Serat Sana Sunu: Menyoal Ngelmu Sarengat

Den kerep gugulang ngelmu// gugurua para ngulama// lawan den karep tatakon// minta arah ing sujana// sok bisa anoraga// haywa kuintet kumingsung// madya silih wusa bisa

(R. Ng Yasadipura II, 2001:127).

Artinya: supaya orang rajin mempelajari ilmu// berguru kepada para ahli// dan harus banyak bertanya// disertai sikap hormat// dan tidak memperlihatkan// bahwa dirinya// sebenarnya tahu juga.

Asmaradana, begitulah bait di atas yang menunjukkan sifat api asmara yang makantar-kantar, bergelora, semangat, tanpa padam sedikit pun, terutama soal mencari ilmu pengetahuan. Seperti yang kita pahami bersama Asmaradana berasal dari kata asmara dan dahana yang artinya api asmara. Sebagaimana mengenai kehidupan, ia digerakkan oleh asmara, cinta, dan welas asih. Bait tersebut ada di dalam Serat Sana Sunu karangan R. Ng Yasadipura II.

Sana Sunu berasal dari kata sana dan sunu, di mana keduanya berasal dari bahasa Sansekerta, sasana dan sunu. Kata sasana terbentuk dari akar kata sas yang artinya mengajar, kemudian mendapatkan akhiran ana yang berfungsi sebagai pembeda, sehingga sasana berarti ajaran atau pengajaran. Sunu berati anak, dengan begitu sasana sunu berati pengajaran bagi anak. Bagi Damardjati Supadjar serat ini mengandung ajaran bagi anak-anak yang menekankan betapa pentingnya faktor “dasar” nativistis, di samping tentu saja “ajar” yang empiris (Damardjati Supadjar, 2001: IX).

Bait-bait R. Ng Yasadipura II di atas, jelas pesan-pesan bagi generasi muda untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya supaya mereka tidak kehilangan akar ke-diri-an sebagai seorang insan muslim. Ajar yang dimaksudkan di sini adalah ilmu agama, ilmu yang menjadi fondasi awal bagi keberlangsungan hidup umat Islam supaya tidak mudah terombang-ambing dan memiliki keteguhan iman. Ajarannya membuat pesan secara tersurat dan tersirat. Bagi orang awam yang tidak memahami ilmu agama secara utuh, terutama mengenai tasawuf dan filsafat bahkan  kesusasteraan Islam, tentunya akan mengalami kesulitan dalam memahami pesan yang tersirat di dalam Serat Sana Sunu ini.

Sebagai seorang santri yang dilahirkan di Gebang Tinatar Ponorogo yang diasuh oleh Kiai Ageng Imam Besari, dipastikan ajarannya tidak lepas dari ajaran sarengat yang berpadu dengan nilai-nilai tasawuf (mistik Islam), bahkan bisa dipastikan karya para pujangga ini mulai dari ayahnya R. Ng Yasadipura I sampai cucunya R.Ng Ronggowarsita III sebagai pujangga penutup semuanya lebih bercorak sufistik.

R. Ng Yasadipura II diberi gelar sebagai  R. Ng Ronggawarsita I. Gelar ini diberikan kepada dirinya sewaktu kembali ke Surakarta setelah beberapa lama menjadi nyantri(k) di Gerbang Tinatar. R. Ng Yasadipura II masuk dalam lingkungan istana keraton Surakarta menjelang peralihan dari abad ke-18 menuju abad ke-19. Kematian ayahnya R. Ng Yasadipura I Tus Pajang pada tahun 1803, membuat ia naik sebagai pujangga istana Surakarta. Selama tahun 1810 sampai 1820-an menjadi masa masa tersubur sang pujangga muda ini.

Kita bisa melihat banyak karya yang diguratkan oleh R. Ng Yasadipura II,  mulai dari Bima Suci Kawi Miring, Babad Pakepung, Serat Ambiya, Serat Musa, Suluk Burung, bahkan yang paling fenomenal adalah Serat Centhini. Bahkan bagi Nancy K. Florida Centhini tumbuh dalam ladang kesusateraan sufi yang bernama suluk, yang sebelumnya belum pernah dikenal dalam budaya sastra Jawa (Nancy K. Florida, 2020:32). Tentu hal ini menghentak jagat intelektual kesusastraan Jawa yang sebelumnya dikembangkan para orientalis dan Javanolog yang lebih menilai Centhini ke arah negatif, misalnya ada yang menilai Centhini sebagai salah satu kitab seks Jawa. Namun, tulisan ini tidak akan membahas perihal Serat Centhini, tulisan ini seperti yang telah dijelaskan di atas, akan mengurai pitutuh luhur R.Ng Yasadipura II dalam Serat Sana Sunu.

Tentu hal ini menghentak jagat intelektual kesusastraan Jawa yang sebelumnya dikembangkan para orientalis dan Javanolog yang lebih menilai Centhini ke arah negatif, misalnya ada yang menilai Centhini sebagai salah satu kitab seks Jawa.

Ngelmu Sarengat Islam

Sebenarnya gerak kehidupan orang Jawa termanifestasi dalam sebuah ungkapan Sangkan Paraning Dumadi. Sebuah ungkapan bagi manusia yang sesungguhnya dalam kehidupan ini mereka diperintahkan untuk menjadi seorang salik dan menjalankan laku suluk.  Tatkala kembali kepada-Nya sudah menjadi seorang yang paripurna, manusia yang suci, manusia yang bersih dari dosa-dosa yang dilakukan di dunia.

Bahkan kehidupan umat manusia di dunia ini disimbolkan dengan genre tembang macapat Jawa dari Maskumambang sampai Pocung yang diartikan sebagai suluk kehidupan manusia yang dimulai dari dalam kandungan sampai menuju kematian sehingga jasadnya di-pocong. Ini adalah suatu lelaku, ngelakoni suluk menjalani sangka paraning dumadi.

Hadirnya agama Islam dengan Kanjeng Nabi Muhammad Saw sebenarnya untuk menyempurnakan akhlak umat terdahulu yang memang ahklaknya belum sempurna seperti yang termaktub dalam Sunnah Innama buistu liutammima makarimal akhlak. Hal inilah yang disadari oleh R. Ng Yasadipura II dalam Serat Sana Sunu-nya, ia mengkhobarkan bahwa karena kehendak Tuhanlah manusia haruslah masuk Islam, seperti yang kita paham dalam penggalan serat tersebut:

Nahan kaing pat kawarna// sagung anak putu mami// kinon seruku Islama// anut Ing reh Kanjeng Nabi// Muhammad kang sinelir// Ing sarengat kanjeng rasul// haywa sira atilar// cegah pakon den kaliling// sunat perlu wajib wenang lawan mokal (R. Ng Yasadipura II, 2001:119).

Artinya: hal yang keempat menyangkut// bahwa karena titah Tuhanlah// maka orang harus masuk Islam// mengikuti Kanjeng Nabi Muhammad Saw// tidak boleh meninggalkan// sarengat maupun perintah nabi// baik yang tergolong// sunah, wajib, wenang, dan moka.

Serat ini begitu gamblang dan jelas bahwa umat manusia harus mengikuti agama Muhammad Saw berupa Islam, terutama tempat di mana serat ini lahir di Jawa, khususnya pedalaman Jawa Selatan. Maka tidak mengherankan identitas pemersatu orang Jawa dulu sebelum adanya Perjanjian Giyanti (1755 M) adalah Islam, mereka menyebut dirinya wong ngislam, bahkan ada juga yang mengatakan identitas orang Jawa adalah khitan. Islam menjadi identitas terpenting dalam menyatukan umat manusia kala itu, tentunya Islam di sini adalah Islam yang bercorak sufistik.

Dalam serat ini dijelaskan, umat Islam tidak boleh meninggalkan perintah atau ajaran yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang disebut sarengat, baik yang tergolong dalam sunah, wajib, makruh, maupun mubah. Tentu ajaran-ajaran ini, waktu itu hanya bisa ditemui di dalam lingkaran pesantren dan jejaringnya, ataupun di desa yang ada ulama atau katib yang mengajarkan ilmu agama Islam. Bagi Ahmad Baso pesantren yang disebut sebagai Mandala ini, para ajar dikader untuk melanjutkan tradisi keagamaan dan pengetahuan Wali Sanga (lampihan wali) (Ahmad Baso, 2020:69). Mereka membantu mengislamkan dan mengajarkan syariat agama (pranata ning syarengat) kepada penduduk sekitar yang memang belum tersentuh mengenai ilmu agama Islam.

Bahkan para cantrik yang memang sudah mendapatkan ijazah dan restu dari para pemuka agama (Wali), mereka disuruh mengamalkan ilmu-ilmu tersebut ke pada generasi berikutnya. Sebab, bagi mereka (para ulama) anak-anak bagaikan kertas putih yang harus diisi dengan ajaran agama yang baik, dimulai dari sarengat itu tadi. Seperti tata cara berwudhu, sholat, memperkenalkan mana halal, mana haram, mana makruh, mana mubah, rukun iman, rukun Islam dan lain sebagainya yang itu menjadi bagian dasar yang harus dipahami oleh semua insan muslim.

Batal karam lawan kala// musabiyat den kaesthi// pikukuh Islam lilima// iku aja lali-lali// utawa yen nglakoni// Ing rukun lilima iku// lamun ora kuwasa// mring betullah munggah kaji// ingkang patang prakarsa bah ywa lupa (R. Ng Yasadipura II, 2001:119)

Artinya: harus berusaha dapat melakukan mana yang batal, haram, halal// musabiyah dan jangan// lupa akan kelima rukun Islam itu. jika tidak dapat menunaikan// rukun Islam yang kelima// berarti tidak dapat// ke Baitullah (Ka’bah) naik haji// maka keempat rukun Islam yang Iain itu sejalan jangan sampai diabaikan,

Bait ini berada di dalam genre Sinom, yang artinya sedang bersemai, maka bagi anak-anak yang sedang bersemai harus diajarkan terlebih dulu ngelmu sarengat.  Ilmu yang menjadi dasar dalam ilmu agama yang berupa tindakan badaniah. Mereka generasi insan muslim yang sedang bersemai harus dipupuk menggunakan ilmu-ilmu sarengat, sesuai dengan kapasitas pencerapan panca indra mereka.

Hingga hari ini ilmu sarengat memang menjadi ilmu awal yang harus dipahami oleh semua insan muslim sejak kecil, di pesantren misalnya ketika para santri memasuki tahun pertama di dalam pesantren, mereka akan diajarkan ilmu-ilmu syariat seperti yang dijelaskan oleh R. Ng Yasadipura II, melalui kitab yang beragam salah satunya adalah Safinah An-Najah yang dikarang oleh Syekh Salim bin Samir Hadlrami yang mengacu pada mazhab Syafi’i.

Karena ilmu ini bersifat badaniah, maka seseorang tentunya harus melakukan hal ini sebaik mungkin. Mereka harus bisa memastikan dirinya agar tidak terjebak dalam suatu perbuatan yang bertendensi ke arah batal ataupun haram yang itu tidak sesuai dengan ajaran syariat Islam. Hal itu menjadi langkah awal bagi mereka untuk menapaki jenjang berikutnya, bahkan bagi R. Ng Yasadipura II dengan jelas mengatakan mereka yang tidak bisa menjaga rukun Islam yang lima, maka secara otomatis mereka tidak akan bisa menjalakan rukun Islam ke lima yakni mreng Baitullah munggah kaji.

Hal itu menjadi langkah awal bagi mereka untuk menapaki jenjang berikutnya, bahkan bagi R. Ng Yasadipura II dengan jelas mengatakan mereka yang tidak bisa menjaga rukun Islam yang lima, maka secara otomatis mereka tidak akan bisa menjalakan rukun Islam ke lima yakni mreng Baitullah munggah kaji.

Ibadah yang satu dengan ibadah yang lain saling keterhubungan satu dengan yang lain, ada semacam ikatan metafisik yang tidak semua orang bisa memahami relasi tersebut. Ada kerangka besar yang harus dilakukan secara step by step oleh seorang salik ketika ingin mencapai puncak dari kehidupan yakni sangkan paraning dumadi. Seperti yang kita pahami bersama sarengat merupakan tindakan badaniah, tarekat adalah tindakan batiniah, sedangkan hakikat adalah olah nyawa dan makrifat olah rasa semua itu harus diketahui oleh sang salik beserta tata cara melakukannya (harus mengetahui ilmunya).

Irfan Afifi menandaskan bahwa ilmu itu tercapainya dengan laku yang berkaitan dengan olah diri untuk menundukkan nafsu melalui jalan tapa brata, tafakur, dan prihatin. Mengurangi hawa nafsu, hingga selalu berusaha menciptakan rasa enak di hati atas sesama (Irfan Afifi, 2019:54). Hal inilah yang harus dimiliki oleh insan muslim sebagai salik yang ingin mencapai Sangkan Paran, setelah mereka memahami ilmu yang bersifat sarengat, mereka harus naik ke taraf makrifat, kemudian hakikat. Tapi, bagaimanapun juga sarengat tidak bisa ditinggalkan karena dapat menyebabkan ke-diri-an insan muslim menjadi lemah, bagaimanapun manusia tetaplah manusia yang tidak bisa menyamai sarengat Nabi, kalaupun ada manusia semacam demikian, ia adalah Wali Allah, orang-orang yang dipilih oleh Tuhan secara langsung. Kita cermati pesan R. Ng Yasadipura II:

Ing sarengat lakuneki// yen tiara Nora kuat badanira// pan iya mangsa biasa// ngepleki sarengat Nabi// ywa mangkana nora kena// yen kinarsakken Ing Widhi// dadya mukmin sejati (R. Ng Yasadipura II, 2001:120)

Artinya: sarengat tidak boleh ditinggalkan// karena dapat menyebabkan dirinya lemah// tentu saja tidak akan mungkin// menyamai sarengat Nabi// itu dilarang dan juga tidak akan mampu// kecuali orang itu memang sudah dikehendaki oleh Allah// menjadi mukmin sejati.

Lelakuning Mukmin sejati

Laku keagamaan dari seorang mukmin sejati tentunya harus ada keseimbangan antara sarengat, makrifat, dan hakikat. Ketiga aspek ini yang akan mengantar manusia menjadi manusia paripurna (Insan Kamil) yang akan menebarkan kebaikan di antara sesamanya dan mengajak di antara sesamanya untuk menjadi manusia paripurna. Simuh menandaskan corak manusia paripurna semacam demikian adalah manusia yang bersifat transendentalisme (Simuh, 1981: 46-56).

Kita pahami bahwa corak transendentalisme ini mempunyai paham yang sangat mencolok antara wajib al-wujud dan mumkin al-wujud sebagaimana aliran ini di wakili oleh sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Tingkat yang dicapai dalam tataran ma’rifat ini tidak selalu memproklamirkan terus-menerus mengenai Insan Kamil, biasanya aliran ini lebih menyebutnya sebagai Wali Allah. Mereka para orang pilihan yang ditunjuk langsung oleh Allah yang memiliki dua peran penting, yakni sebagai mediator memberikan syafa’at bagi doa-doa yang dipanjatkan oleh orang awam dan sebagai cosmic power menjaga keseimbangan alam yang terletak di tangannya.

Tentunya dalam menjadikan dirinya sebagai Wali Allah yang harus menjadi  perantara doa bagi orang awam dan penjaga keseimbangan alam, tentu tiga laku keagamaan yakni syariat, ma’rifat dan hakikat tidak bisa dijalankan secara terpisah seperti yang dijelaskan oleh R. Ng Yasadipura II. Bahkan bagi Marx R. Woodward muslim yang ideal adalah orang yang memadukan kesalehan yang berpusat pada syariat dengan praktik mistik (Marx R. Woodward, 2017:124).

Sebenarnya ilmu-ilmu tadi kenapa harus dijalankan dengan baik adalah bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi janma utama. Dengan bahasa lain siklus perilaku keagamaan ini mengantarakan seorang menjadi manusia utama atau menghasilkan seseorang dengan moralitas yang utuh. Tatkala seorang insan muslim sudah sampai pada tataran ini, hidupnya akan diabdikan hanya untuk kemaslahatan umat, seperti yang dijelaskan di atas, ia akan menjadi manusia paripurna dengan segala aspek kebaikan yang dimilikinya.

Buku Langgar Shop
Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.