Keluarga Kawruh Jiwa: Tinjauan Keluarga Sehat Mental Perspektif Suryomentaram

Kambing Hitam

Kelindan konflik dalam tubuh keluarga tak terbantahkan adanya. Pernyataan tersebut bahkan sama sekali tidak berlebihan mengingat bahwa ada dua kepribadian yang tumbuh dari lingkungan berbeda, yang perlu berjalan beriringan dengan serasi di bawah sebuah skema bernama keluarga. Tak jarang, beragam konflik justru memperumit kedudukan perkara karena memunculkan tuduhan antar satu sama lain mengenai siapa yang bertanggung jawab atas permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Freud (1966) menyatakan hal demikian adalah lumrah karena terdapat keinginan untuk menghindari cedera ego. Namun, perilaku yang berlebihan ini justru berdampak buruk bagi kesehatan komunikasi interpersonal antar anggota keluarga. Alih-alih berfokus pada upaya mengurai konflik, mereka justru lebih sibuk mencari pembenaran dengan mengkambinghitamkan individu lain. Melalui cara buruk yang semacam itu, bukan tak mungkin salah seorang dari mereka merasa inferior, merasakan tekanan dengan intensitas emosi negatif yang cukup tinggi. Apalagi bila hal tersebut terjadi berulang kali. Akhirnya konflik-konflik akan mengendap, lantas menjadi bom waktu yang setiap saat dapat meledak menjadi krisis bagi suatu keluarga. Tentu yang demikian itu tidak pernah diinginkan oleh tiap-tiap keluarga.

Sebuah konsep baru mengenai faktor protektif untuk menghadapi krisis semacam itu muncul melalui kajian indigenous yang dikonstruksikan oleh Ki Ageng Suryomentaram, yang dipopulerkan melalui terminologi kawruh jiwaKawruh jiwa merupakan suatu paradigma berpikir reflektif berdasar kesadaran atas kenyataan, demi tercapainya kedamaian dalam hidup. Kawruh jiwa membabar beberapa bagian,  salah satunya adalah kawruh laki rabi, yang banyak menyinggung persoalan pernikahan dan keluarga.

Kawruh jiwa merupakan suatu paradigma berpikir reflektif berdasar kesadaran atas kenyataan, demi tercapainya kedamaian dalam hidup.

Keluarga Kawruh Jiwa

Istilah di atas adalah sepenuhnya ngawur; maksud saya, Suryomentaram tak pernah menyatakan secara eksplisit mengenai istilah tersebut dalam ajaran kawruh jiwa. Namun benar adanya bahwa Suryomentaram menjelaskan panjang lebar mengenai kawruh laki rabi (pengetahuan tentang pernikahan) sebagai suatu asas demi tercapainya keluarga yang bahagia. Sebab menurut Diener (2000) kebahagiaan hanya dapat dicapai oleh individu yang sehat secara fisik maupun mental. Artinya, kebahagiaan berpaut secara langsung terhadap kesehatan mental individu. Dalam hal ini, kebahagiaan kolektif keluarga sama artinya dengan tingkat kesehatan mental keluarga itu. Dengan demikian, keluarga yang menginternalisasikan nilai-nilai kawruh laki rabi secara implisit dapat dikatakan sebagai keluarga yang secara sadar dan terus-menerus menangkap kenyataan dengan cara yang sebaik-baiknya. Berdasarkan sebab itulah saya menyebutnya sebagai keluarga kawruh jiwa.

Sugiarto (2015) memaparkan bahwa menurut ajaran kawruh jiwa, keberlangsungan keluarga membutuhkan 3 hal agar mencapai kebahagiaan: jejodohan, bebojoan, dan sesrawungan. Jejodohan artinya aktivitas seksual yang dilakukan oleh pasangan suami istri demi tercapainya regenerasi. Bebojoan merujuk pada aktivitas kerja sama antara suami istri dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sesrawungan diartikan sebagai asas yang mendasari interaksi suami istri untuk berlaku secara harmonis. Dengan kata lain, kebutuhan pokok hidup yang terdiri dari proses melestarikan kehidupan manusia dan bertahan hidup sudahlah cukup terpenuhi dalam tiga domain di atas.

Kawruh jiwa juga turut membabar tentang bagaimana melakukan resolusi konflik dalam suatu keluarga, yaitu dengan kondo-takon (diskusi; tanya jawab). Melalui proses tersebut, konflik yang dihadapi oleh sebuah keluarga menjadi lebih mudah terurai karena terjadi dinamika komunikasi efektif antar suami istri. Corak kondo-takon lebih menekankan pada pola komunikasi yang tidak memerintah, tidak menuntut, dan tidak mengintimidasi. Artinya, sepasang suami istri hanya akan menyampaikan sesuatu apabila kondisi yang dirasa tidak membuat mereka nyaman (baca: kemunculan konflik), dan bertanya apabila ada tindak yang diperlukan agar ia merasa lebih nyaman (baca: resolusi konflik).

Corak kondo-takon lebih menekankan pada pola komunikasi yang tidak memerintah, tidak menuntut, dan tidak mengintimidasi.

Selain itu, prinsip kawruh jiwa yang menjelaskan mengenai proporsional ideal dalam menjalani hidup adalah Enem-Sa: sabutuhe, sapenake, sabenere, sacukupe, saperlune, samesthine (sebutuhnya, sepantasnya, sebenarnya, secukupnya, seperlunya, semestinya) juga turut andil secara signifikan terhadap komponen yang dibutuhkan dalam resolusi konflik bagi keluarga. Kolase di atas dikonstruksikan sebagai batas-batas dalam memahami lingkar kenyamanan dan kedamaian. Karena, menurut Schwartz dan Gilboa (2021), resolusi konflik memungkinkan munculnya bias ketika terpapar ketidaksiapan ego dan disetir oleh ego masing-masing individu, yang kemudian dapat dipahami sebagai usaha untuk mendapatkan kenyamanan ilusi berupa adidaya ego bagi salah satu pihak.

Homeostasis

Kata homeostasis telah mengalami perluasan yang cukup besar sejak diperkenalkan oleh ahli fisiologi Claude Bernard seabad lalu (Messer, 1971). Homeostasis, menurut Bernard, adalah keadaan mapan dalam kimia tubuh dan fisiologi tubuh yang dipertahankan oleh interaksi kekuatan dinamis yang kompleks. Istilah “homeostasis keluarga” menunjukkan bahwa sebuah keluarga juga memiliki cara untuk menjaga keseimbangan internal sehingga mampu memenuhi tugasnya dan, setelah konflik, sebuah keluarga dapat kembali ke kondisi keseimbangan semula. Stabilitas keseimbangan ini tentu saja dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya mengenai perspektif positif terhadap unit keluarga.

Kawruh jiwa menjawab tantangan di atas melalui konsep berpikir reflektif terhadap hal-hal yang bersifat senyatanya. Dengan berpijak pada prinsip Enem-Sa, sebuah keluarga akan mencapai kondisi dimana komunikasi, resolusi konflik, serta keharmonisan keluarga berada di tingkat paling puripurna. Atau meminjam istilah masyhur bagi pelajar kawruh jiwa, yaitu keluarga akan berada pada tahap, “Saiki, ning kene, ngene, yo gelem.” (sekarang, di sini, begini adanya, maka aku terima). Keluarga yang mampu memahami konstruksi tersebut, ketentraman batin yang dapat melahirkan kesehatan mental kolektif bagi tiap anggota keluarga, barang tentu menjadi nilai positif dalam mempertahankan homeostasis pada keluarga itu sendiri.

Pranala

Kawruh jiwa sebagai konstruksi berpikir reflektif mengakomodir segala hal yang dibutuhkan oleh suatu keluarga. Dinamika keluarga yang berpijak pada ajaran kawruh jiwa menciptakan stabilitas keseimbangan bagi sistem keluarga. Hal ini menjadi penting karena pada akhirnya suatu keluarga dapat mencapai kebahagiaan dan merawat kesehatan mental bagi masing-masing anggotanya dengan cara-cara yang optimal. Selain itu, harapannya juga, konsep keluarga kawruh jiwa ini mampu mempertahankan homeostasis keluarga, terlebih dapat meningkatkan nilai resiliensi keluarga untuk memberikan jaminan ketahanan dalam menghadapi krisis-krisis kelak di masa mendatang

Kukuh S. Aji
Peminat kajian psikologi budaya dan lingkungan hidup. Pelajar Kawruh Jiwa. Menulis puisi, cerpen, dan kadangkala esai. Bermain paruh waktu di Madrasah Rasa Center.