Desa Adalah Ibu Kota: Dari Tapa Ngeli ke Folktarium Muria
Berbekal cerita lisan dan salinan buku Kudus yang ditulis oleh sejarawan Jawa Tengah, Amen Budiman, saya berangkat ke kota masyhur ini. Dari kalimat demi kalimat...
Berbekal cerita lisan dan salinan buku Kudus yang ditulis oleh sejarawan Jawa Tengah, Amen Budiman, saya berangkat ke kota masyhur ini. Dari kalimat demi kalimat buku tanpa titimangsa itu lamat-lamat tampak betapa Kudus adalah alamat kisah-kisah kanon legendaris: konon yang sukar ditampik.
“Meskipoen Koedoes itoe ada satoe kota afdeeling ketjil, toch di antero Midden Java ia ada jang paling terkenal sendiri dalem kalangan banjaknja orang Indonesier hartawan dan dalem kalangan ke-igama-an Islam.” – “Poen Koedoes djadi terkenal lantaran productie roko kreteknja. Tjobalah pembatja tjari satoe kota, dimana berdiam sedikitnja 20 orang millioenairs, dan poeloehan lagi tonnairs?Tjoba pembatja tjari lagi kota, dimana ada lebih dari 200 mesdjit, dan banjak pendoedoeknja jang sama apal Qoeran?”[1]
Suatu etos kerja dan perilaku yang khas. Jejak-jejak temu-aruh budaya yang tua itu hidup berumur panjang. Keberadaan Masjid Menara Kudus, misalnya. Kehadiran Museum Kretek, contoh yang lain lagi.
Tetapi, tujuan kedatangan saya kali ini tidak semata-mata ke pusat Kota Kudus, melainkan ke Kampung Budaya Piji Wetan di kaki Gunung Muria.
Citra Lain Desa
Jika desa kerap dipandang seakan-akan berada dalam kondisi gelap dan tertinggal, tidak kelihatan—keberadaannya di pinggir; menjadi saksi, bukan yang disaksikan—pemandangan berbeda terjadi di Dusun Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe. Ada suatu kesadaran atas kenyataan yang selama ini tumbuh mekar secara alamiah bahwa desa adalah tempat produksi pengetahuan dan kebudayaan. Dengan alur yang pendek, pengetahuan yang lempang itu direproduksi menjadi beragam karya seni visual yang dapat dilihat dari segi wacana juga dari segi estetik—andaikata itu yang dikehendaki.
Desa tidak saja mawa cara, namun juga mawa acara dan mawa wicara. Desa punya adat, desa punya peristiwa, desa punya cerita!
Dikemas dalam program Residensi dan Pameran Tapa Ngeli: Muria, Santri, Kretek yang diselenggarakan oleh Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), sebuah proses belajar tentang ekologi budaya dan tradisi terjalin antara seniman, warga, maupun alam. Melalui tangan dingin Karen Hardini selaku kurator residensi dan pameran tersebut, 15 seniman dan kolektif multidisiplin asal Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta saling silang gagasan dan estetika di sini. Dalam praktik residensi, para seniman bergerak dan bekerja menelusuri arus besar dan arus kecil Kudus, lalu mengartikulasikannya menjadi karya, dan dipamerkan. Nilai-nilai rural yang semula dianggap sakral atau yang nyaris tidak dikenal, dikesankan kembali secara luwes sehingga memiliki probabilitas untuk dikelola lebih jauh di kemudian hari.
Seakan tidak ada yang lapuk dari masa lalu—ketetapan yang coba dipertahankan—ketika tersaji kembali secara visual, baik orisinal maupun artifisial. Kiranya dengan cara itulah transmisi memori sosial historis berlangsung sebagai sumber petualangan yang sebelumnya dirasa mustahil. Ada yang sedang bertumbuh, ada yang sedang berubah. Dan warga desa hidup di dunia yang dianggap sebagai nyata atau dekat dengan yang nyata. Barangkali demikianlah obsesi.
Dalam hal ini, KBPW tengah menampilkan keadaan desa yang senantiasa punya siasat untuk merebut peristiwa-peristiwa jadi faktual, kontekstual, dan relasional, implementasi dari proses produksi pengetahuan-kebudayaan yang dinamis. Berbeda dengan keadaan kota yang dibangun berjejalan di antara simpang siur jalan raya yang macet: semua serba dipaksakan.
Kehidupan santri dan industri yang menubuh, tumbuh secara organik dalam kehidupan warga Muria-Kudus seturut dengan relasi antara manusia dan alam yang terhubung dalam banyak lini, dalam ritus dan situs, dalam kehidupan keseharian. Di tengah situasi yang demikian itu karya para seniman menunjukkan sesuatu yang bergerak tidak pernah final untuk dileburkan (mungkin juga dikaburkan) dengan kehidupan warga masyarakat dalam tatapan dan pemahaman baru bertumpu pada pengetahuan dan kebudayaan lama. Entitas nilai-nilai lokal itu mbanyu mili, menubuh, terwariskan, meregenerasi hingga masa-masa kemudian tetap tumbuh merebak dan (mencoba) bertahan dengan segenap penyesuaian-penyesuaiannya.
Iring-iringan peristiwa tersebut merupakan keping-keping puzzle yang tengah disusun untuk mewujudkan berdirinya Folktarium Muria: sebuah museum folklor berbasis masyarakat sebagai pusat pembelajaran, pelestarian, dan pengembangan cerita rakyat serta budaya lokal yang hidup di kawasan Muria.
Kudus dalam Tiga Anasir
Muria, santri, dan kretek menjadi motif lambaran segenap aktivitas dalam residensi hingga pameran. Di atasnya ditempatkan hal-hal dalam suatu posisi dan oposisi antara pusat dan pinggir, antara yang utuh dan sebagian, antara yang besar dan kecil, yang sebelumnya terpisah kemudian terhubung, menyatu, dan berkelindan satu sama lain. Melalui praktik residensi seni, para seniman mengalami dan tinggal bersama dengan segenap variabel dari lokus yang ditempatinya.
Sejak semula ada hubungan timbal balik, bahkan menjadi titik balik di sini. Tidak heran jika kemudian yang ditelusuri dan diupayakan hadir ialah arus kecil di kaki Gunung Muria: antara ruang keagamaan yang personal dan komunal, juga ruang industrial khas kawasan pesisir utara Jawa Tengah yang selama ini tidak banyak mendapat lampu sorot ketika membicarakan Kudus.
Dalam Folktarium Muria-Pameran Residensi Tapa Ngeli tampak adanya upaya untuk mempresentasikan sekaligus merepresentasikan pengetahuan warga yang turun-temurun dirawat, yang coba diwariskan; atau yang selama ini telah jadi asing dan terpinggirkan. Seperti juga terjadi di banyak tempat, sudah galib kalau hal-hal yang tumbuh organik dalam kehidupan akan menubuh dan karenanya seakan tidak kasatmata. Untuk itu dibutuhkan ruang sela. Dalam hal ini seniman menjadi mata yang lain, kesadaran baru, tentang tempat tinggal yang mengandung kisah-kisah dengan benang merah yang panjang tiada habis-habisnya.
Istilah tapa ngeli selaras dengan praktik kerja residensi. Seturut dengan itu, orkestrasi tafsir falsafah tapa ngeli pada karya-karya seniman memperlihatkan ‘pergerakan’ terhadap sesuatu yang ajek dengan ‘penolakan’ atau ‘perlawanan’ lewat bentuk baru dan tawaran wacana lain tentang Muria, santri, dan kretek di gigir sejarah besarnya. Yang dieksplor para seniman adalah folklor yang terbit di pinggir konteks global-lokal Muria-Kudus.
Dengan kata lain, residensi singkat itu serupa celah bagi seniman untuk menatap sejarah lain, sejarah warga, asumsi di luar dominasi narasi arus utama yang penuh, yang saklek, yang dogmatik.
Ada seniman yang menatap Kudus dengan kaca cermin, ada yang menggunakan kacamata, ada pula yang menggunakan kaca pembesar. Tidak aneh apabila para seniman justru mengalami residensi di rumah sendiri—mereka yang telah akrab memiliki kesempatan melihat lebih dekat dan berpeluang menemukan sisi lain, mereka yang sebelumnya asing justru menemukan ‘dirinya sendiri’. Kehangatan jalinan interaksi dan kolaborasi antara seniman dan warga semasa residensi menjadi landasan, latar, dan tampak dalam praktik kolaborasi penciptaan karya para seniman. Hasilnya adalah suatu respons ruang, karya yang dipancangkan di tempat tertentu, site-specific, dekat dengan masyarakat dan alam selaku saksi siklus peradaban Muria-Kudus.
Keputusan Karen Hardini selaku kurator untuk menampilkan karya dengan pendekatan site-specific merupakan satu pertimbangan yang terarah dan terukur. Secara lanskap kewilayahan memungkinkan untuk mempresentasikan karya adalah di ruang terbuka, bukan menempelkan karya di dinding sebuah ruang. Dengan demikian interaksi langsung antara seniman, karya, warga, dan audiens melalui lokasi dan konteks keberadaan karya serta narasi atasnya dapat menubuh. Kendati demikian, tentu saja tidak semua karya didesain khusus dan sesuai dengan lokasi keberadaannya. Ada seniman yang menampilkan karya sebagaimana kekhasan karya-karyanya, namun ada pula yang kemudian tampil dengan karya yang seakan bukan dirinya. Hasilnya ada karya yang dibuat untuk lokasi tertentu, ada yang dibuat berdasar narasi lokasi tertentu, namun ada pula karya dengan konteks relasi antara daerah asal seniman dengan Kudus sebagai lokus. Hal tersebut wajar adanya. Sebab, karya-karya yang dihasilkan dari praktik residensi memiliki nalar penciptaan yang berbeda dan menjadi pertaruhan bagi setiap seniman, juga kurator!
Sejarah sebagai Pertanyaan
Menurut rute karya-karya para seniman dalam Folktarium Muria-Pameran Residensi Tapa Ngeli, saya saksikan langkah laku yang bertopang pada peluang, yakni memberi kesempatan pada yang selama ini dianggap kurang atau bahkan tidak berarti, memberi pengertian bahwa yang kecil pun mengandung nilai. Seluk-beluk kampung yang selama ini tidak terjamah justru dibuka untuk dijelajahi beramai-ramai. Baik yang di dalam rumah maupun yang di luar rumah, bersemi sebagai ilmu, motif, konteks, wacana, narasi yang tumbuh bersama menjadi pertanyaan.
Pertanyaan pertama atas sejarah Kudus coba dijawab oleh Lembana Agroecosystem yang notabene adalah para seniman berakar Madura yang berbasis di Yogyakarta. Menghadirkan karya bertajuk “Abhântal Tana Asapo’ Bhâko”, Lembana Agroecosystem menyuguhkan kompleksitas relasi antara Kudus dengan Madura: syiar Islam dan tembakau. Hasilnya adalah seni peristiwa yang memaparkan sejarah panjang relasi keduanya.

Di dalam instalasi yang memadupadankan berbagai literatur dan material, Lembana Agroecosystem mencobahadirkan tanah Madura di Kudus. Perjumpaan dan kedekatan antara Madura dan Kudus itulah yang ditawarkan untuk dialami bersama di sebuah ruang yang prasaja. Melalui instalasi visual ingatan dipanjangkan dengan menampilkan rekaman tahlilan, tembakau krosok, alat linting, sarung, hingga terpal biru bergambar lanskap pertanian tembakau. Tidak hanya soal itu, ditampilkan pula satu hal yang kritis agaknya—atau pragmatis: makam palsu, makam artifisial. Diletakkan di los UMKM KBPW, produksi wacana yang diusung Lembana Agroecosystem seakan sedang dipasarkan lewat pameran ini.
Masih tentang keterhubungan budaya, Umar Farq menghadirkan karya bertajuk “Ambang” untuk menjawab pertanyaan sejarah antara pesisir utara dengan pesisir selatan. Seniman asal Purworejo itu membuat gapura yang tidak utuh dan tampak rawan runtuh. Material batu bata merah segera melontarkan tatapan saya pada keberadaan Menara Kudus: jejak sejarah akulturasi identitas, spiritualitas, dan religiositas. Yang juga menarik untuk dicermati adalah teks dan rajah pada lempeng-lempeng semen di ceruk-ceruk susunan batu-bata yang tugur itu.
Menempatkan “Ambang” di pintasan antara rumah warga dengan pusat aktivitas seni di Piji Wetan seperti meletakkan segenap persoalan yang akan terjadi di setiap momen. Umar Farq—yang juga berlatar pesantren—seakan tengah menampilkan dirinya secara personal juga komunal sebagai yang berasal dari selatan. Pantulan-pantulan atau bahkan tarikan-tarikan hubungan utara dan selatan itu kemudian menampilkan Umar Farq yang lain. Karya hasil residensi ini serong, memotong kompas adat kebiasaan Umar Farq yang identik dengan lukisan kaligrafi di atas kanvas.
Sejarah yang intim direkonstruksi oleh Jaladara Collectiva bekerja sama dengan ibu-ibu Piji Wetan dengan menghadirkan ruang domestik keluarga menjadi ruang kolektif warga berupa dapur performatif atau instalasi ruang dapur beserta segenap artefak peralatan memasak hingga resep masakannya. “Rewang: Perigi di Balik Panggung Perayaan”, demikian tajuk karya yang dibuat oleh kolektif seniman perempuan asal Jepara ini. Apakah di sini terdapat wacana tentang dapur sebagai tubuh perempuan? Entahlah. Yang pasti, ada memori kolektif di sini. Lebih-lebih karya dari Jaladara ditempatkan pada lokasi yang sudah karib dengan tatapan warga sebagai dapur bersama. Suatu narasi tentang benda-benda milik warga yang sering kali digunakan dalam rewang: peristiwa memasak yang kolosal.
Syahdan, sebuah belik yang sudah lama terlupakan, yang sejak 2014 kering, tiba-tiba kembali memancarkan mata air. Sebuah keajaiban! Tidak tanggung-tanggung, peristiwa aneh tapi nyata ini segera disambut anak-anak Piji Wetan yang asyik mandi meski air berubah menjadi keruh karenanya. Belik Kendhindhing, di situlah lokasi karya Febri Anugerah bertajuk “Ingatan- Ingatan yang Berkabut” dihadirkan.
Di tengah tegalan memori warga kembali ketika Febri Anugerah memasang relief pohon Kedhindhing yang telah lama tiada. Karya berbahan baku limbah plastik itu ditanam pada gundukan tanah, disertai relief burung-burung yang tersebar di berbagai penjuru. Bentangan sehelai kain transparan serupa kelir kisah menerangkan narasi yang disusun menjadi judul karya.
Karya ini berangkat dan ditempatkan di lokasi yang mengilhaminya. Hubungan antara karya dan lokasi pun terjalin erat. Cerita-cerita lampau itu dinarasikan kembali, bahkan menjadi cerita baru.
Selanjutnya disajikan sejarah Muria yang ditatap oleh Divasio P. Suryawan dari Lasem. Bertajuk “Tilar Jāti: Dharmaguna kang Lestari”, Divasio P. Suryawan menyajikan kain batik, rokok, dan kopi lelet yang memperlihatkan kehangatan keterlibatan warga Piji Wetan pada karyanya. Cakruk menjadi satu ruang penting bagi masyarakat desa dalam membingkai cerita sejarah kesehariannya. Kisah-kisah itulah yang kemudian dialihmediakan ke dalam helai-helai batik yang dibuat bersama warga. Menjuntai di cakruk, kain batik berwarna indigo—sebagai bentuk tanggung jawab ekologis—memperlihatkan stilisasi motif-motif dari etiket rokok Kudus dan Lasem, juga ilustrasi alih media ke dalam batik foto lama berupa aktivitas melinting rokok, petani tembakau, ibu-ibu membatik, flora fauna Muria, ukiran, ornamen arsitektur vernakular joglo pencu Kudus, dan lanskap panorama Gunung Muria dari berbagai sudut pandang yang disinari matahari—konon ditatapnya dari Pantai Lasem.
Sementara praktik membatik rokok dengan kopi atau nglelet (rokok-rokok itu racikan warga Piji Wetan, Mbah Gito) menjadi bagian dari aktivisme warga atau siapa saja yang akan mencobanya di cakruk. Secara umum karya ini menampilkan jejak langkah kehidupan keseharian warga desa di Muria, khususnya Piji Wetan, yang senantiasa berhubungan dengan kerja-kerja pelestarian secara organik dan autentik. Kait tarik Lasem dan Kudus, itulah yang hendak digarisbawahi oleh Divasio P. Suryawan dalam narasi visual yang berkelindan dalam batik.
Tetapi bagaimana jadinya jika pepatah petitih ajaran Sunan Muria dihadirkan dalam mural graffiti di tembok-tembok kota? Praktik itulah yang dilakukan Kudus Street Art bersama sejumlah seniman dalam membuat karya bertajuk “Harmoni Lereng Muria”. Mural dan graffiti menghiasi tembok-tembok yang sebelumnya sepi semata di tujuh lokasi yang terpisah-pisah. Sebagai artefak, mural-mural itu dipotong dalam lima buah kanvas, semacam puzzle, dan dipajang di dinding gang Piji Wetan. Mural yang urban itu pun hadir di lingkungan rural.
Nalar ruang publik sejak awal memang sudah menjadi lahan bagi karya mural. Artinya, pendekatan site-specific pada pameran hasil residensi ini adalah ruang lingkup karya-karya Kudus Street Art. Di sini, mural dan graffiti menandai suatu zaman sekaligus mempertebal lambaran masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang sebidang tembok. Oleh karenanya, tidak hanya menjadi ornamen, karya-karya yang dibuat Kudus Street Art menawarkan refleksi yang tidak segera sirna, bahkan ketika pameran telah paripurna.
Lain lagi dengan karya A.O.D.H. yang bertajuk “Widada Nir ing Sambekala”. Sejarah tubuh manusia Kudus, berupa fragmen siklus hidup, ditafsirkan di sebuah kios kosong yang sumuk, pengap, dengan debu merebak mendesak dada. Terdapat sehelai rajah; tikar pandan yang digelar dengan uba rampe sesaji; juga kuali berisi air, alat noise dengan senar silang sengkarut yang menghasilkan bunyi-bunyian aneh: instalasi audio-visual yang perfomatif. Pada dasarnya, yang ditampilkan seniman-seniman asal Kudus ini adalah instalasi resonansi.
Karya dengan judul selarik doa ini menghimpun segenap material riil yang simbolik serta material artistik yang menarasikan satu fase kehidupan ‘manusia Jawa’, yakni mitoni atau usia tujuh bulan kandungan. Dalam ritus, upacara mitoni berhubungan erat dengan air yang dimaknai sebagai sumber kehidupan. Air dalam kuali inilah yang dimainkan dan menghasilkan bunyi dari sensor yang dipasang. Tidak hanya itu, ‘sensor’ juga bekerja untuk ‘menyembunyikan’ sejumlah simbol dalam piranti sesaji sehingga tampak tidak pepak. Kesadaran kolektif atau respons terhadap lubang-lubang yang ada menjadi bagian penting bagi permainan karya A.O.D.H..
Di tanah lapang sisi simpang jalan, Fitri DK menghadirkan karya bertajuk “Urip Urup” yang terilhami falsafah “Pager Mangkok” ajaran Sunan Muria. Praktik dan pemaknaan gotong royong ala pager mangkok dikembangkan pada empat lembar batik bermotif gunungan hasil bumi yang dibentangkan pada ragangan bambu, tiang, dan tangga di pusatnya memancang. Di sini Fitri DK juga menampilkan bilangan tujuh pada jumlah mangkuk yang disajikannya: tiga mangkuk ditutup cetakan lino bergambar tangan tengadah berisi pohon, tanah, hasil bumi, empat lainnya berisi biji-bijian, umbi-umbian, rempah-jejamuan, dan rajangan tembakau. Kendi tidak lain melambangkan air sebagai sumber kehidupan. Lagi-lagi citra desa yang khas ditampilkan. Citra kehidupan yang harmoni, saling berbagi, saling empati dalam relasi baik sesama manusia maupun hubungannya dengan alam diartikulasikan melalui karya ini. Keberpihakan Fitri DK pada isu-isu sosial dan lingkungan tidak pernah lepas dan menjadi benang merah pada karyanya.
Sementara itu, sejarah tersembunyi di balik tembok industri rokok Kudus dipresentasikan dalam fotografi naratif oleh Budi Kusriyanto. Di satu sisi, karya bertajuk “Bapak dan Brak: Melihat Lebih Dekat” ini menjadi ruang keluarga bagi Budi Kusriyanto bersama sang bapak. Menggunkan screen sablon tilas yang digunakan bapaknya, foto-foto kehidupan wong cilik di sekitar brak pabrik rokok—orang-orang biasa di balik industri raksasa—ditampilkan menjadi gambar-gambar negatif yang terpentang pada rusuk-rusuk gawang di bawah naungan rumpun bambu. Dunia terdekat, atau barangkali dapat disebut jagat kecil, itulah yang ditampilkan seniman asli Kudus ini. Bapak dan dunianya, brak dan dunianya. Estetika karya yang (lagi-lagi) prasaja, tetapi bukan berarti apa adanya.
Masih terasa intimasinya, potongan-potongan kisah, potongan-potongan ingatan, milik warga Piji Wetan dijahit menjadi satu falsafah yang mengilhami karya “Ageman Amongjiwa”, sebuah instalasi berbasis kain bekas. Dibuat oleh Kolektif Matrahita bergotong royong dengan warga Piji Wetan, potong demi potong kain dalam karya ini menampakkan corak busana, lanskap desa, hewan ternak, hingga tetumbuhan yang karib dalam keseharian warga. Sebuah artefak dari guyub rukun warga dan seniman ketika menghidupkan kembali dongeng-dongeng masa kecil dari memori yang bolong.
Dengan lekas jelas terlihat bahwa narasi visual karya Matrahita adalah menjahit keterhubungan antara manusia dengan alam tempat tinggalnya. Kiranya memang tepat karya ini ditempatkan di sebuah bangunan dengan halaman yang permai. Di dalamnya ada ‘ageman’ yang bisa ‘dipakai’ oleh audiens. Jika dikaitkan dengan (kawasan maupun sunan) Muria-Kudus, apakah karya ini metafor dari agama ageming aji? Lalu bentang kain itu menjulurkan akar-akar yang menjalar dari (atau ke) arah mesin jahit: masa lalu sekaligus masa depannya.
Dan pada sebuah taman, Feri Arifianto—fotografer asal Surakarta, menghadirkan karya bertajuk “Hantaran”. Ia menampilkan karya fotografi objek dengan sejumlah elemen yang dijumpai di Kudus. Batu bata, tegel, kayu naga muria, mawar, kantil, kenanga, serut, kemangi hitam, dimaksudkan sebagai hantaran sesaji untuk sebuah sumber air. Seperti ‘lampu taman’, karya Feri Arifianto diletakkan di taman halaman rumah warga bersisian dengan pohon besar—tidak sekadar ditempel di dinding ruangan. Hal menarik lainnya adalah, dimunculkan kesan bagaimana jika terdengar gemeremang suara tumbuhan yang berdoa. Suara tahlil para peziarah di Kudus dan Muria diperdengarkan lamat-lamat dan hanya akan menyala jika sensor bekerja. Antara suara doa dan objek simbolik disatukan dengan nalar sama-sama sebagai hantaran. Sebuah relasi olang-alik antara karya, alam, dan spiritualitas yang bersipaut.
Suara alternatif coba diorkestrasi lewat panji-panji berupa narasi ulang hubungan kretek dan santri oleh Isrol Medialegal. “Racikan Tangan Terampil”, demikian bunyi suara itu. Dua hal yang telah jadi citra kebudayaan masyarakat Kudus itu dipancangkan di sisi-sisi persimpangan jalan kampung dalam citra visual kemasan kretek: media komunikasi produsen dengan kosumen. Bukan sekadar estetika, dibuat dengan metode direct transfer fabric, sablon, dan cat semprot di atas kain Medialegal mendesain ulang etiket rokok lama sebagai upaya membaca kembali tubuh kebudayaan masyarakat Kudus. Tidak hanya itu, secara kolektif dan hangat, siang malam Isrol bersama Kudus Street Art dan warga menyemprotkan karya stensilnya di tembok-tembok rumah warga Piji Wetan. Semacam upaya mengarsipkan narasi visual dan kultural jati diri suatu kampung.
Jati diri yang lebih luas mencakup (gunung) Muria, santri, dan kretek disusun oleh Mellshana lewat karya bertajuk “Menilik Bilik Muria”. Potongan-potongan peradaban Muria dari masa ke masa disatukan dan dilekatkan menjadi kolase di dalam bilik berselimut kain putih transparan yang melingkar di tengah lanskap tanah lapang. Komposisi kemasan rokok era 1900-an, foto-foto para peracik dan pelinting dari PT Djarum dekade 1960-an—1970-an, flora fauna di Gunung Muria, kehidupan pesantren, peranan wanita Kudus, artefak-artefak purba dari Selat Muria, menjadi kolase yang bercerita pancang dan melingkar antara ujung yang satu dengan yang lain memiliki keterhubungan. Pada karya kolase ini Mellshana tampilkan bagian-bagian penting dari sejarah pokok Muria.
Percakapan mengenai Muria yang lain dibentangkan lewat nalar arsip di “Museum Orang Biasa: Sejarah dan Ingatan Warga” susunan Kolektif Arungkala. Di sini Arungkala menyoal historiografi yang luput dari historiografi dominan tentang Muria maupun Kudus dan memori kewargaan di Piji Wetan. Jebakan kultus tokoh yang dominan dilepaskan dan digantikan dengan pengetahuan yang tidak lazim beralas arsip untuk mengisi fragmen yang hilang. Kemudian dihadirkan agensi kolonial Justus Karl Hasskarl. Keberadaannya penting mengingat semenjak perjalanan botanis kolonial tersebut, setelah Oktober 1843, nama Gunung Muria baru dipakai di peta buatan Belanda menggantikan nama sebelumnya; Gunung Jepara! Pengetahuan semacam ini boleh jadi baru bagi masyarakat Muria sendiri.
Arsip yang dihadirkan tidak sekadar sebagai material artistik, tetapi juga sebagai intervensi terhadap sejarah dominan. Sosok rekaan bernama Kirdjo, personifikasi orang lokal, satu dari sembilan asisten Hasskarl pun dimunculkan. Bahkan arsip-arsip museum ini dibuat dengan AI—justru untuk mengalihkan pandangan terhadap arsip yang sering kali dianggap suci lagi sahih. Dengan memalsukan arsip, Arungkala memproduksi spekulasi bahwa sejarah bisa direkayasa.
Untuk menunjukkan sumber data dari pengetahuan alternatif itu, Arungkala membuat catatan warga, pengarsipan berbasis warga, memori warga tentang Piji Wetan. Melalui kolaborasi dengan agensi lokal, material milik warga sebagai artefak, sebagai arsip, dihadirkan menjadi koleksi museum ini. Di sini warga membuat riwayatnya sendiri dari kehidupan sehari-hari: ibu-ibu menulis resep atau simbah-simbah menuturkan kesehariannya. Arungkala menampilkan karya seni bukan sebagai yang selesai, melainkan sebagai metode. Maka karya yang dipamerkan bukanlah hasil, bukan artefak, tetapi catatan proses. Tidak ada yang gigantis pada karya prototipe ini, tetapi ada percakapan panjang yang menanti di belakang.
Terakhir, MIVUBI selaku kolektif seni di ruang virtual bersama Marten Bayuaji menghadirkan karya bertajuk “Pilgrims: Trail of The Southern Ridge”. Sebuah minecraftvideogame variable dimensions yang bisa dimainkan bersama untuk menapaki tujuh situs di Gunung Muria. Ziarah, pertemuan virtual dengan Sunan Muria, hingga perjalanan spiritual hingga puncak Argopiloso pada game ini mendudukkan gunung sebagai pancer, sebagai patokan, petunjuk arah bagi yang sedang bertualang. Senyampang dengan itu Marten Bayuaji berkolaborasi dengan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria) melilitkan kain putih di pohon-pohon langka dan perlu dilindungi di hutan Muria. Alas putih jadi presentasi site-specific Marten Bayuaji yang terkoneksi dengan karya MVUBI dalam game tersebut. Melalui karya virtual yang terhubung dengan situasi riil, MVUBI x Marten Bayuaji seperti tengah membuat sejarah sendiri; sejarah yang bisa ditempuh oleh banyak orang tanpa harus mengalaminya.
Demikianlah, suatu perjalanan mengitari sejarah memang membutuhkan napas panjang. Narasi pengetahuan yang diproduksi berlapis-lapis dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Meskipun, tentu saja ada yang terbenam dari sebuah zaman, ada pula yang kemudian justru mengemuka. Tetapi, di mana perbatasan antara pusat dan pinggir ketika desa serupa rumah ibu, sedangkan kota sekadar ruang pelarian—juga penantian?
[1] Kesaksian A.A. Achsien, tokoh politisi NU, bertajuk “Menara Koedoes, Asal-oesoelnja nama kota Koedoes” di Star Magazine, Nr. 2, 15 Pebruari 1939, ternukil dalam Amen Budiman, Kudus, hlm. 147.
Tulisan ini merupakan catatan atas tatapan terhadap program Folktarium Muria-Pameran Residensi Tapa Ngeli yang diselenggarakan sepanjang 21—27 April 2025 oleh Kampung Budaya Piji Wetan, Muria-Kudus.








