Sebelum menamatkan Raden Mandasia, saya telah membaca Muslihat Musang Emas. Pada kumpulan cerita itu, saya menikmati betul gaya bercerita Yusi Avianto Pareanom, juga topik dan paradoks yang dia ajukan. Kita dijamu dengan sisi gelap, lucu tapi haru, dan anjay dalam kumpulan cerita itu. Siapkan diri untuk sering memaki. Hehehe.

Saya menduga—tepatnya berharap—kejutan yang akan saya alami selama membaca Raden Mandasia. Dan, tapir bunting! Bagus betul, batin saya. Maka, tak syak lagi jika novel ini diganjar penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2016 silam.

Buku ini kisah tentang petualangan seorang bekas pangeran dari negeri kalah, berjumpa pangeran dari pihak yang menjajah , kemudian terlibat persahabatan yang ganjil. Mengambil latar Babad Tanah Jawa, Sungu Lembu, pangeran dari Banjaran Waru yang menjadi si pencerita berteman dengan Raden Mandasia, pangeran dari Gilingwesi yang gemar mencuri daging sapi.

Sungu Lembu sendiri memiliki kemampuan yang tak kalah ganjil: ingatan lidah. Apa pun yang dicecap niscaya melekat dalam ingatan dengan sendirinya, termasuk unsur-unsur yang membentuknya. Ingatan lidah inilah yang beberapa kali menyelamatkan peruntungannya, termasuk ketika berjumpa dengan Putri Tabassum, putri yang menjelma mitos dari kerajaan Gerbang Agung.

Dua pemuda bengal ini berjumpa di Rumah Dadu Nyai Manggis. Ah, Nyai Manggis. Pesonanya, kata Yusi, adalah pesona perempuan tigapuluh enam tahun. Kau tahu, konon ini masa ketika seluruh unsur kecantikan merekah sempurna. Setiap ada nama Nyai, saya acap curiga, pasti pengarangnya menyematkan karakter kuat, seperti Dasima, juga Ontosoroh.

Dendam Sungu terhadap Kerajaan Gilingwesi, terutama pada Prabu Watugunung, dipupuk sejak kanak. Dia dianggap keturunan Gilingwesi karena ibunya pernah disuguhkan pada para perwira Gilingwesi (atau Watugung sendiri?). Kesumat itu makin menjadi ketika keluarga Banyak Wetan, tempat dirinya menemukan keluarga, harus tercerai berai karena diserbu pasukan Gilingwesi. Sungu menggelandang dengan satu tujuan: membunuh Watugunung. Dan takdir mempertemukannya dengan Raden Mandasia, anak Watugunung, yang tak hanya mengantarkannya mendekat ke lingkaran istana, tetapi juga melayari laut, benua, pelabuhan, kebudayaan, dan tentu saja Putri Tabassum.

Ah, tentu saya tak akan menggaraminya dengan mengisahkannya detail. Menceritakan ulang di sini adalah perbuatan kasip. Saya pembaca karya-karya Yusi yang terlambat. Begitu juga karya sastra lain yang sudah direkomendasikan beberapa orang di sekitar saya. Entah mengapa, bacaan sastra saya merosot beberapa tahun ini.

* * *

Membaca cerita seperti Raden Mandasia, atau Kambing dan Hujan, atau Orang-Orang Oetimu (yang terakhir ini belum beres karena ketika saya mulai membacanya berbarengan dengan istri yang ingin segera menyelesaikannya, jadi suami harus mengalah, wkwkwk), sedikit banyak membuat saya merasa perlu berterima kasih pada berbagai sayembara dan penghargaan sastra yang melambungkan karya-karya itu.

Untuk pembaca sastra awam seperti saya yang juga tidak begitu menaruh perhatian pada isu “kanonisasi sastra”, penghargaan semacam Kusala Sastra Khatulistiwa, Sayembara DKJ, atau penghargaan sebagai karya terbaik oleh surat kabar, majalah dan lain sebagainya, setidaknya dapat menjadi patokan untuk memilih bacaan. Risikonya, saya pasrah saja pada “selera” para pembuat kriteria karya yang mereka anggap bagus.

Tetapi, sejauh saya memilih bacaan dengan cara itu, saya merasa baik-baik saja. Meskipun yang terlambat saya sadari, ternyata selain turut menyetujui beberapa karya yang dianggap baik memang adalah baik belaka, saya juga jadi ikut-ikutan merasa ada karya lain yang tidak bermutu, sehingga saya kurang berminat mengoleksi atau membacanya.

Misalnya, untuk beberapa karya yang memilih judul nama planet dan tata surya, saya hanya mengoleksi dan membaca kisah tentang ambruknya ekonomi dan kongkalikong para garong: Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah.

Begitu pula, lama sekali saya baru memutuskan untuk membeli Laskar Pelangi yang kurang lebih karena bentukan selera yang demikian. Saya juga membeli Ketika Cinta Bertasbih hanya karena sedang diobral dan saya merasa juga perlu mengoleksi buku-buku yang mengundang perhatian publik, meskipun saya tak turut membacanya.

Saya merasa Laskar Pelangi tidak buruk, hanya kurang. Tetapi, saya merasa, pada masa tertentu, novel seperti ini jauh lebih tepat saya sodorkan pada anak gadis saya yang mulai remaja. Ya, semacam novel yang “memotivasi”. Ke depan, mungkin saya mulai akan menawarkan kepadanya Filosofi Kopi, Perahu Kertas, atau beberapa karya Dee lainnya yang ya, agak bucin-bucin tapi “sopan”.

Tentu saya belum berani menawarkan karya Ayu Utami, Djenar, Eka Kurniawan, juga Yusi ini. Terlampau banyak adegan cerrr-ke-cehhh yang mungkin baru siap dipahami ketika anak-anak telah beranjak dewasa.

Sependek yang saya tahu, kecuali Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) dan tentu saja buku-buku Abinaya Ghina Jamela, masih sedikit karya yang pas, baik, dan bagus buat remaja. Kecuali, kau pasrah pada yang semacam teenlit itu.

* * *

Mengikuti selera para kritikus dan penilai sastra nyatanya tidak selalu menyenangkan. Beberapa kali saya tak bisa menikmati membacanya. Bisa jadi karena saya awam atau karena memang penilaiannya terlampau dilebih-lebihkan.

Sebuah novel tentang “Aruna dan Lidahnya” yang akhirnya digarap jadi film dengan pemain Dian Sastro, gagal saya baca pada lembar-lembar pertama hanya karena di bagian awal semuanya satu paragraf (pengalaman ini tidak terjadi ketika saya membaca salah satu cerita Eka Kurniawan dengan teknik serupa tetapi jauh lebih mulus).

Pada intinya, beriman pada pilihan para kritikus itu berarti siap-siap menerima asupan selera mereka. Kita ingat, dulu ada Paus Sastra HB Jassin, juga berbagai tuduhan dan kritik terhadap Komunitas Utan Kayu (TUK), karena dianggap terlampau membentuk selera pembaca.

Tetapi saya masih yakin, berbagai sayembara dan penghargaan sastra itu ada gunanya, sehingga karya-karya bagus lahir dan menemui pembacanya. Sebagaimana pemeluk keyakinan setengah jalan, kita hanya perlu menyiapkan rasa ragu secukupnya. Sebab, setiap pembaca punya selera sendiri yang dibentuk oleh pengalaman membacanya.[]

Lukman Solihin
Alumnus S2 Antropologi UGM, bekerja sebagai peneliti kebijakan pendidikan dan kebudayaan, Balitbang Kemendikbud RI.