Pengisahan (Sejarah) Proklamasi

Pada masa 1970-an, para tokoh dan saksi sejarah menilai ada “krisis” dalam pengajaran sejarah di sekolah. Pengetahuan murid-murid dianggap belum sampai ke mengerti sejarah melalui mata pelajaran dan soal-soal ujian. Mereka membutuhkan buku-buku mengisahkan sejarah seperti “cerita” tapi memuat penjelasan lengkap. Guru mungkin belum memiliki cara memikat untuk menuntun murid-murid ke masa lalu dan memberi makna sejarah di masa Orde Baru. Pengajaran sejarah sedang menanggung masalah. Indonesia tegak dengan sejarah tapi murid-murid belum “terlena” di sejarah.

Usaha besar dilakukan dengan penulisan dan penerbitan seri buku sejarah: 60 judul. Buku-buku membedakan diri dari selera pelajaran. Buku terpenting berjudul Sejarah Proklamasi susunan Soeroto, terbitan Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 1975. “Ceritera dalam buku ini kami ambil dari sumber yang paling dapat dipercaya, dari Bung Hatta,” pengakuan Soeroto. Buku untuk bocah ditulis bersumber buku dan percakapan dengan pelaku sejarah: Bung Hatta. Pengakuan ingin memastikan cerita di buku mengacu ke bukti-bukti sejarah, bukan bergelimang imajinasi. Penguat sumber pengisahan adalah buku-buku susunan Adam Malik, Omar Bahsan, Sidik Kertapati. Percakapan-percakapan dengan para pelaku dan saksi sejarah pun dilakukan bersama Latief, Chairul Saleh, Sajuti Melik, Sudiro, Sukarni, Sutan Sjahrir, dan lain-lain.

Murid di SD dan SMP mungkin tak terlalu memikirkan cara penulisan buku mengaku berdasarkan buku dan percakapan. Di hadapan bocah, buku harus memiliki kisah memikat dan bertebaran makna ketimbang buku pelajaran. Misi penulisan buku: “Semoga tidak ada kesimpangsiuran lagi mengenai sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945 itu.” Sejak Soeharto berkuasa, sejarah memang agak berantakan akibat kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru ingin melampaui atau berada di seberan rezim dengan penguasa Soekarno. Peran Soekarno agak “dikurangi” dengan pemunculan penulisan sejarah “menghendaki” memberi peran besar Soeharto di episode-episode berbeda, di luar proklamasi. Buku itu ingin “sahih” dibandingkan buku-buku lain.

Kita membaca dengan situasi abad XXI. Dulu, buku itu mungkin sudah “dititipi” pesan oleh nalar-imajinasi Orde Baru. Sejarah tak utuh. Sejarah masih mungkin berada di belokan atau persipangan. Bocah mungkin jemu dengan pengulangan babak-babak sejarah di perisitiwa proklamasi. Mereka bisa agak mundur ke masa sebelum detik-detik proklamasi, masa sengsara oleh pelbagai tindakan pemerintah pendudukan Jepang. Derita demi derita ditanggungkan berkaitan pangan dan sandang. Kita simak pengisahan Soeroto: “Selain itu terdapat juga kaum gelandangan. Adanya kaum gelandangan di negeri kita dimulai dari zaman Jepang itu. Pada zaman penjajahan Belanda tidak ada kaum gelandangan. Kaum gelandangan banyak berkeliaran di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Di kota-kota besar itu tiap hari terdapat orang-orang gelandangan yang mati kelaparan di pinggir jalan atau di bawah jembatan.”

Sejarah tak utuh. Sejarah masih mungkin berada di belokan atau persipangan. Bocah mungkin jemu dengan pengulangan babak-babak sejarah di perisitiwa proklamasi.

Bocah mungkin kaget dan penasaran. Sepintas saja tapi menimbulkan ragu. Penulis terlalu berani membuat perbandingan sejarah bertokoh gelandangan. Kita menduga bocah mengulangi isi buku untuk berbagi cerita bahwa zaman pendudukan Jepang mengakibatkan kemunculan kaum gelandangan. Cerita itu mungkin berterima. Bermasalah dan “drama berlebihan” saat Soeroto menulis: “Pada zaman penjajahan Belanda tidak ada kaum gelandangan.” Bocah boleh ragu atau menganggap penulis sedang membual sejarah. Gelandangan di pengertian penulis mungkin khusus. Gelandangan itu sudah mulai “mengganggu” kepastian pengisahan sejarah oleh Soeroto menggunakan sumber-sumber penting.

Di bagian peristiwa proklamasi (17 Agustus 1945) terasa masih sama dengan buku-buku pelajaran. Soeroto menulis: “Demikian terjadilah dengan Rakhmat Allah Yang Mahakuasa. Pada jam 10 pagi Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta mengucapkan pidato singkat, sekedar sebagai kata pengantar, kemudian membacakan proklamasi kemerdekaan kita. Setelah itu dinaikkanlah bendera nasional kita Sang Merah Putih dan kemudian bersama-sama dinyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Rakyat yang mula-mula terharu waktu mendengarkan pembacaan proklamasi, kemudian bersorak-sorak gembira.” Kalimat-kalimat wajar dan gampang dimengerti bocah. “Bersorak gembira” itu mengesankan ada drama besar.

Empat tahun berlalu dari penerbitan buku berjudul Sejarah Proklamasi, para penulis masih terus ingin sajikan buku sejarah ke pembaca. Murid-murid di SD dan SMP diinginkan jadi pembaca sejarah proklamasi secara “benar” dan “berdasarkan bukti-bukti”. Keraguan sejarah harus sirna. Pada 1975, terbit buku berjudul Proklamasi Kemerdekaan Bangsaku susunan Darto Singo. Buku diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbitan milik pemerintah. Penjelasan awal: “Perlu diketengahkan di sini bahwa Dewan Harian Nasional Angkatan 45 telah berkenan membentuk satu tim yang diperbantukan kepada penulis dalam menyusun buku ini, dengan menggunakan hampir semua buku tentang proklamasi Indonesia, baik yang ditulis tokoh-tokoh yang terlibat langsung, maupun berupa tinjauan sejarah tentang peristiwa yang maha penting itu.” Di situ, kita tak menemukan daftar buku dan penulis. Darto Singo tak mau kalah dari Soeroto tapi lupa memberi daftar demi “kebenaran” sejarah.

Perlu diketengahkan di sini bahwa Dewan Harian Nasional Angkatan 45 telah berkenan membentuk satu tim yang diperbantukan kepada penulis dalam menyusun buku ini, dengan menggunakan hampir semua buku tentang proklamasi Indonesia, baik yang ditulis tokoh-tokoh yang terlibat langsung, maupun berupa tinjauan sejarah tentang peristiwa yang maha penting itu.

Kutipan derita Indonesia: “Tak mengherankan bila hidup para petani amat sengsara. Mereka terpaksa makan pokok batang pisang atau pokok batang pepaya sebagai ganti beras yang diangkuti oleh Jepang ke negerinya. Di bawah penjajahan Jepang inilah rakyat Indonesia terpaksa makan bekicot atau keong racun yang menjijikkan itu; pakaian mereka pun dibuat dari bahan karung atau goni…” Pembaca berusia bocah menerima peengisahan itu ketimbang “gelandangan” dicantumkan di buku garapan Soeroto. Derita dialami tanpa ada pendapat berlebihan seperti Soeroto. Pengisahan Darto Singo memang mengandung “drama” tapi bocah bakal mencari “pembenaran” ke cerita lisan terwariskan dari para pejuang atau kakek-nenek.

Peran Soekarno dalam buku Darto Singo manusiawi dan menimbulkan pujian atas kemauan memuliakan Indonesia. Ada pemunculan deskripsi raga dan perasaan. Kita simak kalimat-kalimat mengharukan sebelum pembacaan proklamasi: “Pucat sekali! Kata Bung Hatta dalam hati, sambil mengamati wajah Bung Karno dengan seksama dari balik kacamatanya. Wajah Bung Karno memang pucat. Ia sedang demam, tapi tidak ada alasan untuk menunda pengumuman yang telah mereka rencanakan itu.” Menit-menit sebelum peristiwa bersejarah di pukul 10 pagi (17 Agustus 1945), demam Soekarno itu pantas dimengerti bocah dalam pemenuhan janji suci untuk Indonesia. Pada masa 1970-an, kita memiliki dua buku disodorkan ke bocah. Buku-buku bermaksud menebus “jemu” atau penjelasan kaku di buku-buku pelajaran agar murid-murid berhasil mengerjakan soal-soal ujian sejarah. Kini, kita menanti buku-buku baru mengisahkan (sejarah) proklamasi. Begitu.

***

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).