Kamu datang modal dengkul sama kumis, mis.
Kamu datang modal bibir sama betis.

Ketika lirik lagu di atas sedang banyak digumamkan, karena nyaris selalu diputar di program Album Minggu Kita TVRI, teman sebangku saya di SMP mengamuk kepada beberapa siswa perempuan karena menggunjingnya mirip penyanyi pria dari lagu duet itu. Saya ingat betul kejadian itu. Saat itu kami kelas dua SMP. Jadi, meskipun tak lagi hapal keseluruhan lirik lagu dangdut berjudul ‘Dibungkus Saja’ tersebut, saya bisa mengingat dengan baik kapan lagu itu ngetop dan membuat untuk pertama kalinya seorang penyanyi dangdut baru berwajah dan bernama “unik” mulai dikenal: Didi Kempot. Tak salah, itu sekitar 1993, tahun yang sama dengan rilisnya lagu tersebut.

Seperti kebanyakan lagu dari masa silam, bukan hanya amukan kawan sebangku kepada teman-teman perempuan kami yang menggunjingnya, lagu ini, jika saya dengarkan kembali, akan membuat seluruh kenangan atas masa-masa sekolah menengah pertama berhamburan: gedung sekolah yang kecil, dinding yang ternoda merah tanah Pantura, ruang kelasnya yang kusam dan tak bersemangat, dan anak-anak yang masuk sekolah hanya untuk menunggu waktu pulang. Meski demikian, bisa dikatakan, dibanding lagu-lagu dangdut bernuansa daerah yang memang sedang tren saat itu, ‘Dibungkus Saja’ sepertinya bukan lagu yang akan abadi di kepala penggemar dangdut.

Disandingkan dengan lagu-lagu abadi macam ‘Duh Engkang’-nya Itje Trisnawati dan ‘Cinta Ketok Mejik’ Evie Tamala yang bernuansa Sunda, atau ‘Sun Sing Suwe’ dan ‘Ojo Suwe-suwe’ dari Ikke Nurjanah yang ke-Jawa-Jawa-an, atau lagu dengan campuran lirik berbahasa Madura seperti ‘Sapu Tangan Merah’ dari Yus Yunus, ‘Dibungkus Saja’ tak begitu menonjol. Mungkin karena itu, beberapa tahun kemudian, Didi Kempot justru mulai lebih kita kenal dengan lagu-lagu Jawa “yang cengengnya bukan main”—begitu Bre Redana pernah menyebut—di pengujung ’90-an. Sementara Viara R., teman duetnya, bahkan tak lagi didengar namanya di blantika musik jenis apa pun.

Saat lagu-lagu seperti ‘Stasiun Balapan’, ‘Tanjung Emas Ninggal Janji’, dan ‘Sewu Kutho’ mengharu-biru radio-radio di Jogja pada awal ‘2000-an, saya sepertinya bukan jenis orang yang antusias. Ada banyak faktor saya kira. Yang utama tentu saja karena itu juga masa-masa suburnya band pop Indonesia, dengan kemunculan Padi dan Sheila On 7 jadi yang paling fenomenal. Hal lain, itu juga bertepatan dengan masa-masa tumbuhnya sikap snob seorang bocah Pantura yang kuliah di Jogja, yang mencurahkan segala daya dan upayanya untuk menjadi bagian dari generasi MTV, dengan memaksa diri menemukan apa bagusnya album ‘Unpluged’-nya Nirvana, video klip dari lagu baru ‘Suede,’ atau berusaha keras mengerti lirik-lirik Radiohead. Yang mungkin tak kalah penting, saya merasa tahu rahasia Didi Kempot yang tampaknya tak diketahui kebanyakan orang: lagu ‘Sewu Kutho’-nya itu tak lebih dari pen-Jawa-an ‘Walau Sekejap’-nya Arie Wibowo dari Bill & Brod, sebuah lagu istimewa di masa kanak-kanak saya.

Tapi, Didi Kempot pada akhirnya datang juga, dan itu di saat yang lebih tepat: ketika saya jadi buruh di sebuah pabrik percetakan di Klaten. Seruangan dengan banyak orang Solo Raya, saya mengumpulkan satu demi satu lagu, menyukai sebagian, menolak yang lain, dan sangat menyukai beberapa. Ujungnya, saya membuat folder khusus bernama Dikem. Ketika kemudian koleksi lagu bertambah, folder Dikem saya masukkan ke folder lebih besar, Indonesia Kuwi Jowo. Ada lagu-lagu Manthous, Anjar Ani, Cak Dikin, Waljinah, Sunyahni, juga Dalang Poer dan koleksi musik Kendang Kempul khas Tapal Kuda Jawa Timur, tapi folder ini jelas didominasi Dikem.

Didi Kempot pada akhirnya datang juga, dan itu di saat yang lebih tepat: ketika saya jadi buruh di sebuah pabrik percetakan di Klaten. Seruangan dengan banyak orang Solo Raya, saya mengumpulkan satu demi satu lagu, menyukai sebagian, menolak yang lain, dan sangat menyukai beberapa. Ujungnya, saya membuat folder khusus bernama Dikem.

Ketika melewati masa-masa karantina, yaitu saat Anda diberi kenaikan jabatan namun tak diberi tugas dan kerja yang jelas, yang berlangsung tak kurang dari dua tahun masa akhir saya ngantor, saya meramaikan ruang kerja saya (dan tim kecil saya) yang luas namun kosong dengan banyak musik berisik; saya saat itu masih berjuang menyelesaikan novel pertama, dan sedang keranjingan dengan System of A Down, bahkan setelah mereka menyatakan hiatus panjang; juga Muse, setidaknya sampai album The Resistance; juga mulai mendengar yang lebih berisik seperti Korn, Disturb, dan Ramstein—semuanya di saat yang sangat terlambat. Di antara musik-musik itulah, biasanya menjelang siang, saya secara rutin memutar lagu-lagu Dikem, seakan suaranya bisa membuat jam istirahat datang lebih cepat.

***

Dalam keadaan riang, saya biasanya akan prengas-prenges memutar lagu ‘Susana’, yang merupakan plesetan kekanak-kanakan dari lagu ‘Suzanna’ yang terkenal itu. Mendengar Dikem menembang “Susana, Susana, kathoke ilang!” selalu menerbitkan tawa pada saya. ‘Iseh Kere’ yang rancak dan energetik adalah lagu lain yang saya ingat sering saya putar. Ratapan orang miskin yang didendangkan dengan gembira ini tak pernah gagal menjadi pengejek diri, seorang karyawan pabrik yang belum lagi keluar dari gaji UMR setelah lima tahun kerja. Lagu ‘Piye Makanine’ yang seperti disko Arab itu sangat cocok untuk mengejek seorang teman sekontrakan yang tak kelar-kelar dengan tesis S2-nya dan tiba-tiba memutuskan untuk menerima dikawinkan orangtuanya.

Meski demikian, kuping saya senyata-nyatanya adalah “kuping Melayu” (jika meminjam ejekan ERK); saya dibesarkan oleh lagu-lagu Rhoma dan Ida Laila, dan bisa menangis mendengar Itje Tresnawati menyanyi ‘Badai Biru’ atau benar-benar ikut hancur ketika Iis Dahlia mengiba-iba dalam ‘Tamu Tak Diundang’. Dan, kuping itu jelas berjodoh dengan beberapa lagu Dikem paling mematahkan hati.

‘Lingso Trisno’ selalu menjadi lagu pertama saya jika sedang ingin memutar Dikem, juga lagu yang cocok saat di kamar mandi.

‘Lingso Trisno’ selalu menjadi lagu pertama saya jika sedang ingin memutar Dikem, juga lagu yang cocok saat di kamar mandi. Lengkingan pada kata pertama, “Sindaaaaap… sing ono rambutku iki,” pas sekali dengan saat kita menggebyurkan air pertama ke sekujur badan, sedangkan lanjutannya, “iseh biso tak kramasi,” pas sekali dinyanyikan saat kita membasuh rambut. (Lagu ini, sebagaimana ‘Tali Kutang’-nya Cak Dikin, atau ‘Caping Gunung’ yang legendaris dari Anjar Ani itu, selalu membuat saya terperangah tentang bagaimana kata paling remeh di dalam lirik lagu, sebagiannya cuma dipakai sebagai sampiran saja, justru dipilih sebagai judul.)

Namun, lagu Dikem paling sedih bagi saya adalah ‘Aku Dudu Rojo’. Seperti kebanyakan lagu ratapan di pop Jawa, juga di pop Indonesia (termasuk di dalamnya dangdut), cinta yang kandas tak banyak keluar dari (atau disebabkan oleh) perbedaan kelas sosial. ‘Aku Dudu Rojo’ menurut saya lebih ekstrem; sebelum menegaskan “aku pancen wong cilik ra koyo rojo, iso mangan wae aku wis trimo”, Dikem telah menekankan di awal lagu bahwa ia bukan hanya miskin, tapi juga bodoh: “aku pancen wong sing tuno aksoro, ora bisa nulis ora bisa moco”. Dan kekalahan itu menjadi sempurna ketika di reff kita menirukannya melengking putus asa: “Pupus… godong gedang…”

‘Cidro’, lagu yang belakangan menjadi salah satu lagu paling dikenal di Indonesia, punya cerita sendiri. Pada 2014, saya terlibat sebuah proyek penerbitan buku milik seorang teman yang mengharuskan saya dan teman-teman lain yang terlibat masuk kantor. Karena ini Jogja, kantor milik teman itu lambat-laun menjadi rumah huni. Saya meninggalkan rumah kontrakan saya sendiri untuk pindah ke sini, dan menghuninya bersama beberapa orang lain yang terlibat proyek. Seperti semua tempat yang saya tinggali, saya mencoba mendominasi dengan musik-musik yang saya suka. Selain lagu India dan dangdut (mengingat saat itu saya juga sedang memulai proyek penulisan “Dawuk”), saya menggempur rumah kecil tempat kami ngantor dengan lagu-lagu Dikem. Saya tahu responnya tak terlalu negatif (tak seperti saat saya ngotot memutar Rhoma di ruang perkantoran Jakarta), tapi saya tak menyangka ada yang lebih jauh dari sekadar ikut menyanyi. Salah satu penghuni rumah tiba-tiba pulang membawa ukulele baru. “Ayo kita nyanyi Cidro, Mas!” ajak sang teman, yang sehari-hari saya kenali sebagai orang paling fals kalau menyanyi. Ia bikin repot orang lain karena: 1) ia orang Sunda sehingga tak sepenuhnya mengerti artinya, meskipun ia bisa terbata-bata menyanyikannya; 2) ia sama sekali tak ngerti nada, dan itu membuat seorang teman kantor lain yang diam-diam jago gitar turun tangan untuk mengajarinya. Hasil dari kerepotan ini ada dua juga: 1) dari rumah itu dihasilkan lagu berjudul ‘Ingkar’, yang merupakan saduran bebas bahasa Indonesia dari “Cidro”; 2) dengan lagu itu, kami membangkitkan seorang gitaris band Ken Arok yang pernah berjanji untuk tak menyentuh alat musik lagi.

***

Lagu-lagu Dikem yang saya kumpulkan dan dengarkan sejak pertengahan 2000an tak banyak bertambah. Ketika orang ribut soal ‘Banyu Langit’ dan ‘Cendol Dawet’ (atau semacam itu), saya menyimak sekenanya. (Lagi pula, bagi saya, seperti yang lazim di kalangan pendengar dangdut, lagu-lagu Dikem, baru atau lama, terdengar sama saja: kalau ia enak di kuping, maka dimensi waktu akan segera menyingkir dari lagu itu.) Jika kembali ingin memutar Dikem, saya biasanya tetap kembali ke “Aku Dudu Rojo” dan “Lingso Trisno”. Menggeluti lebih serius hal-hal berbau India sepuluh tahun terakhir membuat frekuensi mendengar lagu-lagu Dikem, sebagaimana juga kebanyakan lagu lain, menjadi menurun.

… bagi saya, seperti yang lazim di kalangan pendengar dangdut, lagu-lagu Dikem, baru atau lama, terdengar sama saja: kalau ia enak di kuping, maka dimensi waktu akan segera menyingkir dari lagu itu.

Mungkin karena itu juga, ketika Dikem tiba-tiba dirayakan, dalam beberapa kesempatan malah seperti sebuah histeria, seakan ia hal besar yang baru ditemukan, jadi ikon urban paling menonjol dalam setahun terakhir, saya merasakan sebuah jarak. Mungkin karena saya memang tak pernah tertarik dengan kerumunan; mungkin juga karena saya sadar diri bahwa saya beda generasi dengan kebanyakan mereka, anak-anak milenial yang memenuhi kolom komentar di bawah video-video Youtube dengan kalimat-kalimat yang hiperbolik sekaligus seragam. Dalam beberapa kesempatan, saya malah punya semacam sikap resisten: mendapati julukan-julukan yang baru dan asing dan urban, entah untuk Dikem sendiri atau untuk penggemarnya (entah kenapa semua kumpulan penggemar sekarang harus punya nama), membuat saya memikirkan para penjelajah Eropa yang menamai benua-benua yang baru dijumpainya dengan nama-nama kampung atau teman sekampung mereka sendiri. Saya membayangkan beberapa orang, dengan sengaja atau tidak, akan tereksklusi dari kerumunan yang dengan cepat membesar ini.

Tapi, sikap macam ini, sikap yang memang saya gembol sejak bayi, tentu saja tak terlalu penting—bahkan jika alasan-alasan atas sikap resisten itu bisa diterima. Dan menjadi lebih tidak penting lagi ketika tiba-tiba, di tengah masa wabah ini, kita mendengar berita duka tentang Dikem. Ini bukan berita duka pertama di hari-hari ini, tapi saya pikir ini salah satu kedukaan yang paling massal dan paling dalam.

Saya jelas bukan “Sobat Ambyar” (saya bahkan tak suka dengan istilah ini), dan karena itu boleh jadi bukan yang paling hancur mendengar kabar kematian Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot. Mungkin karena itu juga, saya bisa menyelesaikan tulisan jenis ini jauh lebih cepat dari tulisan-tulisan sejenis yang pernah saya kerjakan: sebuah tulisan tentang “saya” yang berlatar lagu-lagu Didi Kempot, alih-alih sebuah obituari yang sendu. Sementara, saya membayangkan, beberapa orang akan membutuhkan semacam ketetapan hati sebelum kemudian terbata-bata menyusun kata demi kata untuk mengungkapkan kedukaannya.

Ya, bagaimana lagi. Saya jelas terlalu tua untuk mengklaim tumbuh dengan musik Dikem (izinkan saya kembali ke panggilan khusus saya untuknya). Meski melibatkan pertemuan yang personal, dan itu selalu menyenangkan, bagaimana pun, saya tetap menganggap bahwa musik Dikem saya dengar dan sukai sebagai semacam tindakan mengadopsi.

Ya, bagaimana lagi. Saya jelas terlalu tua untuk mengklaim tumbuh dengan musik Dikem (izinkan saya kembali ke panggilan khusus saya untuknya). Meski melibatkan pertemuan yang personal, dan itu selalu menyenangkan, bagaimana pun, saya tetap menganggap bahwa musik Dikem saya dengar dan sukai sebagai semacam tindakan mengadopsi. (Meski saya orang Jawa, sebagaimana Dikem, kejawaan sama sekali tak ambil peran dalam perjumpaan itu; yang memudahkan saya sampai ke lagu-lagu Dikem justru adalah pengalaman saya dengan lagu-lagu pop sendu ala Tommy J. Pisa, yang menurut saya banyak mengisi nada-nada dan lirik lagu Dikem, lagu seperti “Wates Kutho” jelas punya hubungan genealogis dan kreatif dengan “Di Batas Kota”-nya Tommy; juga ketukan dangdut di beberapa lagu, semacam “Sutradara Cinta” yang terdengar seperti salah satu lagu Meggy Z.) Mendengar lagu-lagu Dikem sangat pas jika Anda ada di teras sebuah kos-kosan karyawa murah di kota kecil macam Klaten, seperti saya dulu pertama kali mendengar KLa agar bisa mengerti selera teman-teman kota saya, menyimak “High & Dry”-nya Radiohead agar dianggap ngerti musik keren, atau upaya-upaya lain sejenis itu, ketika Anda, dengan atau tanpa upaya terlalu keras, menarik diri Anda dari batas-batas kultural yang selama ini menjadi dunia kecil Anda.

Sementara saya tak begitu ngeh dengan lagu-lagu baru Dikem yang sedang hit belakangan, dan lagu-lagu sedih dari Dikem yang saya sukai tidak cukup menggambarkan perasaan saya atas kepergiannya, maka untuk mengakhiri tulisan ini, saya memilih baris-baris dari lagu ‘Penyiar Radio’, yang lebih condong syahdu dibanding sendu. Jika biasanya lagu ini dipakai sebagai ucapan terimakasih Dikem kepada para penyiar radio yang selama puluhan tahun menjaga keberadaannya di kuping pendengarnya (sebelum orang Jakarta ‘menemukannya’ dan memberinya julukan-julukan baru yang rumit), sesekali ada baiknya ia dikembalikan ke Dikem, yang telah memberikan suaranya untuk kita semua.

Suaramu pancen penak dirungokke
Gawe seneng wong sing do mirengke
Suaramu ora bisa dilalekke
Senajan aku mung krungu suarane

Untuk: Rudi Casrudi Soedjono

Mahfud Ikhwan
Lahir di Lamongan, 7 Mei 1980, Mahfud Ikhwan adalah seorang sastrawan Indonesia yang produktif, beberapa karya sudah lahir dari tangan dinginnya, antara lain: Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009), Lari Gung! Lari! (2011), Kambing dan Hujan (2014), berhasil memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017), menyabet penghargaan Kusala Sastra 2017 untuk kategori prosa. Di sela pekerjaannya sebagai penulis dan editor, sehari-harinya Mahfud rutin mengisi ulasan sepakbola di situs daring: "belakang gawang" dan rutin menulis kolom mengenai film India di "dushman duniya ka,"