dan di Jawa kita mengenal Ilmu petungan weton ini.

Jamak kita ketahui bahwa perkembangan Islam di Jawa cukup mewarnai dialektika keilmuan petungan yang sebenarnya sudah ada sejak lama. Dalam kasus masyarakat Jawa Islam, ilmu falak lalu berkembang sedemikian rupa, dan puncaknya terjadi pada zaman Sultan Agung di paruh awal abad ke-17. Saat itu, entah dapat wisik seperti apa, Sultan Agung mempunyai gagasan untuk memadukan konsep penanggalan Jawa kuna (Saka) yang didasarkan pada perhitungan Matahari, Suryasengkala atau Syamsiyah, (lebih tepatnya Lunisolar, perpaduan matahari dan rembulan, seperti kalender Yahudi—red) dengan konsep perhitungan Islam (maksudnya Hijriyah—red) yang didasarkan pada hitungan bulan Candrasengkala atau Qomariyah. Hasil perpaduan itu pada akhirnya menjadikan penanggalan baru yang khas orang Jawa yang mungkin tidak ditemukan di tempat lainnya, dan penanggalan itu lamat-lamat masih dijadikan pandu oleh masyarakat kita hingga sekarang.

Melalui perubahan besar itulah lalu berkembang khasanah ilmu petungan weton, yakni ilmu untuk menghitung segala kebutuhan daur hidup manusia Jawa berdasarkan bulan dan hari-hari penting sesuai koridor peredaran bulan, matahari, dan bintang-bintang. Tidak hanya itu, turut berkembang pula ilmu “jangka”, bisa kita sebut “ramalan”. Jangka yang didasarkan pada perhitungan peredaran gerak alam semesta ini, tentu tidak sekonyong muncul begitu saja. Jika kita telisik lebih jauh, apa yang disebut jangka pada dasarnya adalah kemampuan orang zaman dahulu untuk membaca pola dari gerak alam, sehingga memunculkan ungkapan yang disebut “sasmita,” tanda-tanda atau gejala-gejala hukum alam yang tergelar di setiap waktunya. Melalui kemampuan membaca tanda-tanda alam itulah, leluhur kita mestrukturasi temuan-temuannya dengan berbagai pralambang, mulai dari angka-angka dan cerita mitologi yang sangat sistematis dan matematis untuk menjadi acuan agar manusia selalu bisa belajar dan selaras dengan gerak alam. Gagasan utamanya adalah bahwa setiap pergerakan semesta, dalam hal ini semua unsur alam seisinya pasti akan selalu berkorelasi dan mempengaruhi tumbuh kembangnya manusia. Pergerakan unsur-unsur alam yang dipengaruhi oleh peredaran alam semesta inilah yang akhirnya menjadi titik pijak, dan menjadi ilmu petungan berkembang.

Dari konteks sejarah dan teorisasi yang cukup rumit itu, saya kemudian mulai bisa memahami bahwa tujuan dari ini semua, leluhur kita sebenarnya ingin menciptakan tatanan hidup yang selaras antara manusia dan alam semesta. Karena, seperti ajaran yang tersimpan dalam serat dan babad, mereka selalu mengingatkan kita bahwa manusia sendiri pada dasarnya merupakan bagian dari alam yang juga terbentuk dari saripati unsur-unsur alam: mulai air, tanah, api, dan udara. Maka dari itu, manusia tentu tidak bisa lepas dari segala perubahan yang terjadi pada alam itu sendiri.

Belum lagi dalam kesadaran orang Jawa bahwa alam semesta ini terbagi menjadi dua, yaitu jagad gede (besar) dan jagad cilik (kecil). Jagat besar adalah semesta batin yang ada dalam diri kita, dan jagat cilik ini adalah alam semesta yang ada di luar diri kita. Kedua alam ini pada dasarnya saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Dari konsep antara dunia yang lahir dan yang batin ini, kemudian memunculkan satu paradigma atas relasi antara satu unsur alam dengan unsur yang lainnya yang saling terhubung antara manusia dan alam yang saling terikat dan tidak bisa dipisahkan. Jadi keutuhan pandangan antara realitas yang ada di luar dan di dalam ini menjadikan semua kejadian dari alam yang tergelar di luar manusia itu mempunyai pengaruh terhadap batin/jiwa yang berada di dalam diri manusia.

Dari gagasan dasar yang sangat filosofis tersebut, saya kemudian bisa membayangkan bagaimana konsep hitungan weton lebih spesifik pada urusan hubungan sebuah pasangan, pada akhirnya bisa menjadi satu pengetahuan yang sistematis dan logis. Bahwa setiap hari kelahiran yang didasarkan pada gabungan hitungan penanggalan Jawa (Saka) biasanya disebut pasaran dengan Islam (Hijriyah), semuanya menyimbolkan bilangan angka. Dalam bilangan angka itu, rekam jejak karakter manusia bisa dibaca, lalu dititeni (ditandai) menjadi simpul-simpul pengetahuan terkait diri seseorang. Misalnya dalam perhitungan Jawa seperti Pahing = 9, Wage = 5, Pon = 7, Kliwon = 8 dan Legi = 5, begitu pula perhitungan hari-hari dalam kalender Hijriah, hari Ahad 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9. Angka-angka dari kedua perhitungan tersebut lalu dijumlahkan. Seperti halnya saya lahir pada hari Senin Pon, berarti menunjukkan angka (4+7 = 11). Jumlah nominal 11 menunjukkan karakter seseorang yang interpretasinya bisa berbeda-beda.

Dalam konteks hubungan pernikahan jumlah nominal sebelas tersebut dijumlahkan dengan tanggal kelahiran sang calon pasangan dengan konsep perhitungan yang sama. Misalnya hari kelahiran pasangan saya Selasa Kliwon (3 + 8 = 11), dari angka 11 kemudian dijumlah dengan 11 dari saya, jadinya 22, artinya dalam buku primbon diprediksi akan berjodoh dan murah rezeki. Logika sederhana perhitungannya begitu. Tetapi lagi-lagi, hal tersebut tidak serta merta bisa kita yakini secara bulat begitu saja. Karena bagaimanapun kedudukan keilmuan ini masih sangat bersifat spekulatif. Hingga akhirnya saya sendiri mulai mencoba memposisikan bagaimana bangunan nalar keilmuan di konteks dunia modern hari ini.

Satu hal yang penting dicatat di sini ialah proses olah batin atau yang dilakukan oleh para leluhur, sehingga mampu merumuskan sistem tanda yang ada dalam keilmuan primbon ini. Karena yang saya pahami tidak mungkin muncul pengetahuan bersifat holistik seperti itu tanpa ada laku rohani atau tirakat sebelumnya. Jadi, kualitas rohani dalam hal ini mempunyai posisi penting. Karena seperti sedikit diulas tadi, bahwa penangkapan fenomena yang ada di luar tersebut tergantung sejauh mana seseorang bisa menyelam pada dunia batinnya. Walaupun begitu, yang harus digaris bawahi dalam khasanah keilmuan primbon ini, jika kita meminjam kerangka keilmuan Ki Ageng Suryamentaram baru masuk dalam level  “kawruh,” belum menjadi “ngelmu” (baca: ontologi ngelmu). Artinya primbon ini baru menjadi pengetahuan/informasi, tetapi belum menjadi ilmu yang mempunyai sifat kebenaran mutlak. Hal ini dijelaskan dalam pengantar buku-buku primbon bahwa apa yang ada dalam primbon bukanlah suatu kebenaran mutlak, tetapi menjadipengetahuan yang diisyaratkan dari catatan pengalaman lahir batin dari leluhur, sehingga semua penentu dari segala kejadian dikembalikan pada Gusti Allah.

Nalar Tradisi dan Kedudukannya Hari ini

Apa yang saya uraikan panjang di atas terkait bangun historis dan filosofis dari tradisi keilmuan weton, tentu akan lebih mempermudah kita untuk memahami kenapa tradisi pengetahuan tersebut bisa menyebar luas dan banyak diyakini oleh masyarakat Jawa. Namun di lain sisi, melalui hal ini kita bisa melihat diskoneksi dari beberapa fenomena yang terjadi, sebagaimana cerita di awal.

Gerak sejarah yang berjalan sedemikian rupa tentu banyak mempengaruhi operasionalisasi tradisi keilmuan Weton di tengah masyarakat. Tidak jarang keilmuan weton hari ini sudah menjadi dogma dan kehilangan fleksibilitasnya sebagai produk budaya. Dari hal itu, sebagai produk budaya tradisi weton mestinya berkembang secara dinamis mengikuti logika perkembangan zaman. Bukan semata merawat atau bahasa sekarang di-uri-uri, tetapi seharusnya harus ada upaya menumbuh-kembangkan, sehingga tradisi tersebut bisa terus relevan seiring pertumbuhan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini saya tidak sedang mengatakan bahwa tradisi weton sekarang tidak relevan, tetapi yang ingin saya katakan adalah tradisi seharusnya mampu terus di-ngelmui kembali, agar pengetahuan yang ada di dalamnya bisa terus hidup atau setidaknya terjelaskan bagaimana operasionalisasi gagasan tradisi tersebut di era hari ini.

Karena, dalam hipotesis saya, banyak tradisi kita hari ini terbelenggu pada  platform (bentuk), tetapi kehilangan spirit, esensi, dan nilai-nilai primer di dalamnya. Dengan demikian, tradisi hanya menyisakan dogma adiluhung yang harus dijaga, tetapi tidak menemukan relevansinya di tengah pertumbuhan logika zaman hari ini. 

Dalam kasus tradisi petungan weton itu sendiri, saya ingin mengatakan bahwa tradisi ini sedang mengalami apa yang saya sebut involusi. Dalam artian tradisi ini tidak mengalami pertumbuhan secara baik, tetapi sebaliknya, tradisi ini mengalami penurunan dalam arah gerak kejumudannya. Maka wajar ketika hari ini banyak orang dengan nalar modernitas dalam artian rasionya menggelinding sedemikian rupa, tradisi yang sebenarnya mempunyai akar jauh dalam jantung peradaban Jawa semakin dianggap tidak relevan, bahkan dikecam sebagai penghambat kemajuan.

Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi di masyarakat akar rumput, di satu sisi banyak dari mereka belum mau meninggalkan khasanah pengetahuan ini, tetapi di sisi lain mereka juga sudah banyak kehilangan nalar keilmuannya. Bahkan yang saya temukan, misalnya Pak Lek saya sendiri atau mungkin banyak praktisi weton lainnya, biasanya hanya mewarisi pengetahuan itu dari orang tuanya. Mereka biasanya hanya tahu cara menggunakan kerangka keilmuan ini hanya berdasarkan pada hafalan saja. Namun secara nilai rujukan dan kemampuan yang didasarkan pada kualitas rohani yang saya uraikan di atas hampir banyak yang tidak terjelaskan. Hal ini sering kali membuat persoalan baru, ketika penentuan hubungan hanya didasarkan angka-angka matematis weton yang mungkin bisa jadi benar, tetapi jika diulik lebih jauh konstruksi keilmuannya bisa jadi sangat rapuh jika dihadapkan pada bangun keilmuan rasional hari ini.

Padahal setelah saya ulik lebih jauh, keilmuan weton bisa jadi hanyalah pandu bagi seorang pasangan. Bahwa setiap manusia mempunyai karakter yang berbeda termasuk seorang pasangan yang sudah saling mencintai. Perbedaan yang dibaca melalui sistem tanda yang melibatkan unsur-unsur alam melalui kelahiran seseorang tersebut, dalam kerangka keilmuan weton sebenarnya bertujuan agar kedua pasangan saling memahami dan mengerti karakter masing-masing. Nah ketika kedua pasangan saling bisa memahami, hal itu diharapkan bisa membuat hubungan pernikahan lebih harmonis dan terhindar dari malapetaka perpisahan atau perceraian. Terus bagaimana bila sejak awal hitungan weton-nya sudah tidak cocok? apakah kita bisa memaksakannya? Tenang saja, sebenarnya ada mekanisme ketika kejadian ketika sudah saling mencintai tetapi secara hitungan tidak cocok, yaitu dengan adanya syarat. Biasanya hal ini diwujudkan dalam bentuk sesajen, hal ini sebenarnya sebagai bentuk doa agar banyak ketidakcocokan itu bisa terhindarkan dari kedua pasangan. Jadi karena hanya hitungan, jangan sampai hasil prediksi dari hitungan itu kita mutlakkan. Kendati demikian,tidak ada kehendak yang lebih menentukan dari Tuhan bukan?

Tabik


Daftar Bacaan

M. C. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa, Sejarah Islamisasi di Jawa dari 1930 sampai sekarang. Jakarta: Serambi.

Irfan Afifi. 2018. Saya, Jawa, dan Islam. Yogyakarta: Tanda Baca.

Nancy Florida. 2020. Jawa Islam di Masa Kolonial. Yogyakarta: Buku Langgar.

Ny. Siti Woeryan Soemardiyah Noeradya. Tahun 1979. Kitab Primbon, Antassadhur Seri Adammakna, Jilid ke Tiga. Yogyakarta. Soemodidjojo Maha Dewa.

–––––––––––––– Tahun 2008. Kitab Primbon, Lukman Hakim Adammakna Seri Adammakna, Jilid ke Tiga. Yogyakarta. Soemodidjojo Maha Dewa.

0
7