Islam Nusantara, Negosiasi, dan Pribumisasi Islam

Islam Nusantara adalah Islam yang bersumber dari Kanjeng Nabi Muhammad, yang dipraktikkan, dipahami, dan dikembangkan oleh para pendakwah Islam generasi awal di Nusantara, yang diteruskan hingga hari ini oleh generasi mereka. Islam Nusantara ini, adalah Islam yang memberi tempat kepada “Pribumisasi Islam”, atau Islam yang memberi tempat kepada ekspresi kebutuhan-kebutuhan lokal (dan ditambah nasional untuk keadaan sekarang, dan internasional) dalam perjumpaan dengan para pendakwah sebagai kreator dan penafsir, untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam itu sendiri. Dalam konteks demikian, Islam Nusantara bisa bermakna Islamisasi dengan jalan “Pribumisasi Islam” atau mengembangkan Islam melalui Pribumisasi Islam.

Islam Nusantara, dengan demikian, berusaha mempertahankan fondasi tetapnya sebagai Islam, dalam prinsip-prinsipnya, nilai-nilainya dan ritual-ritualnya, sehingga memiliki ruang-ruang tertutupnya, atau ruang tetapnya. Selain itu, ada dimensi perjumpaan Islam dengan konteks lokal (nasional-internasional untuk keadaan saat ini) di masyarakat Nusantara. Perjumpaan ini memengaruhi kerja dan praktik budaya, politik-kenegaraan, ekonomi, dan berbagai kreatifitas  untuk membangun peradaban masyarakat, sebagai ruang tertutup dan terbuka sekaligus, dalam kerja Pribumisasi Islam. Perjumpaan ini dihadapi dan disikapi melalui kreativitas-kreativitas Pribumisasi Islam, dalam menempatkan, menyikapi, dan menerjemahkan, juga mengembangkan antara ruang tetutup dan terbuka itu, sehingga kerja-kerja kreativitas itu menghasilkan “Khoshoish” tertentu.

Pribumisasi Islam sebagai konsep dalam ilmu sosial, berhutang budi kepada KH. Abdurrahman Wahid (Allahu yarhamhu), dalam beberapa tulisannya. Dalam pandangan KH. Abdurrahman Wahid ini, Pribumsiasi Islam bermakna “Dinamisasi Islam”, sekaligus mempertahankan nilai dan tradisi lama yang  masih baik dan relevan, tetapi berarti juga penggantian atas nilai lama yang dianggap tidak relevan lagi. Dinamisasi berarti menjawab kebutuhan lokal (dan nasional-internasional saat ini) dengan tetap memanfaatkan ilmu-ilmu dalam tradisi Islam, sehingga tetap menggunakan ushul fiqh, kaidah fiqh, ilmu tafsir seperti asbabun nuzul, asbabul wurud hadits-hadits Nabi, dan semua ilmu perangkat yang berkaitan dengan itu.

Saya menyimpulkan, Islam Nusantara yang notabene adalah praktik pengembangan dan Islamisasi dengan jalan Pribumisasi Islam, dengan melihat beberapa bukti dan model di bawah ini:

 

Bungkus Lokal dengan Isi Islam Sunni

Model Kropak Ferrara. Pribumisasi Islam yang pertama dilihat di sini, dicontohkan oleh Kropak Ferrara, yaitu naskah yang menjelaskan etika Islam dalam bahasa Jawa Kuno, memuat sebagian ajaran Maulana Malik Ibrahim. Kropak Ferrara, yang diterjemahkan oleh GWJ Drewes menjadi An Early Javanese Code of Muslim Ethics. Karya ini adalah karya yang menurut penelitian GWJ dan memuat ajaran Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419 M), merupakan karya (bukan nisan) yang bisa dibilang paling tua yang ditemukan hingga saat ini di kalangan para wali Jawa. Kropak Ferrara ini ditulis menggunakan media tulisan Jawa, dan dibunyikan juga bunyi Jawa. Naskahnya bersumber dari Jawa Timur, dan sudah ada di Universitas Leiden  pada tahun 1597 (sementara Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419), yang berarti naskah itu sudah ada sebelum itu dan beredar di Jawa Timur. Dalam karya itu, Maulana Malik Ibrahim mengungkap aturan etika masyarakat Islam yang dibangun, dengan menggunakan media tulisan Jawa, dan dibunyikan juga bunyi Jawa.

Dari sudut isi, Kropak Ferrara dan wejangan Maulana Malik Ibrahim yang ada, sepenuhnya, etika Sunni Islam yang dipahami dari kitab-kitab Sunni (sebagian kitab ini disebutkan di dalam karya itu). Lalu dijelaskan menurut cara yang bisa dipahami dan digunakan sebagai pedoman para pendakwah Islam awal. Isinya, memuat etika yang memadukan akhlaq yang dikembangkan oleh para ahli tasawuf, tauhid, dan fiqh sekaligus, sebagai bentuk pengamalan penyempurnaan dan permulaan seseorang menjadi dan berlaku tasawuf. Tidak ada dalam karya itu menyinggung rujukan-rujukan khazanah Hindu Budha atau dari khazanah masyarakat Jawa yang berkembang pada saat itu. Maulana Malik Ibrahim, juga berusaha memasukkan kosakata dan diksi Arab yang penting, seperti ma‘rifatullah, sholat, inabat, masyayikh, dan beberapa yang lain, tetapi dominasi bahasa Jawa lama sangat kuat.

Variasi dari model ini, adalah cara terbaik mempertahankan cara hidup Islami Sunni moderat di dalam perkampungan muslim, di kantong-kantong muslim, yang kalau dalam kajian Tan Ta Sen (Ceng Ho, 2010), mereka ini hidup di tengah-tengah mayoritas non Islam. Mereka, para pendakwah Islam itu, yang diwakili di sini oleh Maulana Malik Ibrahim dan Bong Swie Hoo (Sunan Ampel), menerima Jawa sebagai bahasa, tetapi ide-ide, nilai-nilai, paradigmanya, adalah Islam Sunni yang berakar pada Islam wasathiyah. Asimilasinya menggunakan tutur bahasa Jawa, dan gerakannya adalah kultural (bukan politik). Namun tidak buta relasi dengan kraton dan kerajaan yang ada pada saat itu.

Awalnya Bong Swe Hoo (Sunan Ampel) dan komunitas China Muslim Hui-Hui yang diarsiteki Ceng Hoo menganut madzhab Hanafi, tetapi seiring dengan putusnya perantau China Muslim Hui-Hui dan pergolakan politik di China, kemudian banyak para perantau China kembali mengikuti Konfusianisme dan masjid-masjid yang ada diubah menjadi Klentheng. Bong Swe Hoo sendiri kemudian setuju mengembangkan madzhab Syafii.

Hal ini juga bisa dibaca, bahwa para pendakwah Islam ini adalah para ahli yang menguasai bahasa Arab, tauhid, fiqh, dan tasawuf sekaligus, sehingga seperti dalam karya Maulana Malik Ibrahim itu, beliau mengutip kitab-kitab Sunni yang menjadi rujukan imam-imam Sunni di dunia Islam. Kelenturan dalam menyampaikan isi Islam kepada masyarakat, juga dapat dikenali bukan hanya melalui karya itu, tetapi juga melalui penyematan nama-nama kepada para wali di Jawa: Sunan Ampel (untuk Bong Swee Hoo atau Raden Rahmat) dan sunan-sunan lain. Penerimaan atas sebutan ini, adalah menyangkut faktor yang lebih dalam, yaitu diterimanya  kebudayaan masyarakat untuk diserap dan berperan ke dalam tatanan Islam yang dibangun.

Karena mereka ini para ahli dalam membaca kitab Arab (lalu belajar bahasa Jawa, menggunakan tutur Jawa dan nama Jawa), dapatlah disimpulkan bahwa mereka tetap mempertahankan bahasa Arab dalam lingkungan kecil atau terbatas. Mungkin pendidikan yang diberikan kepada murid-murid khusus itu terjadi. Hanya yang sudah nyata, penamaan Maulana Malik Ibrahim, dalam bahasa Arab, menunjukkan diterima dan digunakannya bahasa Arab ini, dalam batas-batas tertentu.  Makam Fathimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan bahasa Arab Kufi, juga menunjukkan diterimanya atau dipakainya bahasa Arab oleh orang Islam saat itu, tanpa dioposisikan dengan masyarakat di sekitarnya. Nama-nama Arab itu tentu tidak memberi gambaran sepenuh hidup mereka, menggunakan bahasa Arab atau cara hidup Arab dipertahankan seluruhnya.  Yang paling masuk akal, mereka, seperti Maulana Malik Ibrahim menggunakannya sebagai bahasa membaca kitab, tetapi hasil bacaannya diolah seperti yang terlihat dalam Kropak Ferrara itu.

Dalam ekspresi diksi-diksi kitab Sunni dan Pribumisasi Islam model ini, kemudian diperbaiki dengan berkembangnya tulisan Pegon (tulisannya Arab, bunyinya Jawa); atau tulisan Jawi (tulisannya Arab, bunyinya Melayu), yang menurut Uka Tjandrasasmita (2009) sudah ada sejak abad ke-14; dan adanya pengenalan bahasa Arab pelan-pelan, atau disisipkan di sana-sini. Mereka memperkenalkan Islam di pengajian-pengajian dalam bahasa bunyi, menggunakan bahasa Jawa, tetapi isinya berasal dari kitab-kitab Sunni, dan pemahaman-pemahaman yang dicoba diterapkan adalah Islam Sunni. Menurut Tan Ta Sen, awalnya Bong Swe Hoo (Sunan Ampel) dan komunitas China Muslim Hui-Hui yang diarsiteki Ceng Hoo menganut madzhab Hanafi, tetapi seiring dengan putusnya perantau China Muslim Hui-Hui dan pergolakan politik di China, kemudian banyak para perantau China kembali mengikuti Konfusianisme dan masjid-masjid yang ada diubah menjadi Klentheng. Bong Swe Hoo sendiri kemudian setuju mengembangkan madzhab Syafii.

Ekspresi Kontemporernya, di kalangan generasi Islam Nusantara, model di atas diperkaya dengan kemampuan bahasa Arab yang dikembangkan di pusat-pusat pendidikan  pesantren, dan sekaligus penggunaan Pegon atau tulisan Jawi, jauh sebelum Nahdlatul Ulama berdiri. Tutur bahasa Jawa tetap dipertahankan di tengah interaksi dengan masyarakat, sehingga Islam Sunni yang berporos pada tauhid, akhlak dan hukum fiqh, diperkenalkan dan dikembangkan di tengah masyarakat.

Setelah  kemunculan Nahdlatul Ulama, model demikian dipertahankan. Yang hilang dari tradisi ini, adalah tulisan Jawa, seiring dengan berdirinya Republik Indonesia dan kemerosotan kraton Jawa, dan hubungan langsung generasi Islam Nusantara dengan pusat-pusat pendidikan Islam di Mekkah. Akhirnya mereka tidak mengenal karya-karya Islam Sunni dari pendahulunya yang menggunakan bahasa Jawa.

Nahdlatul Ulama (lahir 1926), lahir dari tatanan Pribumisasi Islam yang telah dikembangkan para pendakwah Islam awal dengan model demikian. Para pendiri dan pejuang Nahdlatul Ulama, memberikan sentuhan Pribumisasi Islam, menjadi semakin kokoh mengakar, karena mereka berkesempatan bisa melacak sumber asal khazanah Islam, di dalam bahasa Arab langsung ke Mekkah dan dari kitab-kitab yang bisa diakses, sesuatu yang zaman para wali tidak semudah pada masa pendiri Nahdlatul Ulama. Setelah itu mereka mendirikan pesantren: “ke dalam” mereka menguasai bahasa Arab dan Pegon sekaligus; “ke luar lingkungan pesantren”, mereka berinteraksi dengan berbahasa Jawa atau bahasa lokal, dan sekarang juga bahasa Indonesia.

Cita-cita mereka adalah bagaimana mewujudkan masyarakat Ahlussunnah Waljamaah, dengan tidak meninggalkan tradisi Sunni yang telah berkembang, dan menganggap tradisi-tradisi di kalangan masyarakat, selagi tidak bertentangan dengan rujukan Islam, tetap sah dan bisa dipertahankan, bahkan diteruskan. Selain itu, mereka memberikan tempat pada kebutuhan lokal (nasional dan internasional), dan inisiatif-inisiatif bersama masyarakat lain, dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan tradisi Islam. Kepada tradisi lama, mereka mempertahankan yang baik; kepada hal-hal baru yang lebih baik, tidak apriori, tetapi ditimbang dan disikapi dengan menerima; dan kepada apa yang belum ada dan perlu, tetapi maslahah, juga tidak apriori, sehingga mereka menerima al-ijad, bukan hanya al-akhdzu.

 

Tentang Model Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga juga menggunakan bahasa tutur Jawa, sekaligus tulisan Jawa, dan memasukkan kosakata penting Jawa untuk memahami Islam, tetapi juga memasukkan sebagian kosakata Arab ke dalam karyanya. Hal ini terlihat dari karya Sunan Kalijaga, dalam Kidung Rumekso Ing Wengi, yang menggunakan bahasa Jawa, tulisan Jawa, dan kosakata penting bahasa Jawa  seperti Sang Hyang Tunggal dan kata-kata lainnya, tetapi juga menggunakan kata Allah, untuk merujuk kepada Tuhan yang disembah orang Islam; memperkenalkan kata tuwajjuh jroning ati (paduan Arab dan Jawa), bergandengan dengan kata-kata lain dalam bahasa Jawa.

Jadi, Sunan Kalijaga tidak berbeda dengan wali lain dalam soal itu, sehingga ilmunya diwarisi oleh generasi Islam berikutnya, bahkan dalam lafal-lafal doa, memamadukan antara bunyi bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kecuali dalam ritual sholat lima waktu; tatacara tetap sesuai dengan apa yang ada dalam tradisi Sunni, tentang gerakan dan bacaannya; dan di luar sholat lima waktu, Sunan Kalijaga  menyebut laku hidup sholat daim, yang kemudian sangat terkenal di dalam khazanah muslim Jawa. Soal ini disebutkan dalam Suluk Linglung (versi B. Soelarto, 1974: 63), begini:

~~

“Saparipurnaning amadeg salat mukayat, kaki saben-saben tumuli, madego shalat daim, sholat langgeng, sholat wustho sesucinira datanpa warih. Anging mawa tirta-marta perwita suci. Lakuniro datanpa rukuk sujud. Anging sarwa ngrepepeh ngabyantaraning Hyang Widhi ing kalaniro meneng, mobah mosik, makarya sadengah opo (Anak cucu, setiap engkau selesai shalat lima waktu, segeralah melakukan sholat daim, sholat kekal, sholat wustho. Bersucinya tanpa air, tetapi dengan istighfar yang senilai air suci; caranya tanpa rukuk dan sujud, melainkan dengan serba diri menghadap, mengabdi kepada Alloh di kala engkau sedang diam, bergerak, dan bekerja apa saja).

“Saratiro mung sajugo. Sedya ngawulo sampurna mring Ilahi, sarana asung kabecikan marang liyan. Iya iku kaki margining murud ing Kasidan Jati, makoleh tutug ing urip utomo, rinahmatan Ilahi (Syaratnya hanya satu, menghambakan diri secara sempurna kepada Alloh. Itulah anak cucu, jalan mencapai kematian sejati, memperoleh akhir hidup yang sempurna mendapat rahmat Ilahi).

~~

Kutipan di atas menjelaskan bahwa menurut Sunan Kalijaga, sholat daim itu berbeda dengan sholat lima waktu. Sholat lima waktu, dibedakan dengan sholat daim, dalam hal, sesucinya, geraknya, niatnya, dan yang berhubungan dengan itu. Maka menjadi jelas, di sini Pribumisasi Islam itu bukan bermakna, menghapus sholat dengan tradisi rakyat, tetapi sholat tetap dijalankan menurut apa yang dituntunkan, dan bagian dari laku yang tetap harus dijalankan. Para penerus Pribumisasi Islam setelah Sunan Kalijaga, mengonstruksi ini sebagai bagian dari laku syariat, yang dibedakan dengan, tarekat, dan ma’rifat, di mana syariat tetap dijalankan dan harus diugemi.  Misalnya, hal ini dapat dilihat dalam Wedhatama, dan beberapa suluk yang lain. Sementara dalam dimensi dan ruang lain, seperti wayang, pakaian, doa-doa, tembang-tembang – Sunan Kalijaga dapat dilihat sebagai sedang melukan al-ijad, dengan memberi tempat  khazanah Jawa, lalu diisi dengan nilai-nilai Islam.

Model Sunan Kalijaga ini kemudian mendominasi Islamisasi Pribumisasi Islam di daerah pedalaman Jawa, sampai zaman Mataram, bahkan diorganisir oleh, awalnya Demak, kemudian Kraton Pajang dan Mataram. Dan penulisan dengan cara tulisan Jawa, tutur Jawa, dan pemaduan Arab-Jawa dalam batas-batas tertentu, mengalami interupsi setelah Republik Indonesia berdiri, dengan munculnya huruf latin, dan kekalahan Kerajaan Mataram dari Belanda, serta munculnya gerakan pemurnian.

Masyarakat di luar pesantren dan masyarakat pesantren, sejatinya adalah satu kesatuan, untuk mencapai dalam bahasa Sunan Kalijaga tadi, memperoleh Rinahmatan Ilahi.

Variasi jenis ini, adalah menggambarkan upaya generasi baru pendakwah Islam pasca Sunan Ampel, yang diwakili Sunan Kalijaga, dengan cara menggarap masyarakat Jawa, di kalangan yang lebih luas, tidak hanya di perkampungan Islam, seperti di Ngampel. Dalam tradisi dakwah jenis ini, maka jelas, memakai bahasa qaum yang ada (dalam hal Sunan kalijaga, adalah bahasa Jawa), dan diksi-diksi yang dipakai mereka dan sesekali menyelipkan diksi Arab,  adalah kebutuhan dalam dakwah. Dakwah jenis ini, tidak lagi mengacu dengan kekakuan untuk menggunakan bahasa Arab semata, karena hal itu tidak mungkin; dan Islam dimasukkan sebagai nilai-nilai dan inti, dengan menggunakan ungkapan-ungkapan Jawa.

Jalan mengembangkan Islam melalui Pribumisasi Islam, seperti Sunan Kalijaga dan Maulana Malik Ibrahim, adalah kesadaran untuk mengembangkan misi risalah Islam rahmatan lilalamin, tanpa ada paksaan kekuasaan politik. Bahkan ada kekuatan politik kraton yang bisa digunakan untuk mengorganisir Pribumsiasi Islam jenis itu, adalah hal berikutnya.

Hal ini berbeda dengan temuan Tan Ta Sen (2010) soal asimilasi di China terhadap para pendatang muslim yang dibawa pasukan Mongol, melahirkan komunitas Hui-Hui (atau disebut juga Dashi), yang asimilasinya melalui kebijakan inisiasi total oleh penguasa Dinasti Ming, dengan melarang pakaian orang asing, larangan menggunakan nama asing, larangan bahasa Asing, meskipun mereka tetap dibiarkan beragama Islam. Akibatnya mereka membentuk marga sendiri yang menyatu dengan China dan tidak dikenali lagi, bahwa mereka adalah berasal dari Asia Tengah atau Timur Tengah, misalnya Muhammad menjadi marga Ma, Abu menjadi Pu, Syamsuddin menjadi Ding, Nasuladin menjadi Marga Na, Su, La, dan Ding. Di Nusantara, kerja-kerja Islamisasi melalui Pribumisasi Islam, menjadi kesadaran sebagai pendakwah, dan melihatnya sebagai yang paling mungkin dan mashlahah untuk menghidupkan Islam di tanah Jawa.

Ekspresi kontemporernya.  Masyarakat yang mewarisi jalan Islamisasi melalui Pribumisasi Islam yang dipelopori Sunan Kalijaga dan wali-wali lain ini, di kalangan masyarakat di luar pesantren, mewujud dalam tatanan masyarakat yang diorganisir Kraton Demak, Pajang dan Mataram, dimana pesantren dibiarkan sebagai entitas yang mengembangkan sebagai pilar masyarakat Islam yang independen. Kebanyakan mereka memiliki status perdikan. Mereka, masyarakat di luar pesantren dan masyarakat pesantren, sejatinya adalah satu kesatuan, untuk mencapai dalam bahasa Sunan Kalijaga tadi, memperoleh Rinahmatan Ilahi.

Interupsi kolonialisme Belanda menyebabkan kemandekan regenerasi yang dulu dimotori para wali, dan diteruskan oleh mesin kraton, menyebabkan: keterputusan dengan sumber bahasa Arab atas khazanah-khazanah Islam di satu sisi, karena sulitnya perjalanan ke Timur Tengah dan pemberangusan karya-karya para ulama yang dianggap berpotensi mengancam dan anti-kolonial;  dan dimulainya upaya memisahkan Jawa dengan Islam, oleh aparat intelektual Belanda. Hal ini menjadikan, sebagian masyarakat Islam Jawa menjauh dari Islam. Bahkan, dalam ekspresi kontemporernya, kemudian menemukan rujukannya dalam sebagian kelompok baru penghayat yang lepas dari Islam, melalui guru-guru yang baru  muncul pada zaman-zaman pergerakan; serta adanya misi membawa orang Jawa kepada agama yang diajarkan para Missionaris Eropa.

Sementara, sebagian besarnya, tetap menjadi muslim Jawa, dan menjadi basis kultural yang kuat, di mana beragama Islam, tidak identik dengan cita-cita Islam politik; dan bahasa Arab selalu bisa disandingkan dengan bahasa Jawa; di mana ungkapan-ungkapan Jawa dapat disandingkan dengan isi dan inti dari ajaran Islam. Hanya saja, kemudian terjadi stagnasi intelektual dalam interpretasi Islam dari sudut Pribumisasi Islam dari kalangan Islam Jawa ini setelah Republik Indonesia berdiri, dan setelah penundukan kraton oleh mesin-mesin kolonial. Legitimasi Islam dalam praktik Islam Jawa, kemudian dilakukan para intelektual dan pekerja-pekerja kebudayaan dari kalangan pesantren, di antaranya oleh KH. Abdurrahman Wahid melalui konsep Pribumisasi Islam itu. Sementara generasi-generasi Muslim Jawa di luar lingkungan pesantren dan di luar pengaruh pesantren, yang dulu diorganisir oleh kraton dan aparat intelektualnya, lebih sibuk berurusan dengan pergerakan politik dan birokrasi kolonial, setelah penundukan kraton oleh Belanda.

 

Munculnya Perlawanan Pemurnian Islam dan Kolonialisme

Perlawanan dan interupsi terhadap pengembangan Islam melalui Pribumisasi Islam, dilakukan oleh dua poros, dalam satu fase yang hampir bersamaan: Kolonialisme dan Pemurnian Islam. Kolonialisme, mengambil bentuk pematian regenerasi intelektual Islam Jawa, melalui pematian kraton secara sitematis dan perlahan (dan memutus hubungan kraton dengan pesantren-pesantren yang dicurigai sebagai agen-agen pemberontak dalam Perang Jawa), menjadi terserap ke dalam birokrasi kolonial; pemisahan Jawa dengan Islam melalui kajian-kajian Jawa dan Islam, untuk menemukan Jawa pra-Islam; pengejaran tidak terbatas kepada pemimpin-pemimpin dari kalangan pesantren yang menebarkan Islamisasi melalui Pribumisasi Islam, dengan dalih mengejar pemberontak, atau yang membahayakan eksistensi penjajah, sebagai efek dari sikap anti-kolonial mereka dalam Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro.

Sementara pemurnian Islam mengambil bentuk seruan kembali kepada Al-Qur’an-hadits, tidak terikat dengan madzhab, tidak mau berpegang pada ijma dan qiyas (sesuatu yang menjadi rujukan kalangan Pribumisasi Islam); dan memompa diksi tajdid dengan memberantas bidah dholalah” dalam hubungan Islam dan tradisi, dan mengecapnya sebagai TBC (takhyul, bidah, dan khurafat). Maka Pribumisasi Islam pada keadaan yang demikian menghadapi dua perlawanan sekaligus: satu dari kalangan muslim sendiri dan dari kalangan kolonial Belanda.

Jalan Pemurnian Islam itu, selalu berbenturan di tengah-tengah kultur masyarakat yang banyak bersentuhan dengan kreativitas kebudayaan. Mereka melalukan pendekatan shock therapy agama dengan membidahdholalahkan tradisi-tradisi yang dikreasi oleh jalan Pribumisasi Islam. Di mata kolonialisme, perpecahan ini menguntungkan, sehingga mereka bisa mengontrol arus Islam yang anti-kolonial dari pesantren, dengan memisahkannya dari pemurnian, sehingga melemahkan kekuatan Islam untuk bermusuhan dengan penjajah.

Gabungan dari interupsi keduanya menghasilkan dinamika di kalangan muslim yang sulit disatukan. Di kalangan Islam, relasi kalangan Pribumsiasi Islam dan Pemurnian Islam, meski kadang tampak ada saat rukun dan bersatu, juga banyak menghadapi ketegangan kultural dan politik. Aktualisasi kenyataan ini tercermin dari rekaman-rekaman perdebatan itu di Jawa Barat, misalnya, yang telah dikaji dalam buku Para Pengemban Amanah; dan perdebatan mereka di acara-acara Kongres Umat Islam yang salah satunya direkam oleh Deliar Noer dalam buku Gerakan Moderen dalam Islam; dan perpisahan NU-Syarikat Islam dari Masyumi.

Jalan Pemurnian Islam itu, selalu berbenturan di tengah-tengah kultur masyarakat yang banyak bersentuhan dengan kreativitas kebudayaan. Mereka melalukan pendekatan shock therapy agama dengan membidahdholalahkan tradisi-tradisi yang dikreasi oleh jalan Pribumisasi Islam. Di mata kolonialisme, perpecahan ini menguntungkan, sehingga mereka bisa mengontrol arus Islam yang anti-kolonial dari pesantren, dengan memisahkannya dari pemurnian, sehingga melemahkan kekuatan Islam untuk bermusuhan dengan penjajah. Hanya saja, peninggalan dan jejak-jejak kolonialisme setelah mereka pergi, tidak bisa hilang, dan tidak sepenuhnya kemudian dihapus, bahkan ketika tentara mereka sudah tidak ada di Indonesia. Dari sudut ini, ada hal-hal yang ternyata diakui bisa diteruskan, menurut dan sesuai jalan Republik Indonesia yang baru berdiri; seperti adanya sekolah-sekolah, adanya Undang-Undang, dan lain-lain peninggalan kolonial.

Manifestasi kontemporer dari arus ini adalah: penerimaan dan pemilihan jalan yang mengemukakan simbol-simbol Islam, dan kekakuannya dalam melihat hubungan Islam dan budaya, serta kadang di antara mereka ada yang menggunakan untuk tujuan politik, karena agenda untuk memperjuangkan Islamisme. Mereka menuntaskan ini dengan memusuhi tarekat, yang oleh generasi barunya, ini dianggap sebagai hal yang kebablasan, dengan cara sebagian mereka sendiri kemudian beralih mengikuti tarekat. Pada sisi yang lain, generasi Pemurian Islam itu lebih cepat beradaptasi dengan birokrasi modern karena mereka banyak terdiri dari kalangan menengah muslim dan berpendidikan Barat; dan pendidikan umum. Hanya dalam politik, masa depan mereka mengalami kehancuran setelah sebagian besar pimpinan politiknya terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta.  Dari pemberontakan ini, dilihat kekakuan sikap dan watak Islamismenya yang membahayakan kehidupan masyarakat secara keseluruhan, suatu sikap dan gaya yang relevan bagi tipe shock therapy pemurnian; tetapi tidak cocok bagi kebanyakan masyarakat di Nusantara.

Sebagian generasi pemurnian, setelah mempelajari kesalahan-kesalahan pendahulunya, kemudian melakukan revisi dan merintis jalan baru, suatu jalan yang tidak popular di lingkungan kultur Pemurnian. Jalan baru itu titik kanalnya ada pada sosok dan proyek Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Dawam Raharjo, dan tokoh-tokoh lain, dengan menginterupsi kecenderungan Islamisme Pemurnian, diganti menjadi: Islam Yes-Politik Islam No. Sementara di kalangan generasi santri di kalangan Pribumisasi Islam, tidak diperlukan merintis jalan baru bagi mereka,  karena Pribumisasi Islam tidak menjadi persoalan yang kompoleks, atau terlalu sukar untuk dipahami.  Generasi pesantren lebih memerlukan teoretisiasi praktik Pribumsiasi Islam itu di hadapan publik dan intelektual. Gus Dur menjadi titik kanal yang memberi rasionalisasi dari sudut teoretik ini, dengan menyebut dan mengerangkakan jalan dakwah para wali itu dengan Pribumisasi Islam.

 

Mendirikan Republik Indonesia: Diterimanya Pribumisasi oleh Mayoritas Umat

Pendirian Republik Indonesia adalah diterimanya jalan Pribumisasi Islam oleh para pemimpin Islam. Para pemimpin Islam mengakui adanya negara nasional, yang tidak didasarkan pada dasar Islam dan syariah di dalam konstitusi, tetapi memberikan peluang aturan Islam bisa diterapkan kalau ia memenangkan dalam permusyawaratan di tingkat legistlatif. Hal ini, merupakan hasil dari sebuah kreativitas Pribumisasi Islam di kalangan para pemimpin Islam, dengan terlebih dahulu mencari dalil-dalil, dan mempertimbangikan aspek kemaslahatan, serta kekuatan-kekuatan politik di masyarakat. Meminjam bahasa Kyai Masykur yang membahasakan penerimaan Pancasila oleh KH. Abdul Wachid Hasyim, digunakanlah istilah untuk membedakan: Islam sebagai al-Ismu dan Islam sebagai al-musamma –sebagaimana disebutkan Andre Feillard dalam buku NU vis a vis Negara. Jalan Pribumisasi Islam, dalam soal penerimaan Pancasila itu, menegaskan diterimanya Islam sebagai al-musamma (yang dinamai, yaitu nilai-nilainya), dan bukan al-ismu (Islam sebagai nama, simbolnya), dan itu adalah diterimanya jalan Pribumisasi Islam oleh para pemimpin Islam sendiri.

Diterimanya pendirian Republik Indonesia itu, dengan begitu diakui keragaman dan eksistensi kebudayaan di Indonesia, atau di antara masyarakat di Indonesia, tetapi pada saat yang sama keragamaan itu harus diorientasikan untuk tetap bersatu menjaga kehidupan bersama di dalam masyarakat, untuk mencapai tujuan bersama Republik Indonesia. Hal ini, bagi kalangan Islam, mengharuskan adanya kerja-kerja Pribumisasi Islam dalam penafsiran dalil-dalil agama, atau interpretasi untuk bisa sah menerima bentuk negara nasional dan keanekaragaman kebudayaan di Indonesia, tanpa mematikan independensi umat dalam menyebarkan amar maruf nahi munkar, melalui jalan bil maruf, dan perjuangan aspirasi melalui legislasi wakil-wakil rakyat.

Pendirian Republik Indonesia ini, juga menjadikan sebagian pemimpin Islam yang memiliki latar belakang pemurnian, harus siap berkompromi dan bekerjasama dengan kelompok lain, di dalam mengupayakan konsensus kenegaraan, sehingga mereka ditarik ke tengah; dan mereka membatasi permusuhannya terhadap cara kerja Pribumisasi Islam di dalam kultur masyarakat, terbatas pada wilayah kebudayaan dan dakwah yang diemban di tengah masyarakat. Kenyataan ini menjadi positif, tetapi juga tidak sederhana menjelaskan itu ke dalam kader-kader pemurnian yang lebih baru, dan memiliki semangat Islam Politik atau Islamismenya kuat. Metamorfosis paling kontemporer dalam soal ini, adalah tumpang tindihnya antara jalan yang ditempuh kelompok Tarbiyah di dalam persyarikatan Muhammadiyah, sampai-sampai pimpinan Persyarikatan harus mengeluarkan keputusan tegas soal Gerakan Tarbiyah ini dalam buku tipisnya.

Dengan adanya Republik Indonesia, umat Islam harus bersedia melakukan Dinamisasi meninjau kembali tradisi dan pemahaman mereka tentang bentuk negara dari sudut Islam; meninjau pemahaman mereka tentang khilafah dan kewajiban umat mengangkat imam; dan keharusan pengungkapan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai menjadi lebih penting dan dominan, di tengah relasi publik dan masyarakat; serta masalah-masalah nasional dan kebudayaan, yang memerlukan jawaban dari sudut spirit dan tradisi Islam, untuk menjadi etos yang harus terus diperjuangkan.

Kenyataan ini menimbulkan simalakama bagi generasi baru pemurnian, karena rujukan kembali ke Al-Qur’an dan hadits semata, satu sisi, mengharuskan adanya kecanggihan dan pemahaman yang mumpuni untuk membedakan, nilai-nilai, prinsip, dan martabat wadah-wadah dalam implementasi, yang memerlukan ilmu-ilmu. Maka ini diperluakan ilmu berinteraksi dengan Al-Qur’an dan sunnah yang tidak sederhana. Keharusan kecanggihan itu, jelas mengharuskan kreativitas luar biasa, dengan tidak terjebak  pada kejumudan literalis kompleks tanpa penalaran, karena Al-Qur’an dan hadits menyediakan sebegitu banyak bahan yang bisa ditafsirkan dan diolah.

Masalahnya adalah ketakutan akan adanya ketidakmauan tunduk pada aspek literalisme yang berlebihan, sebagai bentuk yang tidak Islami, merupakan simalakama pertama yang dihadapi generasi pemurnian. Hal ini akan dapat diselesaikan manakala pemurnian itu mampu melahirkan ilmu-ilmu berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan rumusan-rumusan baru, sebagi bagian dari kerja berkesinambungan mereka yang tidak mau bermadzhab kepada madzhab empat. Yang terjadi dan lahir masih berupa tumpukan kumpulan fatwa-fatwa semata, tetapi ilmu-ilmu berinteraksinya belum banyak lahir: misalnya bagaimana ushul fiqh mereka, bagaimana ilmu tafsir mereka, bagaimana kaidah fiqh yang dipakai mereka.

Simalakama berikutnya, kenyataan hidup di Republik Indonesia ini, akan menjadi rumit dan menyulitkan, manakala jargon kembali kepada Al-Qur’an-hadits dan tidak mau tradisi itu,  mewujud menjadi pemuja literalisme kaku kembali ke Al-Qur’an dan hadits. Maka yang terjadi adalah dominasi jumudisme literal dalam pemikiran, dengan tidak mengapresiasi penalaran. Sebab untuk bisa menerima negara nasional dari sudut Islam adalah butuh ilmu-ilmu berinteraksi tentang Al-Qu’ran dan hadits, bukan hanya teks-teksnya saja, bukan hanya yastamiunal qoula, tetapi wayattabiuna ahsanahu. Hal itu juga berlaku, bagi hubungan dengan kebudayaan, dan hal-hal lain. Kegagalan merumuskan ilmu-ilmu interaksi terhadap Al-Qur’an dan hadits di luar sudut ilmu-ilmu para imam madzhab, dan hanya puas dengan hasil-hasil fatwa, akan berdampak pada pensalafian (atau sejenisnya) dari generasi-generasi baru, yang mereka dekat dengan kekakuan literal teks; dan berdampak pada penggunaan teori-teori yang dikembangkan di Barat tanpa menoleh dengan akar tradisi khazanah Islam sendiri, yaitu bagi mereka yang ingin keluar dari jebakan kekakuan literal teks.

Tantangan bagi generasi Pemurnian Lama dan juga Islam Jawa, dan generasi pesantren yang memilih jalan Pribumisasi Islam, justru datang  dari generasi baru Islam di Indonesia yang menginduk kepada Islam politik di Timur tengah.

Bagi generasi Pribumisasi Islam dari kalangan pesantren, didirikannya Republik Indonesia tidak lagi menimbulkan perdebatan bentuk negara nasional dari sudut Islam, hubungan-hubungan kebudayaan rakyat dari sudut Islam, serumit di kalangan pemurnian. Karena ilmu-ilmu yang digelutinya menyediakan secara melimpah ruang untuk berinteraksi dengannya. Penguasaan mereka terhadap bahasa Arab, khazanah ilmu-ilmu klasik, dan pendapat-pendapat mujtahid masa lalu, membantu jalan bagi perumusan kerja-kerja Pribumisasi Islam, dalam menerima kebutuhan-kebutuhan lokal dan nasional.

Hanya saja, meski mereka penting dari sudut kekuatan kultural masyarakat Nusantara, tetapi karena konsentrasi mereka yang teramat lama di pinggiran, yang sejarahnya diberangus oleh kolonial melalui pemberangusan pesantren-pesantren yang terlibat perang Jawa, dan ada dalam sistem sosial kelompok menengah ke bawah, mereka tidak menjadi pemain penting dalam penentu kebijakan dan mesin birokrasi negara. Ilmu-ilmu agama mereka masih terbatas pada ilmu-ilmu penafsiran dalam wilayah fiqh, tasawuf, tauhid, dan wilayah sosial, tetapi belum sampai menyentuh kepada sains terapan, yang digali dari Al-Qur’an dan khazanah klasik. Gus Dur, KH. Achmad Shidiq, KH Ali Ma’shum, KH. MA Sahal Mahfduh, kemudian menjadi kanal otoritas yang menyediakan ruang itu bagi generasi pesantren, untuk melanjutkan gerak dari dinamisasi Pribumisasi Islam itu sendiri.

Sementara elit-elit dari kalangan muslim Jawa di luar pengaruh pesantren, yang dulu diorganisir kraton dan bagian dari kraton, yang juga adalah hasil dari kerja-kerja Pribumisasi Islam warisan Sunan Kalijaga dan wali-wali lain, sudah banyak yang dididik dengan ilmu-ilmu Barat untuk menjadi penyuplai dalam birokrasi kolonial dan Republik Indonesia yang baru berdiri.  Kecimpung dan kesibukan mereka tidak bisa menjadi jembatan dengan kalangan massa Islam Jawa, karena mereka tidak mengolah interperetasi-interpretasi Islam dari sudut mereka, sehingga dari sudut penguasaan interpretasi Islam, mereka tidak memiliki banyak cantelan intelektual yang handal, dibanding jumlah massa Islam Jawa (di luar pesantren), yang sangat banyak itu.

Sebagian justru semakin menjauh dari Islam dengan mendaras pemisahan Jawa dan Islam, dan sebagian beralih menjadi ikut agama para misionaris. Sementara yang bertahan dengan Islam Jawanya, belum bergairah, dan masih menjadi konsumen pembaca naskah-naskah lama dari para pendahulunya, yang hanya berkembang di lingkungan kecil istana dan kampus sebagai prosedur kelulusan atau ritual akademik. Kerja-kerja yang dilakukan sebagaimana Sunan Kalijaga yang mengorganisir Pribumisasi Islam, di dalam masa saat sekarang ini dan dengan cara saat ini, masih belum begitu diminati. Padahal di kalangan massa Islam Jawa, kultural mereka menjadi ajang santapan TBC dari pemuja pemurnian; dan peninggalan oleh generasi baru yang berjingkrak dengan gemerlap material modernitas. Sementara para elitnya yang ada di birokrasi, canggung untuk memberikan interpretasi Pribumsiasi Islam itu dari sudut Islam Jawa.

Tantangan bagi generasi Pemurnian Lama dan juga Islam Jawa, dan generasi pesantren yang memilih jalan Pribumisasi Islam, justru datang  dari generasi baru Islam di Indonesia yang menginduk kepada Islam politik di Timur tengah, dan kelompok kultural salafi yang menginduk kepada wahhabi, dan pemuja khilafah dari kalangan HT, serta regenerasi generasi-generasi NII. Generasi Pemurnian yang tersalafikan akan mendekat dengan salafi, dan yang ter-HT-kan mendekat kepada HTI; dan yang ter-NII-kan menjadi dekat dengan generasi baru NII. Para generasi baru pemurnian itu, memiliki hubungan yang sama dengan konsep Pemurnian Islam: tetap mau memurnikan kebudayaan dan tradisi dengan memuja konsep bidah dholalah untuk menyingkirkan tradisi dari hasil kerja-kerja Pribumisasi Islam; yang HTI ingin menegaskan Islam politik dengan khilafah menggantikan negara nasional; dan yang Tarbiyah ingin menegaskan Islam Politik melalui jalan parlemen; yang NII mau mengganti negara nasional menjadi Negara Islam, yaitu pemurnian di level negara. Maka, kerja-kerja mereka akan berbenturan dan menjadi membahayakan bagi kultur dan masyarakat yang memilih jalan Pribumisasi Islam dari kalangan presantren tradisi.

 

Ruang dan Negosisasi

Melihat perjalanan Pribumisasi Islam di Nusantara dan tantangannya itu, menjelaskan ada ruang-ruang tertutup, sebagai batas-batas yang tidak dimasuki oleh Pribumisasi Islam oleh kalangan pesantren dan juga kalangan Islam Jawa, sekaligus ada ruang terbukanya. Ruang ini adalah tauhid, dimana Allah itu Esa dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, diimani dengan kuat. Memperhatikan karya-karya di dalam tradisi Islam Jawa dan pesantren, semua mengafirmasi ini. Hanya saja, dalam ruang tertutup ini, pengungkapan dan penamaan terhadap Allah di luar pelaksanaan ritual (seperti sholat lima waktu), dalam praktiknya bisa menggunakan bahasa penambahan bahasa Jawa atau lokal, seperti penggunaan istilah Gusti Alloh, atau kalau Nabi Muhammad menjadi Kanjeng Nabi Muhammad.

Batas-batas yang lain adalah ruang tertutup juga, yaitu pengakuan tentang kewajiban-kewajiban ritual elementer, seperti pengakuan bahwa sholat itu wajib, juga zakat, puasa dan haji. Tidak ada pengingkaran dalam soal kewajiban sholat lima waktu dan bentuk-bentuk rukuk, sujud dan lain-lain. Bahwa ada yang belum melaksanakan kewajiban itu, adalah soal lain. Akan tetapi mereka tetap mengakui kewajiban itu sebagai kewajiban yang dibebankan kepada seorang muslim, adalah jelas. Maka kita tidak pernah mendengar dan menemukan seruan untuk menentang kewajiban sholat dari kalangan muslim Jawa. Muslim Jawa kemudian membedakan antara sholat lima waktu dan Sholat Daim, yang semuanya menurut ajaran Sunan Kalijaga dalam Suluk Linglung, harus dijalankan. Penafsiran-penafsiran yang dilakukan Gatholoco adalah hal lain, yang perlu dibaca dengan cara lain, di tengah narasi kolonial yang ingin dan sedang memisahkan Islam dan Jawa. Sementara dalam implementasi bentuk-bentuk  zakat, bisa menjadi ruang terbuka bila ada alasannya yang bisa diterima. Sebagai contoh, zakat gandum bisa diganti dengan padi, karena jenis Qutul Balad di Indonesia adalah padi atau jagung.

Hanya saja, ketiadaan ruang terbuka bagi pengakuan akan kewajiban elementer Islam itu, dibangun melalui kesadaran dimana orang menjadi muslim itu melalui proses, sehingga kadangkala pengakuan adanya kewajiban itu belum langsung dengan  amalan praktiknya; atau belum bisanya seseorang untuk membaca surat-surat selain Al-Fatihah di dalam sholat; atau ketika bacaan al-Fatihah-nya belum fasih –adalah proses yang terus menerus dan perlu diusahakan menjadi baik. Juga belum sholatnya seseorang adalah proses seorang beragama, yang harus ada upaya di kalangan pendakwah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bukan justru dengan dicela dan dimusuhi. Prinsipnya, innaka la tahdi man ahbabta walakinnalloh yahdi man yasya; dan man qola lailaha illaloh Muhammad Rosulullah dakholal jannah, sehingga pendekatan dalam Pribumisasi Islam, juga menyangkut cara dakwah yang baik.

Ruang  lain  dalam Pribumisasi Islam adalah wilayah publik yang dibatasi melalui musyawarah mufakat atau konsensus para ulama dan pemimpin masyarakat, sampai ada kondisi dan keadaan yang memungkinkan dinegosiasi ulang atau diperbincangkan kembali. Ruang ini menghasilkan keterikatan hukum publik yang harus dilakukan seseorang kepada Ulil Amri, ketika ia dinaikkan menjadi keputusan Undang-Undang Negara atau kerajaan. Contohnya dalam soal ini adalah keputusan musyawarah mufakat soal bentuk Negara Republik Indonesia dan ketaatan kepada Ulil Amri, tanpa menafikan adanya kritik-kritik yang harus tetap ada. Keluar dari ketaatan kepada Ulil Amri dan melakukan pengorganisasian permufakatan jahat-makar atau memberontak mengganti negara nasional, adalah  ruang tertutup yang tidak ditoleransi dalam jalan Pribumisasi Islam.

Berbeda dengan itu, justru ruang ini, dianggap paling aktual dan terbuka bagi gerakan Islam politik, seperti HT dan NII. Sementara gerakan Pemurnian Islam yang tidak lagi menjadikan bentuk negara nasional sebagai persoalan, ruang terbukanya dengan sesama pemurnian justru terletak pada koalisi-koalisi sipilnya untuk membentuk dan membangun dan mempengaruhi keputusan parlemen, isu-isu dan keputusan-keputusan publik, terutama bila berkaitan dengan isu-isu pemurnian kebudayaan. Hal ini lebih memungkinkan mempertemukan mereka dengan kelompok Pemurnian Islam lain, dalam argumen-argumen dan narasi-narasinya,  karena kedekatan jargon kembali ke Al-Qur’an dan hadits. Kecuali mereka sudah bisa keluar dari kekakuan pemujaan literalisme dalam urusan kebudayaan dan tradisi-tradisi di masyarakat, maka akan bisa menjelaskan hal lain.

Ruang tertutup dalam Pribumisasi Islam juga dibatasi oleh norma yang dipegang dimana dakwah Islam harus disampaikan melalui hikmah, kebijaksanaan, perkataan baik, dan jadal yang membuka pikiran. Maka implementasinya, penyampaian Islam dan kebaikan-kebaikan  harus bilmaruf, dan pencegahan kemungkaran harus bilmaruf. Kekerasan dan penggunaan pemaksaan hanya diberikan wewenangnya kepada otoritas Ulil Amri, bukan orang per-orang, yang ditujukan kepada orang lain.

Islam Nusantara adalah implemementasi dari seruan Al-Quran untuk mewujudkan misi wayattabi`una ahsanah sebagai bagian dari Islam rahmatan lilalamin; dan dalam bahasa Sunan Kalijaga disebut untuk memperoleh rinahmatan Ilahi di tanah Nusantara.

Ruang terbuka Pribumisasi Islam adalah negosiasi ditemukannya alasan untuk menerima kebutuhan-kebutuhan lokal-nasional dan internasional, di mana relasi Islam-Muslimin dengan kebudayaan, ekonomi, politik, dan hal-hal lain, mengharuskan adanya penemuan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam, dan penerapan maqoshid syariah di dalam masalah-masalah itu; dan kebutuhan-kebutuhan yang mengharuskan ditempuh jalan itu. Hal ini menyadarkan bahwa kerja-kerja Pribumisasi Islam itu, di wilayah publik menyangkut kerja-kerja kultural, kebijakan politik dan politik kebijakan publik melalui pemastian nilai-nilai Islam Nusantara dalam jalan Pribumisasi Islam itu diterima, seperti dalam kasus diterimanya Pancasila. Sementara dalam hubungan antara personal, atau dalam internal komunitas-komunitas, maka kerja-kerja Pribumisasi Islam adalah memperkokoh dan mengembangkan tradisi-tradisi, nilai-nilai, dan pengetahuan Pribumisasi Islam  yang dibangun untuk ditanamkan kepada masyarakat, bahkan termasuk ketika harus menghadapi gempuran Pemurnian.

Dalam ruang-ruang di atas, negosiasi adalah upaya yang terus menerus, yang menuntut kerja semesta Jihad Pribumisasi Islam di wilayah pengetahuan masyarakat, kehidupan sosial-politik, akademik, dan kultur masyarakat, yang berakar dari penafsiran ayat Al-Qur’an: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab” (QS. AZ-Zumar [39]: 18). Maka, bagi generasi-generasi Islam yang melakukan Islamisasi melalui jalan Pribumisasi Islam, harus memiliki kecanggihan untuk bisa memilih yang ahsan, di antara pilihan-pilihan baik yang ada. Dan hal itulah mereka memerlukan ilmu-ilmu yang cukup, kearifan yang cukup, dan olah batin yang cukup, sebagaimana para pendahulu Islam.

Dengan demikian menjadi jelas dan terang benderang,  Islam Nusantara sebagai Islamisasi melalui jalan Pribumisasi Islam adalah implemementasi dari seruan Al-Quran untuk mewujudkan misi wayattabi`una ahsanah sebagai bagian dari Islam rahmatan lilalamin; dan dalam bahasa Sunan Kalijaga disebut untuk memperoleh rinahmatan Ilahi di tanah Nusantara.

Wallohu a’lam.

Nur Kholik Ridwan
Pernah menjadi anggota PP. RMI NU dan Peneliti di ISAIS UIN Sunan Kalijaga. Karya yang pernah diterbitkan : Suluk Gus Dur : Bilik-bilik Spiritual Sang Guru Bangsa (2013); Negara Bukan - Bukan : Prisma Pemikiran Gus Dur Tentang Negara Pancasila (2018); dan NU dan Neoliberalisme ; Tantangan dan Harapan Menyongsong Satu Abad (2014).