Tulisan ini adalah tanggapan atas berbagai pertanyaan yang muncul terhadap tulisan saya yang bertajuk “Revolusi COVID-19”. Komentar ini umumnya muncul di sosial media. Kalau saya tidak memiliki akses, ke sosial media terkait, misalnya grup Whatsapp, dengan berbagai cara komentar-komentar itu sampai pada saya. Saya menanggapi komentar-komentar itu dengan positif, dalam arti, tulisan itu dibaca. Berikut ini saya coba sampaikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan menjawabnya satu-satu.

Pertanyaan-pertanyaan saya ambil sendiri dari pesan, dan dengan demikian, sangat bisa terjadi kesalahan dalam bagaimana saya memformulasikan ulang pertanyaan tersebut, kalau merasa itu terjadi, sampaikan saja. Kepada beberapa pemilik komentar, saya sudah minta izin untuk meng-copy pertanyaannya dan menjadikannya sebagai bagian dari tanggapan ini, meskipun namanya tidak saya sampaikan. Ada banyak pemilik komentar yang memang saya tidak minta izin secara langsung/personal, namun karena komentar-komentar mereka muncul di media sosial, saya anggap izin melalui komunikasi personal itu tidak terlalu dibutuhkan. Kalau ada yang keberatan karena komentarnya muncul dalam bentuk tanya jawab ini, silakan kontak penulis secara langsung. Di atas semua itu, saya minta maaf karena tulisan itu ternyata jelek dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Berikut ini saya sampaikan dalam komentar-komentar tersebut dalam bentuk poin/tema komentar, komentar yang muncul, dan jawaban saya.

Tentang name-dropping

Komen (K): Name-dropping (bawa-bawa nama Latour dan Harvey)

Jawab (J): Saya memahamai name-dropping sebagai tindakan membawa nama orang terkenal untuk membuat diri pelakunya terlihat mengesankan. Saya tidak name-dropping. Saya punya kritik dan kebutuhan menyebut nama Harvey dan Latour. Harvey saya kritik. Dan bagiku poin kritiknya substansial. Harvey melihat kondisi sekarang akan membawa ke situasi “riot and revolution”. Atau dia melihat revolusi akan terjadi. Saya melihatnya revolusi sudah terjadi. Apakah itu tidak cukup substansial? Substansial dalam arti menempatkan tulisan saya dalam dunia diskusi Covid-19 yang sedang berlangsung, sekaligus menawarkan cara baru melihat dunia kita sekarang. Dan saya jelaskan dalam tulisan itu kenapa saya menganggap sudah terjadi revolusi.

Rasanya ada hal yang sangat mendasar di sini, yaitu masalah politik ontologi (political ontology). Harvey kemungkinan tinggal dan menulis di negara kaya (Amerika Serikat), aku tinggal dan menulis di negara miskin (Indonesia). Jadi ada kemungkinan intensitas dan kompleksitas permasalahan yang aku lihat/rasakan lebih intens dan kompleks dibandingkan dengan apa yang dilihat/dirasakan Harvey.

Latour; saya membutuhkan dia untuk menjelaskan bahwa non-manusia juga adalah bisa menjadi aktor perubahan. Dalam kasus ini yang menjadi actant adalah SARS-CoV-2.

Harvey melihat kondisi sekarang akan membawa ke situasi “riot and revolution”. Atau dia melihat revolusi akan terjadi.

Apakah revolusi sedang terjadi?

K1: Naif kalau menyimpulkan revolusi sedang terjadi. Virus mengganggu supply chain tapi terus apa? Yang kerja di Purwakarta masih jalan terus. Industri-industri otomotif yang sempat tutup di Jepang sudah siap-siap mau kerja lagi. Tambang dan pembabatan hutan masih lanjut jalan.

K2: Virus sudah berkali-kali terjadi sebelum Covid-19 tahun 2020. Ada juga yang jauh lebih pandemik dan menimbulkan banyak korban jiwa, tapi karena “kontradiksi subjektif” belum memadai, tidak menghasilkan revolusi.

K3: Virus tidak bisa jadi agensi perubahan sosial. Tidak ada prasyaratnya. Karena ia tidak punya kesadaran kelas. Tidak bisa diajak mengorganisir class struggle. Ia memukul secara sporadis. Ke kiri dan ke kanan. Pasca wabah kita bisa makin progresif juga bisa terjatuh makin terpuruk. Melahirkan pemerintahan yang totaliter. Kalo mengocok ulang iya. Tapi pendulumnya tidak jelas. Ke kiri apa ke kanan. Ia membuat perubahan mendadak iya. Menjungkirbalikkan konfigurasi kekuasan global iya. Tapi itu belum menjadi pertanda kemenangan kelas pekerja dan kelangsungan ekologi. Jadi meletakkan wabah, pada dirinya sebagai agen perubahan menuju tatanan yang lebih baik ya itu terlalu dini. Semua tergantung kesiapan gerakan rakyat melihat situasi krisis kapitalisme pasca-wabah. Kalo gerakan kita terorganisir ada kemungkinan ke arah lebih baik. Kalau tidak terjadi kerusuhan atau bangkitnya rezim ketertiban militeristik.

K4: Menarik, tapi saya tidak sepakat kalau Covid-19 ini disebut revolusioner dan progresif pada dirinya sendiri. Bahwa perjangkitan ini bikin sistem yang mengorkestrasi hidup kita jadi lemah dan mengocok ulang kekuasaan itu satu hal. Tapi kocokan ulang itu belum tentu revolusiner. Kita bisa saja jadi lebih feodal atau fasis setelah pandemi ini berlalu. Kelompok kanan juga merayakan Covid-19 ini soalnya.

J: Kita mendiskusikan revolusi yang berbeda. Revolusi yang saya diskusikan di tulisan itu bukan revolusi yang kawan-kawan diskusikan. Yang saya diskusikan adalah revolusi dari virus oleh virus untuk virus. Jadi manusia mati, nasib manusia tidak berubah, atau yang miskin tambah miskin, ya emang gitu. Kalau mau perbaiki manusia, kelas sosial dan seterusnya, ya manusia harus bikin revolusinya sendiri,atau cari cara supaya revolusi virus jadi “bukaan” untuk memperbaiki manusia, atau bajak itu revolusi virus. Dan soal dulu ada pandemik banyak dan tak kalah seram, ya. Dan orang dulu tak menyebutnya revolusi. Aku kasi nama era kita dengan “Revolusi Covid-19”. Itu bedanya.

“Yang saya diskusikan adalah revolusi dari virus oleh virus untuk virus. Jadi manusia mati, nasib manusia tidak berubah, atau yang miskin tambah miskin…”

Modal yang ambruk

K: Modal tidak ambruk. Ini aja udah recovery kecil-kecilan. Harga emas naik, migas tidak terganggu, tapi untuk di bursa efek memang berpengaruh khususnya currency nilai mata uang juga.

J:Tidak ada dalam tulisan “Revolusi Covid-19” saya sebut modal ambruk.

Tentang Teori Konspirasi

K: Penggemar teori konspirasi. Semacam lubricant utk masturbasi intelektual

J: Iya. Lebih tepatnya saya melihat diri saya sebagai “konstruksionis”

Tawaran

K1: Tawarannya masih terlalu simpel dan kabur.

J: Tawarannya “revolusi permanen” (frase terakhir dalam tulisan “Revolusi Covid-19”). Apa itu? Utopianya: menggunakan nilai-guna, menggeser nilai-tukar, sebagai cara mengatur kehidupan bersama (manusia dan non-manusia).

MetabolicRift (MR)

K: Justru yang bisa dibaca dari tulisan itu yakni, dalam masyarakat kapitalisme, retaknya metabolisme alam, memicu krisis, bahkan pertumbuhan mencapai limitnya. Tapi, mereka selalu bisa pulih, mereorganisasi ulang lagi dan lagi, alias bernegasi.

J: Boleh juga. Aku mengikuti teori MR yang didorong oleh Bellamy Foster dkk. Tapi, teori MR menurutku sudah tumbang kalau kita baca kritik-kritik Jason Moore. Dan menurutku semua kritik Jason Moore terhadap teori MR masuk akal. Topik ini sebenarnya di luar tema, tapi aku anggap relevan aku jawab karena ini aku lihat adalah debat canggih dalam teori tentang kapitalisme kontemporer.

Revolusi

K: Kondisi ini mungkin bisa dipertautkan di ranah kontekstual rill proletar atau peasant— apakah percik-percik itu nampak? Atau stagnan, itu sih kalau saya memandang revolusi

J: Kalau dalam tulisan “Revolusi Covid-19” aku lihat revolusi sebagai “Sebuah perubahan spontan-organik, radikal, dan cepat.” Teori revolusi model ini aku temukan dalam teks anarkisme (misalnya: buku-buku Bookchin), ketimbang Marxis (misalnya: Trotsky).

Multispecies ethnography

K: Dalam etnografi berkembang pendekatan multispecies ethnography.

J: Ya itulah. Meski aku bukan pemuja Latour, dan juga bukan pemuja Marx, Harvey, Bookchin, Trotsky, Moore,dst. Aku ambil mana yang berguna untuk hidupku. Salah satu kritik yang menuruku sangat relevan terhadap Actor Network Theory (ANT) adalah kritik dari Rebecca Lave, bahwa ANT yang cenderung “structureless,” membuat dia sangat mudah kompatibel dengan Neoliberalisme, karena tidak ada struktur yang mau ditumbangkan. Makanya aku tidak berlama-lama dengan ANT. Tapi aku butuh Latour untuk menjelaskan apa yang ada dalam kepalaku tentang kondisi kita sekarang.

Negasi terhadap revolusi proletariat

K: Negasinya atas potensi revolusi proletariat seperti diajukan Marxisme terlalu simpel. BB tidak melihat kait-kelindan secara dialektis antara revolusi agen biologis virus ini dengan revolusi agen manusia yang anti-kapitalistik.

J: Aku melihat poin ini relevan dengan tulisanku, dan menurutku ini komen yang paling nyambung sekaligus berbobot. (Maap, ini sudah pasti subjektif). Meski aku tidak yakin apakah yang aku tangkap sesuai dengan maksud pengkritik, aku bisa melihat kaitan itu dengan jelas dalam kepalaku, meski tidak keluar dalam tulisan. Misalnya dengan menyebutkan SARS-CoV-2 adalah produk kapitalisme (i.e. karena hutan-hutan ditebang). Namun jawabanku kira-kira, Revolusi Covid-19 yang aku maksud memang bukan revolusi Marxis. Tidak ada partai, kepemimpinan, dst, setidaknya itu yang aku bayangkan dari Revolusi Covid-19 milik Virus SARS-CoV-2 ini. Kalau aku sambungkan secara “metabolisme” (revolusi biologis dan manusia agen anti-kapitalisme), maka akan ada tuntutan untuk juga menyambungkan secara praksis revolusi (partai vs. non-partai, terpimpin vs. organik); dan itu tidak mudah (aku tidak/belum sanggup). Makanya aku lari ke revolusi anarkis (organik, spontan) saja. Dan rasanya memang aksi revolusioner SARS-CoV-2 lebih cocok dengan sudut pandang Anarkis daripada Marxis. Dan dengan sendirinya, tidak ada kewajiban bagiku, setidaknya dalam tulisan itu, untuk bertaut dengan diskusi soal revolusi proletariat, dengan cara menuliskan eksplisit bahwa aku tidak sedang menulis soal revolusi proletariat (yang aku sebut revolusi Marxis).

Revolusi Covid-19 yang aku maksud memang bukan revolusi Marxis.

Kenapa memilih kata “revolusi” bukan misalnya “krisis” untuk mendefinisikan kondisi sekarang? Aku melihat kata “krisis” sudah jenuh, jadi “new normal”. Sdah tidak ada efeknya.

Agensi Perubahan

K: tawaran agensi yang diajukan masih kabur. Belum sampai mengajukan hipotesis siapa yang seharusnya memegang kendali di tengah kelumpuhan sistem oleh pandemi ini. Sebagai kontra atas oligarki dunia maupun nasional. Kaum miskin kota? Netizen? Dst? Apa kita bisa bayangkan virus sebagai agen anti-kapitalisme baru?

J: Kalau mau dilanjut ke Revolusi Permanen, dalam tulisan “Revolusi COVID-19” di alinea kedua dari akhir, ada agensi yang ditawarkan: “kelompok-kelompok miskin yang menderita paling besar dari kasus pandemi ini”.[]