ESAI | FRIDAY, 26 JUNE 2026 | 13:49 WIB

Muhammad Akhyar Purlista

Lahir di Yogyakarta. Seorang stand up comedian, MC, dan penulis.

Hidup Pelawak Tak Melulu soal Lawak

Saya adalah seorang pelawak, dan saya benci dengan orang yang sok asik. Saya berbicara kepada Anda semua, seorang penikmat lawak, penonton awam, atau sekadar individu...

Saya adalah seorang pelawak, dan saya benci dengan orang yang sok asik. Saya berbicara kepada Anda semua, seorang penikmat lawak, penonton awam, atau sekadar individu kenalan si pelawak, yang selalu menuntut para pelawak untuk lucu di mana pun, kapan pun ia berada. Kepada Anda yang termakan ilusi bahwa seorang pelawak adalah pribadi yang lucu. Kepada Anda yang selalu menyuruh kami, para pelawak, melucu di tongkrongan. Kepada Anda yang kecewa saat para pelawak tidak selucu bayangan Anda di kehidupan pribadinya. Ya. Tulisan ini adalah surat cinta untuk Anda.

Saya membayangkan seandainya semua pelawak memiliki kepribadian sama seperti yang mereka tunjukkan di panggung, aduhai sayang, mungkin dunia akan menjadi begitu indah. Barangkali pemanasan global akan berhenti, kerusakan alam bisa ditanggulangi, korupsi tandas, polusi hilang, dan semua penjahat menyerahkan diri ke penjara. Namun kenyataan tak selalu semanis harapan. Para pelawak tidak melulu bersikap sebagaimana yang ditunjukkan di atas panggung. Saat di luar panggung, kami tidak memakai plesetan saat berbicara, tidak melumuri diri sendiri dengan tepung untuk membuat suasana ramai, tidak memakai kostum aneh, tidak menyengaja untuk salah memasukkan suapan saat kami makan. Kami kerap berbicara dengan serius, dan yang terpenting kami tidak selalu membuatmu tertawa. Dan Anda semua—saya tahu pelakunya hanya oknum, namun perkenankanlah saya untuk mendakwa—justeru kecewa dengan pribadi yang hanya kalian lihat sebagai “sang pelawak” itu.

Kerap saya mendapat cerita bahwa banyak sekali penonton awam yang kecewa pada kami, para pelawak, ketika mereka mengajak sang pelawak untuk mengobrol seusai tampil, untuk basa-basi sesaat, atau hanya sekedar bertegur sapa. “Ih, ternyata aslinya nggak lucu ya!”Dengan nada kecewa, mereka  lontarkan gugatan itu kepada kami. Tidak jarang seorang pelawak dipaksa untuk melontarkan lelucon di situasi yang tiba-tiba. Tidak peduli mereka sedang makan, mengantri obat di apotek, atau bahkan di situasi berduka. Seakan-akan pelawak harus lucu setiap detik. 

Tidak jarang seorang pelawak dipaksa untuk melontarkan lelucon di situasi yang tiba-tiba. Tidak peduli mereka sedang makan, mengantri obat di apotek, atau bahkan di situasi berduka. Seakan-akan pelawak harus lucu setiap detik. 

Beberapa dari kumpulan makhluk sok asik ini bahkan mencoba melawak di depan kami hanya untuk memancing kelucuan dari kami. Suatu hari seorang kawan pernah menyapa saya dengan ramah, kelewat ramah malahan. Hal itu membuat saya tidak mencurigainya sedikit pun. Dia berbasa-basi sejenak, menceritakan kisahnya tentang kelas perkuliahan, kawannya yang aneh, nasib yang tak begitu beruntung, dia bahkan memberikan tebak-tebakan di sela-sela ceritanya. Setelah dia bercerita dan tertawa sendiri, dia menyuruh saya untuk gantian melawak, “Gantian dong kamu sekarang stand up. Lagi pengen ketawa nih!” Sebuah tuntutan yang tidak saya duga, muncul tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling. Saya, dengan kerendahan hati, menolak permintaannya karena memang tidak terpikirkan materi apapun yang bisa saya gunakan untuk melawak. Setelah saya menolaknya, respons yang diberikan tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang sok asik lainnya, “Yaahh ternyata aslinya gak lucu ya!”

Betapa menjengkelkannya respons semacam itu. Sialnya, setiap pelawak, setidaknya sekali seumur hidup, pasti pernah berada di situasi itu. Situasi di mana seorang teman, keluarga jauh, atau bahkan penggemar, berkelakar untuk memancing hasrat kami untuk mengeluarkan lelucon dan menciptakan tawa. Ketika kami menepis pancingan Anda atau menjawab dengan serius, kalian akan kecewa dan kembali melontarkan gugatan tidak manusiawi seperti yang saya sebutkan di atas. 

Saya tidak tahu apakah hal ini terjadi juga kepada para seniman lainnya. Saya penasaran apakah penyanyi kondang seperti Raisa juga pernah mendapati seseorang yang tiba-tiba bernyanyi di depannya agar bisa berduet bersama ketika dia sedang belanja. Begitu pula apakah seorang penari legenda, Didik Nini Thowok, pernah melihat seorang menari di depannya secara tiba-tiba untuk memancingnya mengikuti gerakan mereka. Atau pernahkah penyair seperti almarhum Sapardi mendapati penggemarnya secara spontan berpuisi ketika mereka berpapasan. Apakah mereka-mereka tadi juga mendapat stigma yang sama ketika menolaknya, bahwa seorang yang kecewa tadi menyebut Raisa aslinya tak bisa bernyanyi, Didik Nini Thowok aslinya tidak luwes dan berbadan kaku, serta Sapardi berbicara biasa saja tanpa majas?

Saya adalah seorang pelawak semi amatir lagi tak terkenal. Mungkin hanya teman-teman saya, keluarga saya, dan beberapa orang yang pernah menonton saya yang kenal saya sebagai seorang pelawak.  Saya masih memiliki pekerjaan lain di luar menjadi seorang pelawak. Hal ini dikarenakan, sebagaimana menjadi musisi indie kurang terkenal, menggantungkan hidup sepenuhnya pada seni adalah hal yang berat. Bayangkan saja, sekelas pelawak semi amatir ini saja kerap mendapatkan perlakuan-perlakuan tidak senonoh dari kenalan saya yang beberapa bahkan tidak pernah menonton saya melawak—hanya mengetahui desas-desus bahwa benar saya seorang pelawak. Dengan dalih demi membuktikan apakah saya benar-benar pelawak, mereka memaksa saya untuk secara spontan tampil melawak di acara keluarga berisikan om/tante yang telah terbiasa dengan jokes bapak-bapak; didorong untuk menghibur peserta buka bersama yang tak pernah datang tepat waktu; mengharapkan kelucuan kala membincang tugas mata kuliah yang datang silih berganti; dan masih banyak lagi yang sulit saya ingat satu per satu. 

Banyak dari paksaan itu yang pada akhirnya saya tolak karena situasi yang tidak tepat, dan hasilnya adalah penampakan ekspresi kekecewaan. Ujung-ujungnya, komentar-komentar pedas khas Mbak Bertha, sang juri dangdut yang terkenal dengan mulut pedasnya, dihujamkan kepada saya. “Ternyata aslinya pendiam ya!”,“Wah kalo ngomong ternyata normal ya!”,“Wah ternyata aslinya ga lucu ya!”. Ketika panah-panah gugatan itu menancap pada tubuh, selalu muncul satu pertanyaan di kepala: Apa salahnya tidak melucu? Saya rasa menjadi pendiam, berbicara normal, dan tidak melucu saat berkomunikasi adalah hal yang wajar bagi seorang manusia. Jadi ketika kalian melontarkan komentar itu, apakah kalian memandang kami sebagai seorang pelawak saja, dan bukan sebagai manusia yang berhak untuk mengekspresikan rasa sedih dan putus asa? Apakah kalian sadar bahwa perilaku kalian kepada kami itu sok asik?

Apa salahnya tidak melucu? Saya rasa menjadi pendiam, berbicara normal, dan tidak melucu saat berkomunikasi adalah hal yang wajar bagi seorang manusia.

Sebagai seorang pelawak yang tidak terkenal saja, saya mendapat banyak perlakuan dan ekspektasi yang begitu tinggi untuk menciptakan tawa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana yang dialami oleh Andre Taulany, Komeng, Raditya Dika, dan pelawak-pelawak yang dikenal oleh satu Nusantara. Bayangkan bahwa semua orang sok asik di satu negara mengenal mereka, betapa beratnya mendapatkan tuntutan sebegitu besarnya dari para binal semacam itu. Ketika saya pergi ke suatu tempat di mana orang-orang tidak mengenal saya sebagai pelawak, saya selalu aman dari tuntutan untuk berkelakar. Namun nama-nama yang saya sebutkan di atas adalah nama yang dikenal oleh seantero negeri sebagai seorang produsen tawa. Mereka dikenal sebagai orang yang bisa menciptakan tawa hanya dari napas mereka. Bayangkan betapa sok asik-nya perlakuan mereka kepada para pelawak terkenal itu. 

Beberapa dari kalian akan berkata bahwa gugatan semacam ini adalah risiko pekerjaan. Saya rasa mendapatkan perlakuan buruk dari orang sekitar bukanlah suatu risiko yang sudah sepantasnya kami terima. Menurut saya, menerima amukan setelah menyinggung orang dengan lawakan yang berlebihan atau malu saat tampil tidak lucu adalah risiko yang pantas kami terima. Namun mengapa kami harus menerima risiko yang asalnya dari keburukan tata krama orang sok asik yang selalu menuntut lelucon meski hati kami sedang enggan melawak? Bagaikan para pelacur yang menanggung risiko penyakit menular seksual, menurut saya itulah risikonya, dan bukan risiko dikucilkan oleh masyarakat.

Seperti seorang ahli bela diri yang semakin jago semakin menghindari konflik dan baku hantam, kami yang menenggelamkan diri dalam kawah candradimuka lawak, juga semakin mengerti di mana kami harus bercanda. Saya pernah bertemu dengan dua orang punggawa lawak tunggal di Indonesia, Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono. Saya bertemu mereka di suatu acara perkumpulan dengan komunitas stand up comedy. Forum itu berlangsung begitu serius. Semua orang berbicara dengan normal selayaknya mengobrol dengan sesama manusia. Saya yakin pertemuan itu tidak seperti yang kalian bayangkan ketika dua puluh orang pelawak berkumpul maka akan menciptakan ledakan tawa yang bisa membuat orang mati tertawa seandainya ikut ke perkumpulan tersebut. Kami berbicara dengan begitu serius. Sesekali tertawa ketika memang waktunya tepat. Tapi ketika waktunya serius dan berbicara normal, kami tidak berani untuk bercanda. Kami begitu menghindari sikap sok asik yang bukannya mencairkan suasana, tapi lebih berpotensi untuk membuat orang lain canggung.

Sikap sok asik memang tak memiliki parameter yang jelas. Terkadang kita hanya ingin bersikap ramah, mencairkan suasana, atau membuat keseruan. Namun percayalah, Kawan, selama dialog terjadi antara kedua manusia yang saling menghormati, memaksakan sebuah lelucon itu tidak dibutuhkan. Banyak dari kalian yang melihat para pelawak saat menjadi keset (target komedi yang menjadi olok-olokan) atau ketika kami menjelekkan diri sendiri di atas panggung, lantas menganggap bahwa semua pelawak layak untuk direndahkan seperti itu di bawah panggung dengan dalih perlakuan tak sepantasnya itu adalah bagian dari lelucon yang setiap hari ia terima di atas panggung. Kalian tidak memahami bahwa semua yang dilakukan di panggung, di kamera, di acara, itu adalah sebuah sandiwara yang sudah disetujui sebelumnya. Kalian dengan begitu frontal mengikuti candaan tanpa persetujuan. Hal inilah yang kemudian kerap dirasa menjadi perlakuan yang sok asik.

Kejadian seperti ini pernah dialami seorang pelawak tunggal dan aktor kawakan, Benidictus Siregar. Sebagai seorang pelawak dan aktor, beliau memiliki persona sebagai orang yang buruk rupa. Sehingga dalam acara dan pertunjukkan, para pelawak lain kerap menyasar  Beni sebagai seorang target komedi—yang tentunya menyerang persona tersebut. Yang tak banyak diketahui orang adalah bahwa hal itu semuanya adalah perjanjian. Para penonton tak beretika yang tidak sadar diri mereka tidak diajak dalam sandiwara itu, orang yang tidak mengenal Beni secara langsung, dan bukan lawan main Beni, tidak memiliki hak untuk mengejek persona dia di luar panggung. Namun terjadi beberapa kasus tidak menyenangkan ketika Beni sedang berada di luar panggung. Beberapa penonton termakan ilusi bahwa mereka berada di satu panggung sandiwara lawak yang sama dengan Beni, sehingga mereka merasa berhak untuk ikut mengejek Beni tanpa konteks yang jelas. Kata-kata kasar seperti anjing, babi, dan tahi, dilontarkan kepada Beni demi menciptakan kelucuan—yang seperti perkiraan kita, tidak tercipta dengan baik. Rasanya kalau memang parameter sok asik sedikit lebih kabur, kita bisa sepakat bahwa apa yang terjadi kepada Beni adalah suatu tindakan yang sangat tidak sopan.

Sekali lagi, kami para pelawak mengerti kapan kami harus bercanda untuk mencairkan suasana dan kapan kami perlu berbicara serius. Kami bukan seperti seorang yang belajar berkelahi hanya dari tawuran, yang ketika dipancing sedikit langsung melontarkan pukulan. Kami bagaikan Ip Man. Kami tidak mengeluarkan tinju kami di tempat yang tidak perlu. Kami menghindari bercanda ketika tidak dalam kondisi yang diharuskan, karena percayalah kawan, melucu di segala tempat itu melelahkan. 

Kami menghindari bercanda ketika tidak dalam kondisi yang diharuskan, karena percayalah kawan, melucu di segala tempat itu melelahkan. 

Saya tidak menutup kemungkinan bahwa memang benar ada pelawak yang juga lucu di bawah panggung, di luar kamera, di kehidupan sehari-harinya. Tapi saya yakin, dengan banyaknya tawa yang dia timbulkan dalam kesehariannya, bukan berarti dia selalu bahagia, tidak berpikir serius, dan tidak depresi. Jika kalian tidak percaya, coba tanyakan kondisi mental para pelawak yang kalian kenal. Tanyakan seberapa sering mereka pergi ke psikolog. Tanyakan seberapa sering mereka berpikir untuk berhenti melawak. Tanyakan seberapa sering mereka mempertanyakan apa guna mereka di dunia ini. Tanyakan mengenai masalah pribadinya. Dan yang paling penting, coba tanyakan kepada para pelawak yang kalian kenal, apakah mereka baik-baik saja. 

Pelawak adalah suatu profesi. Bukan sifat. Pelawak tidak ada bedanya dengan akuntan, psikolog, dan lain-lain. Kalian tidak bisa menuntut kami untuk melucu, yang mana adalah pekerjaan kami, di waktu yang tidak sesuai. Sebagaimana kalian tidak bisa menuntut seorang akuntan untuk menghitung pengeluaran dan pemasukan pribadi kalian tanpa bayaran. Sebagaimana kalian tidak bisa asal curhat pada teman psikolog yang kalian kenal di waktu sembarang. Percayalah, dan saya mohon percaya, bahwa mencatat keuangan bagi seorang akuntan itu melelahkan dan mendengarkan curhatan bagi seorang psikolog itu pun menguras tenaga. Jadi, jangan harapkan kami untuk melucu setiap saat, setiap kalian butuh hiburan, setiap kalian berbicara kepada kami. Namun jika kalian memang adalah tipe orang yang meminta teman akuntan kalian untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan kalian secara cuma-cuma dan mengeluarkan curhatan kalian setiap saat berbicara dengan teman psikolog kalian di luar waktu kerjanya, maka saya tidak bisa berkata lebih jauh lagi.

Tulisan ini ditulis oleh seorang pelawak. Tidak ada kelucuan di dalamnya, hanya keresahan pribadi yang berusaha saya tuangkan. Jika kalian mengharapkan kelucuan di tulisan ini, saya mohon maaf karena kalian tidak akan mendapatkannya. Namun jika suatu hari kalian menonton saya di panggung, saya akan pastikan kalian tertawa dan terhibur, karena itulah kewajiban saya, sebagai seorang pelawak.

Sleman, 14 Juni 2026

Penyunting: Aria Koesoemahprawira

Fotografer: Bayu Arta (Instagram/@_stagedoc)

82
Rekomendasi