Ibnu Arabi dan Gagasan Pernikahan

Ketik nama Ibnu Arabi di mesin pencarian internet, maka anda akan menemukan beragam cerita tentang dirinya. Kata kunci yang niscaya muncul paling banyak dari pencarian anda – tentu saja – adalah soal Wahdatul Wujud. Yakni sebuah konsep kontroversial yang menganggap bahwa antara makhluk dan Tuhannya bisa menyatu secara eksistensial. Atau jamak dikenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti. Terkadang mereka yang berkecimpung di dunia maya bertindak kurang adil. Mereka akan membombardir informasi perihal kesamaan antara Ibnu Arabi dengan Syeih Siti Jenar, atau Hamzah Fansuri, namun mengabaikan pemikiran lain yang pernah dihasilkan dari masing-masing mereka. Misalnya konsep tentang pernikahan yang dipaparkan dengan indah oleh Ibnu Arabi.

 

Dalam Bab Sebelas dari kitab Futuhat karyanya, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa nikah adalah sebuah pembicaraan (takallama), di mana sang pembicara adalah ayah dan sang pendengar adalah ibu, lalu anak-anak adalah segala sesuatu yang dilahirkan dari pemahaman sang ibu. Hal ini dipaparkan secara gamblang oleh Bambang Setyadi Machmud dalam tulisannya yang berjudul “Ihwal Menggauli Budak Perempuan”. Tulisan ini adalah salah satu dari beberapa kajian yang terangkum dalam buku Journal of Tasawwuf Studies terbitan Paramartha International Centre of Tasawwuf Studies (PICTS).

 

Bambang menambahkan bahwa Ibnu Arabi memilih makna nikah dengan makna yang paling dasar, yakni tindak persetubuhan (nakaha), dikarenakan beliau menyertakan anak-anak sebagai sesuatu yang dihasilkan dari padanya. Oleh karena itu, makna istilah pernikahan adalah sebuah laku yang dengannya menjadi lahir atau mewujud sesuatu yang semula tidak mempunyai wujud.

 

Untuk penyederhanaan konsep ini, Ibnu Arabi coba menyodorkan ilustrasi lain, misalnya tentang hubungan antara arsitek atau ahli geometri dengan seorang pengrajin atau artisan. Gagasan tentang sebuah ruang semula hanya ada di alam ide sang arsitek, yang kemudian disampaikan lewat pembicaraan oleh sang arsitek. Gagasan ini selanjutnya diinterpretasikan oleh sang artisan dalam sesuatu yang mewujud, yakni dalam bentuk-bentuk ruang sesuai dengan apa yang digagas oleh si arsitek.

 

Dari ilustrasi sederhana tadi, sang ayah adalah si arsitek, sang ibu adalah si artisan dan bentuk-bentuk bangunan ruang adalah anak-anak.

 

Untuk membikin sedikit rumit soal konsep ini, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa bentuk pernikahan seperti ini akan selalu terjadi dalam setiap ciptaan. Seperti misalnya hubungan agung antara pena (qalam) dengan lembaran (lauh). Allah SWT telah menuliskan segala macam varian takdir yang berlaku untuk kita di Lauh Mahfudz dengan menggunakan pena (qalam). Selain itu kita juga bisa melihat hubungan antara langit dan bumi, jiwa dengan jasad, laki-laki dan perempuan, dan begitu seterusnya.

*

Gagasan soal anak juga menjadi topik hangat yang selalu dibicarakan oleh pasangan paruh baya Richard (Paul Giamatti) dan Rachel (Kathryn Hahn). Saking hangatnya pembicaraan, kalau tak ingin dibilang panas, Rachel sempat memaki Richard pada saat suaminya tersebut mulai membuka hatinya untuk menerima anjuran doktor, yakni untuk menemukan donor telur. Ini disarankan oleh sang doktor karena segala macam upaya yang dilakukan oleh Richard dan Rachel untuk mendapatkan momongan tak kunjung berhasil, walaupun mereka telah mencoba beragam metode. Dari mulai artificial insemination hingga in vitro fertilization (IVF), semuanya gagal. Celakanya, metode terakhir justru menghadirkan fakta bahwa produksi sperma Richard memang sedikit tersumbat alias buntu.

 

Perbincangan dan perdebatan Richard dan Rachel ini diceritakan dalam film produksi Netflix di tahun 2018, Private Life. Yang menarik adalah bahwa pada akhirnya, Rachel menyetujui bujukan Richard untuk mencari donor telur. Caranya tidak rumit, tinggal mencari perempuan lain yang memiliki sel telur yang sehat, lalu telur tersebut akan dibuahi oleh sperma Richard, dan kemudian hasil pembuahan akan dicangkokkan ke dalam rahim Rachel. Menariknya lagi adalah, bahwa diceritakan kalau konsep ini adalah hal yang sudah biasa di Amerika sana. Dalam salah satu adegan diperlihatkan Richard memegang brosur program yang bertuliskan: “terkadang diperlukan orang ketiga untuk hubungan yang lebih bahagia”.

 

Mencermati dinamika kehidupan Rachel dan Richard tidak hanya akan menghadirkan pemahaman lebih dalam soal konsep pernikahan yang sejalan dengan pemikiran Ibnu Arabi, yakni perbincangan-perbincangan dan interaksi soal gagasan yang akan melahirkan anak. Tapi juga memberikan pertanyaan baru, sampai sejauh mana usaha manusia menerjang batasan-batasan agama demi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan teknologi memuluskan langkah manusia tersebut.

 

Secara de jure, anak yang akan lahir nanti memang merupakan anak dari pasangan Richard dan Rachel. Toh juga hal tersebut sudah disahkan secara hukum. Selain itu, sang empunya sel telur juga sudah menandatangani kontrak perjanjian dan menerima sejumlah uang atas kesediaan dan jasanya untuk menyumbangkan telur miliknya. Tapi secara de facto, jelas anak tersebut adalah hasil hubungan antara si donor telur dengan Richard, walaupun antara keduanya tidak terjadi penetrasi atau kontak fisik secara langsung.

 

Ada betulnya ucapan yang terlontar dari gipsi gaek Melquiades, tokoh rekaan Gabriel Garcia Marquez  dalam karyanya One Hundred Years of Solitude, “Science has eliminated distance.”

*

Sekira 1398 tahun Masehi yang lalu, Rasulullah SAW diangkat oleh-Nya sampai ke langit ketujuh. Dalam pembicaraan tingkat tinggi antara manusia paling agung di muka bumi dengan Sang Pencipta, turunlah sebuah amr (perintah) sholat lima waktu. Buat Allah Sang Maha Kuasa, sholat adalah perihal gagasan bagaimana peribadatan atau penyembahan kepada-Nya mewujud dalam bentuk lahiriah. Buat kita, gagasan tersebut tidak hanya sekedar gagasan tapi juga merupakan kewajiban.

 

Soal bagaimana gagasan itu tersampaikan dan ditafsirkan dengan benar oleh masing-masing kita, itu urusan lain. Lebih tepatnya, itu adalah ruang privat khusus antara manusia dengan Rabb-nya. Karena ketika lidah kita selip membicarakan keburukan-keburukan orang lain, atau ketika tangan kita dengan bebas menulis perihal hoax atau fitnah, termasuk juga ketika kaki kita melangkah dengan ringan memasuki tempat-tempat yang tidak diridhoi oleh-Nya, hanya diri kita sendiri yang bisa menilai apakah sholat kita berhasil mencapai tujuan yang hakiki – mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. []

Rulli Rachman
Penulis adalah konsultan strategi perawatan mesin, penulis di beberapa media sosial dan sedang mendalami ilmu tasawuf.