Desa Bonde di Pambuang Kabupaten Majene ini makmur. Mungkin karena akses terhadap jalan raya yang menghubungkan antar kota sangat dekat. Terletak di timur jalan Poros Makassar-Mamuju yang jaraknya 10 kilometer dari Majene ke arah ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Semula saya membayangkan sebuah desa yang permai dengan penduduk bersahaja dan peri kehidupan yang sederhana. Seperti gambar-gambar menawan yang ditampilkan di film Athirah karya Riri Riza tahun 2016. Ternyata saya salah. Lepas dari jalan raya lalu memasuki permukiman, jalan terbuat dari beton yang lebar dan mulus. Rumah di kanan-kirinya berselang-seling antara rumah batu dan rumah panggung kayu, atau modifikasi dari kedua material tersebut. Tak terlihat sawah dan ladang yang subur-makmur. Apalagi lambaian sarung tenun warnawarni yang tengah dijemur dikacaukan oleh angin, seperti di film itu yang dibuat di Pare-pare, Sengkang dan Makassar. Film tentang sarung tenun itu sangat memikat dan membuat saya mendekat.

Baiklah, saya memang datang dari jauh, tetapi saya harus menghentikan khayalan-khayalan a la mooi indie. Agar tidak seperti para pendatang di zaman kolonial memandang Nusantara. Meskipun sulit, saya perlu juga mengubah cara memandang warga desa yang saya temui bukan sebagai objek amatan. Saya ingin hadir menjadi perempuan yang datang sebagai teman bercerita, tertawa dan bergembira.

Saya memang datang dari jauh, tetapi saya harus menghentikan khayalan-khayalan a la mooi indie.

Karena saya tiba di sore hari, maka saya menyaksikan perayaan atas sore yang cerah dan penuh gairah. Anak-anak sudah mandi dan bermain di jalanan dengan coreng-moreng bedak di wajahnya. Para perempuan telah berdandan, duduk bergerombol di beberapa muka rumah di pinggir jalan untuk saling mengurai beban dan meng-update situasi di lingkungan. Semua tampak elok. Begitu juga perempuan muda beranak satu yang saya temui, Zulmi, dan ibunya, Supiati, serta dua orang gadis kepokanakannya. Percayalah, cuma saya yang paling bersahaja –untuk tidak mengatakan kusam, kusut, kucel. Keringetan pula! Maklum saja, sebelumnya, saya berlama-lama duduk di bawah terik matahari, di pinggir pantai melihat pembuatan kapal Sandeq yang tersohor itu di Desa Nelayan Tanjung Rangas. Bisa dibilang saya mencari ilmu hitam hingga ke tanah Sulawesi, yang sungguh tua usianya dan konon menurut legenda, muncul sendiri dari dasar bumi, terpisah dari daratan mana pun. Benar saja, setelah dari sana, kulit saya menjadi gelap.

Ruang Kerja Zulmi di Kolong Rumah Panggung

Saya menemui Zulmi -perempuan ayu yang ramah dan menenun sarung sutra atau Lipaq Saqbe di kolong rumah panggungnya sejak remaja. Supiati, ibunya, mewariskan hal yang paling berharga bagi perempuan: kemandirian. Iya, ia menikah, dan suami bertanggungjawab penuh padanya. Namun dengan ketrampilannya itu ia lebih siap secara finansial jika di tengah perkawinannya terjadi sesuatu yang buruk. Ia juga bisa mengurangi dependensi terhadap suami dan bisa berkontribusi pada keluarga kecilnya. Saya tak tahu seberapa banyak ia membagi penghasilannya untuk keluarga, seberapa besar ia bisa menggunakannya untuk kebutuhan pribadi, seperti dandan, sandang dan jalan-jalan, ehh. Namun yang jelas, ia memiliki posisi tawar atas nasibnya sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai istri.

Hari itu, Zulmi sedang tak punya sarung tenun sutra khas Mandar yang biasa ia buat. Setiap menyelesaikan satu lembar, selalu langsung ada yang membeli.

Hari itu, Zulmi sedang tak punya sarung tenun sutra khas Mandar yang biasa ia buat. Setiap menyelesaikan satu lembar, selalu langsung ada yang membeli. Sementara kini ia tak bisa menenun secepat sebelum anaknya lahir. Biasanya ia bisa menyelesaikan selembar panjang kain dengan lebar 60 cm dalam tempo 4 hari saja. Kini bisa sampai semingu-dua minggu bahkan sebulan. Saya patah hati. Saya datang dari sangat jauh, tapi tidak mendapatkan yang saya inginkan. Sungguh sulit saya menghapus kekecewaan yang khas dan sering dialami pelancong ini. Namun, tampaknya ia mengerti. Kemudian ia menawarkan diri untuk menunjukkan caranya menenun. Bahkan mengajak saya untuk mencoba ATBM (gedokan) itu dan melanjutkan pekerjaannya, memasukkan benang pakan di sela-sela benang lungsi berwarna hijau. Merasa bahwa itu saja tak cukup, ia mengambil dua buah sarung tenun sutra yang aduhai cantiknya. Salah satu berwarna merah dan hitam, dan satunya lagi berwarna merah saja yang dipakainya saat menikah. Sungguh menawan. Ia meminta saya mencoba memakainya dan berpose di tangga rumah. Ohh, betapa ia sangat pandai menghibur saya!

Sarung Khas Upacara Pernikahan, yang Juga Dipakai Zulmi Saat Menikah.

Memang, selain harga yang biasanya mahal, kelambatan dalam membuat juga menjadi perkara klasik bagi produk-produk tradisional. Apalagi jika permintaan tidak hanya untuk memenuhi konsumsi sendiri tetapi misalnya untuk wisatawan juga. Di tempat lain, kemudian perajin membuat dua macam model sebagai respons terhadap permintaan turis yang ingin harga murah dan banyak pilihan. Mereka tetap membuat kain sesuai pakem untuk acara-acara perayaan dan ritual keagamaan, dan satu jenis lainnya sebagai souvenir, dengan menyederhanakam motif dan material yang lebih murah. Sehingga bisa menghemat biaya produksi dan mempercepat tempo pembuatannya.

Mereka tetap membuat kain sesuai pakem untuk acara-acara perayaan dan ritual keagamaan, dan satu jenis lainnya sebagai souvenir, dengan menyederhanakam motif dan material yang lebih murah.

Bagi beberapa pemerhati heritage, hal ini merupakan ancaman. Tetapi pihak lain berpendapat bahwa fenomena demikian justru memungkinkan untuk mengembangkan motif-motif baru. Bukankan motif-motif klasik (kuno) yang ada sekarang juga merupakan hasil kreativitas yang terus berubah dan berkembang dari generasi-generasi sebelumnya?

Seperti yang ia bilang pada saya, “Kalau harganya dua ratus ribu, berarti itu tenun dari benang biasa, bukan sutra.”

“Sama-sama indah, tapi jangan sampai keliru ketika membeli,” demikian ia berpesan.

Dua Karya Sarung Tenun Sutra Milik Zulmi

“Dua ratus ribu itu baru harga benang sutra yang saya beli dari Polman. Benangnya itu putih, saya masih harus memberinya warna,” tambahnya. Polman –Polewali Mandar adalah satu-satunya penghasil benang sutra terbesar kerena memiliki perkebunan murbei yang baik dan luas, tempat ulat sutra berkembang biak. Letaknya jauh dari Bonde. Maka ketika berinteraksi langsung dengan pembuatnya,kita bisa tahu tantangan untuk mempertahankan sebuah nilai. Rasanya tak mungkin lagi menawar harga untuk itu.

Polewali Mandar adalah satu-satunya penghasil benang sutra terbesar kerena memiliki perkebunan murbei yang baik dan luas, tempat ulat sutra berkembang biak.

Ibunya, Supiati, muncul belakangan. Beliau masih memiliki satu sarung untuk dijual. Berwarna kuning, bermotif Sure Padada Saripa, yaitu garis-garis (sure) horizontal dan vertikal yang membentuk kotak-kotak dan ornamen bunga (saripa) warnawarni. Jujur saja, meskipun sarung itu cantik bukan kepalang, tetapi kuning bukan warna yang sering saya pilih jika tersedia warna lain. Sebenarnya saya jatuh hati pada sarung warna merah-hitam milik Zulmi. Sayangnya tak bisa dibeli. Baiklah, sekali lagi saya perlu memurnikan niat, agar tidak terlalu kaku mengikuti selera. Saya perlu berdamai dengan situasi apa pun. Karena hal yang paling menghantui bagi saya adalah sesuatu yang kita sukai tapi tak jadi dibeli, maka saya adopsi kain tenun karya ibu Supiati.

Mengadopsi Sarung Warna Kuning Karya Bu Supiati.

Ia, perempuan istimewa yang tanpa sadar mengajarkan kepada anaknya bahwa menenun bukan sekedar saluran ekspresi individu, tapi juga membuka pemahaman tentang kosmologi. Ibu itu meneruskan seperangkat nilai kehidupan orang Mandar yang dimaterialkan dalam bentuk sarung: mengenai garis vertikal dan horizontal sebagai metafor hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan manusia lainnya. Juga tentang garis-garis yang membentuk pagar sebagai simbol bahwa hidup perlu selaras dengan tradisi dan aturan semesta.

Tabik!


Sumber bacaan:
Elita Wethey, Creative Commodification of Handicraft, Lambda Alpha Journal, Vol. 35/2005
Dede Mahmud, Mengenal Motif Sarung Tenun Mandar, http://tradisikita.my.id diakses 12 Maret 2019

Yogyakarta, 12 Maret 2019