Ngaos Amanat Galunggung

“Menyelami kedalaman kebijaksanaan gunung,
Mendaki ketinggian pengetahuan gunung”

Beunang guguru ka gunung, beunang tatanya ka Guriang. Adalah ungkapan masyarakat Sunda yang muncul dari pergaulan hidupnya yang lekat dengan gunung. Ungkapan kalimat tersebut adalah bahasa batin yang mencoba diungkapkan untuk terus menjalin hubungan intim dengan alam gunung. Pandangan dan cara hidup penghayatan (esoteris), merupakan ungkapan lelaku batin manusia dalam mengekspresikan kemanusiaannya. Ialah ungkapan filosofis nurani manusia dari nilai hidup yang dicari, dihayati dan dijalankan. Dengan demikian, menjadi terlihat bahwa ungkapan ‘keterpesonaan dan ketakterhinggaan’ tidaklah selalu menyangkut persoalan dogma-teologis agama. Ia adalah hasil pergaulan dengan lingkungan yang kemudian diungkapkan dalam laku-batin.

Hal tersebut yang menjadi ciri dan membentuk manusia Indonesia. Salah satunya manusia Sunda. Pandangan hidup penghayatan batin adalah kearifan yang telah membumi. Pola hidup yang terbentuk dari lokalitas tempat manusia itu mulai meng-ada (eksisten). Kemudian ia tumbuh dewasa, hingga manusia tersebut memiliki akal pikiran untuk menerawang dunianya (word view).

Jika kita telisik kembali, pada lingkungan awal mula manusia itu meng-ada (eksisten), telah terdapat lokus nilai-nilai lokal yang menjadi tatanan sosial. Tatanan tersebut tercipta dan terus mengalami perkembangan ‘kemenjadiannya’ yang terwarisi nilai-nilai luhur para pendahulunya. Nilai tersebut kemudian membentuk sistem pengetahuan kosmologis, hingga ketakterhinggaanya; mulai dari mitologi, sosial, budaya, teknologi hingga seni dalam hidup.

Pandangan para orietalis, atau orietalisme memang tidak sepenuhnya benar. Ia syarat dengan masalah, tapi tidak mempelajari orientalisme sama saja halnya bunuh diri.

Jonathan Rigg (1862), dalam karya leksikografnya yang berjudul A Dictionary of The Sunda Language of Java menuliskan dua kalimat; “Beunang Guguru ti Gunung – Beunang nanya ti Guriang” adalah contoh yang dipotret oleh seorang Geo-antropolog asal Inggris. Pandangan para orietalis, atau orietalisme memang tidak sepenuhnya benar. Ia syarat dengan masalah, tapi tidak mempelajari orientalisme sama saja halnya bunuh diri. Artinya, tugas ‘para penerus’ hari ini mampu membahasakan bahasa leluhurnya dengan logaritma bahasa dunia hari ini.
Konsep pengetahuan dan laku hidup penghayatan laku-batin kemudian bergeser dan berubah. Ia megalami keterputus(asa)an mata rantainya, saat mulai ekspansi kedatangan bangsa Eropa ke kepulauan Nusantara. Meski pada awalnya hanya berbatas pada pencarian rempah yang bernilai ekonomis di pasaran Eropa, namun kemudian berlanjut pada ekplorasi sumber daya alam yang lebih eksploitatif. Siasat antroposentris sebagai prasyarat untuk menguasai itu semua adalah mengendalikan manusia yang hidup diatasnya. Dari sini mulailah merambah pada sosial-politik dan kebudayaan hingga mengubah menjadi tatanan baru modern.

Pasca runtuhnya Dayeuh Pakuan Padjajaran, daerah kekuasaan dialih-limpahkan dari Mataram Islam, kepada pemerintah Hindia Belanda (imperium kolonial). Para ilmuwan kolonial mendapati masyarakat wilayah Jawa bagian Barat sebagai manusia Jawa yang hidup di pegunungan, dan mereka hidup berpindah-pindah atau nomaden.

Dengan demikian, Manusia Gunung adalah ungkapan yang dilekatkan pada masyarakat Sunda, yaitu manusia yang hidup berdekatan dengan, atau sekitar gunung, sekaligus akrab dengan gunung. Berdasarkan catatan Danadibrata (2009) disatu kecamatan kawasan Kabupaten Tasikmalaya saja, jumlahnya mencapai 3.648 gunung, komplek yang disebut dengan Gunung Sarebu. Dengan demikian, manusia Sunda sangat erat-kaitannya dengan gunung. Dari lanskap ini, kita bisa mempunyai gambaran umum untuk menelisik akar identitas diri yang mesti kita telusuri jejak lumampahnya.

Kabuyutan Galunggung

Selain sebagai nama gunung, Galunggung adalah nama penting dalam sejarah Sunda, dan secara khusus, sejarah Sukapura, atau Tasikmalaya. Galunggung di masa lalu adalah sebuah mandala, sebuah kabuyutan yang sangat dimuliakan, yang dipimpin oleh seorang resiguru atau batara.  Peran Kabuyutan Galunggung terutama pada awal pembentukan kerajaan Galuh. Galunggung memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam dinamika sosial dan politik di tatar Sunda. Galunggung dapat dikatakan sebagai penopang berdirinya kerajaan Galuh. Karena bagaimanapun, para penguasa penerus tahta kerajaan Galuh masih merupakan keturunan Galunggung. Galuh dan Galunggung adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan.

Karena bagaimanapun, para penguasa penerus tahta kerajaan Galuh masih merupakan keturunan Galunggung. Galuh dan Galunggung adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan.

Menurut fragmen Carita Parahiyangan, Galunggung adalah pengukuh (Sunda: pamageuh) Pulau Jawa; frasa ini bisa memiliki lebih dari satu tafsir atau pengertian. Galunggung sebagai gunung yang menjadi pasak pengukuh pulau jawa; serta Galunggung sebagai kabuyutan yang menjadi pengukuh spiritual di pulau Jawa. Namun terlepas dari adanya tafsir tersebut, kalimat yang tercantum dalam fragmen Carita Parahiyangan telah memberi kesan tentang pentingnya posisi Galunggung di masa itu.

Serat Amanat Galunggung, dan Konsep Tritangtu Masyarakat Sunda

Batari Hyang memimpin Kerajaan Galunggung dengan bijaksana. Kepemimpinannya mampu membawa Kerajaan Galunggung pada kegemilangan, dan nasihat-nasihatnya tentang kehidupan, menjadi rujukan generasi berikutnya, tidak hanya di lingkungan Kerajaan Galunggung, tetapi juga dalam lingkup yang lebih besar. Asumsi ini didasari oleh keterangan yang bisa dibaca dari naskah Amanat Galunggung.

Dalam Amanat Galunggung, terdapat kalimat:

“jaga isos di carék nu kwalyat, ngalalwakon agama nu nyusuk na Galunggung, marapan jaya pran jadyan tahun, heubeul nyéwana, jaga makéyana patikrama, paninggalna sya séda”.

Artinya “Tetaplah mengikuti ucap orang tua, melaksanakan ajaran yang membuat parit pertahanan di Galunggung, agar unggul perang, serta tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya panjang umur, sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi”.

Ajaran Tritangtu; Prebu, Rama dan Resi adalah konsep berfikir dan genealogi dalam masyarakat Sunda . Dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Ng Karesian (ditulis 1518) disebutkan:

Ini ujar sang sadu basana mahayu drebyana. Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pina/h/ ka prebu, sabda kita pina/h/ ka rama, h(e)dap kita pina/h/ka resi. Ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara(n)na. Ini triwangsa di lamba, Wisnu kangken prabu, Brahma kangken rama, Isora kangken resi. Nya mana tritan(g)tu pineguh ning bwana, triwarga hurip ning jagat. Ya sinangguh tritan(g)tu dinu reyangaranya” (Danasasmita dkk,1987: 90)

Terjemahan kurang lebih adalah sebagai berikut:
“Ini ujar sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di dunia. Kesentosaan kita ibarat raja, ucap kita ibarat rama, budi kita ibarat resi. Itulah tritangtu di dunia, yang disebut peneguh dunia. Ini triwarga dalam kehidupan. Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, Isora ibarat resi. Karena itulah tritangtu menjadi peneguh dunia, triwarga menjadi kehidupan di dunia. Ya disebut tritangtu pada orang banyak namanya”(Danasasmita dkk, 1987:114-115)

Sepintas jika kita menggunakan logika modern Trias-politika, maka konsep Tri-tangtu akan ditafsir pada logika konsep terpisah. Bukan lagi tilu-sapamulu, dua-sakarupa, hiji-eta keneh. Artinya ketiga konsep tersebut sebagai Tri-tunggal. Jika kita meletakkan Prabu, Rama, dan Resi disini, maka ketiga nama tersebut adalah tritunggal.
Sebagaimana di Jawa, Raja/Sultan dididik di pesantren, maka sebelum dinobatkan mejadi Raja/Sultan (di Sunda Prabu), maka terlebih dulu ia menjadi Santri/Resi di Pesantren/Galunggung. Baru, setelah me-resi-kan dirinya, ia bisa didegar pendapatnya, itu hasil nyantri di Karesian. Kemudian ketika pendapat dan keilmu-lakuannya sudah berjalan sebagaimana mestinya, ia bisa dijadikan pemimpin, atau Prabu. Di dunia Barat, kita mengenal pola ini dalam filsafat pendidikan Platon (Baca; A. Setyo Wibowo, Filsafat Pendidikan Platon, Kanisius, 2016). Pendidikan semacam inilah yang sebenarnya mampu melahirkan pemimpin karismatik bernama Sukarno. Sukarno tumbuh-berkembang karakternya, ketika ia pindah ke Surabaya dan tinggal di Padepokan H.O.S Cokroaminoto. Padepokan H.O.S Coroaminoto (Karesian Indonesia Modern). Di Padepokan itu Sukarno tinggal bersama Semaun, Kartosuwiryo, dan para penggerak mewarnai Indonesia Indonesia.

Sebagaimana di Jawa, Raja/Sultan dididik di pesantren. Maka, sebelum dinobatkan mejadi Raja/Sultan (di Sunda Prabu), terlebih dulu ia menjadi Santri/Resi di Pesantren/Galunggung. Baru, setelah me-resi-kan dirinya, ia bisa didegar pendapatnya, itu hasil nyantri di Karesian. Kemudian ketika pendapat dan keilmu-lakuannya sudah berjalan sebagaimana mestinya, ia bisa dijadikan pemimpin, atau Prabu…. Pendidikan semacam inilah yang sebenarnya mampu melahirkan pemimpin karismatik bernama Sukarno.

Contoh ini hanya sekelumit logika berfikir yang memperlihatkan keterpisahan kita sebagai bangsa baru, dalam mewarisi bangsa lama (yang lebih dulu) dari bangsa leluhur. Alam pikir kita sudah lepas kendali, dan tidak mampu menakar runtut uraian nilai, dan logika yang berserakan hari ini. logika beraturan seperti adanya sekarang, karena adanya dulu. Seperti dalam naskah lain yang tertulis dalam Serat Amanat Galunggung, berbunyi:

“Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke
Aya ma baheula hanteu tu ayeuna
Hanteu ma beheula hanteu tu ayeuna
Hana tunggak hana watang
Han hana tunggak tan hana watang
Hana ma tunggulna aya tu catangna”

Ada dahulu ada sekarang
Bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang
Karena ada masa silam maka ada masa kini
Bila tiada masa silam tak akan ada masa kini
Ada tonggak tentu ada batang
Bila tak ada tonggak tak akan ada batang
Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya

Ngaos Amanat Galunggung

Rutinan Ngaos Amanat Galunggung, adalah rutinan yang coba dilakukan oleh Perkumpulan Pelajar dan Mahasiswa Tasikmalaya, yang sedang menempuh pendidikan di Kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan sebagai usaha penyadaran bersama, dan penelusuran kembali identitas jiwa bangsa yang ada dalam diri kami. Setelah melihat keriuhan, ketegangan perkembangan dinamika lokal dan nasional; sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dengan demikian, kami mecoba untuk melihat, dan kembali menafsir ulang apa yang disuratkan dari nilai leluhur kami sendiri.

Harapannya, dengan kami melaksanakan rutinan ini bisa mendekatkan kembali diri kami dengan lingkungan kami. Pendekatan imajiner seperti halnya Mohammad Hatta, dan teman-teman Perhimpunan Indonesia di negri Belanda. Mereka berkumpul untuk misi nasib sepenanggungan, mencapai Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.