Diponegoro dan Ramalan Wali Wudhar

Diponegoro yang bernama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar lahir di lingkungan kerajaan Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 M dan kelahirannya saat menjelang fajar. Masyarakat Jawa menyakini ketika seorang yang lahir pada saat menjelang fajar, dia akan menjadi sosok pemimpin yang adil. Dalam tarih Jawa, hari kelahiran calon pemimpin Perang Jawa itu sangat bertuah karena jatuh dalam bulan Jawa Sura, bulan pertama dalam tahun Jawa, ketika secara pandangan tradisional Jawa kerajaan baru didirikan dan gelombang sejarah baru mulai (Carrey, 2012:81)

Bahkan dalam tahun Arab sang pangeran lahir tepat pada 1200 H yang syarat mengandung makna. Hal tersebut dalam beberapa versi ramalan yang lebih bernuansa Islam sebagai tahun ketika Ratu Adil Jawa akan muncul. Ketika menelisik ke sejarah Jawa Kuno, ramalan itu juga bisa dikaitkan dengan raja Kediri abad ke-XII yakni Prabu Joyoboyo.

Diponegoro yang lahir dari pasangan Hamengkubuwono II dan Raden Ayu Mangkorowati sebagai garwo padmi sekaligus Ratu Kedaton yang berdarah biru Madura, dan yang menonjol di lingkaran keraton karena kesalehannya sebagai seorang muslimah. Ayahnya, sebagai seorang pangeran, dikenal sebagai seorang penulis dan seorang sejarawan amatir yang sedang menanjak. Tidak jelas seberapa besar pengaruh sang ayah Diponegoro kepada pangeran, karena sejak usia tujuh tahun Diponegoro pindah dari lingkungan keraton bersama nenek buyutnya di perumahan yang dibangunnya di Tegalrejo (Ricklefs, 2005:177).

Sebagai sang Pangeran kecil, Diponegoro menjadi cucu kesayangan Sultan Pertama yakni Sultan Mangkubumi. Waktu dalam gendongan sang kakek, Diponegoro sudah diramalkan bahwa esok ia akan mendatangkan kehancuran yang lebih hebat buat Belanda daripada Sultan sendiri sewaktu Perang Giyanti (1746-1755 M), tapi bahwa hasilnya hanya Yang Maha Kuasa yang tahu. Sedangkan kita ketahui bahwa neneknya lah yang berpengaruh begitu besar dalam diri sang pangeran.

Waktu dalam gendongan sang kakek, Diponegoro sudah diramalkan bahwa esok ia akan mendatangkan kehancuran yang lebih hebat buat Belanda daripada Sultan sendiri sewaktu Perang Giyanti (1746-1755 M)

Ramalan itu memberi wawasan mengenai betapa pentingnya ketokohan Sultan Mangkubumi yang karismatik itu pada diri Diponegoro, dan bagaimana teladan hidup Mangkubumi mengilhami para anggota keluarga yang dekat dengan Diponegoro sewaktu Perang Jawa (1825-1830 M) berlangsung. Ramalan Sultan pertama itu juga dapat dikaitakan dengan ramalan lain, yang konon dibuat oleh raja Mataram abad ke-VII yakni Sultan Agung (1613-1646 M). Ramalan itu menyatakan bahwa setelah wafatnya Sultan Agung, Belanda akan berkuasa selama 300 tahun dan meski diantara ketururnan raja Mataram akan bangkit melawan, akhirnya ia bisa ditakhlukan.

Tampaknya hampir pasti bahwa Diponegoro menganggap dirinyalah yang diramalkan oleh Sultan Agung tersebut. Dengan demikian ia meletakkan kekalahannya atas Belanda pada Perang Jawa sebagai ramalan yang diucapkan oleh sang Sultan Mataram itu. Ramalan-ramalan itu akan diperkuat dengan suara gaib yang ia terima sebelum pecahnya Perang Jawa ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun tatkala ia sedang tidur di Parangkusumo Pantai Selatan yang berbunyi “Engkau sendiri hanya sarana, namun tidak lama, untuk disejajarkan dengan leluhur”.

Ramalan Wali Wudhar

Setelah sang pangeran mengetahaui ramalan-ramalan yang telah dilukiskan oleh dua pendahulu wangsa Mataram tersebut dan diperkuat dengan suara gaib yang ia terima di Parangkusumo. Maka sang pangeran melanjutkan pertapaannya guna memantapkan dirinya untuk mewujudkan ramalan-ramalan yang sudah ada. Pertapaanya ini ia lakukan selama menjelang Perang Jawa berlansung di sepanjang jalur Pantai Selatan yang dianggap sebagai tempat-tempat keramat oleh wangsa Mataram.

Salah satu pertapaannya ia lakukan sewaktu bulan suci Ramadhan yang pada suatu malam salah satu malam bulan suci itu, ia dijemput oleh seorang yang mengenakan pakaian haji dan peristiwa itu sendiri terjadi pada malam 21 bulan Puasa, yang dinamai malam slikur. Malam slikur dirayakan secara istimewa di Jawa, karena malam slikur erat kaitannya malam Laila al-kadar, malam kemuliaan tatkala kitab suci diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.

Ketika kita melihat mimpi yang didapati oleh Diponegoro dalam pertapaanya yang lain yakni pada 16 Mei 1825 dalam mimpinya ia dijemput oleh delapan wali wudhar, nabi-nabi yang mengemban dua tugas dari Allah yakni berupa keadilan duniawi dan pelaksanaan kewajiban rohani (Carrey, 2012:669). Mimpi ini juga terjadi pada tanggal 27 Ramadhan atau malam al-Kadar. Mimpi-mimpi yang didapat oleh Diponegoro terjadi pada saat bulan yang disucikan oleh ummat muslim. Bulan di mana kita disuruh menahan hawa nafsu dan lebih banyak mengingat sang pencipta.

Setelah Pengeran kembali ke Tegalrejo seusai bertapa selama bulan puasa di Selarong, ia melukiskan bagaimana ibu tirinya, Ratu Ageng, bermimpi yang sama sebanyak tiga kali. Dalam mimpinya, ia mendengar satu suara yang mengatakan kepadanya: “Ratu Ageng Ratu Kencaneki/ temokeno lawan wali ika/ wudhar lor kulo wismane/ yen tan kelakon iku/ pasti rusak ing Tanah Jawi/ sun pundhut nyawanira” (BD, II:317). Artinya: “Ratu Ageng, Ratu Kencono/ harus kawin dengan seorang wali wudhar/ yang bermukim disebelah barat laut/ Jika hal ini tidak terlaksana/ pastilah Jawa akan dihancurkan/ dan aku akan mecabut nyawamu”(BD, II:317)

setelah Ratu Ageng mendapati mimpi ini sebanyak tiga kali, Ratu Ageng langsung ketakutan dan merasa hidupnya betul-betul dalam bahaya. Ratu Ageng kemudian meminta Pangeran Mangkubumi untuk datang dan membahas masalah tersebut. Dalam pembahasaannya mereka berdua sepakat bahwa tempat yang dituju dalam mimpi tersebut adalah wilayah Tegalrejo yakni tanah pertanian Dipenogoro yang terletak ke arah tersebut.

Setelah Mangkubumi dan Ratu Ageng menceritakan mimpinya kepada Pangeran, sang Pangeran menganggap mimpi-mimpi tersebut hanya “cobaan” (kados jajal), tapi jika terbukti benar sebagai peringatan, maka jika dapat mimpi yang sama lagi Ratu Ageng harus mengatakan keapda suara itu agar menyampaikan langsung kepadanya. Namun demikian, hati sang Pangeran gusar dan ia bertanya kepada pamannya tentang arti wali wudhar. Mangkubumi menjawab itu berarti rasul Islam yang telah gagal menunaikan tugas sebagai wali.

Mendegar hal itu, Pangeran semakin gelisah, karena malu di hadapan Allah. Kemudian ia pulang ke Tegalrejo, tapi karena hati sedang gusar ia tidak singgah ke rumah melainkan ke tempatnya menyepi di Selorejo di mana ia tinggal seorang diri selama tiga hari. Sahabatnya Kiai Rahmanudin, bekas penghulu Yogya memperhatikan bahawa sang Pangeran tidak muncul di serambi masjid seperti biasanya untuk mengkaji al-Quran bersama dia seperti biasa dan pahamlah dia bawah sang Pangeran sedang gelisah.

Sebagai sahabat dekatnya Kiai Rahmanudin tau di mana sang Pangeran berada. Setelah mereka berdua bertemu kemudian Diponegoro menceritakan apa yang telah terjadi kepada sahabatnya tersebut. Setelah sang Kiai mendengarkan ceritanya, ia mengatakan bahwa arti wali wudhar justru sebaliknya. Wali wudhar adalah seorang wali yang mempunyai dua jabatan yaitu Yang Maha Kuasa telah menganugerahkan kekuasaaan melaksanakan keadilan duniawi dan juga menjalankan tugas-tugas rohani.

Wali wudhar adalah seorang wali yang mempunyai dua jabatan yaitu Yang Maha Kuasa telah menganugerahkan kekuasaaan melaksanakan keadilan duniawi dan juga menjalankan tugas-tugas rohani.

Jelaslah apa yang dipahami oleh Kiai Rahmadunin dengan istilah wali wudhar di sini adalah nabi bukannya wali dalam pengertian yang lazim yaitu sahabat-sahabat Allah atau orang-orang suci yang terdapat dalam ajaran sufi yang oleh orang ortodoks diterima dengan rasa enggan. Kiai tersebut melanjutkan penjelasannya bahwa di antara 124.000 nabi, hanya ada enam yang layak disebut sebagai wali wudhar yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, yang terakhir ini adalah nabi besar yang akhir (nabi pungkasan).

Kemudian Rahmanudin menambahkan, ada dua dari Jawa Sunan Giri dan Sultan Agung dengan menyatakan bahwa dua tokoh ini mengemban dua jabatan yang merupakan ciri seorang wali wudhar dan juga karena dikasihi oleh Allah. Sedangkan Pangeran sendiri mungkin yang kesembilan tapi hanya Allah yang tahu apa gerangan tujuannya, ucap Kiai Rahmanudin. Demikianlah Diponegoro tampaknya menerima penjelasan Kiai tersebut dan menghubungkannya dengan amanat yang diberikan oleh Ratu Adil di mana ia diminta memadukan tanggung jawab duniawi dan rohani dalam memerintah Jawa.

Gagasan mengenai wali wudhar yang kesembilan akan jauh lebih jelas tatkala ketika sang Pangeran mengalami penampakan yang terakhir sebelum Perang Jawa. Kejadian itu bertempat di Selorejo dan delapan wali wudhar tampak olehnya pada suatau mimpi. Salah satu dari mereka berkata: “heh Ngabdulkamid sira/ aranira mengka denparingi/ iya marang Rabilngalimina/ Jeng Sultan Ngabdulchamide/ Erucakra Sayidu/ pan Panatagama ing Jawi/ Kalipah Rasulaloh/ samta sira iku/ risampun ical kang suara”(BD, II:326)

Artinya: “Hai, Kamu, Ngabdulkamid/ kamu telah dianugerahi gelar/ oleh Yang Maha Kuasa/ Sultan Ngabdulkamid/ Erucokro Sayyidin/ Panatagama di Jawa/ Kalifah Rasullulah/ Diberkatilah kamu!/ sesudahnya suara itu menghilang” ( BD, II:326)

Dengan mimpi ini menegaskan bahwa sang Pangeran menjadi wali wudhar yang kesembilan dengan gelar “Sultan Ngabdulkamid Erucokro Sayyidin Panatagama Khalifah Rasullah”. Pada kesempatan lain nampaknya Pangeran telah menukar gelar-gelar ini dengan yang lain seperti Kabirulmukminin, Hamengkubowono (gelar sultan Yogya) dan Senopati Ingalogo Sabilullah ing Tanah jawi (Carey, 2012:683). Dua gelar tersebut terakhir ini memakai kata-kata yang digunakan dalam gelar resmi raja-raja Yogyakarta.

Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.