“Sobat ambyar kok ra teka konser?” sebuah balasan atas cuitanku di Twitter. Aku mencuit kalau aku sedang sibuk rebahan di kasur. Malam itu memang sedang ada konser Didi Kempot di Taman Balekambang, Solo.

Aku membalas twit temanku dengan mengatakan aku punya cara sendiri untuk menikmati lagu-lagu Didi Kempot. Obrolan kami tidak berlanjut. Aku memang tidak berniat melanjutkan dan mungkin temanku juga sudah sibuk ber-cendhol dhawet dengan sobat ambyar lainnya.

Aku tidak pernah melabeli diriku sendiri dengan sebutan sobat ambyar. Teman-temanku lah yang menyebut begitu. Padahal mereka juga tidak yakin apakah aku penikmat lagu Didi Kempot. Kalau kata mereka sih karena cerita fiksi yang kubuat itu sangat geografis dan tidak jauh-jauh dari cerita ke-ngenes-an dalam hal asmara. Ciri yang sama seperti dalam lagu-lagu Didi Kempot. Waduh, disamakan dengan The Godfather of Brokenheart? Durung-durung wis ambyar sik.

Aku punya alasan mengapa aku tidak ikut berdesak-desakan, berjoget cendhol dhawet bersama para Sadboys dan Sadgirls. Selain karena aku tipe yang tidak suka berada dalam keramaian, aku punya frekuensi sendiri dalam menikmati lagunya Didi Kempot.

Aku tidak ikut dalam kehebohan sobat ambyar masa kini, tidak pernah hadir di konser Lord Didi. Aku lebih suka menikmati lagu-lagu Didi Kempot dengan ketenangan dan lebih akrab dengan lagu-lagu lawasnya daripada lagu barunya, Meski aku tidak bilang lagu barunya jelek. Walau “Bojo Anyar” booming lintas benua lintas etnis tapi favoritku masih “Jambu Alas” dan “Lingsa Tresna”. “Jambu Alas” aku suka karena duet dengan Teh Nunung Alvi yang apik dengan logat Cerbon-nya. Lagu ini juga mengingatkanku tentang pengalaman nggapleki bersama teman ketika jagong manten. Si teman yang mengajakku jagong manten yang ternyata mantenan-nya mantannya ini melakukan aksi nekat dengan menyumbang lagu “Jambu Alas” di sesi hiburan. Aku tahu itu akan berakhir tidak baik jadi aku pergi sebelum acara salam-salaman. Si teman kutinggal begitu saja. Aku tidak mau ikut-ikutan viral kalau ada gegeran.

“Lingsa Tresna” ini favoritku karena entahlah, puas rasanya ketika berteriak “Sindhaaaaap…” sambil menjereng baju basah untuk dijemur.

“Lingsa Tresna” ini favoritku karena entahlah, puas rasanya ketika berteriak “Sindhaaaaap…” sambil menjereng baju basah untuk dijemur. Dan sebenarnya aku baru mengenal Didi Kempot ketika mengikuti Persami kelas 4 Sekolah Dasar. Di tenda induk panitia memutar lagu “Sewu Kutha”. Itu kali pertama diriku mendengar lagu itu.Sebelumnya aku lebih akrab dengan lagunya Manthous, Sunyahni dan Nurhana untuk campursari. Untuk langgam aku akrab dengan Gesang (tolong lah, lagu “Pamit” dan “Luntur” ini seambyar-ambyarnya lagu, apalagi dinyanyikan sambil hujan-hujanan keliling Yogya, uwh). Tentu saja sebagai anak yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Grobogan telingaku lebih akrab dengan gending-gending tayub Grobogan seperti “Randha Ngguguk”, “Arum Manis”, “Waru Dhoyong”, “Blandhong”, “Celeng Mogok”, dan “Srampat” dengan Bu Lasmi sebagai waranggana-nya.

Ya walau sebagai cah nangisan tentu saja aku pernah nangis di Terminal Tirtonadi (ketinggalan bus), di Pelabuhan Tanjung Emas (kehilangan sandal), di Bandungan (kebanan pas surup-surup), di Nglanggeran (kesasar), di Stasiun Balapan (Nunggu Esty nggak dateng-dateng). Nggak ada patah hatinya di tempat-tempat itu. Karena tempat patah hatiku itu di Stasiun Tugu. Haha. Tapi sebenarnya lagu-lagunya Lord Didi ini juga tidak melulu tentang ditinggal rabi dan dikhianati kok. Lagu “Plong”, misalnya, malah menceritakan tentang kelegaan hati. Kita juga bisa mendengarkan lagu “Kuncung” dan “Klengkeng Bandungan” yang menceritakan kehidupan wong cilik.

Aku sempat khawatir dengan kembali berjanyanya Lord Didi. Aku takut kalau beliau malah kelelahan demi tuntutan hingar bingar penggemarnya. Apakah malah kita yang nantinya membuat beliau cepat pergi? Kita menuntut selalu dihibur di saat masanya untuk hidup mbegawan. Ah tapi tentu ini pikiranku saja yang belum nyandhak ke sana. Lord Didi tentu lebih senang di akhir hidupnya tetap memberi manfaat pada orang lain dengan tetap melalui jalur laku hidupnya, bernyanyi, berkesenian.

Kembang Kates dan Arum Ndalu

Aku pikir Didi Kempot bisa menyentuh jutaan pendengarnya karena lagu-lagu yang ia ciptakan tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Orang sudah ngenes dengan kehidupan dan dihantam patah hati tidak seharusnya disuruh mikir yang ndakik-ndakik. Cukup dihayati dan dijogeti wae. Tema yang dekat seperti ini yang kusuka karena tidak harus nggrambyang ke mana-mana. Dari kesaksian orang yang dekat dengan Didi Kempot pun, beliau diceritakan sebagai seseorang yang mudah akrab dengan siapa saja. Kehidupan kerasnya sebagai pengamen jalanan di masa lalunya cukup menjadi ruh di dalam lagu-lagu yang ia ciptakan.

Orang sudah ngenes dengan kehidupan dan dihantam patah hati tidak seharusnya disuruh mikir yang ndakik-ndakik. Cukup dihayati dan dijogeti wae.

Aku jadi teringat, selama pandemi aku membaca bukunya Sanie B. Kuncoro, yang akrab kupanggil Mbak Sanie, berjudul “Gumadhing Peksi Kondur”. Aku penikmat cerita-cerita Mbak Sanie, karena aku jenis pembaca yang suka dengan cerita yang latarnya tidak terlalu mengawang-awang. Salah satu cerpen yang kusuka adalah “Kembang Kates”. Mbak Sanie membuat sanepan “Kembang Kates” untuk perempuan yang Titiek Puspa sebut sebagai kupu-kupu malam. Aku suka banget penceritaan di situ, mengingatkan aku pada salah satu tempat kehidupan malam di Solo. Bagian paling menyentuh adalah ketika tukang becak langganan si “kembang kates” ini melamar perempuan yang ia antarkan tiap malam. Tukang becak yang kesengsem karena masakan oseng-oseng kembang kates yang ia makan, pemberian pelanggan becaknya ini. Mereka memang hidup bertetangga di gubug-gubug kecil di daerah kumuh. Mbak Sanie membuat kembang kates sebagai sanepan bahwa sesuatu yang kita pandang sampah, kalau diolah dengan baik tentu akan menjadi manfaat. Ketika membaca cerpen itu aku jadi teringat lagu Didi Kempot yang berjudul “Arum Ndalu,” tentang seorang laki-laki yang mencintai perempuan apa adanya, seorang laki-laki yang ingin mengentaskan perempuan yang ia cintai dari tempat yang hina. Seorang laki-laki yang cintanya tulus. Tipe laki-laki yang akan menjadi bahan ghibah positif cewek-cewek di twitter “kenapa kisah cintaku nggak se-uwu ini”, atau “tolong sisain satu yang kayak gini”. Didi Kempot membuat sanepan dengan apik dan puitis, kembang arum ndalu. Bunga yang baunya semerbak di malam hari. Bunga yang dicari karena harum tetapi juga dihindari karena baunya yang tintrim di malam hari bisa menimbulkan ketakutan. “Arum Ndalu” memang tidak populer, tapi itu lagu yang maknyes bagiku, orang yang juga suka membuat bunga sebagai perumpamaan, sampai buku pertamaku judulnya juga “Kembang Pasren”.

“Arum Ndalu” memang tidak populer, tapi itu lagu yang maknyes bagiku, orang yang juga suka membuat bunga sebagai perumpamaan, sampai buku pertamaku judulnya juga “Kembang Pasren”.

Aku yakin Mbak Sanie bukan penikmat lagu Didi Kempot, tapi apa yang ditulis beliau berdua hanya bisa dilakukan oleh orang yang tidak hanya sekadar punya jam terbang tinggi, tapi punya “rahsa”, rasa yang dalam. Baik cerpen atau lagu itu benar-benar punya ruh bagiku. Mbak Sanie akrab dengan kehidupan tukang becak beserta pisuhannya karena eyang putrinya adalah juragan becak, kandang becak adalah rumahnya, ia akrab melihat peristiwa razia dan ia adalah penyuka oseng-oseng kembang kates. Aku menebak Didi Kempot bisa membuat lagu “Arum Ndalu” karena kehidupan jalanannya sebagai pengamen tentu mudah saja dekat dengan kehidupan para arum ndalu dan penggemarnya. Sesuatu yang empiris dan ditulis dengan hati tentu menghasilkan sesuatu yang hebat.

Selamat jalan maestro. Sampai kapan pun dirimu akan tetap menjadi kembang lambe. Karya-karyamu akan tetap abadi dan semerbak, seperti wanginya arum ndalu di malam hari.

Gondangrejo, 06 Mei 2020

Impian Nopitasari
Pernah suka menulis yang ambyar-ambyar. Sebagian cerita ambyarnya bisa dibaca di kumpulan cerita cekaknya, Kembang Pasren (2017). Sekarang sedang menikmati kelahiran buku barunya, Si Jlitheng: Dongeng Bocah Abasa Jawa (2020).