Manunggaling Kawula Gusti

Saya yakin, tujuan dari semua agama menuntun manusia pada Tuhan. Pada kahyangan. Itu tempat yang diingin.

“Kapan kau kembali?”

Tiap kali saya pulang ke Cirebon, Mbah Darmo selalu mengajukan pertanyaan yang sama.

Dengan suara rendah saya memberikan jawaban. Jawaban yang sama seperti hari sebelum-sebelumnya saban pamitan. “Saya tak pernah mengharap akan kembali…”

Saya memandang muka orang tua asal Banjarsari itu. Ia tak bersedih. “Tak ‘kan kekurangan aku,” katanya, “hidup bagai gabah ditampi.” Atau kata orang Jawa.

 

….

Wong urip puniki

Mung mampir ngombe

Upama manuk mabur, lepas saking kurunganeki

Pundi mencoke benjang, aja kongsi kliru, le

Umpama wong jan-sinanjan

Ora wurung mesti balih mulih, maring asal kamulannya

….

 

Jarang pak tua itu bicara makna hidup, sekalipun usianya sudah 90 tahun. Tapi sore itu, ia mengeluarkan isi hatinya –yang hampir tak bisa dimasuki. Sambil duduk, ia bertanya. “Kau tahu Bima, ksatria kedua Pandawa?”

“Kebulatan tekadnya,” kata saya.

“Dan, ia atasi segala rintangan demi menemukan sumber sejati: Tuhan. Pada kebenaran ia selalu bersikap tegas,” lelaki tua itu menambahkan.

“Lakon Bima seumpama orang mencari kesempurnaan. Yang suci. Mengajarkan pamoring kawula Gusti, bersatunya manusia dengan Tuhan.”

Saya menatap matanya.

Lalu ia tiba-tiba mengatakan, ia menyimpan serat, kitab kuno, dalam bilik rumahya. Mbah Darmo masuk kamarnya dan keluar lagi sambil membawa kitab itu dan meletakkannya di meja kayu.

“Ini salinan serat Bimasuci, penuh makna. Ia sumber pokok ajaran kejawen. Rujukan ilmu kasampurnan. Dunia batin orang Jawa. Tapi tujuh halaman telah hilang disobek. Harusnya ada di sini!”

Cerita Bimasuci, karya Yasadipura I, yang memadukan antara mistik Hindu dan Islam, amat disukai masyarakat Jawa.

Cerita Bimasuci, karya Yasadipura I, yang memadukan antara mistik Hindu dan Islam, amat disukai masyarakat Jawa. Banyak cerita yang bisa dikisahkan tentang perjalanan-perjalanan Bima yang menantang maut waktu menjalankan titah sang guru, Drona, yang menginginkan kematiannya.

Syahdan, sesudah pelbagai rintangan, di tengah samudra besar, Bima bertemu Dewaruci, ia disuruh masuk ke tubuh dewa yang ukurannya amat kecil melalui telinganya. Bima kaget. Tapi Dewaruci meyakinkan sang ksatria: “Tidak hanya tubuhmu, juga jagad ini bisa masuk ke dalam tubuhku.” Bima patuh. Ia terobos lubang kuping sebelah kiri itu dan menemukan dirinya dalam ruang luas tanpa tepi, tak berbatas, dan penuh warna.

“Aku masih ingat bagian-bagian yang hilang,” kata Mbah Darmo sambil jalan. “Aku terus memikirkannya sampai sekarang, tentang manunggaling kawula gusti, mati sajroning urip, serta sangkan paraning dumadi.”

Cerita ini, Bimasuci, mendapat tempat istimewa dalam kultur Jawa, memperoleh gambaran awal lewat kitab Nawaruci yang ditulis Syiwamurti di zaman Majapahit akhir.

Cerita ini, Bimasuci, mendapat tempat istimewa dalam kultur Jawa, memperoleh gambaran awal lewat kitab Nawaruci yang ditulis Syiwamurti di zaman Majapahit akhir. Kemudian Yasadipura I, di awal Kraton Surakarta, mengubahnya jadi serat Bimasuci, mulai disisipkan unsur Islam dalam baris-barisnya.

Berpuluh tahun kemudian, kitab Nawaruci yang mengandung ajaran mistik, telah banyak disalin, keberadaannya menjadi amat bervariasi: Dewaruci, Bimasuci, Begawan Senarodra, Gunacara Agama, Bima Paksa, Serat Walisana, Suluk Seh Malaya, dan Serat Kancil.

Seorang mencatat, satu pergeseran penting terjadi di Jawa Pertengahan, penempatan dewa-dewa Hindu-Buddha di bawah Bima yang mendapat pencerahan, kehadiran Islam mewarnai pemikiran sebelumnya yang kental dengan corak Hindu-Buddha. Itu yang disampaikan Woro Aryandini dalam bukunya Citra Bima dalam Kebudayaan Jawa (2000). Juga dalam buku itu diuraikan: Di zaman Jawa Kuno, Bima, sosok yang gagah perkasa dan sekaligus pelindung masyarakat serta keluarga, tampil dalam pemujaan Bhairawa hingga kultus lingga. Di zaman Jawa Pertengahan, Bima sebagai tokoh suci dan jujur. Di zaman Jawa Baru, Bima melewati batas-batas Hindu, menjadi sesak dengan mistik Islam, sampai tataran “jalma sulaksana” insan kamil. Selain digambarkan sebagai sosok jantan yang mengawini Dewi Uma, lelembut, dan putri naga.

“Mati. Menjadi mayat itu mudah, yang sulit manunggaling kawula gusti.” Itu yang dikatakan Mbah Darmo kemudian.

“Renungkanlah hal ini terus sampai akhir!”

Gusti nyata ing kaula, lan kaula puniku nyata ing gusti.”

“Orang yang bisa manunggaling kawula gusti itu manusia paripurna yang imbang lahir batin, jiwa raga, dan kepala dada. Dan mampu melaksanakan “syariat, tarekat, hakikat, makrifat,” sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Juga bisa mati sajroning urip, selalu eling lan waspada, dan bersedia lara lapa tapa brata, mengurangi nikmat duniawi dan tetap bersyukur tatkala diberi kesempitan. Toh, asal dan tujuan hidup, sangkan paraning dumadi, itu kusnul katimah. Nafsu yang mutmainah.”

Orang yang bisa manunggaling kawula gusti itu manusia paripurna yang imbang lahir batin, jiwa raga, dan kepala dada.

Dan ia menegaskan kembali keyakinannya untuk beberapa lama.

“Tapi, ingat baik-baik: ing sirnane kaula tan dadi gusti, iku tingal kapala, hilangnya kawula tanpa menjadi Gusti itu pandangan yang tertinggi.”

Dan mengulangi kata-kata Yasadipura.

“Kawula yang sejati tidak memuja, tidak menyembah, tidak ada yang diakui sebagai Gusti. Ia adalah jabariah yang sejati.”

Kita akan melihat ucapan pujangga “penutup” kraton Surakarta itu sangat sufistik. Tampak pemikiran tasawuf Ibn Arabi di sana, serta menyempal dari epos Mahabharata umumnya, yang disampaikan dengan bahasa orang Jawa. Tapi itulah yang terjadi.

Saya masih mendengar waktu lelaki tua itu menutup ucapannya. “Pergilah, ke dasar samudra, belajarlah rendah hati, itu jalan kembali menuju Ilahi.”

“Bima mencari air kehidupan. Kau carilah kebenaran. Bima menemui Tuhan di tengah gelak ombak. Kau berjalanlah dengan kepala tegak di lengkung langit yang usang dan retak-retak.”

Dan Bima sampai pada kesimpulan, dan ia bertanya.

“O, jagad besar. O, jagad kecil. Kenapa wujudmu seperti wujudku, Gusti? Sapa ngaula den kaulani?

“Dan, hanya kepada Dewaruci, Tuhan dalam diri, patik bisa bicara halus, selain Kau hamba sulit bersikap krama, ampunilah…”

“Dewaruci, dibalik fisik hamba yang kotor ini tersembunyi jiwa yang bersih, itu punyamu. Biar aku memasukinya, milikmu selamanya.”[]

 

 

***

Agus Rois
Agus Rois Lahir 26 Januari 1983 di Cirebon, Jawa Barat. Pernah kuliah di Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjadjaran, STF Driyarkara, tapi tak sampai tamat. Lalu, 2003, melanjutkan pendidikannya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 2012. Ketika masih kuliah di Yogyakarta, ia sempat aktif di badan penerbitan pers mahasiswa Balairung. Di samping menulis esai, kadang ia menulis puisi. Kini, setelah menamatkan studinya, ia menjadi penulis lepas, terkadang melakukan reportase kala senggang, sembari "ngebolang" ke pusat-pusat sejarah silam.