Berbicara soal peran intelektual merupakan suatu hal biasa dan cenderung membosankan. Seabreg buku yang membicarakan peran dan tanggung jawab kaum terpelajar sangat mudah didapatkan di negeri ini. Di sini, saya tidak akan menyediakan daftar buku-buku tersebut. Salah satu kritik terhadap beberapa buku tentang intelektual Indonesia: pembicaraan tentang peran dan tanggung jawab intelektual tidak seimbang dan sebanding dengan ukuran-ukuran formal dari gugusan intelektualitas yang ada. Misalnya, seberapa besar capaian akademik (karena ukuran formal) para intelektual Indonesia dalam percakapan gagasan di berbagai bidang keilmuan?

Sebelum melanjutkan, coba kita lihat beberapa gejala: Kesalahan TZ yang tidak tepat men-tasrif-kan sebuah kata dalam bahasa Arab; Ketidakjelasan postur intelektual RG yang berdakwah-keliling soal “kewarasan nalar”; Fenomena mengendornya ukuran-ukuran ketat bagi intelektual yang disebabkan oleh kultur media cetak dan daring; Babak-belurnya nuasa pemikiran dalam proyek akademik di perguran tinggi ; dan kebanggaan kaum terpelajar Indonesia menjadi bagian dari kekuasaan, baik terkait modal maupun negara.

Hancurnya sendi-sendi skolastisme dan humanisme tradisi pengetahuan Indonesia dapat terlacak dari beberapa fenomena misalnya ketika seseorang begitu mudah disebut sebagai intelektual, seperti longgarnya penyematan nama ustadz, kiai, gus, romo, atau sebagainya kepada para artis populer.

Sebenarnya masih banyak fenomena lain yang bisa disebutkan. Persoalannya, gejala-gejala yang sedang berkecambah dalam keseharian masyarakat Indonesia itu dianggap sebagai persoalan biasa. Tidak ada yang pernah mengaitkannya dengan bangunan paling dasar dari semua itu: yakni runyamnya dasar-dasar pendidikan modern di Indonesia. Dalam bahasa teknis, hancurnya sendi-sendi skolastisme dan humanisme tradisi pengetahuan Indonesia. Seseorang begitu mudah disebut sebagai intelektual, seperti longgarnya penyematan nama ustadz, kiai, gus, romo, atau sebagainya kepada para artis populer.

Seperti dimaklumi, skolatisme dan humanisme dalam pemahaman sederhannya: dua hal yang terhubung tapi berbeda. Skolatisme yang maskudkan di sini merupakan serangkaian dari tahapan pengembangan pikiran manusia yang terlembagakan secara formal. Dalam bentuk sederhananya jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar sampai tingkat doktoral dengan segala lisensinya (ijazahnya).

Sedangkan humanisme dalam pengertian pada level lebih tingginya, yakni terjadi saat para humanis adalah mereka yang telah jejeg secara pengetahuan, mandiri, dan lebih otonom dalam segala aspek. Karena telah melampui formalitas intelektualitas, mereka sudah lepas dari segala urusan dengan hal-hal duniawiah. Pikiran-pikiran mereka, baik tulisan atau lisan, sudah berbentuk seni dan melampui seni itu sendiri.

Dalam studi poskolonial: para humanis yang telah mensenyawakan antara gagasan dan tindakan disebut sebagai kaum amatir, yakni orang-orang yang tidak saja bijak, tetapi tenggelam atau mengalami kemabukan intelektual karena kecintaannya pada pengetahuan itu sendiri. Karena mereka sudah setingkat begawan, maka tidak penting lagi aliran atau godaan duniawiah dalam diri mereka.

Apa memang ada yang lebih tinggi dari amatirisme (bukan amatiran)?

Apa memang ada yang lebih tinggi dari amatirisme (bukan amatiran)? Menurut riwayat, ada. Hanya ada perbedaan istilah saja. Sebutannya bagi mereka yang mencapai suatu level yang lebih tinggi dari amatirisme adalah “late style”, yang pengertian sederhana dan murahannya begini: mereka sampai pada kulminasi pemikiran sampai tidak mampu menyeberangi atau menerabas capaian itu sendiri karena sudah tidak ada tahapan selanjutnya, sehingga kerja-kerja intelektual mereka yang digambarkan telah melampui batasan estetika dan etika itu melahirkan karya yang tidak biasa (full of odds), dimana karya tersebut tidak terbayangkan oleh sang intelektual itu sendiri.

Gambar : Henry Corbin

Sulit memahami level “late style” ini selain dengan mengencangkan seluruh nuansa pemikiran dan kekuatan imajinasi. Dalam telaah akademik tasawuf, Henry Corbin, sang filsuf-mistikus perennial asal Perancis itu, pernah mencari padanan dari kata “al-khayal-al-qudsiyah” (imajinasi suci)—saya tidak pasti soal istilah ini—yang menjadi basis dari karya-karya para mistikus dalam sejarah Islam. Dan saya yakin juga yang menjadi basis dari karya mistikus dalam tradisi lain. Corbin menyepadankan kata “al-khayal al-qudsiyah” sebagai mundus imaginalis: suatu tahapan dari kekuatan imaginatif manusia yang supra-estetik. Artinya, imaginasi dalam bidang estetika itu berada beberapa di bawah level di bawah mundus imaginalis.

Para pencapai “late style” dan para penerima anugerah “mundus imaginalis” menegaskan bahwa mereka inilah yang mampu mengemban amanat “say truth to the power” atau “mengatakan kebenaran walaupun pahit”.

Pembahasan tentang para humanis, para pencapai “late style” dan para penerima anugerah “mundus imaginalis” menegaskan demikian: Mereka inilah yang mampu mengemban amanat “say truth to the power” atau “mengatakan kebenaran walaupun pahit”. Kalau amanat tersebut diemban oleh selain mereka maka dijamin akan menjadi banyolan dan dagangan demi kepentingan pribadi, dan para impostor (saya menerjemahkanya dengan “para pesolek”) intelektual berkecambah seperti jamur di awal musim penghujan. Dan siapapun potensial menjadi para impostor seperti beberapa nama yang telah saya sebutkan di atas.

Gambar : Fred Jameson

Fred Jameson pernah mengkritik beberapa hal yang saya sederhanakan di atas. Pembicaraan tentang tahapan-tahapan intelektual tersebut masih dibayangi oleh sampar modernisme tentang manusia-super, tentang tokoh perorangan yang memiliki kemampuan istimewa sehingga memiliki otoritas untuk mengatakan dan menerka (visi) persoalan dan nestapa umat manusia. Jameson mencemooh bahwa gagasan di atas sebagai peneguhan akan intelektual publik yang sudah sangat tidak relevan dengan dinamika dunia di masa kapitalis akhir ini.

Kritik Jameson itu penting diperhatikan, tetapi di sini, oplosan dari berbagai unsur terkait intelektual hanya mengingatkan bahwa amanat “mengatakan kebenaran kepada kekusaan” itu memiliki prasyarat intelektual sangat ketat, bahkan pada level formalitasnya. Keketatan itu menjadi perisai bagi masyarakat agar menjaga kewarasan publik sehingga tidak mudah dikelabui para impostor intelektual.

Gambar : Mohammed Arkoun

Terakhir, kesombongan tidak memiliki tempat dalam dunia intelektual yang ketat karena potensi rasio manusia—seperti dikatakan almarhum Mohammed Arkoun—tidak memiliki batas. Tuhan Yang Maha Kuasa bermesraan dengan kekasih-Nya, manusia, yang memiliki potensi rasio tidak terbatas, katanya. Kecongkakan tidak relevan di hadapan samudera pengetahuan.

Wallahu a’lam bil shawab.