Sejenak di Puisi, Singgah di Petuah

Pada awal abad XX, tanah jajahan mendapat bacaan berupa surat kabar. Penantian atas berita tak lagi harus menunggu sekian hari, sekian minggu, sekian bulan. Di halaman-halaman kertas, berita demi berita disajikan untuk diketahui publik. Berita tentu tak selalu benar mutlak. Pembaca berhak meragukan berita. Pemerintah kolonial pun merasa wajib memberi “pengesahan” berita asal tak mengganggu tertib sosial-politik.

Peran jurnalis menjadi penting. Kebermaknaan atas berita-berita diimbuhi kehadiran opini. Sekian opini dikerjakan jurnalis dan penulis-penulis bermaksud memberi tanggapan: menguatkan atau melemahkan dampak berita. Opini atau artikel berkemungkinan jadi bara perlawanan atau pembuktian kepatuhan pada kolonial. Sejarah Indonesia mencatat pesona opini turut memberi pembesaran ide nasionalisme di pelbagai perhimpunan, sarekat, dan partai politik.

Di surat kabar, berita dan opini tak melulu utama. Pengumuman dan iklan pun dimuat menaburkan segala perintah, ajakan, dan bujukan dengan tatanan kata dipadu gambar. Pada iklan-iklan, orang-orang mungkin tergoda atau bercuriga itu bohong. Di kertas-kertas, kebenaran dan kebohongan lazim tersaji berbarengan. Mata pembaca ditantang untuk mengerti saat pelbagai kata, gambar, dan foto mulai dipikirkan dan direnungkan. Tindakan itu bakal bertambah panjang jika pembaca berhadapan dengan cerita dan puisi. Surat kabar pun telah memanjakan para umat penganut “estetika” untuk bercumbu dengan gubahan-gubahan sastra. Di lembaran memuat sastra, pembaca berhak mengangguk atau menggelengkan kepala.

* * *

Kita menjenguk puisi dulu. Sekian puisi mirip pengindahan berita, belum pertaruhan kata bergelimang makna berpatokan “estetika”. Puisi menjadi penambahan atau penguatan usaha memberi warta. Puisi kadang mirip pengentalan pujian atau keberpihakan dengan “mengacaukan” kewajaran menjadi berlebihan. Puisi terlalu lama terlupakan untuk mengerti masa lalu, sebelum sejarah selalu memilih teks-teks besar dan “penting.” Kita mengambil puisi dari seabad silam, bermaksud mengerti secuil pengaruh puisi di zaman orang-orang ingin kebenaran dan menampik kebohongan melalui huruf-huruf tercetak. Djoematan suguhkan puisi berjudul “Seroean jang Singkat” dimuat di Poetri Hindia, 15 Maret 1909.

Ja inilah sekarang djaman kemadjoean

Masanja bergerak pihak perempoean

Madju kemedan pengetahoean

Hilangkan segala adat kekoenoan

Bait itu jarang teranggap bohong saat orang-orang mengetahui ketokohan Kartini. Tanah jajahan bukan lagi bertokoh lelaki saja di deru ilmu dan capaian kemajuan. Kartini tampil menginginkan pemenuhan hak bagi perempuan bersekolah, perempuan memegang buku, perempuan urun pikiran, dan perempuan menentukan nasib zaman. Sekolah-sekolah mengacu ke daftar impian Kartini mulai berdiri di tanah jajahan meski mengarah ke “kepandean poetri”, belum menguat ke pemerolehan ilmu-ilmu akademik berselera Eropa. Bait itu sulit dituduh bohong untuk mengenang Hindia Belanda awal abad XX.

Pada masa lalu, para perempuan meresmikan pembentukan “umat pembaca”. Mereka itu pembaca surat kabar. Mereka tak sekadar melihat orang sedang membaca surat kabar atau berperan sebagai pendamping bagi suami saat membaca surat kabar di serambi sambil minum teh. Poetri Hindia itu santapan bagi perempuan. Warta dan pesan di puisi pun sering mengarah ke perempuan ketimbang lelaki.

Apakan lagi Hindia Poetri

Hendaknja masjhoer makin sehari

Wadjahnja tambah elok berseri

Djadi pemimpin poen para isteri

 

Dari djaoeh hamba berseroe

Keliling Hindia tanah antero

Toentoelah pengetahoean djangan keboeroe

Poetri ini soedah mendjadi goeroe

Ingatan pada kapitalisme dicetak di tanah jajahan menempatkan kaum perempuan di kesadaran literasi, tak harus menunggu kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dan kewarasan kaum feodal. Perempuan telah menulis dan membaca di surat kabar. Perempuan ada di selebrasi berita. Perempuan bersantap ilmu beranggapan surat kabar itu “goeroe”. Masa lalu itu sangkalan atas tuduhan berlaku selama ribuan tahun: kaum perempuan terlena dengan gosip. Poetri Hindia melampaui gosip, memberi rangsang membedakan kebenaran dan kebohongan sebelum ditularkan ke sesama.

Poetri Hindia mengingatkan kita pada tokoh bernama Tirto Adhi Soerjo. Ia berada di balik pembentukan bacaan bagi perempuan. Tirto Adhi Soerjo dalam sejarah pers tercatat sebagai pendiri Poetri Hindia, berkala awal di tanah jajahan. Poetri Hindia terbit perdana 1 Juli 1908. Misi berkala bentukan Tirto Adhi Soerjo: “Soerat kabar dan advertentie boeat poetri Hindia.” Cerita mengenai Poetri Hindia tak berlangsung lama. Pada 1912, berkala itu berakhir dengan sesalan dan ratapan. Kaum perempuan merasa kehilangan bacaan dan merindukan para penulis perempuan saat sejarah sering menokohkan para lelaki sebagai penulis berita, opini, dan sastra (Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, 1995).

Kemunculan surat kabar memberi halaman bagi berita, opini, dan puisi memungkinkan kita mengetahui siasat orang melakukan sebaran informasi, ide, dan imajinasi melalui tulisan-tulisan. Umat membaca-menulis itu minoritas di tanah jajahan dengan kesanggupan jadi panutan, pemuka, atau penjelas ke publik. Kebenaran dan kebohongan memiliki pembesaran atau penggandaan saat orang-orang tak lagi mengurusi segala hal bersumber mulut. Di kertas-kertas, situasi baru terbentuk untuk memajukan atau menistakan.

Situasi persuratkabaran itu beriringan dengan kebiasaan para pemuka di Jawa memilih gubahan sastra berbagi nasihat berkaitan manusia dan berita. Adab hidup bersama bergantung keinsafan mengerti posisi diri dalam mengurusi segala berita.

Pada zaman kemajuan, urusan warta dan sikap penerimaan-penolakan dimuat dalam gubahan sastra berjudul Serat Panitibaya, berisi petuah-petuah Paku Buwono X. Di Solo, terbitan surat kabar dan kemunculan perhimpunan modern memberi dampak keberlimpahan berita. Pemahaman orang atas politik, pengajaran, agama, etika, ekonomi, dan hiburan mulai dipengaruhi surat kabar. Sekian berita dianggap bohong, menghasut, dan fitnah. Pelbagai tanggapan dan bantahan berlaku untuk serbuan argumentasi. Penggubahan Serat Panitibaya berbarengan dengan  hasrat orang-orang mulai berpihak ke surat kabar. Di Solo, surat kabar pernah berpengaruh adalah Darmo Kondo, Doenia Bergerak, dan Medan Moeslimin. Haluan di pers itu berbeda dengan segala pesan atau petuah raja ingin berlaku modern di Jawa. Kita mengutip bait-bait petuah Paku Buwono X berkaitan berita dan sikap.

Ping tridasa-catur aja

ngandel catur miwah maido warti

karo-karo iku luput

predinen akal nyata

ya ginugu nanging tan pantes ginugu

yen tan tinengah watara

toging prana aniwasi

Bait itu berisi ajakan agar orang memiliki pertimbangan atas peredaran kata atau berita. Sikap menerima dan menolak berita kadang malah salah jika tak berpatokan nalar-argumentatif. Pendengar atau pembaca berita dianjurkan sanggup berpikir sebelum memberi cap atas berita: kebenaran atau kebohongan. Gagal dalam mengerti kata atau berita bakal menghasilkan salah, sengsara, dan bohong kolosal. Gagal itu semakin berakibat fatal bagi orang menumpuk pamrih ingin terperhatikan oleh sesama. Paku Buwono X melanjutkan memberi “peringatan” keras.

Kaping seket iku aja

wewadul lan tumbak cucukan cengil

lan don ngemyang juwal tutur

murih den suba-suba

ruba dora dasanya wutuh rinemuk

yeku kawingnyaning setan

tan pandak: rongeh niwasi

Bait itu memuat ajakan ke orang-orang menghindari nafsu gemar mengadu, kasak-kusuk, dan memfitnah. Semua ulah itu terselenggara untuk “menjual berita” agar mendapat ketenaran. Ulah buruk dengan mengedarkan atau mewabahkan kebohongan berisiko menistakan kebaikan dan kebenaran. Orang bernafsu kebohongan itu terbujuk “kepandaian setan.” Orang-orang dilanda gelisah dan menanggung petaka jika fitnah dan kebohongan merajalela.

Dulu, kebohongan itu bersumber dari mulut. Kata-kata diucap dengan mulut. Sumber sebelum diucapkan tentu pikiran dan perasaan. Tatanan hidup di Jawa berpatokan etis kadang rusak oleh pesta kebohongan dan pergosipan berbarengan kemunculan hal-hal baru sejak awal abad XX. Berita dan opini di surat kabar tak mencukupi bagi orang-orang untuk mengerti pelbagai hal. Bekal secuil dari deretan berita atau pengetahuan sering digunakan orang ingin tampil sebagai pengabar sakti. Di Serat Panitibaya dimuat peringatan ke orang-orang berlagak mengetahui dan pintar.

Ping saptadasa-astha ja

arerasan kang sepi lawan pamrih

kang marojol saking wuruk

lan dudu gawenira

cacad gedhe ngilangken daulatipun

paitan gedhe pangucap

yen tan rineksa niwasi

Omongan tanpa faedah dan bermakna itu abai nasihat bijak. Orang  dianjurkan mawas diri bila memang tak diwajibkan bicara atau menjelaskan suatu perkara. Nafsu mengoceh tanpa pengetahuan berarti cela besar, berkonsekuensi merusak atau menghilangkan martabat. Omongan besar dan panjang malah membikin gerah, kacau, dan sengketa. Ulah pengoceh goblok berlagak pintar diharapkan jangan ditiru demi tata hidup bersama dalam damai, rukun, dan bahagia. Kita mengerti peringatan itu tak berlaku di masa lalu saja. Kini, bait-bait  lawas masih mungkin dimengerti dengan teknik komunikasi telah terlalu ramai dan ribut menggunakan teknologi-teknologi ajaib.

* * *

Kenangan dari awal abad XX itu sengaja dihadirkan untuk mengerti kita di abad XXI. Petaka demi petaka ditanggungkan akibat gagal mengerti dan menggembala kata-kata bercap berita. Kemauan bersastra berdalih santun, renungan, kritis, dan religius pun perlahan mengendur akibat godaan-godaan berpakem kecepatan dan mewabah. Kita gampang berpetaka ketimbang menggirangkan diri tanpa tergesa mengalami hidup keseharian dengan berita atau cerita.

Indonesia sedang memiliki tema besar berita bohong, belum cerita bohong. Kita menganggap ada beda antara berita dan cerita. Beda itu sering tak terpegang saat orang-orang berpesta kata, gambar, dan foto di media sosial. Pesta  jarang berjeda. Pesta membarakan segala sangkaan, kecaman, hujatan, penghinaan, dan ratapan. Detik demi detik sering sengketa berkepanjangan membikin capek dan gelisah. Konon, segala hal beredar dan disengketakan itu dijuluki berita bohong. Berita kadang bersalin rupa dan rasa menjadi “cerita.” Di tatapan mata, benda ajaib gampang mencipta neraka-neraka.

Pada berita bohong, orang-orang sibuk memikirkan (lagi) pengertian bahasa, alat, manusia, pesan, waktu, dan tempat. Kerja berpikir itu sulit mengejar wabah berita bohong. Kemauan menghentikan pun memerlukan satu ton keringat dan doa sepanjang seribu meter. Tabah mungkin sulit berlaku di abad XXI. Tabah cuma milik orang-orang masih bersuntuk dengan masa lalu dijuduli kuno, tradisi, purba, dan kolot.

Pada cerita-cerita, perkara bersengketa menggunakan “bukti” dan argumentasi memuat kecenderungan agak berbeda. Kita memilih saja penjelasan-penjelasan digagalkan rampung oleh Mario Vargas Llosa. Ia memberi penjelasan bukan untuk bumiputra di tanah jajahan awal abad XX. Penjelasan mungkin saja bisa dituruti umat pembaca sastra di Jawa saat terlalu menghormati gubahan sastra dari keraton. Llosa menulis dan berbagi penjelasan ke pembaca sastra mutakhir di Amerika Latin dan Eropa, menular ke Indonesia. Kita telat ditulari tapi pantas mengucap terima kasih.

Penjelasan belum menggunakan ungkapan-ungkapan bersumber dari teknologi-komunikasi mutakhir. Ia masih mengacu ke teks sastra dan cara komunikasi bercap abad XX, puluhan tahun lalu. Penjelasan mengikutkan masa lalu, pengembalian pengertian kebenaran dan kebohongan ke epos, mitos, dan kehidupan sastra tradisi di pelbagai negeri. Kita mencomot penjelasan Llosa di buku berjudul Matinya Seorang Penulis Besar (2018). Buku berisi esai-esai garapan Llosa, tersaji ke bahasa Indonesia dengan terjemahan Ronny Agustinus.

“Sebetulnya, novel memang berbohong–mereka tak bisa berbuat lain–tetapi ini cuma separuh cerita. Separuh lainnya, bahwa dengan berbohong, mereka menyatakan kebenaran ganjil yang hanya bisa diungkap dengan gaya sembunyi dan terselubung, tersamar sebagai sesuatu yang tidak seperti adanya,” tulis Llosa. Bohong ada di peradaban fiksi atau sastra, dari masa ke masa. Bohong itu siasat, bukan pokok penghancuran martabat kesusastraan.

Perdebatan bohong mustahil selesai di sebiji esai. Llosa mengaku ingin memberi cuilan-cuilan saja asal umat sastra berkemauan mencari jalan perdebatan panjang berbekal tumpukan referensi lama dan baru. Llosa tak lupa menaruh novel di pembedaan derajat bohong bersaing dengan artikel di surat kabar dan kitab sejarah. Kalimat-kalimat berhak direnungkan kita: “Tidakkah semuanya tersusun dari kata-kata? Tidakkah mereka memenjarakan dalam waktu artifisial penceritaan suatu arus tak bertepi yang bernama waktu riil itu? Jawaban saya adalah: mereka ini sistem-sistem yang saling bertentangan dalam mendekati realitas. Bila novel memberontak dan melampaui kehidupan, genre-genre yang lain itu hanya bisa menjadi hambanya. Gagasan tentang bohong atau benar berfungsi dengan cara yang berbeda dalam masing-masing kasus.” Penjelasan itu bertahun 1989, tahun masih belum seriuh dan seganas sekarang. Llosa menulis tanpa terlibat dengan media sosial berlimpahan sengketa di lakon besar berita bohong. Kita mengingat penjelasan Llosa, sebelum berani mengadakan penjelasan-penjelasan lekas usang di hitungan hari.

Begitu.


* Ilustrasi oleh Rahmad Afandi, ia menggambarkan sastra yang kita sebut “puisi” ini tergelar beraneka ragam dalam wujud yang menghijab fungsi utamanya: yaitu sebagai petuah. Dan, seakan ilustrasi tersebut menyiratkan sebuah pertanyaan terkhusus bagi generasi hari ini: “bagaimana wujud sastra hari ini, apakah kesakralan fungsinya sebagai petuah masih ada?”

 

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).