Pengisah dan Tabah

https://theinspirationgrid.com/new-editorial-illustrations-by-iza-dudzik/

Ia (telat) menulis puisi. Bermula di Solo, ia memilih prosa. Cerita demi cerita ditulis dikirimkan ke majalah-majalah. Ia mengincar halaman-halaman majalah terbitan Jakarta. Hari demi hari berganti, ia terus menulis cerita pendek dan novel. Pada tahun-tahun negara mengucurkan duit, ia terus menulis buku cerita anak. Pada masa berlari kencang di jalan sastra, ia tetap belum kepincut menggubah puisi. Ia mungkin bandel meski memiliki peran memilih dan memberi catatan dalam pemuatan puisi-puisi di majalah Hai.

Sejak keranjingan menulis, ia memang tak memilih puisi. Di Solo dan Jakarta, Arswendo Atmowiloto  (26 November 1948-19 Juli 2019) itu pengarang tenar dan terlalu rajin tapi sulit mendapat penghormatan dalam puisi. Ia sering mengaku emoh menulis puisi meski sekian orang menemukan sedikit puisi di Basis atau majalah bakal terlacak. Ia pasti sanggup menggubah puisi tapi selalu “menunda” atau “membatalkan” berdalih teknis atau selera estetika. Puluhan tahun, Arswendo Atmowiloto bergelimang kata, menghasilkan buku-buku laris terbitan Gramedia.

Ia tak seperti pengarang sama-sama asal Solo: Sapardi Djoko Damono. Semula, ia menggubah puisi. Pada saat tua, lelaki kurus itu malah sregep menulis cerita pendek dan novel. Puisi terus digubah tanpa bosan. Buku-buku terbit setiap tahun berakibat pembaca sering lupa judul dan tahun terbit. Semua gara-gara ia bergairah menulis tanpa pantang. Bermula dari puisi, Sapardi Djoko Damono memiliki kesuburan berprosa.

Nama itu teringat untuk mengutip masalah puisi mengacu kata. Sapardi Djoko Damono (1969) menjelaskan: “Kata-kata adalah segalanja dalam puisi. Kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat jang menghubungkan pembatja dengan ide penjair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnja, tetapi sekaligus sebagai pendukung imadji dan penghubung pembatja dengan dunia intuisi penjair.” Deretan kata dari pengamatan dan pembacaan. Ia pun sudah tenar dengan puisi-puisi, tercatat memiliki buku berjudul dukaMu abadi.

Pada masa, Sapardi Djoko Damono berpuisi dan membuat esai-esai mengenai puisi, Arswendo Atmowiloto belum penggubah puisi. Ia sibuk dengan kata-kata di jalan prosa. Ia belum menjadi tokoh mendapat perhatian di kesusastraan Indonesia. Di keseharian, ia menulis dan menulis untuk menjadi pengarang perlahan memiliki tempat dan tercatat pada masa 1970-an.

Ia sibuk dengan kata-kata di jalan prosa. Ia belum menjadi tokoh mendapat perhatian di kesusastraan Indonesia. Di keseharian, ia menulis dan menulis untuk menjadi pengarang perlahan memiliki tempat dan tercatat pada masa 1970-an.

Arswendo Atmowiloto (1981) bercerita: “Jadi, memang tak terlintas dalam benak saya mau menjadi pengarang. Situasi hidup keluarga juga tak memungkinkan pilihan yang luks itu. Saya, bersama lima saudara yang lain, hidup dari ibu, janda yang hidup dari pensiun. Sebelum pensiun pun sebetulnya tidak mencukupi, hanya kehidupan sekarang lebih berat. Mengarang membutuhkan kertas, prangko, amplop dan mesin tulis. Semua terlalu luks. Tak tergambar dalam benak saya.” Ia tak ingin menjadi pengarang tapi saat remaja mulai telanjur menjadi pengarang: mencapai tenar dan makmur.

Pada masa 1970-an, ia memilih menulis cerpen dan puisi-dinding, setelah mengetahui puisi gubahan Sapardi Djoko Damono dimuat di Horison dan pelbagai majalah tak sembarangan. Pada suatu hari, cerita-cerita di dinding itu dimuat di Horison dengan penamaan “cerpen mini”. Cerpen menemukan halaman bermutu tapi puisi tak mendapat pengisahan: menempel di dinding sampai hancur atau dimuat di majalah tak tercatat lagi.

Pembaca sastra perlahan mengakui keampuhan Arswendo Atmowiloto. Puluhan buku terbit mendapat penghargaan dan menghasilkan rezeki. Ia memberi daftar predikat diri: penulis cerpen dan novel, peresensi, penulis teks iklan, wartawan, penulis skenario, dan penulis lirik lagu. Ia tak memberi sebutan diri sebagai penggubah atau penulis puisi.

Di majalah Hai edisi 19-25 September 1989, Arswendo Atmowiloto menulis “cerpui”. Konon, sebutan untuk cerpen-puisi. Dua halaman untuk olah kata Arswendo Atmowiloto. Ingat, “cerpui”, bukan puisi. Di majalah remaja, ia menggubah “cerpui” berjudul “Maria Bertanya Apa Sih Makna Cinta”.

Puisi mencampur tragedi, lucu, dan tabah. Arswendo Atmowiloto mungkin mengetahui gubahan Linus Suryadi Pengakuan Pariyem dengan sebutan “prosa-lirik” tapi memilih bercerita dengan puisi. Kita tak bermaksud mencari kemiripan atau perbedaan. Kita membaca: Maria, hampir 16 tahun, siswi yang tekun/ di tengah malam selewat pukul 12 malam terbangun/ mendengar isak tangis ibunya, yang paginya menemui dukun/ Maria mengantar, antri lama dan tertegun/ pak dukun nampak berwibawa, tapi juga mengesankan pikun/ kalimatnya bagai berayun. Bait itu mengesankan menggubah puisi “gampang” meski tak segampang mengarang cerita pendek atau novel.

Maria memiliki bapak-ibu sedang ruwet. Bapak adalah direktur. Uang melimpah dimiliki dan segala kesenangan. Keluarga itu berantakan, setelah ibu kecewa mengetahui bapak serong. Pembaca mengetahui maksud Arswendo Atmowiloto bercerita keluarga mapan tapi gagal bahagia. Ibu memilih resep-resep dari dukun untuk menobatkan bapak. Maria menjadi saksi dengan kebingungan berlatar pendidikan dan tatanan hidup sudah maju-rasional. Dukun tetap dianggap sakti merampungi masalah keluarga.

Ibu memilih resep-resep dari dukun untuk menobatkan bapak. Maria menjadi saksi dengan kebingungan berlatar pendidikan dan tatanan hidup sudah maju-rasional. Dukun tetap dianggap sakti merampungi masalah keluarga.

Si remaja bernama Maria perlahan belajar menjadi perempuan. Ia pun (agak) menggugat tapi belum memiliki bahasa dan sikap jelas. Ragu itu terbaca: Maria, sudah lewat 16 tahun, masih bertanya-tanya/ apa sebenarnya yang dimaui ibunya/ kenapa tidak tembak langsung pada bapaknya/ Maria juga ragu/ apa sebenarnya yang dimaui bapaknya/ kok ya tega berbuat itu. Pembaca gampang mengetahui masalah klise menimpa keluarga Maria. Pembaca sudah memiliki bekal cerita di film, novel pop, atau berita-berita di koran. Gosip-gosip beredar sering mirip masalah ditanggungkan Maria.

Maria semakin menghadapi masalah bertema asmara. Ia berkencan dengan Joni tapi ibu tak setuju. Jalinan asmara dengan Dodi pun tak mendapat restu berdalih masih famili. Hari demi hari, Maria patah hati. Ia melihat bapak-ibu sering rumit. Ia malah terlalu rumit.

Kelucuan tragis kita baca dalam babak perpisahan Maria dengan kekasih. Arswendo Atmowiloto terbukti paham bahasa bisa terbaca kaum remaja. Kita simak omongan perpisahan: “Karena aku melarat/ dan kamu dilahirkan dalam keluarga 24 karat/ tapi aku mau menggugat/ siapa sebenarnya yang menciptakan kiamat.” Larik-larik khas miliki Arswendo Atmowiloto, pengarang sering tertawa dan mengumbar sindiran-sindiran puitis.

Pada suatu hari, Mari menikah dengan lelaki sukses. Dua anak dilahirkan mengesahkan penciptaan keluarga. Ia berlagak bahagia sambil melihat bapak-ibu sudah akur. Mereka bertambah tua, tak perlu lagi bertengkar. Posisi berganti: semuanya lebur dalam kasih yang manja/ pada cucu-cucunya/ yang menyita seluruh waktunya. Pada para pembaca Hai, Arswendo Atmowiloto mengisahkan keluarga. Ia pasti memberi sindiran atas lakon keluarga-keluarga di Indonesia masa 1980-an. Keluarga bahagia itu omong kosong.

Maria memilih tabah, emoh meniru tindakan ibu di masa lalu saat ingin menghukum bapak. Kita membaca tatanan keluarga dan acuan-acuan nilai memang sulit mewujudkan keluarga bahagia. Orde Baru sering bermimpi mencipta keluarga bahagia. Orang-orang membuktikan keluarga bahagia cuma ada di buku pelajaran SD.

Bait ketabahan: Perjalanan hidup yang menyenangkan/ Maria ketemu dalam arisan/ istri Joni, istri Dodi, istri teman, istri bawahan/ karena suaminya yang sekarang pimpinan/ berbagai perusahaan/ yang jumlahnya puluhan atau ratusan/ kalau yang kecil juga diperhitungkan/ Maria tak kaget lagi ketika mendengar kabar/ suaminya memainkan peran kembar/ ia tak pergi ke dukun atau psikolog akbar/ ia tak tenggelam dalam gusar/ ia malah tertawa lebar/ ketika suaminya mengakui dosa besar. Ia mendapatkan dua lelaki brengsek: bapak dan suami. Maria memilih sikap membuat suami kelabakan dan semakin merasa bersalah.

Selama puluhan tahun, para penggemar mungkin tak mengetahui atau mengingat tulisan dijuduli “Maria Bertanya Apa Sih Makna Cinta”. Judul Wagu dan cuma tersaji dalam dua halaman. Orang-orang memilih mengingat Canting, Senopati Pamungkas, Dua Ibu, dan lain-lain. Di mata mereka, Arswendo Atmowiloto itu prosais, bukan penghuni di jagat puisi.

Arswendo Atmowiloto menulis ketabahan dan siasat perempuan memiliki masa lalu dan kesadaran menghadapi kejadian sama. Sikap berbeda ditampikan ketimbang meniru ibu. Kehadiran tulisan di majalah Hai itu mengajak para pembaca memiliki tatapan dan sikap kritis atas keluarga-keluarga di masa Orde Baru. Maria menjadi tokoh paling tabah bisa dimengerti para pembaca meski itu terasa berlebihan: “Suamiku, bapak anak-anakku,” jawab Maria tabah/ kamu jangan salah tingkah/ dulu aku bertanya/ dulu aku mencari makna/ cinta, perkawinan, kesetiaan/ dari idiom orang lain/ ternyata itu salah/ kita sendiri yang memberi arti/ ukurannya bukan dari luar// itu yang membuat aku kelihatan sabar/ untuk apa aku mencacimu/ atau membunuhmu/ atau memaafkanmu/ kalau kamu sendiri tak tahu/ hanya kamu, suamiku/ yang bisa menghargai harkat cintamu.

Dua halaman dinamakan “cerpen-puisi” memungkinkan kita memiliki anggapan bahwa Arswendo Atmowiloto menggubah puisi meski sedikit. Ia telanjur moncer dengan cerita pendek dan novel tapi kita tetap memberi tempat dalam perpuisian meski bukan ingatan milik penggemar. Begitu.


Illustrations by: Iza-dudzik

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).