Jogja Performa dalam Fenomena Kesenian di Kota Yogyakarta
Ketika hari libur nasional, jalanan kota Yogyakarta sering dilanda macet. Apalagi hari libur itu seturut dengan akhir pekan. Banyak kendaraan bermotor–terutama deretan bus pariwisata dengan...
Ketika hari libur nasional, jalanan kota Yogyakarta sering dilanda macet. Apalagi hari libur itu seturut dengan akhir pekan. Banyak kendaraan bermotor–terutama deretan bus pariwisata dengan spanduk tertempel berisi nama kelompok serta urutan bis mulai 1 hingga 5–mengular sejauh mata memandang. Data dari Antara News Yogyakarta menyebut, dalam bulan April 2026, sebanyak satu juta pengunjung pergi ke Yogyakarta. Tepat pada hari libur nasional, 1 Mei 2026, di antara kemacetan dan keruwetan jalanan kota itu, terselenggara sebuah pertunjukan musikal teater bertajuk “Kencana Wungu” yang berlokasi tidak jauh dari jantung kota Yogyakarta. Sayangnya, itu adalah hari Jum’at, alias akhir pekan. Walhasil, mau tak mau, saya harus menghadapi kombo macet: libur nasional plus akhir pekan. “All I have to do is ride the snake” kata The Melting Minds dalam salah satu lirik lagunya berjudul “The Snake”.
Tak ada pertunjukan yang lebih saya sukai melebihi teater. Lebih-lebih, Yogyakarta memang telah dikenal sebagai kantong teater yang cukup besar di Indonesia. Sebut saja Bengkel Teater milik sastrawan WS Rendra yang terbentuk pada tahun 1967. Teater Gandrik, bentukan Jujuk Prabowo dkk yang telah berdiri sejak 1983. Atau Teater Garasi, sabetan Yudi Ahmad Tajudin dkk pada tahun 1993. Dari sini saja, kita dapat membayangkan betapa ngerinya penampilan Rendra, dengan suara yang khas, di atas panggung. Juga Nevi Budianto dengan pendalaman karakternya yang mampu menghipnotis siapapun yang melihat dia berakting.
Sialnya, dengan secuil pengetahuan ini, kepala saya sontak terbebani oleh ekspektasi berlebih, bahwa pertunjukan yang akan tampil ini adalah satu pertunjukan yang megah nan muluk-muluk. Sejak awal, saya telah–dan dipaksa–membayangkan akan menonton gerak serta olah tubuh dari para pemeran. Beberapa orang yang berlarian kesana-kemari sebagai bentuk penguasaan panggung. Suara yang menggelegar dari para pemain teater. Bagian musik yang akan menggema dan membentuk atmosfer untuk menguatkan emosi pertunjukan. Dan, tentu saja, pentas berjalan layaknya para pemain kawakan itu.
Kemacetan yang mengular serta ekspektasi berlebih itu kian menjadi momok yang nyata hingga saya tiba di Taman Budaya Embung Giwangan, tempat teater itu dihelat. Tepat pukul 16.30, yang tampak dari lokasi itu untuk pertama kalinya adalah sebuah penampungan air besar, dengan banyak orang berlalu-lalang, entah untuk berolahraga atau hanya sekadar jalan-jalan sore. Begitulah cara mencari lokasinya dan saya hampir memutari embung itu, sampai salah seorang pedagang perempuan meneriaki, “lewat sana, Mas. Putar balik!”
Singkatnya, saya menemukan tempat panitia untuk registrasi yang ternyata terletak di sisi seberang parkiran di sisi barat embung. Acara pementasan masih akan dimulai pada pukul 18.30. Sembari menunggu, setelah mendapatkan gelang sebagai tiket masuk, saya mengelilingi area pertunjukan. Itu adalah sebuah amphitheater dengan enam tempat duduk berundak mengelilingi satu panggung. Di sebelahnya, terdapat bazar yang dikelola oleh YK.RIA. Bazar ini menyediakan stand yang menjual makanan, minuman, serta aksesoris yang kece badai dan artsie. Beberapa orang duduk-duduk di ruang publik itu untuk menikmati sore yang cerah itu.
***
Seorang pria mengenakan topi berwarna krem, mondar-mandir di area venue, tampak berkomunikasi dengan panitia-panitia lain. Dia adalah Andy Setyanta, produser pertunjukan sekaligus direktur Jogja Performa. Tak lama setelah berbincang dengan seseorang, ia lantas menemui kami, para buruh media, dan menyiapkan dirinya untuk ditanya-tanya mengenai segala hal terkait pertunjukan di malam itu.
Pertama-tama, marilah kita simak bagaimana ia mengenalkan platform yang ia gawangi itu. Jadi, Jogja Performa merupakan platform rintisan yang berupaya menghidupkan ruang publik sebagai ruang pertunjukan seni di Yogyakarta. Kebetulan, program ini mendapat dana dari Dana Indonesiana, yaitu dana abadi kebudayaan yang dikelola Kementerian Kebudayaan, yang kini telah berubah nama menjadi Dana Indonesia Raya. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penunjang industri kreatif berbasis seni dan budaya.
“Kenapa rintisan? Ini seperti (layaknya) simulasi. Sakjane kinek gawe produksi, terus, bayanganku kan, orang datang ke Jogja, menonton pertunjukan kolosal seperti di Prambanan, tapi di Jogja,” ucapnya.
Sebagai rintisan, proyek pertama yang dilakukan, ia mulai dari Embung Giwangan ini. Bayangannya adalah, proyek ini serupa laboratorium budaya yang mengukur sejauh mana pemanfaatan ruang publik berhasil menarik perhatian banyak orang untuk datang. Dalam satu tahun ini, Jogja Performa berkesempatan untuk menampilkan dua kali pementasan dalam satu tahun. Sejumlah pertanyaan muncul di kepalanya, “Sakjane sing ditonton apa to? Apakah penampil-nya? Apakah tempatnya? Apakah pemandangannya? Dari situ kan value (yang ditawarkan) bermacam-macam,” lanjutnya.
“Sakjane sing ditonton apa to? Apakah penampil-nya? Apakah tempatnya? Apakah pemandangannya? Dari situ kan value (yang ditawarkan) bermacam-macam,” lanjutnya.
Selain ide pertunjukan Teater Musikal Seri Nusantara “Kencana Wungu”, lambat laun konsep ini berkembang. Aktivasi ruang publik ini lalu menghadirkan banyak pihak untuk meramaikan kegiatan ini. Salah satunya adalah YK.RIA. Berkolaborasi dengan Loka Seni Indonesia, pusat pelatihan, pengembangan, dan pertunjukan seni, YK.RIA menampilkan pertunjukan jalanan, pasar kreatif, serta tenda kuliner.
Kedua, Joga Performa juga sekaligus menjadi ajang bagi para seniman dan pelaku kebudayaan dalam memfasilitasi kegiatan seni mereka. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa selama ini proses fasilitasi pekerja seni selalu terbentur oleh aturan pemerintah yang saklek. Andy menceritakan persoalan tiket sebagai contoh. Ketika para pekerja seni difasilitasi oleh pemerintah, persoalan tiket selalu menjadi perbincangan. Dalam pandangan para pekerja seni, tiket merupakan salah satu bentuk apresiasi tersendiri, dan Pemerintah memandang bentuk apresiasi itu sudah dilakukan pemerintah berupa fasilitas yang diberikan kepada mereka.
Andy berusaha mengatasi problem kedaulatan seni ini. Ia berpikir, melalui aktivasi seni ini, tiket digunakan untuk, sekali lagi, mengukur kecenderungan yang muncul dari publik ketika memutuskan untuk menonton. Dari data pembelian tiket, dapat diklasifikasikan berapa jumlah peminat, siapa saja yang menonton, berasal dari kalangan apa, dan sebagainya. Akhirnya, skema yang Andy cetuskan untuk ini adalah, “Karyanya enggak usah didanai pemerintah, tapi yang lainnya (seperti publikasi, konsumsi, dan lain-lain). Mengko tiket e bisa dipek (baca: dimiliki) oleh para pemain,” ungkapnya.
Sekali lagi, dalam upayanya, Andy berusaha untuk mengatasi problem kesenian, dengan mengajak banyak pihak untuk berkolaborasi bergabung dalam laboratorium kesenian ini. Sekaligus, ia juga bereksperimen dalam tajuk aktivasi ruang publik untuk kegiatan kesenian, demi memajukan industri kreatif berbasis seni dan budaya di Kota Yogyakarta.
***
Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Banyak orang mulai berbondong-bondong memasuki area amphitheater untuk menyaksikan pertunjukan musikal teater “Kencana Wungu”. Saya sengaja duduk di undakan kedua, tepat berada di depan panggung. Latar di depan masih gelap, dan tirai melambai-lambai diterpa angin lapangan, memperlihatkan para penampil yang tampak sedang mempersiapkan diri.
Sepertinya persiapan itu harus berjalan cukup lama, sehingga pertunjukan baru dapat dimulai pada pukul 19.05 WIB. Sebelum teater musikal Kencana Wungu, ada satu penampil dari Gunung Kidul, membawakan sebuah tarian simbolik yang coba menggambarkan kehidupan warga Gunung Kidul dengan ciri khas batuan karst nya. Tapi, sekali lagi, yang saya tunggu adalah pertunjukan teater musikalnya.
Jelang 10 menit, akhirnya musikal teater dimulai. Dua orang dari berlawanan arah membawa sebuah drum yang disiram oleh minyak. Saya mengerti itu minyak sebab, bersamaan dengan penuangan cairan itu, semerbak bau minyak seketika menyerbu hidung saya. Pastinya akan banyak adegan berapi yang ditampilkan.
“Ratu Kencana Wungu memegang kuasa yang tak sepenuhnya ia miliki,” suara narator mengantarkan jalannya acara. Saya menundukkan kepala sejenak untuk mengambil power bank. Dalam kondisi belum siap, saya dikagetkan oleh para penampil yang tetiba telah berlarian di panggung. Lebih mengejutkan lagi, salah seorang dari mereka tepat berdiri di depan saya.

Boom…! Kobaran api menyembur ke mana-mana. Seketika udara menjadi sedikit lebih panas. Drum itu ditabuh dalam kondisi terbakar. Minyak jatuh membasahi sekitar area pertunjukan. Menampilkan satu adegan pertempuran yang dahsyat dan berapi-api.
Boom…! Kobaran api menyembur ke mana-mana. Seketika udara menjadi sedikit lebih panas. Drum itu ditabuh dalam kondisi terbakar. Minyak jatuh membasahi sekitar area pertunjukan. Menampilkan satu adegan pertempuran yang dahsyat dan berapi-api.
Tapi tunggu dulu! Siapa Kencana Wungu? Narator hanya menyebut tentang Minak Jinggo sebagai seorang kesatria yang bergerak menuju Blambangan untuk mengalahkan Kebo Marcuet, sang penguasa Blambangan. Sosok Minak Jinggo ditampilkan menggunakan baju berwarna merah, mengenakan mahkota yang menjulang ke atas, khas penggambaran kerajaan Majapahit. Sedangkan Kebo Marcuet digambarkan secara harfiah layaknya “kebo (baca: kerbau)”, sesosok manusia bertanduk besar mengenakan baju berwarna biru.
Adegan menunjukkan pertempuran antara Minak Jinggo dan Kebo Marcuet. Suasana menjadi keos. Api menyebar di mana-mana. Beberapa prajurit memainkan akrobat api dengan memutar-mutar seutas tali yang di ujungnya terdapat buntalan yang terbakar. Menciptakan ilusi lingkaran api. Musik berdentang kencang, mendendangkan musik ala Banyuwang, sesuai dengan lokasi kerajaan Blambangan.
Singkat kata, Minak Jinggo menang dan menagih janji Ratu Kencana Wungu untuk mempersuntingnya dan menjadikannya raja Majapahit. Di titik ini, saya tersadar, ternyata Kencana Wungu adalah anak dari Brawijaya III, yang secara tiba-tiba harus meneruskan tampuk kekuasaan Ayahnya.
Ratu Kencana Wungu justru enggan menunaikan janjinya. Ia enggan menerima Minak Jinggo sebagai Raja, dan malah mengangkatnya menjadi seorang Adipati di Blambangan, negeri yang baru saja ia taklukkan. Ia juga menolak pinangan Minak Jinggo, mengingat cacat di badannya bekas serangan Kebo Marcuet. Minak Jinggo murka, dan kekecewaan itu akan dilampiaskan dengan tindakan makar terhadap kekuasaan Ratu Kencana Wungu.
Oke. Di sini, kita telah mengenal Kencana Wungu dan bagaimana wataknya. Namun, cerita ini sama sekali berbeda dengan versi serat Damarwulan gubahan R. Rangga Prawiradirja. Dalam naskah ini, Kencana Wungu sama sekali tidak mengkhianati janji. Justru Minak Jinggo lah yang sejak awal memiliki niat untuk mempersunting Kencana Wungu, karena kecantikannya, serta ingin memperoleh kekuasaan yang ia miliki. Perseteruan justru dipicu karena penolakan Kencana Wungu, dan berakhir pada tindakan makar Minak Jinggo.
Meski begitu, adegan ketika Kencana Wungu menolak menunaikan janji serta mencaci Minak Jinggo cukup menarik. Sang pemeran tampak menguasai emosi, sehingga gambaran tentang watak culasnya tersampaikan. “Tidak pantas aku bersanding dengan pria cacat sepertimu!” teriak Kencana Wungu.
Selebihnya, alur dalam serat Damarwulan berjalan serasi dengan cerita yang ditampilkan. Bahwa muncul sosok Damarwulan, yang gagah, tampan, dan berani. Tak lupa, ia juga sakti mandraguna. Penggambarannya dapat ditebak. Sosok pria yang bergerak dengan agak anggun namun tetap gagah, berperawakan tinggi, serta mengenakan baju berwarna putih yang lambang kesucian. Dengan rasa cinta tanah air, ia menumpas gerakan makar Minak Jinggo. Dan ia menang, menikahi Kencana Wungu, dan dinobatkan menjadi Raja Majapahit, yaitu Brawijaya ke IV.
Namun, sangat disayangkan, sepanjang pertunjukan, musik tampak ramai sekali. Ia bahkan lebih ramai dari suara pemain. Saya cukup kesusahan menangkap apa yang dibincangkan oleh aktor-aktor tersebut. Serta, beberapa percakapan berlangsung dengan mekanisme dubbing. Teknik itu cukup mereduksi emosi yang ingin dihantarkan. Tentu akan lebih menarik jika setiap percakapan diucapkan langsung oleh para aktor, sehingga dapat dilihat seberapa jauh pendalamannya atas karakter yang ia mainkan.
Hampir sepanjang sesi, adegan atraksi api selalu muncul. Mulai dari drum terbakar yang ditabuh dengan percikan api yang mencuat kemana-mana, para pemain yang menyembur-nyemburkan minyak pada api sehingga membentuk semburan api, dan pusaran-pusaran api yang dimainkan. Saya cukup bergidik sekaligus takjub melihat mereka memainkannya. Dapat dibayangkan betapa panasnya ketika seseorang bermain api, sedangkan orang yang berada di sekitarnya pun turut merasakan panas api tersebut. Dengan adegan ini pula, pertunjukan berakhir.
***
Syahdan, melihat pertunjukan musikal teater ini membuat saya merasa seperti orang yang sedang berlibur ke Jogja, sembari menikmati tarian sambutan. Saya pun bertanya kepada salah seorang pengunjung yang tak mau disebut namanya. Katanya, pertunjukan ini menarik, meski sedikit agak keos ketika para pemain memegang petasan dengan bunyi yang cukup menutupi musik. Dan “Pemeran Kencana Wungu anggun,” ucapnya.
Penonton mulai membubarkan diri. Beberapa tamu undangan, seperti Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dipersilakan untuk menikmati jamuan ramah tamah di bawah tenda yang telah disediakan oleh panitia. Namun, pertunjukan belum usai. Masih ada suguhan pertunjukan jalanan di lokasi YK.RIA. Tepat ketika saya hendak berpindah venue, gawai saya berdering. Salah satu kawan memberi kabar bahwa ia masuk IGD. Dengan cukup terpaksa saya harus meninggalkan tempat untuk menjenguk kawan saya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, saya mencoba merenungi pementasan Kencana Wungu tadi. Pertunjukan ini, mungkin mematahkan ekspektasi tentang teater dan musikal yang telah saya bayangkan di atas. Tapi, bagaimanapun juga, peristiwa bernama Jogja Performa ini memang selayaknya berlangsung. Eksperimen untuk mendayagunakan seni harus terjadi, dengan melibatkan semua pihak. Ruang publik harus dibuka luas untuk sarana kegiatan publik. Dan Pemerintah sudah seharusnya memberikan, baik apresiasi maupun fasilitasi, kepada seniman secara kaffah. Sudah bukan waktunya lagi para seniman tak bisa hidup dari karya seninya.
Apa yang dilakukan oleh Jogja Performa, dengan upaya aktivasi ruang publik-nya yang berupaya menjembatani banyak pelaku kesenian, menunjukkan bahwa kesenian memang sejatinya tumbuh dari masyarakat. Banyaknya gerakan kolektif yang bertebaran di Yogyakarta ini mestinya mendapat perhatian dari Pemerintah dengan aturan serta cara-cara yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Seperti labelnya, Yogyakarta sebagai kota budaya juga harus memperhatikan budayawannya. Sehingga kebudayaan dapat mencipta masyarakat yang sejahtera, baik secara lahir maupun batin. Masyarakat yang terapresiasi raganya dengan peningkatan ekonomi, dan terapresiasi jiwanya dengan kesenian. Seperti yang dituliskan oleh Putu Wijaya dalam bukunya yang berjudul BOR: Esai-esai Budaya bahwa jika beras adalah sembako jasmani, maka fenomena kesenian adalah “sembako jiwa”.








