Perjumpaan Saya Dengan Wayang: Jalan Menemukan Diri

Selama tinggal di pulau Jawa, sejak masuk SMA sekitar tiga tahun yang lalu hingga kuliah saat ini, wayang adalah sesuatu yang asing bagi saya. Pasalnya, wayang bukan sebuah pertunjukan seni dari Maluku Utara. Mendengar informasi tentang Pagelara Wayang, sedikit pun tidak tergerak untuk menengok apalagi menontonnya. Saya benar-benar melihat wayang sebagai Jawa, bukan Maluku Utara dan memang demikian jika dilihat dari bentuknya. Dengan kata lain, dalam pikiran saya saat itu, bahwa saya tidak dapat belajar apa-apa dari pegelaran wayang, paling banter saya hanya akan menganggap itu sebuah hiburan untuk orang Jawa.

Namun kali ini sedikit berbeda, cara pandang saya terhadap wayang atau pagelaran wayang purwa sudah sangat berbeda dengan sebelumnya. Pergeseran cara pandang saya terhadap wayang mengalami perubahan total saat saya mengikuti Ngaji Posonan 2021 di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Yogyakarta.

Singkatnya, Wayang bagi saya saat ini, jika dilihat secara bentuk memang sangat khas suku Jawa, tetapi secara substansi nilai wayang bukan sekedar apa yang kita lihat dengan mata. Wayang lebih merupakan sebuah tuntunan terhadap seluruh umat manusia untuk mengenal diri dan sang pencipta (Allah). Dalam ungkapan orang Jawa yang cukup terkenal adalah “Sangkan paraning dumadi”, sebuah ungkapan filosofis tentang hakikat keber-ada-an manusia dan Tuhan. Kerana yang ingin diajarkan/diedukasi adalah masyarakat Jawa, pendekatan metodologinya pun disesuikan dengan tradisi lokal yang paling dekat, atau mudah dipahami oleh masyarakat sekitar (Jawa khususnya). Ini merupakan sebuah kecerdasan intelektual dan spiritual wali sanga dalam berdakwah.

Tapi sebelum jauh, saya ingin bercerita secara singkat awal perjumpaan saya dengan wacana wayang atau pagelaran wayang purwa. Saya adalah salah satu santri dari luar Jawa dalam kegiatan Ngaji Posonan 2021 di Pesantren Kaliopak, Yogyakarta. Mungkin hal itu juga yang membuat saya sedikit kesulitan memahami wacana yang berkembang. Saya bukan kesulitan ngomong Jawa, saya sebenarnya bisa bahasa Jawa, tapi kaku mengucapkan. Saya memang sekolah SMA di Kudus, Jawa Tengah, selama 3 tahun. Tapi setelah itu balik dan hampir 4 tahun saya di Maluku Utara, sehingga bahasa Jawa saya sudah kaku.

Yang kesulitan saya pahami dalam diskusi Ngaji Posonan adalah bahasa-bahasa Jawa halus kromo, karena setiap ungkapan memiliki basis filosofis cukup mendalam dan tidak bisa hanya melihat arti dari setiap kata. Sebelumnya saya tidak pernah berjumpa dengan bahasa seperti itu, saya lebih akrab dengan bahasa Jawa ngoko yang biasa digunakan untuk komunikasi sehari-hari di kalangan anak muda.

Kendala itu saya terobos dengan segala kemampuan yang saya miliki. Seluruh kemampuan fisik dan pikiran saya kerahkan untuk belajar bahasa-bahasa Jawa yang sering saya jumpai dalam diskusi (saya menyebutnya kata/istilah kunci). Berusaha membagi waktu sebaik mungkin untuk membaca buku, guyon dengan teman-teman Ngaji Posonan dan berkumpul dengan panitia. Nah, saat kumpul dengan panitia itulah saya rajin bertanya kata-kata kunci dalam bahasa Jawa lalu menuliskan sekaligus dengan artinya, kemudian meminta penjelasan agar sebisa mungkin menangkap makna dari istilah kunci yang saya maksud. Tapi sekali lagi saya tetaplah orang Maluku Utara (bukan Jawa), yang dalam batas tertentu saya mengakui memiliki keterbatasan untuk menangkap maknanya secara utuh. Namun itu bukanlah alasan untuk tidak bisa (boleh) belajar tentang budaya lokal masyarakat Jawa.

Contoh peribahasa yang paling berkesan buat saya adalah makna kata “kasunyatan”. Jika dilihat dari arti kata sebenarnya sederhana, yaitu “kenyataan”. Tapi sesungguhnya kata itu tidak sesederhana arti yang kita tahu. Lebih dari itu, kata kasunyatan mengandung makna kenyataan yang lebih tinggi, yaitu kenyataan tentang keber-ada-an Tuhan. Itulah kenapa saya sangat bersemangat mempelajari kata/istilah kunci tersebut.

Mungkin, teman-teman Ngaji Posonan akan berpikir saya menjaga jarak dengan mereka. karena saya tidak lama-lama duduk bersama, hanya guyon sebentar kemudian pergi ke teman-teman panitia untuk belajar (kata/istilah kunci bahasa jawa). Sebenarnya itu hanya cara untuk mengatasi kesulitan yang saya alami (Untuk semua itu, saya meminta maaf dengan sangat kepada teman-teman Ngaji Posonan 2021).

Singkat cerita, saya sudah punya catatan di buku tulis. Bertepatan dengan itu, bacaan saya dalam buku “Islam Berkebudayaan” yang ditulis oleh Kiai M. Jadul Maula, sampai pada pembahasan tentang Pagelaran Wayang Purwa. Itulah pertama kali saya membaca tentang wayang. Ada tema dalam tulisan Pak Yai yang sangat kuat menarik saya untuk membaca secara cermat setiap kata dan kalimat, yaitu “Wayang Purwa Warisan Walisanga: Sketsa Jalan Kesempurnaan Manusia Nusantara”. Dalam pikiran saya, kok tema ini semacam mengajak semua orang menikmati pertunjukan wayang, apa yang harus saya nikmati? ada apa memang dengan wayang? adakah yang penting untuk saya pelajari? pertanyaan-pertanyaan itu menyeret saya dalam upaya konsentrasi tingkat tinggi membaca bagian tersebut.

Tapi perlu saya sampaikan disini, bahwa saya dalam tulisan ini tidak sedang menjelaskan detail apa itu pagelaran wayang purwa, atau bahkan menuliskan ulang apa yang di tulisan oleh Kiai Jadul Maula di bukunya. Namun, saya hanya ingin mengulas sedikit penangkapan dari bacaan saya tentang wayang (terutama bagian yang sudah saya tulis di atas).

Pagelaran wayang, dalam hemat saya adalah pertunjukan dari hasil totalitas kehidupan manusia. Wayang merupakan sebuah perwujudan dari kecerdasan dan kreatifitas Wali Sanga, baik secara intelektual maupun spiritual. Sebuah modifikasi seni pertunjukan menjadi metode dakwah/edukasi bagi masyarakat Jawa, yang tidak hanya sekedar rumusan menyampaikan tentang makan untuk hidup. Lebih dari itu, wayang merupakan sebuah pertunjukan yang menuntun manusia mengngenal dan manunggal dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Misalnya, seperti yang tergambarkan dari sembilan tokoh utama dalam lakon-lakon wayang yang sebenarnya menggambarkan 9 (sembilan) unsur/organ utama dalam diri manusia. Sembilan tokoh utama tersebut adalah Pandawa Lima, tokoh utama dalam lakon wayang Barantayuda yang menggambarkan lima panca indera; Yudistira (hidung/pernafasan), Bima (telinga/pendengaran), Arjuna (mata/penglihatan), Kembar Nakula (lidah/bicara), dan Sadewa (kulit/perasa/peraba/pelaksana). Kemudian empat lainnya adalah Karna (telinga), Sembadra (perasaan/rasa hati), Kresna (akal/pikiran), Baladewa (batin). Pertanyaan selanjutnya yaitu, siapa dalang? Dalang adalah Ruh yang menggerakkan manusia, tempat Tuhan yang mengatur jalannya cerita (Baca: Wayang Purwa…)

Semua lakon wayang menunjukan pertarungan sengit dalam diri, yang musuhnya sangat banyak berjumlah 100. Dalam hal ini, untuk memenangkan pertarungan tersebut maka butuh sebuah pusaka Jamus Kalimasada, perlambangan dari Zikir untuk selalu mengingat Tuhan sebagai orientasi hidup dan kehidupan (Kiai M. Jadul Maula: 2019: 59)

Setiap cerita lakon wayang berkaitan erat dengan kehidupan manusia, bahkan lebih dari itu semuanya (bentuk dan lelakon wayang) adalah pralambang dari dalam diri manusia. Saya sendiri memaknai hal itu sesungguhnya para Wali Songo ingin menjelaskan kepada seluruh umat manusia tentang kesejatian hidup dan kehidupan. Dengan kata lain, melalui wayang kita (manusia) seharusnya dapat belajar tentang siapa diri kita sesungguhnya? Dari mana kita berasal? Dan hendak kemana kita akan pergi?

Sampai disini, saya ingin tegaskan bahwa orang boleh mengatakan bentuk wayang adalah seni pertunjukan bagi orang Jawa, tetapi nilai yang diajarkan (ditunjukan) bersifat sangat universal yang mana setiap mahkluk bernama manusia dapat belajar.

Sampai disini, saya ingin tegaskan bahwa orang boleh mengatakan bentuk wayang adalah seni pertunjukan bagi orang Jawa, tetapi nilai yang diajarkan (ditunjukan) bersifat sangat universal yang mana setiap mahkluk bernama manusia dapat belajar. Hanya dengan begitu, kita (terutama saya) dapat memaknai ulang istilah “Jawi” yang tidak hanya merujuk ke pulau Jawa saja, tetapi istilah ini di tujukan untuk seluruh kepulauan Nusantara.

Seperti juga ditegaskan oleh Pak Yai “Konsep dan metode ini bersifat universal, karena setiap manusia, apa pun ras, suku, agama, maupun keyakinannya bisa menikmati dan mempraktikkannya, karena pada hakikatnya, semua manusia itu berasal dari Tuhan Yang Satu dan kepada-Nya pula akan kembali” (M. Jadul Maula:2019:66)

Dalam hal ini saat saya membaca tulisan tentang Wayang Purwa, saya semacam merasakan sebuah perjumpaan spiritual. Dengan begitu, saya menjadi mengerti tentang apa yang dimaksud dengan kita bisa belajar (secara kritis) dari budaya lokal. Juga merupakan penegasan, bahwa Nusantara bukanlah negara yang suka mempertentangkan perbedaan suku, ras, dan agama. Melainkan sebuah bangunan peradaban dengan dimensi spiritual yang menjadi pengikat seluruh umat manusia. Dapat dipahami bahwa setiap perbedaan harusnya membuat kita dapat saling belajar, tidak seperti apa yang disampaikan oleh Samuel P. Huntington lewat propagandanya dalam “Benturan Antar Peradaban” .

Disamping itu, membaca wayang bukan berarti saya kehilangan identitas kedirian saya sebagai orang Maluku Utara. Malah sebaliknya, membaca wayang semakin menarik saya untuk kembali melihat dan belajar dari budaya lokal Maluku Utara. Kerinduan saya terhadap kampung halaman semakin menguat, bukan untuk pulang makan ikan atau embel-embel lainnya, tetapi pulang dan menyaksikan/belajar dari masyarakat saya sendiri sebagai pelaku kebudayaan.

Disamping itu, membaca wayang bukan berarti saya kehilangan identitas kedirian saya sebagai orang Maluku Utara. Malah sebaliknya, membaca wayang semakin menarik saya untuk kembali melihat dan belajar dari budaya lokal Maluku Utara.

Namun, saat ini saya harus menerima sebuah kenyataan bahwa saya berada di Jawa, yang dengan demikian saya punya kesempatan untuk belajar dari budaya orang Jawa. Tegasnya, bagi saya tidak ada lagi dikotomi antara Jawa dan non-Jawa. Saya yakin sungguh, bahwa kita dapat belajar dari setiap budaya lokal di Nusantara. Perbedaan harus dipandang sebagai konsekuensi logis ketentuan hukum Tuhan (Sunnatullah).

Dari mengikuti Ngaji Posonan dan membaca wayang purwa dalam buku Islam Berkebudayaan itulah saya kemudian memilih mondok di Pesantren Kaliopak, Yogyakarta. Menapaki jalan seperti itu bagi saya adalah sebuah perjalanan spiritual untuk kembali/pulang kepada asal. Memang jalan ini tidak semudah membalik telapak tangan, namun inilah yang harus saya ambil sebagai proses berkemanusiaan menempuh jalan pulang.

Wallahu a’alam bish-shawab

Kaliopak, 7 Juni 2021.

Buku Langgar Shop