Membaca novel Hati Suhita karangan Khilma Anis saya menemukan perspektif baru dalam melihat perempuan yang lekat dengan nuansa tradisi. Bahwa tidak semua representasi perempuan yang teguh dan tangguh menyelesaikan problem hidupnya digambarkan dengan berpendidikan modern dan mempunyai pergaulan luas. Namun yang sering luput di lihat bahwa  perangkat nilai-nilai tradisi yang sering kita dapati di keseharian kita melalui komunikasi kultural dari keluarga, lingkungan sosial, menjadi salah satu nilai-nilai yang ampuh menjaga keutuhan kita sebagai manusia dalam konteks ini adalah perempuan.

Saat mendengar pertama kali novel ini yang booming di kalangan pesantren hingga mencapai cetakan ke-7 hanya dalam beberapa bulan di tahun 2019 ini, saya sempat pesimis. Saya menduka novel ini berisi cerita percintaan kelas ambyar yang lagi menjadi tren di kalangan muda mudi belakangan ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebagai penikmat novel arus utama karya sastra hari ini menurut saya bisa ditebak menjadi dua arah, pertama karya sastra yang cenderung mengeksplorasi dimensi kebebasan diri yang hingga mencoba menghantam nilai-nilai tradisi yang sudah mapan, bersandar dengan imajinasi yang cukup liar hingga tidak kalah hipperrealitas-nya, yang sebenarnya tidak ada ujung pangkalnya. Dan yang kedua arus sastra yang cukup ideologis bersendikan agama yang menggiring pembacanya untuk masuk surga dengan kacamata formalisasi agama.

Kedua arah karya sastra yang dominan mengisi ruang literasi kita itu, membuat saya sempat vakum untuk mengisi waktu dengan membaca karya sastra beberapa waktu hingga saya membaca novel Hati Suhita ini. Hal ini tidak lantas saya menyangkal banyak karya sastra yang juga memiliki kualitas cukup mengesankan seperti kura-kura berjanggut, dan banyak lagi yang mungkin juga saya tidak tahu. Tetapi yang jelas saya tidak sedang ingin sibuk melihat dinamika sastra yang berkembang di Indonesia yang pada dasarnya sangat subjektif.

Kembali pada novel Hati Suhita yang menurut saya menjadi unik dan berbeda dengan genre yang sama berangkat dari pesantren. Biasanya novel dengan genre seperti ini banyak yang hanya memposisikan pesantren sebagai eksotisme belaka dengan nuansa percintaannya. Tetapi novel ini mencoba melihat sisi berbeda dari tradisi seorang santri yang memegang kukuh tradisinya sebagai orang Jawa.

Bahkan bisa dikatakan novel ini tidak ragu-ragu lagi mencoba mengait-eratkan bahwa tradisi Jawa dengan agama Islam dalam tradisi pesantrennya adalah satu kesatuan yang menjadi latar pengetahuan yang membuat novel ini menjadi sangat kaya makna. Padahal, dalam diskursus utama dalam kajian antropologi mengenai agama di Indonesia selalu berusaha memisahkan agama Islam dan budaya menjadi dua hal yang tidak terkait satu sama lain. Tetapi apa yang ditampilkan dalam novel ini kita melihat dan merasakan gambaran lain bagaimana suatu keutuhan antara agama dan budaya menjadi satu kesatuan yang saling menopang alam pikir masyarakat kita selama ini.

Dalam novel ini tokoh Alina seolah menjadi tokoh sentral dari alur cerita yang dibawakan dengan lugas namun tetap estetis. Namun menurut saya setiap tokoh seperti Gus Birru (suami Alina), Rengganis (mantan pacar dari Gus Birru), juga diberi porsi sama dalam alur cerita yang membuat semua tokoh menjadi hidup menawarkan sudut pandangnya masing-masing. Memang pergulatan batin Alina menjadi seorang istri dari Gus Birru lebih banyak mendapat porsi yang lebih ketimbang yang lainnya, tetapi hal tersebut tidak mengurangi kekuatan karakter dari dua tokoh yang  lainnya.

Tokoh Alina awalnya diceritakan adalah istri Gus Birru hasil dari perjodohan yang telah disepakati antara dua keluarga. Dalam tradisi pesantren perjodohan antara putra/putri kiai menjadi hal yang sudah wajar terjadi, perjodohan menjadi suatu tradisi di mana kedua belah pihak sudah saling mengikat janji sejak Gus atau Ning sebutan putra dan putri kiai beranjak dewasa bahkan remaja. Kondisi ini yang menjadi awal bagaimana pergolakan batin ketiga tokoh utama dalam novel ini Alina, Birru, dan Rengganis.

Tokoh Birru sendiri adalah anak tunggal kiai besar di Jawa Timur yang memiliki pesantren dan lembaga pendidikan dengan ribuan santri. Birru digadang-gadang sebagai pemegang tampuk kekuasaan yang akan menggantikan ayahnya, namun Biruu sendiri selalu tidak sepaham dengan ayahnya. Hanya dengan ibunyalah Birru takluk, dan tidak pernah menyangkal perintah apapun yang diberikan kepadanya. Beban dan tanggung jawab yang disematkan pada dirinya membuat Birru memberontak pada sistem yang dibuat ayahnya. Pemberontakan pertama yang dilakukan Birru adalah menolak meneruskan kuliah ke Al-Azhar pilihan ayahnya. Ia justru memilih kuliah di Yogyakarta dan menjadi salah satu aktivis terpandang di kampusnya.

Namun pemberontakan Birru pada akhirnya takluk di tangan ibunya ketika ia tidak bisa menolak permintaan ibunya untuk menikah dengan Alina Suhita. Ibu Birru sangat tahu karakter anaknya, dan pilihan pada Alina bukan tanpa sebab, Alina adalah anak Kiai terpandang di daerahnya. Sejak di pondok Alina dikenal sebagai santri yang berakhlak baik, tawadhu’, cerdas, cantik, hafal Al Quran. Apa yang menjadi penggambaran Alina adalah penggambaran santri ideal yang diidamkan oleh semua laki-laki. Dari sanalah Ummi Biruu meminang Alina sebagai menantu sejak masih kecil, dan Ummi yakin Alina yang paling cocok mendampingi putranya sebagai pewaris pesantren keluarganya.

Pada awal novel ini kita dibawa masuk ke dalam dunia batin Alina. Sejak ia menikah dengan Birru dan hampir berjalan selama 7 bulan ia tidak pernah disentuh oleh suami sahnya itu. Alina menderita sebagai pengantin baru. Ia tak pernah merasakan malam pertama yang tidak kunjung tiba padanya.

Kamar pengantin bagi Alina adalah dunia lain di mana ia menyembunyikan tangis, derita, yang ia simpan dalam batinnya. Selama 7 bulan bersama itu pun Biruu tak pernah menyapa seperti layaknya pasangan mesra. Birru memilih tidur di sofa sedangkan Alina mendengur tangis di balik slimutnya.

Tetapi di sinilah hal yang paling menarik saat gejolak batin Alina memuncak, pandangan perlawanan atas kondisinya selalu di tarik ulur antara mengikuti ego-nya yang tidak mendapat hak batinnya sebagai seorang istri dengan etos tradisi yang membentuk pribadinya selama ini. Sedangkan di suatu kondisi saat batinnya tersiksa, ia mengingat bagaimana menjadi seorang istri yang baik seperti yang diajarkan oleh Simbahnya. Bahwa istri itu harus bisa mikul duwur mendem jero (memikul yang tinggi, dan menanam yang dalam) suaminya. Artinya bisa menyembunyikan kejelekan pasangannya dan mengangkat tinggi derajat suaminya. Ia semakin kalut dan bimbang diambang batas pilihan sulit.

Diceritakan bagaimana Alina sebagai istri sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang ideal bagi suaminya, dengan menyiapkan semua kebutuhan suaminya, bahkan mengambil peran untuk menangani urusan pesantren yang sebenarnya tugas Birru, suaminya. Namun Alina mendapat perlakuan lain, ia diacuhkan tak pernah disapa di dalam kamar. Yang membuat batinnya lebih tersiksa ketika di luar kamar ia harus menyembunyikan derita dalam senyum manisnya, saat ditanya perihal pernikahannya sama kedua tuanya. Ia berusaha menutupi segala aib suaminya. Tidak mudah melakukan itu semua bagi Alina, hingga setiap kali ia berbicara jujur dengan dirinya, butiran tetes air mata selalu mengalir tak terbendung.

Namun bukan Alina ketika ia menyerah begitu saja, ia selalu merasa mendapat spirit baru. ketika ia menghayati bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah sebuah laku tirakat untuk mendapatkan hati Biruu. Baginya penderitaan yang sedang dialaminya seperti halnya sedang menahan nafsu amarah dalam dirinya, dan ketika ia tidak berhasil mengendalikan itu semua itu adalah kekalahan yang sesungguhnya baginya.

Menjadi menarik lagi hampir di setiap segmen penggambaran dunia batin Alina bahkan tokoh yang lainnya, cerita terkait tokoh-tokoh wayang, cerita rakyat digunakan untuk menjadi metafor untuk mendorong pembaca memahami cerita yang sarat makna. Beberapa tokoh diantaranya ada tokoh Srikandi, Mustika Ampel, dan Pengabsah Wangsa juga digunakan untuk memperkuat cerita dan karakter itu Alina sendiri. Dari sanalah sebenarnya pembaca dapat mengambil hikmah yang dalam, bahwa untuk menjadi seorang istri tidak serta merta menuntut haknya yang sudah menjadi kewajiban yang diberikan pada suaminya, tetapi ada suatu laku di mana seorang istri juga mesti melakukan laku prihatin/tirakat (dalam hal ini sesuai porsinya) yang harus dikerjakan. Untuk apa laku ini dilakukan, menurut tokoh Alina laku ini untuk menyelaraskan kecenderungan egoisme yang ada diri yang pada akhirnya malah akan membawa kerusakan pada dirinya dan keluarganya.

Alina melakukan itu semua bukan tanpa sebab, ia menyadari ia dilahirkan di lingkungan pesantren, tradisi pesantrenlah yang membesarkan jiwa-nya. Di suatu saat ketika ia hampir terpuruk, dia merasa kalah, sendiri, dan tak ada ruang untuk mencurahkan segala gundah resahnya, maka ziarah ke makam para wali kemudian ia lakukan. Seperti dalam cerita, ia melakukan perjalanan spiritual ke makam Kiai Hasan Besari di Ponorogo, salah satu ulama yang sangat berpengaruh di Jawa Timur guru speritual dari Ronggowarsito. Di sanalah Alina mendapat ketenangan batin sehingga jiwa pemberontaknya dapat diredam. Dalam hal ini, di dalam tradisi pesantren, ziarah ke makam salah satu ulama seperti yang dilakukan Alina, menjadi jawaban ketika batin seorang santri lagi terkoyak. Dari ziarah itulah jiwa yang sebelumnya gelap menjadi lebih terang, unsur barokah menjadi legitimasi untuk menjelaskan itu semua.

Kisah cinta Alina akhirnyapun bisa mendapat titik terang ketika Biruu yang sebelumnya belum dapat menerima perjodohan yang ditakdirkan padanya lambat laun dapat diterimanya. Bayang-bayang pada Rengganis mantan kekasihnya yang dia idealkan mendapingi hidupnya pun pupus ketika Rengganis juga menyadari betul posisi Biruu yang sudah beristrikan Alina, hingga ia tidak punya pilihan lain untuk menjauh dan mengawali hidup barunya sebagai seorang aktivis sosial.

Pada dasarnya apa yang dilakukan Birru pada Alina bukan bermaksud untuk menyakiti hati Alina, namun di situlah kebijaksanaan Birru sebegai seorang suami. Ia tidak ingin memberikan cintanya yang baru setengah pada seorang istri yang sangat mengasihinya. Birru tidak ingin menanam benih dari cinta yang tidak utuh, karena ia sadar pernikahan bukan hanya persoalan hubungan seksual namun juga bagaimana cara menghasilkan keturunan yang baik. Dari kemurnian cintalah keturunan dapat dihasilkan dengan baik dan tentunya buahnya adalah kebahagiaan.

Dalam konteks ini juga, nampaknya penulis novel ingin menujukan bahwa dimensi pernikahan tidak hanya soal dimensi material dalam menjalin suatu hubungan, tetapi suatu jalan, suluk, riyadhoh yang dilakukan oleh kedua subyek, laki-laki dan perempuan, untuk menemukan diri pribadinya yang sejati.

Dalam konsep sangkan paraning dumadi yang diimplementasikan dalam suatu bentuk tembang mocopat di masyarakat Jawa fase pernikahan disebut “asmaradana”. Dalam hal ini adalah fase dari suatu perjalanan manusia yang sangat penting yang juga merupakan upaya menyatukan dua entitas manusia yang berbeda untuk manunggal menjadi satu. Meski tidak mudah, maka dalam pemahaman orang Jawa perlu ada suatu upaya lebih yang disebut tirakat untuk menyatukan dua insan tersebut secara lahir batin. Keberhasilan dalam melewati fase ini pada akhirnya akan menghantarkan kedua insan tersebut ke fase selanjutnya yang disebut “darma” di mana manusia mengaktualisasikan dirinya untuk memberi kemanfaatan pada orang lain.

Sastra Pesantren?

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin melihat posisi novel ini dalam konteks diskursus sastra pesantren, mengingat meredupnya diskursus sastra pesantren yang hari ini mencapai ambang tak tahu arah tujuannya. Kiranya penting memulai kembali memposisikan sastra pesantren dalam diskursus umum sastra di Indonesia. Melalui karya inilah, dalam hemat saya sastra pesantren menemukan bentuk, karakteristik lebih jauh visinya untuk membumikan khazanah pengetahuan pesantren dalam bentuk karya sastra. Karena bagaimanapun juga kita perlu menyadari, setelah hampir satu dekade ini banyak karya sastra yang menggiring pembacanya ke dalam arus tunggal di mana manusia hanya menjadi subyek kering yang kehilangan makna esensial sebagai manusia.

Dalam arti lain sastra hanya menjadi bumbu penyedap tapi kehilangan cita rasanya, seperti yang dapat kita lihat hari ini.  Karya sastra tumpah ruah tapi mengkerucut pada dua bentuk yaitu hujan dan senja. Bentuk lain yang juga digandrungi adalah absurditas karya sastra yang juga semarak dirayakan belakangan ini. Pertanyaannya di mana posisi sastra pesantren itu sendiri? Apakah ada kemungkinan sastra pesantren mendapat tempatnya kembali di era saat ini?

Yang juga tidak kalang penting saat ini juga banyak bermunculan karya sastra bercita rasa hijrah juga menjadi tren yang menguat saat ini. Dengan menguatnya gerakan keagamaan bercorak takfiri, mereka seolah mendapatkan panggung untuk menyusupkan kepentingan ideologisnya melalui sebuah karya sastra.

Tetapi munculnya novel ini, menurut saya ada harapan baru untuk memulai kembali diskursus sastra pesantren. Karya ini menjadi prototipe setidaknya menjadi pembuktian bahwa eksistensi sastra pesantren masih ada. Bahkan dalam hal ini karya ini menjadi preseden baru bagi sastra pesantren yang selama ini kita kenal. Tidak hanya mencerminkan dinamika kehidupan pesantren yang kompleks dan unik, tapi karya ini juga mencoba mengeksplorasi dimensi terdalam dari kehidupan pesantren. Menjadi medium kritik yang selama ini tidak terjembatani hubungan bagaimana antara budaya dan agama, sehingga keduanya justru memperkaya metafora dalam sebuah karya sastra di dunia pesantren.

Doel Rohim
Mahasiswa tingkat akhir Sejarah Kebudayaan Islam UIN Suka, santri Ponpes Kaliopak, bergelut di langgar.co.