Al Fatihah, Pancasila dan Bahrum Rangkuti

/1/

Pilih Pancasila atau al-Quran?

Pertanyaan itu, juga isu lain seputar Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), meramaikan jagad perbincangan kita hari-hari ini. Bagaimana jika pertanyaan itu diajukan kepada seorang Bahrum Rangkuti? Jika Bahrum masih hidup bersama kita, mungkin ia akan menyodorkan esai panjangnya yang dimuat oleh H.B. Jassin dalam majalah Kebudayaan  Zenith  pada tahun 1952: Kandungan Al Fatihah sebagai jawaban. Esai ini telah terbit berulang-ulang dalam format buku oleh Penerbit Bulan Bintang. Entah kapan esai ini mula pertamakali terbit sebagai buku, tapi cetakan kedelapan (1976) masih memuat kata pengantar tertanda tahun 1954.

Suatu kali, sebagai pedagang buku bekas, saya menawarkan buku Kandungan Al-Fatihah ini kepada salah seorang Profesor yang akunya tengah mencari buku-buku tentang kajian Pancasila. Saya kirim beberapa foto kepadanya. Sang professor memberi jawab: Tidak Ilmiah! Demikian, akhirnya buku masih ada pada saya dan akan saya bocorkan sedikit isinya di sini.

Sebelum membaca buku Kandungan Al-Fatihah, saya lebih dulu menikmati buku Asrar-I Khudi, Rahasia-Rahasia Pribadi,  yang dalam halaman judul dalam tertulis “uraian/terjemahan oleh Laksma Drs. H. Bahrum Rangkuti”. Tulisan itu sungguh tidak berlebihan karena selain telah berhasil menerjemahkan buku Asrar-I Khudi, dengan apik, Bahrum juga telah memerikan perihidup, pemikiran, dan penafsiran yang apik dari Mohammad Iqbal. Nyaris 100 halaman, bahkan lebih panjang dari puisi-puisi terjemahan Mohammad Iqbal. Uraiannya mendalam dan filosofis. Buku yang ada pada saya cetakan ketiga tahun 1976, tapi mungkin buku tersebut merupakan cetakan ulang dengan judul baru dari buku sang pujangga Muhammad Iqbal, yang menurut catatan Linus Suryadi AG dalam antologi Tonggak 1, bertahun 1952. Banyak sekali karya dan terjemahan Bahrum Rangkuti.

Selain dua buku tadi, pada saya terdapat dua buku lain yakni Eksistensi Islam  terbitan Pustaka Islam, Djakarta, tahun 1962 dan Kepemimpinan Islam Muhammad S.A.W. dalam Perang dan Damai  terbitan Pustaka Agussalim tanpa tahun terbit. Buku   Eksistensi Islam berusaha memberi kritisi atas ideologi Sosialisme dan Marxisme dalam tinjauan Islam, seraya menampilkan versi Islam sebagai solusi. Bahrum Rangkuti yang agamis juga terinspirasi oleh novel  Keluarga Gerilya  dan menulis buku  Pramoedya Ananta Toer dan Karya Seninya  terbitan Gunung Agung, tahun 1963.

Linus Suryadi AG, dalam Tonggak 1, memasukkan Bahrum Rangkuti ke dalam angkatan sastra Pujangga Baru. Barangkali karena pemuatan awal puisi Bahrum Rangkuti pada majalah Pudjangga Baru (1941). Sumber lain menyebut, dalam kepengarangan Bahrum Rangkuti sezaman dengan Chairil Anwar, Asrul Sani dan H.B. Jassin. Bahkan tercatat Bahrum pernah masuk bui bersama Chairil Anwar, Basoeki Resobowo, dan B.M. Diah karena masuk ‘gerakan baru’ yang dinilai hendak memberontak pada pemerintah pendudukan Jepang. Buku Gema Tanah Air suntingan H.B. Jassin memuat beberapa puisi Bahrum.

Bahrum Rangkuti lahir pada 7 Agustus 1919 di Pulau Tagor, Galang, dan meninggal 13 Agustus 1977 di Jakarta. Terakhir dia berpangkat Kolonel (Tituler) Angkatan Laut, juga Kepala Pusroh Angkatan Laut, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bahrum Rangkuti gemar belajar agama dan filsafat kebudayaan. Tidak hanya menulis puisi, ia juga menulis sandiwara radio dan banyak menerjemahkan buku. Bacaan Bahrum Rangkuti cukup luas, dia membaca dan menerjemahkan karya Alexander Pushkin, Sophocles, Mohammad Iqbal, dan Kahlil Gibran.

Bahrum masih menulis puisi, setidaknya sampai tahun 1970. Sepuluh puisi karyanya termuat dalam majalah sastra Horison no. 12, Th. VI, Desember 1971. Sekian tahun kemudian Linus Suryadi AG memuat kembali puisi-puisi itu dalam Antologi Puisi Tonggak. Puisi-puisinya masih menampak ciri perpuisian Pujangga Baru dalam rima, tapi lebih rileks dalam enjabemen sehingga memberi kesan lebih modern dari kebanyakan puisi sastrawan Pujangga Baru lain. Bahrum menyukai bentuk soneta. Kita simak utuh sebuah puisinya:

Anak-anakku

Hari menanjak siang. Malam

berangsur hilang dari permukaan bumi

Kelian tumbuh dan besar dalam

sentuhan suci dan Cinta. Mawar membelai pipi

di Ciputat, Pondok Cabe, dan Kebon Kacang

hingga menjadi saksi hidup cita-cita ibumu

siang malam memeras tulang

Tuhan membina kalian jadi tiang-tiang padu

rumahNya kita dirikan

bersama di Chatulistiwa

wilayah pantai, pulau dan lautan

Resapilah ayat-ayat Qur’an

dalam cita-cita dan amal berilmu

agar Jibril datang membantu

5-12-1970

/2/

Bahrum Rangkuti menuturkan asal mula dan tujuan esai Kandungan Al-Fatihah dalam bagian Pengantar. “Buah pikiran mengenai Kandungan Al-Fatihah ini”, tulis Bahrum, “tumbuh selama suatu diskusi dengan saudara-saudara Amin Sudoro dan Sumantri dan lalu diterbitkan dalam majalah kebudayaan Zenith yang dipimpin oleh Saudara H.B. Jassin, dalam tahun 1952.”  Dua orang yang tersebut tadi bersama Bahrum Rangkuti sendiri tergabung dalam kelompok diskusi kecil Lembaga Kebudayaan Langit (LEKLA). Pilihan nama LEKLA mungkin sekali merupakan respon mereka yang agamis atas lembaga kebudayaan berhaluan realisme sosialis, yakni LEKRA yang berdiri lebih dulu pada tahun 1950). Selanjutnya Bahrum menulis:

“Adapun maksud pengarang menafsirkan Al Fatihah dengan visi kebudayaan dan lalu menghadapkannya dengan nilai-nilai Pancasila supaya oleh konfrontasi yang jujur antara sumber cita-cita itu dapatlah menjelma kiranya nilai dan hakikat kerohanian pada Pancasila.”

Dok; Bahrum Rangkuti

Di akhir bagian Pengantar Bahrum Menulis:

“Maka usaha pengarang dalam mengemukakan nilai-nilai Islam pun, adalah salah satu jalan yang mungkin untuk menyalurkan cita Qur’an ke dalam luasan cita Pancasila.”

Jujur saja, sebagai generasi yang pernah tumbuh dalam masa Orde Baru, saya pernah merasa jenuh dengan Pancasila dengan 36 butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) atau Eka Prasetia Pancakarsa. Saya tidak menyangkal butir-butir luhur tafsir Pancasila itu, namun sebagaimana banyak manusia Indonesia lainnya ketika itu yang melihat kebobrokan di segala lini kehidupan, bahkan di semua level pemerintahan, saya lalu merasa P-4 seperti ‘suara nyaring dari sebuah tong kosong’. Ketika itu, akhirnya, Pancasila justru kehilangan makna sosial dan “ditinggalkan”. Bahrum Rangkuti mengobati kejenuhan saya dengan tafsir Al Fatihah-nya.

Saya tidak tahu apa sebenarnya maksud kata, “Tidak Ilmiah!” dari tanggapan profesor yang saya sampaikan di muka. Barangkali itu tanggapan selintas saja, lebih-lebih judul bukunya justru berbau agamis. Saya pun hanya mengirimkan foto-foto buku. Tulisan Bahrum Rangkuti memang tidak akademis. Tapi rasanya bukan tidak ilmiah. Kandungan Al-Fatihah ditulis dalam bentuk esai, yang seperti Arief Budiman menulis dalam Esai Tentang Esai, memang tampak subyektif dan sugestif. Namun, di sinilah justru letak keunikan dan daya tarik tulisan ini. Bahrum menjadi lebih terbuka dan luwes mengemukakan gagasan. Kita simak bagian pembuka esai yang juga telah menyebut ‘Pancasila’ di antara nilai, ideologi dan falsafah lain:

“Sdr : Sumantri & Amin Sudoro,

Inilah hasil obrolan kita setiap malam dalam masa krisis moral dan benda ini… pendeknya macam-macam jalan akan mengataskan diri dari kekinian dan kesinian, maka kita bertiga berlagak melontar-lanturkan cita demi cita mulai dari mistik, terus ke-ontologi, filsafat, theology, ekonomi, das capital-nya Marx, Quran, Bibel, Bhagawat Gita, Dewa Ruci, Politik dan –last but not least Pancasila.”

/3/

Respon masyarakat atas Pancasila pada masa tahun 50-an, hanya beberapa tahun saja dari saat kemerdekaan Indonesia memang beragam. Bahrum melaporkan bahwa ketika itu terdapat setidaknya dua kubu yakni pertama, kubu menolak Pancasila dan merendahkan Pancasila. Dan kedua kubu yang menerima Pancasila. Hal ini, cerita Bahrum, mewarnai sebuah ‘Kongres Kebudayaan di Bandung baru-baru ini’. Bahrum Rangkuti tidak menolak Pancasila. Tapi ia juga melihat tendensi berlebihan, sebagian dari golongan tua, yang kemudian menganggap Pancasila ‘bahkan menjadi semacam agama’. Selanjutnya, ia mengakui jika fitrah dan sifat ketiga anggota LEKLA berlainan, namun mereka mengakui jika “segala bual dan gaya kita kembali kepada apa yang disebut dengan huruf-huruf besar dewasa ini: Pancasila”.

Menurut penilaian Bahrum, keraguan terhadap Pancasila muncul karena tidak adanya usaha untuk mencari intisari dari semua pikiran-pikiran yang tercantum dalam Pancasila.

Menurut penilaian Bahrum, keraguan terhadap Pancasila muncul karena tidak adanya usaha untuk mencari intisari dari semua pikiran-pikiran yang tercantum dalam Pancasila. Selanjutnya dirasa perlu untuk membawa pikiran-pikiran tersebut kepada pemahaman agama yang universal, dalam kasus ini Islam. Bagi Bahrum, Soekarno sendirilah penafsir Pancasila yang paling berkompeten.

Tafsiran Bahrum Rangkuti sendiri tidak dimulai dari Pancasila. Sebagaimana galibnya filsafat Islam, salah satu bidang kegemaran Bahrum, yang bermula dari firman Tuhan. (note: M. Balfas menyebut Bahrum Rangkuti sebagai Filosof ‘Kuda Lumping’ karena sifat bombastisnya) Para filsuf Islam mengembangkan filsafat sebagai tafsir pembuktian kebenaran Al Quran. Al Fatihah mengandung gagasan-gagasan luhur esensial dari seluruh Al-Quran dan seluruh kitab samawi terdahulu. Seraya mengutip Tafsir Kabir karya M.B. Mahmud Ahmad, Al Fatihah menyediakan suatu pekatan berbagai macam ilmu tentang moral spiritual kepada manusia.

          Bahrum Rangkuti menafsirkan ayat demi ayat surah Al-Fatihah secara rinci dan  kemudian menyarikan surah tersebut, sekali lagi merujuk kepada Tafsir Kabir karya ulama Pakistan M.B. Mahmud Ahmad. Kelima usul, demikian Bahrum menyebut kelima pokok pikiran surah Al Fatihah, ditalikan dan diselaraskan dengan sila-sila pada Pancasila. Pancasila menjelmakan penafsiran politik dan sikap hidup Indonesia dari lima usul Al Fatihah, baik dalam urutan sila, maupun dalam sifat dan luasan setiap silanya. Kelima usul dari surah Al Fatihah dan padanan tafsirnya dari sila Pancasila adalah sebagai berikut:

Surah Al Fatihah – Pancasila         

  1. Allah – 1. Ketuhanan yang maha Esa
  2. Rabbul ‘alamin – 2. Perikemanusiaan
  3. Arrahman – 3. Kebangsaan
  4. Arrahim – 4. Kerakyatan
  5. Al Malik – 5. Keadilan social

Bahrum mewanti-wanti pembaca untuk menukik ke dalam inti uraian mengenai kelima usul untuk memahami keselarasan antara surah Al-Fatihah dengan Pancasila. Surah Al-Fatihah lebih luas dan lebih hidup daripada Pancasila. Pancasila yang diuraikan dengan metode Al-Fatihah menjadi lebih kuat dan bersenyawa dengan universalisme Islam yang dinamis. Demikian, bagi Bahrum sila-sila dari Pancasila dapat ditinjau, diperbaharui dan dipersegar.

Surah Al-Fatihah lebih luas dan lebih hidup daripada Pancasila. Pancasila yang diuraikan dengan metode Al-Fatihah menjadi lebih kuat dan bersenyawa dengan universalisme Islam yang dinamis. Demikian, bagi Bahrum sila-sila dari Pancasila dapat ditinjau, diperbaharui dan dipersegar.

          Trilogi Iman, Ilmu dan Amal sebagai unsur Islam mutlak wajib dalam kehidupan. Nilai-nilai Islam (Al Fatihah) dan nilai-nilai Pancasila harus mewujud nyata dalam amal perilaku bangsa Indonesia. Bahrum Rangkuti sendiri memandang pengamalan nilai-nilai Pancasila lebih hakiki dan urgen ketimbang interpretasi dan analisa. Banyak kalangan yang mengaku pancasilais namun sepak tenrjangnya mengkhianati sila-sila Pancasila. Tambah lagi tidak sedikit mereka yang menganut nilai-nilai agama tetapi abai pada tetangga saudaranya yang terjerat dalam kemiskinan. Singkat kata, bangsa ini memerlukan iman, ilmu dan amal yang kemudian mewujud dalam akhlak pribadi.

/4/

          Kandungan Al Fatihah ditulis untuk mengaktualisasi Pancasila dengan spirit Islam. Tidak hanya berkaitan dengan Pancasila, Bahrum Rangkuti juga menggali nilai politik dari surah Al-Fatihah, mengkritisi paham ideologi sosialisme dan bolshewisme, mengkritisi psikoanalisa Freud, dan mengetengahkan gagasan cita ekonomi Islam.

          Nyatalah, Bahrum Rangkuti sastrawan religious. Enam puluh Sembilan tahun berselang sejak publikasi pertama Kandungan Al-Fatihah dalam Majalah Zenith di tahun 1952, kita masih dapat berkaca dan menafsir ulang pemahaman kita atas agama (juga kitab suci) dan Pancasila. Hari-hari ini, kita pun dapat memakmumi sikap kritis yang ditunjukkan Bahrum Rangkuti dalam pemahaman agama, Pancasila dan paham ideologi lainnya.

          Saya yakin jika pertanyaan di muka tulisan ini diajukan kepada Bahrum Rangkuti, “Pilih Pancasila atau Al Quran?” Ia akan memilih keduanya. Dengan sikap kritis.

Magelan, 8 Juni 2021.

Buku Langgar Shop
Agus Manaji
Lahir di Bekasi, 16 Maret 1979. Tinggal di dusun Ngentak, Muntilan, Magelang. Guru Fisika SMK N 3 Yogyakarta. Antologi puisi tunggalnya Seperti Malam-malam Februari (penerbit Interlude, 2018). Puisinya dumuat Majalah Horison, jurnal Puisi, KR, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, dll. Beberapa puisinya juga terselip dalam buku antologi komunal seperti Cermin Waktu (serial antologi Pendapa #25), Pesisiran, serial Dari Negeri Poci jilid 9 (2019), Kota Terbayang, Retrospeksi 50 Tahun Kepenyairan Jogja (2017, Taman Budaya Yogyakarta), Lintang Panjer Wengi Di Langit Jogja (2014), Dialog, Setahun Diskusi Puisi PKKH UGM (2013), Antologi Apresiasi Sastra Indonesia Modern (penyunting Korie Layun Rampan, 2013), Kilometer Nol (2013), Negeri Awan, serial Dari Negeri Poci jilid 7 (2017), Lirik Lereng Merapi (2001), Filantropi ( FKY, 2001), Dian Sastro For Presiden #2 Reloaded (2003), Herbarium (2007), Yogya, 5,9 SR (2006). Tahun 2010, esainya terpilih sebagai juara ke II dalam lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) yang diadakan oleh Kemdikbud dan majalah Horison.