Kanjeng Raden Ayu Kilen dan Nasab Tarekatnya

Dalam salah satu pengantar buku terjemahan dzikr al niswat al muta’abbidat al shufiyyat karya Abu abdurrahma As-Sulami, Syeh Nursamad Kamba menyebutkan bahwa “sikap bertuhan adalah merefleksikan nila-nilai Tuhan.” (A. Dahri, 2018; VI) Ketika perdebatan tentang tasawuf yang merupakan gerak reaktif terhadap perkembangan umum, dengan pandangan bahwa tasawuf adalah sebuah dasar terpenting dalam ajaran agama islam, justru yang menjadi jalan tengah dari perdebatan itu adalah tentang kecintaan kepada Tuhan. Lagi-lagi cinta menjadi jalan damai antara dua golongan yang berdebat.

Oleh karenanya, dari ungkapan Syeh Nursamad Kamba di atas, saya ingin menarik benang merah terkait bentuk ibadah dan ragam pengabdian kepada Tuhan. Di mana para sufi mengabdikan diri kepada Tuhan melalui cinta dan kepekaan-kepekaan.

Para sufi akan melakukan pemurnian diri, pembersihan hati, tafakkur, berdzikkir dan melakukan kemanfaatan bagi sesama dalam setiap kehidupannya. Tentu perkara cinta tidak dibedakan antara pria dan wanita. Tidak hanya di timur tengah yang kita kenal para sufinya, baik pria maupun wanita.

Sudah sangat masyhur bahwa sufi seperti Hasan al Bashri, Ibnu Arabi, Yazid al-Bustami, Jalaluddin Rumi, Junaidi al-Bagdadai, Robiah al-Adawiyah dan lain sebagainya. Sedangkan di Nusantara sejak era para wali sanga, kemudian Syeh Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fansuri, Abdurrahman Singkel, dan lain sebagainya. Perkembangan tasawauf sendiri tentu dibarengi dengan perkembangan tarekat seperti Naqsabandiyah, Sathariyah dan Khalwatiyan.

Sebagian peneliti di Nusantara, Khususnya Pak Oman Fathurrahman dan Prof Peter Carey menemukan informasi bahwa pasca kepulangan ulama-ulama Nusantara dari Hijaz kemudian menyebarkan Tarekat Sathariyah dan menjadi penguat tradisi tasawuf di Nusantara.

Dari perjalanan Tarekat Syattariyah inilah kita dapat mengetahui bahwa ada beberapa wanita yang juga berbaiat tarekat tersebut. Salah satunya adalah Raden Ayu Kilen. Dari informasi Pak Oman Fathurrahman dan Prof Peter Carey, akhirnya saya mencoba mencari kitab kuno koleksi British Library dengan kode Jav. 83 dan nampak pada Halaman f.26.r, bahwa ada runtutan atau nasab Tarekat Syattariyah yang kemudian menyebutkan Kanjeng Raden Ayu Kilen sebagai salah satu murid tarekat tersebut.

Artinya, tidak menutup kemungkinan bahwa wanita-wanita sufi di Nusantara juga sangat banyak sekali, pun seperti halnya Rabiah al-Adawiyah yang meneguhkan cintanya kepada Tuhan, Kanjeng Raden Ayu Kilen juga demikian.

Di Nusantara, Jawa khususnya, ragam tradisi sangat mirip dengan konsep tasawuf yang diusung dari timur tengah. Konsep innalillahi wa inna ilaihi rajiun misalnya, sangat mirip dengan sankan paraning dumadi. Mengutip apa yang ditulis oleh Mas Irfan Afifi dalam bukunya “Saya, Islam dan Jawa” bahwa;

Dalam kerangka keberadaan hidup manusia jawa, ia sedang dalam sebuah perjalanan besar dari Allah menuju Allah, alias sebuah gerak dari yang diadakan (dumadi/maujud) menuju yang Ada atau yang Mengadakan (dadi/wujud). Yakni perjalanan manusia dari sejak ia berada di dalam kandungan menuju kematian.

“Perjalanan sering diterjemahkan dalam sebuah neologi (istilah baru) yang diintrodusir bernama “suluk” yang juga dalam bahasa Islam – merupakan istilah kunci dalam tasawuf – serta juga secara harfiah berarti berjalan atau perjalanan.”

Artinya, sebuah perjalan menuju kepada Tuhan yang pondasi dasarnya adalah cinta, teramu melalui sebuah pendekatan tasawuf. Salah satu bentuk suluknya adalah tarekat – yang bermakna dasar serupa dengan suluk, yaitu jalan.

***

Tarekat Syattariyah dinisbatkan kepada Syeh Abdullah Syattar, dan memiliki pengaruh yang besar dalam dunia islam. Tarekat yang memiliki silsilah sampai kepada Yazid al-Busthomi (w.260 H) dan Imam Ja’far Shodiq (w. 146 H). Seperti halnya tarekat-tarekat yang akan muncul setelah Syattariyah, proses tingkatan perjalanan dalam sebuah tarekat adalah menghilangkan zat, sifat dan af’alnya. Oleh sebab itu puncak sebuah tarekat adalah cinta.

Ketika pengaruh dari tarekat ini sampai di Nusantara, salah satunya adalah Cirebon dan sangat pesat perkembangannya, khususnya di wilayah keraton. Kebanyakan para bangsawan yang menganut tarekat, akan keluar dari keraton kemudian mendirikan pesantren atau palenggahan di luar pesantren. Maka, wajar jika kebanyakan para kyai-kyai dulu masih memiliki darah bangsawan.

Salah satu istri bangsawan yang tercatat dalam salah satu naskan koleksi British Library dan juga pernah diteliti oleh Pak Oman Fathurrahman dalah Raden Ayu Kilen. Hal ini dibuktikan dengan nasab tarekatnya. Raden Ayu Kilen adalah Istri dari Hamengkubuwana II, ia adalah putri dari Kyai Adipati Purwodiningrat. Berikut susunan dari nasab tarekat Raden ayu Kilen dalam kitab kuno koleksi British Library ;

  • “Utawi ikilah kitab ingdalem anyatakaken turuturune dedalan Syatariyah kang tedhak saking kanjeng Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Iya iku amuruk maring sayidina Ali ingkang putra Abi Thalib radliyallahu anhu, lan iya iku amuruk maring Sayyidina Husain Syahid lan iya iku amuruk maring Sayyidina Zainal Abidin lan iya iku amuruk maring Imam Muhammad Baqir lan iya iku amuruk maring Rauhaniyah Imam Ja’far Shodiq lan iya iku amuruk maring Rauhaniyah Sultan Arifin Abi Yazid Busthomi lan iya iku amuruk maring Syaih Muhammad Maghribi lan iya iku amuruk maring Syaih  Araby Yazid ‘Isqy lan iya iku amuruk maring Qutb Abu Mudhfari Maulana ing Gorum bangsane Thusi tanahe, lan iya iku amuruk maring Qutub Abi Hasan Harqani lan iya iku amuruk maring Syaih Hudaqulyy Maawuriya Nahary lan iya iku amuruk maring Sayid Muhammad ‘Asyqi lan iya iku amuruk maring Sayyid Muhammad Arif, lan iya iku amuruk maring Syaih Abdullah Syathary, lan iya iku amuruk maring Imam Qadi Syathary, lan iya iku amuruk maring Syaih Hidayatullah Sarmast, lan iya iku amuruk maring Sayyid Muhammad Gaust kang putra Sayyid Khatiruddin, lan iya iku amuruk maring Sayyid Wajihuddin kang abangsa ‘Aluwiy, lan iya iku amuruk maring Sayyid Shibgatullah kang putra Sayyid Rauhullah, lan iya iku amuruk maring Sayyidina Abi Muwahhib Abdullah Ahmad kang putra Muhammad ing Madinah Negarane kang masyhur kelawan Syaih Ahmad Qusyaasyi, iya iku amuruk maring Syaih Hamzah Fansury, lan iya iku amuruk maring Syaih Haji Abdul Muhyi ing Kawis Desane, lan iya iku amuruk maring Ingkang Putra Mas Haji Abdullah Faqih Ibrahim pun nanggih ing Kawis, lan iya iku amuruk maring Ingkang Putra Malih Mas Nida Muhammad pun nanggih ing Kawis, lan iya iku amuruk maring Kyai Abdullah kang Masyhur kelawan Kyai Kasthuby ing Bagelan Negarane, llan iya iku amuruk maring Kanjeng Pangeran Paku Ningrat ing Ngayugyakarta Adiningrat, lan iya iku amuruk maring Kanjeng Raden Nayu Kilen ingkang Garwa Kanjeng Sinuhun Sultan Pakubuwana Abdurrahman Sayyidin Panatagama Senopati Ing Alaga kang mugi-mugi tinetepaken iman dining Gusti Kang Agung lan kang muga ingapura sekabehane dusane lan kang muga tinarimaha sekatahe ganjaran lan kinasih ing dunya rawuh ing akherat Amin Ya Rabbal alamin.”

Dengan demikian Raden Ayu Kilen menjadi salah satu di antara beberapa wanita sufi yang ada di Nusantara. Yang mana dengan tarekat yang dianutnya menjadi bagian dari prose kecintaannya kepada Tuhan. Pun akan berimbas kepada keturunannya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.

Buku Langgar Shop
Ahmad Dahri
Penulis adalah Ahmad Dahri, kelahiran Malang 1993, menekuni membaca dan menulis sejak di SMA, kini sedang menekuni sastra, budaya dan sarkub (sarjana kuburan).