“Di depan mimbar masjid, ia menulis judul “Ibuku”. Ia pandangi bagian belakang masjid, tempat ibadah untuk para wanita. Ia berdiri. Air matanya menetes. Ia berjalan mendekati sebuah sajadah yang masih terhampar. Kemudian bersujud lama. Ada bau rambut ibunya.” (hlm. 87)

Saat menulis kutipan di atas, saya sedang berada di Masjid Kampus UGM, tepatnya di tempat salat untuk para wanita di lantai dua. Kalimat-kalimat dari kumpulan cerita pendek SEX.ISLAM.LOVE (selanjutnya akan saya sebut S.I.L) karya Muhammad Anta Kusuma tersebut langsung membuat wajah Ibu berkelebat di depan saya. Bau rambutnya terbawa angin bersama azan Isya yang menyapa lampu gantung bundar, pilar-pilar besar, dan lantai marmer masjid mewah ini. Saya rasa setiap ibu memiliki wajah semesta di mana cinta dan air matanya menjadi sajadah tempat anak-anaknya mesti bersujud. Selapis memori tentang sosok ibu, siapa pun ia, tidak bisa saya tepiskan ketika mengulas S.I.L.

Selepas jamaah salat Isya, saya diperingatkan satpam bahwa lampu masjid hendak dimatikan. Terpaksa saya menunda kalimat-kalimat tentang wajah universal para ibu yang mengaliri hati dan pipi. Kalimat-kalimat ini datang belakangan setelah sebelumnya, sejak bulan lalu, saya menulis beberapa paragraf tentang S.I.L. Paragraf-paragraf tersebut akan berusaha saya jalin dengan paragraf-paragraf baru yang hadir setelah saya membaca S.I.L untuk yang ketiga kalinya.

Jujur saja, mengulas S.I.L tidak segampang membaca definisi-definisi sex, Islam, dan love di kamus-kamus. Mengapa? Ketika saya menerima buku ini dari sang penulis—meski pada tahun lalu sudah pernah membaca ulasan tentangnya, mata saya terpaku pada gambar sampulnya: gambar jilbab hitam dengan bagian muka berbentuk simbol hati atau cinta. Karena gambar sampul biasanya merupakan representasi dari isi buku, saya mengimajinasikan gambar jilbab hitam berwajah cinta tersebut sebagai simbol sex, Islam, dan love yang menjadi ruh dari seluruh cerita di S.I.L. Saya saat itu sadar bahwa definisi sex di dalam bahasa Inggris tak hanya satu, melainkan dua. Sex bisa berarti ‘seks’ dan juga ‘jenis kelamin’, yang tentu saja terkait erat dengan identitas seorang manusia. Jilbab, yang biasanya membungkus rambut “bersejarah” para ibu—saya agak sentimental jika ingat rambut Ibu yang mulai beruban, adalah simbol perempuan yang memeluk Islam dengan cinta. Kesan ini tentu tercipta karena saya adalah seorang perempuan. Bisa jadi kesan ini tidak seperti yang dimaksudkan oleh sang penulis. Bukankah membaca buku adalah pekerjaan untuk menangkap kesan dan pesan? Menarik benang merah dari setiap cerita yang dikandung S.I.L dengan tafsir yang sudah telanjur berdesakan di kepala, bagi saya, tentu tidak mudah.

Frasa ‘bau rambut ibu’ yang terdengar merdu itu saya temukan di cerpen keenam belas yang berjudul “Bacco”. Bacco adalah seorang mahasiswa S2 di Belanda yang sedang pulang kampung ke Sangkulirang, sebuah kota kecil di Kalimantan Timur dengan masjid di tepi laut. Perjalanan Bacco menyusuri (bandara) Balikpapan, Sungai Mahakam, Kota Sangatta, dan Jembatan Sangkulirang membuat saya sebagai pembaca membayangkan—selain nikmatnya Coto Makassar dan ikan bakar yang dijual di pinggir jalan(an) Sangatta—penebangan dan penambangan liar di Bukit Soeharto serta hilangnya mata pencaharian penduduk yang memiliki usaha jasa penyeberangan menuju Sangkulirang karena keberadaan jembatan. Meski hanya sekilas dituturkan, fenomena yang dipotret Bacco dalam perjalanan untuk menemui ibunya tersebut cukup mampu mengingatkan saya bahwa ada yang salah dengan cara kita memanfaatkan teknologi modern. Untungnya, Bacco dan saya memiliki tempat pulang yang bernama kenangan masa kecil: tempat yang tidak akan ditebang dan ditambang secara liar oleh modernitas. Saya serta-merta teringat makanan kesukaan saya semasa kecil, yaitu bubur blowok (orang Yogya biasa menyebutnya jenang sungsum), ketika Bacco diajak ayahnya untuk duduk dan berbuka puasa dengan makanan kesukaannya: bulu pecak (hlm. 86). Kerinduan kepada bubur khas Bugis tersebut juga tersurat di cerpen yang berjudul “Masjid” (hlm. 58).

Membacanya, saya bertanya: di antara sex, Islam, dan love, mana yang paling mempengaruhi spiritualitas manusia?

Kisah tentang Bacco bukan cerita yang pertama saya baca dari S.I.L. Karena saya suka membaca dari belakang, cerita pertama darinya yang saya baca adalah cerita terakhir yang berjudul “Ortu”. Berbeda dari cerpen-cerpen lainnya, cerpen ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama, ‘aku’, yang bernama Anta. Meski sang penulis, (saya panggil saja) Anta, mengaku enggan untuk mencantumkan biodatanya di bagian terakhir buku, saya menyangka bahwa cerpen ketujuh belas ini adalah biodatanya. Lagi-lagi, perasaannya tentang sang ibu dibabar dengan halus: “Di depan rumah, Ibu kupeluk. ‘Assalamualaikum,’ kutatap mata Ibu sambil kulambaikan tangan. Dari balik jendela mobil yang gelap, kulambaikan tangan sekali lagi. Mobil melaju. Kulihat Ibu melambaikan tangan sambil mengusap wajahnya. Sajadah pemberiannya kumasukkan ke dalam tas ransel. Ujungnya basah. Pasti air mata ibu [sic].” (hlm. 92)

Selain di cerpen “Ortu”, Anta menggunakan sudut pandang orang pertama ‘aku’ di tujuh cerita pendek lainnya. ‘Aku’ di cerpen “Ramadan” dan “Masjid” mendeskripsikan suasana Ramadan di Den Haag sambil sesekali membandingkannya dengan atmosfer bulan puasa di Indonesia. Di cerpen “Jum”, tokoh ‘aku’ juga menceritakan pengalamannya ketika berada di Belanda. Bedanya, ‘aku’ tidak lagi mengulik kenangannya di Indonesia karena cerita terpusat pada Jum, seorang imigran dari Indonesia yang mengaku tidak beragama dan mengadu nasibnya ke Belanda karena cinta dan trauma. Sayangnya, Anta kurang konsisten dalam menggunakan sudut pandang orang pertama di cerpen ini: kadang tokoh ‘aku’ disebutnya ‘saya’. Selain itu, beberapa paragraf tentang masa lalu Jum dituturkan tidak dari sudut pandang orang pertama. Ada kalimat semacam ini, misalnya: “Ruben dan Jum melangkah cepat. Mereka berhenti di depan gereja.” (hlm. 63) Kalimat tersebut dan beberapa kalimat lainnya, menurut saya, kurang pas digunakan karena si ‘aku’ bukan saksi sejarah hidup Jum. Akan beda halnya jika penceritaan dilakukan dari sudut pandang orang ketiga. Terlepas dari ketidaksempurnaan teknik penceritaannya di mata saya, “Jum” berhasil menyampaikan gambaran tentang seorang perempuan yang kuat meski ia pernah diceraikan oleh suami pertamanya—karena tidak bisa memberikan anak—dan kerap dihantui perasaan ngeri akan pembantaian terhadap PKI.

‘Aku’ di “Multikultur” secara lepas mengisahkan para tokoh dari berbagai kebangsaan di sebuah warung dan di perpustakaan kota Den Haag. Cerpen “Claire” dan ”Emirates”, yang mengambil setting di dalam pesawat terbang, juga menggunakan tokoh ‘aku’ dalam bercerita. Claire, yang berasal dari Perancis, adalah seorang penumpang pesawat Emirates yang duduk di sebelah ‘aku’. Kedua tokoh itu sedang menuju Belanda dari Dubai: Claire baru selesai mengerjakan proyek di India dan ‘aku’ akan melakukan proyek penulisan cerpen di Belanda. Meski cerita tentang Claire cukup pendek, Anta tak lupa memasukkan topik cinta lewat deskripsi singkat tentang film Amour yang ditonton si ‘aku’ dan percakapan tentang identitas agama kedua tokohnya. Cerpen ini, dan juga cerpen “Jum”, diakui Anta sebagai kisah non-fiksi.

Cerita yang mengambil sudut pandang dari seorang ‘aku’ juga bisa ditemukan di cerpen “Setan”, yang dikisahkan terjadi di Indonesia. Cerpen “Setan” sesungguhnya merupakan lanjutan cerpen “Yohana” yang mengawali serangkaian kisah di S.I.L. Ketika membaca keduanya, saya memosisikan diri sebagai Yohana dan berempati kepadanya. Yohana adalah seorang ibu dengan dua anak kembar yang ditinggalkan ayah mereka, Yusuf, ke Amerika. ‘Setan’ atau ‘dua setan kecil’ adalah sebutan tokoh ‘aku’ untuk anak-anaknya. Entah mengapa saya kurang setuju dengan judul yang terkesan dingin itu. Meski demikian, sebutan tersebut bisa jadi merupakan bentuk ekspresi seorang ayah yang tak mengira bahwa ia mempunyai dua anak kembar. Ketika Yohana mengakui bahwa ia masih mencintai dan sudah memaafkan Yusuf (hlm. 25) yang telah mengembalikan kalung rosarionya, saya turut merasakan pilu sekaligus sublimnya cinta seorang perempuan kepada lelaki yang berbeda agama dengannya.

Meski sublim, kisah cinta Yohana-Yusuf ini menyimpan beberapa kejanggalan di logika saya. Kejanggalan ini muncul karena masalah semantik. Di dalam cerpen “Yohana”, Anta menulis sebuah kalimat yang mengandung ambiguitas makna: “Mereka terakhir bertemu di Jogja ketika Merapi meletus tahun 2010” (hlm. 9). Makna pertama adalah bahwa ‘pertemuan terakhir mereka di Jogja terjadi pada tahun 2010’. Kalimat tersebut juga bisa berarti ‘pertemuan terakhir mereka terjadi di Jogja pada tahun 2010’. Kalimat yang ambigu itu membuat saya sempat bingung dan bertanya: bagaimana mungkin sepasang kekasih (atau suami istri?) tidak pernah bertemu di Jakarta padahal mereka sama-sama bekerja di sana? Kejanggalan kedua terdapat di cerpen “Setan”: tokoh ‘aku’ tidak dikenali oleh teman lamanya sendiri. Dunia memang penuh kemungkinan-kemungkinan, tapi kecil sekali kemungkinan bahwa seseorang tidak lagi dikenali sahabat lamanya sendiri setelah terpisah selama tiga tahun (saja).

Saya juga menemukan kejanggalan di cerpen “Roppongi” yang berkisah tentang pengalaman sang tokoh utama, Acong, ke kawasan Roppongi, Jepang. Keluarga Acong adalah korban kerusuhan Mei 1998. Secara kebetulan, Acong bertemu dengan orang yang diduga telah menganiaya keluarganya. Ini memang mungkin terjadi, tapi saya merasa ada yang aneh ketika Acong bisa mengatakan bahwa orang yang baru sekali dilihatnya secara langsung—dan sekali lewat foto—itu “persis sama” dengan sesosok pria yang sering diceritakan oleh ibunya (hlm. 19). Apakah kemampuannya untuk mengenali sosok yang membekas di ingatan ibunya itu dipengaruhi oleh kuatnya cinta antara ibu dan anak? Acong memang dikisahkan bertemu ibunya di rumah sakit jiwa seminggu sekali. Mungkinkah frekuensi pertemuan mereka menjadi sekuntum doa yang memperjalankan Acong untuk bertemu lelaki itu di Roppongi? Meski sempat mengundang tanya di benak saya, cerpen ini menarik karena Anta menuliskannya secara singkat tapi tetap bisa menyuguhkan kejutan di akhir cerita—seperti halnya di cerpen-cerpennya yang lain.

Kisah tentang ibu dan anak lagi-lagi saya temukan di cerpen “Roman”. Roman adalah anak dari seorang ibu muda bernama Rara. Dengan gaya berceritanya yang “ringkas”, Anta memasukkan banyak kejadian yang terbilang mengejutkan di cerita ini. Karena terbiasa menikmati cerita pendek ala koran, saya berharap cerpen ini bisa diceritakan dengan lebih deskriptif dan dramatis. Cerpen ini sayangnya masih bersambung dan membuat saya berharap (lagi) bahwa lanjutannya akan lebih romantik—bukan romantis. Jika ditulis dalam bentuk novel, mungkin cerita ini akan menjadi semacam novel misteri yang penuh konflik psikologis: “Roman” yang romantik!

Jilbab, yang biasanya membungkus rambut “bersejarah” para ibu—saya agak sentimental jika ingat rambut Ibu yang mulai beruban, adalah simbol perempuan yang memeluk Islam dengan cinta.

Bicara soal roman, saya hendak menuju cerpen “Sah”. Cerpen ini ditulis Anta dalam bentuk percakapan seperti naskah drama pendek dengan satu paragraf pembuka. Di dalamnya, kita bisa berkenalan dengan Ahmad dan Kristin: suami-istri beda agama yang berdialog tentang cinta untuk bercinta setelah salat bersama—ya, Kristin ikut salat meski bukan muslim. Ahmad bertanya kepada istrinya, “Mana yang lebih kamu cintai, [sic] aku, keluargamu, atau Tuhanmu?” (hlm. 34) Dialog mereka membuat saya teringat kepada Nietzsche yang, dalam bukunya Human, All Too Human (1984: 199), berkata, “When entering a marriage, one should ask the question: do you think you will be able to have good conversations with this woman right into old age? Everything else in marriage is transitory, but most of the time in interaction is spent in conversation.” Meski bukan seorang Nietzschean, kali ini saya harus bersepakat dengan sang filsuf bahwa pernikahan adalah sebuah percakapan panjang. Tanpa harus saya terjemahkan, kutipan berbahasa Inggris itu sudah bisa ditangkap maknanya, ‘kan? Sebentar lagi Kristin merayakan Hari Natal. Saya bertanya-tanya kalimat apa yang akan diucapkan Ahmad untuk istri tercintanya itu. Andai percakapan mereka lebih panjang, tentu pertanyaan saya itu berpeluang untuk terjawab.

Di cerpen “Kucing”, saya mencium aroma politik ketika membaca dua nama tokoh di dalamnya: Joko dan (Om) Fauzi—apalagi udara Jakarta yang panas menjadi latar belakangnya. Joko, sang tokoh utama, tak punya uang untuk mendapatkan peran dari sutradara yang bernama Fauzi. Di panggung cerita itu, rupanya si kucing hanya berperan sebagai penyampai pesan bahwa makhluk-makhluk di Ibu Kota saling berebut “makanan” untuk memenuhi nafsu perut mereka.

Tampaknya yang membuat orang-orang saling sikut tak hanya nafsu perut. Nurdin di cerpen “Sexterdam” juga kekurangan uang, padahal ia ingin pergi ke Drakes’s Club: entah untuk memenuhi keingintahuannya saja tentang kehidupan para gay atau untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Cerpen ini mengingatkan saya bahwa motif dan orientasi seksual manusia bisa bermacam-macam. Tentu cerita semacam ini tak hanya bisa terjadi di Amsterdam. Di Madison, Amerika Serikat, yang menjadi setting cerpen “Veronica”, seks juga dijadikan alat untuk balas dendam atas peristiwa September Eleven. Ahmad, seorang mahasiswa asal Indonesia yang rajin salat tapi doyan vodka, yang tak punya andil dalam penghancuran menara kembar WTC, menjadi korban stereotip yang menimpa agamanya.

Berkelindannya sex, Islam, dan love kita dapati di cerpen yang judulnya dijadikan judul buku ini. Di cerpen “SEX.ISLAM.LOVE”, buku Allah, Liberty and Love dan The Trouble with Islam Today karya Irshad Manji disebut-sebut. Ketika membaca cerpen ini, saya merasa ide kebebasan (termasuk dalam mengekspresikan orientasi seksual dan berijtihad) yang diusung Manji di kedua bukunya itu di-vis-à-vis-kan Anta dengan perilaku kekerasan (dalam rumah tangga dan dalam bermasyarakat) seorang aktivis Front Penjaga Islam. Pertentangan itu terjadi di batin anak sang aktivis yang bernama Rosa, yang sangat suka dengan kejujuran Manji (hlm. 39), dan membuatnya ingin hidup dengan Rafi—sang tokoh utama, bukan dengan Islam (hlm. 40). Rosa, yang sehari-hari berjilbab, dan Rafi, yang rajin salat subuh berjamaah, mengekspresikan kebebasan mereka dengan berhubungan badan meski baru berkenalan. Membacanya, saya bertanya: di antara sex, Islam, dan love, mana yang paling mempengaruhi spiritualitas manusia?

Pertanyaan itu mengingatkan saya kepada Ibnu Arabi yang dalam Tarjumanul Asywaq-nya memuja perempuan sebagai bentuk kerinduannya kepada Tuhan. Baginya, perempuan adalah tajalli-Nya. Dengan cinta dan kerinduan yang agung itu, Ibnu Arabi bahkan menyimpulkan bahwa tajalli Tuhan akan sempurna melalui hubungan seksual yang fisikal sekaligus spiritual dengan perempuan. Saya lalu teringat Imam Al-Ghazali yang—sepemahaman saya—juga pernah menyatakan bahwa pengalaman tubuh dan pengalaman ruhani manusia tidak bisa dipisahkan. Dengan sedikit pengetahuan tentang itu semua, saya berasumsi bahwa seks bisa menjadi salah satu pintu untuk mencapai orgasme spiritual. Di ruang pertemuan antara tubuh dan ruh, momen perjumpaan dengan Tuhan mungkin bisa diciptakan. Pertemuan semacam itu sepertinya hanya bisa suci apabila pintu-pintu lain, yang—bagi sebagian orang—bernama Islam dan cinta, juga dimasuki. Saya rasa ketiga pintu yang purba itu bisa manunggal: semacam tiga elemen yang hanya akan invalid jika dipisahkan dari satu sama lain. Ketika ketiganya dirangkai menjadi judul SEX.ISLAM.LOVE dan dipisahkan dengan dua titik, saya menyimpulkan: bukannya memisahkan mereka, titik-titik itu justru menjadi penanda bahwa masing-masing elemen itu harus selesai dikenali sebelum dileburkan ke dalam jiwa-raga. Apakah persangkaan saya itu benar? Saya belum tahu. Ini hanyalah gerundelan seorang pembaca yang heran mengapa ketiganya tidak dipisahkan dengan dua koma. Bagi orang (baca: saya) yang setiap harinya selalu bergulat dengan tanda baca, hal-hal semacam ini bisa menimbulkan kegelisahan.

Tentang buku ini, seorang teman yang pernah berbagi kegelisahan dengan saya di sejumlah organisasi—dan sebelumnya pernah mendengar judulnya—beberapa hari lalu bertanya, “Apakah isi buku itu vulgar?” Kata vulgar yang dimaksudnya itu sepertinya terkait dengan kata sex di judul buku. Saya hanya menjawab bahwa beberapa cerpen di dalamnya mungkin terkesan vulgar bagi sebagian orang. Akan tetapi, apakah seks tabu untuk dibicarakan? Jawaban dari pertanyaan itu tentu akan tergantung pada konteks apa seks sebagai teks diletakkan. Teman saya itu, yang notabene seorang ibu, mengajukan pertanyaan tersebut kepada saya sambil momong anak-anaknya di masjid kampus pada suatu siang. Momen itu menjadi pengingat saya bahwa 22 Desember dikenal sebagai Hari Ibu.

Hari Ibu, yang sebelumnya sempat ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia, tentu merupakan momen yang fitri dan universal karena setiap orang pasti memiliki ibu. Namun, bagi perempuan yang belum berkesempatan untuk menjadi ibu, atau bahkan yang memutuskan untuk tidak akan pernah menjadi ibu karena tidak mau menikah by choice—seperti seorang teman saya lainnya di Ibu Kota, peringatan Hari Ibu mungkin agak menggores sesuatu di (ke)dalam(an) dirinya. Dalam konteks ini, S.I.L—dengan setting cerita dari beberapa negara yang pernah dikunjungi Anta—bisa tampil sebagai sebuah suguhan alternatif tentang realitas dunia perempuan yang begitu kompleks ketika bersinggungan dengan sex (dengan dua maknanya), Islam (baca: agama), dan love (baik yang memakai inisial l maupun L). Sayangnya, buku kumpulan cerpen yang dicetak pertama kali pada tahun 2014 dengan tebal 92 halaman dan berhasil mengantarkan penulisnya menjadi salah satu dari enam Emerging Writers di Makassar International Writers Festival 2016 ini belum beredar di pasar(an) lagi. Saya meyakini satu hukum alam perbukuan: jika sesuatu layak (untuk) dibaca, ia akan lestari—minimal di benak pembacanya—seperti bau rambut Ibu di sajadah itu. Panta Rhei!

 

Yogyakarta kelabu, menjelang Hari Natal 2018

Ina Minasaroh
Pengajar Bahasa Inggris di PPB UMY dan penerjemah lepas, tinggal di Yogyakarta. Beberapa karya yang telah diterjemahkannya diantaranya: Warriors of God karya James Reston Jr. (2006), Islamku, Islamu, Islam Kita karya Gus Dur (2007) ke bahasa Inggris, Jonathan Livingston Seagull karya Richard Bach (2011), serta Hagakure : The Wisdom of Samurai karya Yamamoto Tsunetomo (2012).