Ketahuilah, sesungguhnya Wujud dalam pemahaman suatu kaum yaitu merasakan al-Haq dalam perasaan hati kecil.

Ibn ‘Arabi

 

Di tepi sebuah laut terpencil, di Pacitan, saya duduk di atas pasir tanpa alas. Duduk begitu saja, diam saja, memandangi lautan yang berkilau diterpa cahaya bulan yang sedang bergairah. Bukan gemuruhnya yang menyita pikiran saya, tapi suatu fakta bahwa jarak tembus pandangan saya semakin pendek saja ke tengah lautan dibandingkan siang tadi tatkala melihat sebuah kapal yang cukup besar melintas nun di kejauhan sana. Entah hendak ke mana. Mungkin saja ada Faisal Oddang di dalamnya yang telah tiba sebelum berangkat.

Annemarie Schimmel benar, walau sudah pasti ia bukan yang pertama mengungkapkannya. Lautan luas yang siang tadi saya rasakan kebak (baca: dipenuhi) msyterium tremendum (misteri yang menggetarkan) di malam begini menisbatkan kekebakan lain pada diri saya, sebuah mysterium fascinans (misteri yang mempersonakan).

Dan, ini karena fakor cahaya dan kegelapannya.

Dan, ini karena fakor cahaya dan kegelapannya. Saya tidak melakukan typo di sini. “Nya” sengaja saya sematkan merujuk pada “cahaya”, sebab bagaimana bisa kita menyangka cahaya berdiri sendiri, lalu ia ternamai cahaya bila tak ada kegelapan yang menyokongnya, membersamainya? Begitupun sebaliknya.

Mereka sejoli!

Melahirkan anak di malam tersebut bernama “misteri yang mempersonakan”. Entah besok malam, tahun depan, pula di kepala dan hati orang lain.

Saya nyalakan korek, menyulut sebatang rokok. Tatkala cahaya api dari korek menyeruak, koyaklah jangkauan jauh mata saya ke tengah lautan itu.

Ah, rupanya, cahaya yang terlampau dekat juga tak sepi dari kibulan dan kamuflase. Ia begitu terang, menyantap kornea mata saya, tetapi tepat di waktu yang sama, saya serentak kehilangan jangkauan pandangan kepada yang lebih jauh, lebih jauh, apalagi yang benar-benar sangat jauh di balik horison sana.

Sesuatu yang menyala, menerangi, mencahayai, pantas pula untuk mulai disangsikan kejujurannya mewartakan apa-apa yang meluas limpas di belakangnya.

***

Saya ingat sesuatu peristiwa.

Belumlah pula adzan Subuh menggema, saya keluar rumah. Susana begitu hening. Perkampungan yang lazimnya selalu ramai ini terasa sempurna terjerengkang dalam letih, bisu, dan –maafkanlah diksi berikutnya— menyerupai sebuah pekuburan raksasa dengan nisan-nisan yang bertebaran sedemikian rupa. Ada nisan yang biasa saja, ada yang lebih besar, ada pula yang mentereng.

Saya melaju di tengah kampung –tepatnya, pekuburan raksasa ini. Lalu shalat, dzikiran, ngaji, kemudian pulang. Di waktu pulang ini, saya berjumpa dengan sejumlah orang yang mulai beraktivitas. Ada  motor melaju dengan keranjang-keranjang yang kebak dagangan. Ada sepasang bapak ibu tua yang berjalan kaki dengan langkah satu dua. Ada pemuda yang nampak tergesa sekali hingga laju motornya terasa rindu pada kematian.

Tapi, yang lebih pokok ialah mengapa saya menyebut suasana pagi temaram ini sebagai pekuburan raksasa?

Ini pasti semata akibat saya menyalakan korek api di dekat wajah, lalu cahayanya merampas kornea mata saya hanya untuk menujunya, hingga saya gagal menjangkau hal-hal luas yang tak terhingga, di depan dan apalagi belakang horison-horison itu, di balik paling jauhnya imajinasi yang bisa saya tempuh, bahwa begitulah kehidupan. Lalu begitulah manusia. Lalu begitulah perjalanan kehidupan manusia.

***

Andai saya mematikan korek api di depan wajah, serentak merangsaklah panorama-panorama lain yang bukan semata perihal pekuburan raksasa. Entah itu tentang seorang bapak yang baru tiba di rumah pukul dua dini hari sehabis keliling kota dengan jaket gojeknya; entah tentang seorang pemuda yang menyisakan tangis di pelupuk matanya karena kekasihnya baru saja mengalami patah kaki akibat kecelakaan; entah tentang sebuah keluarga kecil yang terdiam dalam kalut dan panik hingga tak mampu berbuat apa-apa selain doa setelah sebuah telepon hinggap ke rumah kontrakannya seraya mengabarkan sosok ibu tercinta yang sakit keras di kampung jauh sana; entah tentang seorang rentenir yang telah menjadwal rencana untuk mendatangi rumah siapa saja di hari ini dengan segebok tagihan yang tak lancar dan membuatnya gerah sekali.

Pun entah tentang mengapa saya mesti memikirkan semua hal tersebut sembari pelan demi pelan makin memastikan bahwa saya sungguhlah hanya tumbal dari kibulan-kibulan kamuflase cahaya yang seolah mewedarkan segala kebenaran tetapi sesungguhnya –sebagiannya– jelas-jelas hanyalah prasangka, mitos, dan bahkan politisasi yang memuakkan.

Ketika cahaya korek telah mati dan kini tersisa hanya bara dari ujung rokok, persekutuan cahaya bulan dan bara api itu tak banyak mengembangkan apa-apa dalam jangkauan pandangan saya. Jika rokok dihisap, baranya membesar dan terlihat teranglah apa-apa di sekitar wajah saya. Sekitarnya saja. Permukaan air laut tampak seperti semula: berkilau-kilau di antara ombak-ombaknya.

Mengapa cahaya kerap mendustai kegelapan? Atau, apa yang sebenarnya disumbangkan cahaya pada saya untuk mampu menembus hamparan luas kegelapan? Atau, mengapa selalu ada cahaya dalam gelap dan gelap dalam cahaya?

Sebentar, mari buktikan dengan cara sederhana saja. Cobalah Anda masuk ke dalam kamar di malam hari. Jangan nyalakan lampu. Mata Anda akan menangkap kegelapan. Tapi lama-lama ia mencair, mengencer, hingga mulai dan semakin tampaklah pelbagai hal di dalam kamar tersebut. Semakin lama Anda diam, semakin tampaklah banyak hal lainnya. Begitu terus.

Lalu nyalakan lampu. Seketika semua hal terlihat oleh mata Anda. Kamar menjadi begitu terbuka segala isinya.

***

Pada situasi pertama, bayangkan Anda membuka al-Qur’an dalam keadaan tidak bisa membacanya. Lalu Anda belajar, datanglah Ilmu. Semakin Anda mendalaminya, semakin terlihatlah maksud-maksud dari jubelan ayat dalam al-Qur’an yang kini bisa Anda baca.

Jika Anda lalu memasuki situasi kedua, bayangkanlah Anda telah membekali diri dengan Ilmu lanjutannya. Sebutlah Mantiq dan Balaghah. Sudah pasti, al-Qur’an menjadi lebih nampak terang di pembacaan Anda. Itulah Cahaya Ilmu yang menyumbangkan kemajuan-kemajuan pandangan buat Anda.

Lalu kini bawalah lampu lima atau sepuluh watt di kamar tadi ke sebuah lapangan di malam buta. Nyalakan.

Keluasan lapangan dan kegelapannya kini tak mampu lagi dirangkul penuh oleh pancaran cahaya lampu kamar tadi. Anda membutuhkan lampu yang lebih besar lagi ternyata. Andaikan saja Anda mendatangkan ratusan lampu ke lapangan tersebut, benderanglah setiap kisi lapangan itu.

Bawalah ratusan lampu itu ke tepi laut terpencil, di Pacitan, tempat di mana saya duduk bisu begini. Ternyata, ratusan lampu itu tak banyak menyumbangkan kemajuan pandangan kepada saya saking luasnya hamparan ruang-ruang kegelapan. Sebagiannya saja yang bisa saya lihat. Sebagian kecilnya.

Bagaimana —bayangkan!— bila semua lampu yang mampu saya bawa diletakkan di tengah lautan itu?

Tengah lautan”, itu ternyata hanyalah batas terjauh kemampuan saya untuk menyatakan suatu titik yang sangat jauh di depan saja. Kalau saya menaiki perahu, lalu berlayar ke sana, ke sebuah “tengah lautan”, bukankah saya akan meralat ungkapan tersebut dengan mengatakan bahwa di sana rupanya tengah lautan itu, dan di sana lagi rupanya, di sana lagi teryata, dan di sana lagi dan lagi dan lagi. Tak terbatas….

Setiap membayangkan mata saya berhasil melihat sesuatu berkat bantuan cahaya yang menembusi kegelapan, tepat di detik itu pulalah saya gagal menangkap sesuatu lainnya lagi. Dan terus begitu –demikianlah saya– dikibuli oleh kamuflase-kamuflase penglihatan, cahaya, dan kegelapannya.

Bila sebuah lampu dinyalakan di sebuah ruangan kecil yang telah terang benderang, cahaya itu menjadi tiada maknanya lagi. Sebab di situ tak ada kegelapan.

Bila sebuah lampu, sekecil atau sebesar apa pun, dinyalakan di tepi laut yang gelap begini, ia adalah cahaya yang bermakna, sekecil atau sebesar apa pun jangkauannya menembusi kegelapan.

Tatal-tatal cahaya dan kegelapannya, sungguh-sungguh, ternyata adalah risalah-risalah kebermaknaan yang kita rindukan dan perjuangkan sepanjang hidup. Soal pendar cahaya kita mampu menembusi kegelapan seluas satu meter persegi atau seribu kilometer persegi, marilah berendah hati selalu, betapa selalu ada cahaya di atas cahaya dan gelap di atas gelap. Tatal cahaya menyusup dalam tatal gelap, tatal gelap menyelinap dalam tatal cahaya.

Dalam tatal-tatal demikianlah kita disusun oleh kehidupan yang mempesona. Betul, disusun. Bukan menyusun.

 

~Edi AH Iyubenu