Salam, Salam Sate Usus!

Pembaca Langgar.co yang budiman.  Izinkan saya,  mewakili wisagenit beserta rombongan memperkenalkan diri. Bila diperkenankan, saya bersama rombongan kethoprak Wedi Tanggapan alias Wedi Pentas ini akan Sanja, menyambangi pembaca Langgar sekalian. Entah nanti sebulan sekali, dua bulan sekali, atau, tidak sama sekali. Tergantung redakturnya nanti.

Perkenankan saya uluk salam, kula nuwun dan nuwun sewu jika di kemudian waktu datang bersama crew wisagenit: mbah Sutandharu,  pak dhe Togog, pak dhe Bagong, juga lainnya.  Pun Yuantiwedi, istri satu-satunya, only one dari Wisagenit.

Nuwun sewu,  sekali lagi, barangkali jika nanti,  tulisan yang disajikan juga ora pakra, atawa tidak mbentuk,  jauh dari ngilmiah,  akademik dan dhakik-dhakik sebagaimana yang biasa termuat dalam situs ini. Maafkan bila wisagenit dan rombogan kethoprak tanpa juragan ngebaki, memenuhi bahkan nyepet-nyepeti pandangan mata sekaligus hidup Anda.  Langsung saja,  lewati jika kami serombongan tiba-tiba mak pecungul hadir di telepon pintar Anda.

~~~

Baiklah, satu per satu,  sekilas akan kami kenalkan teman-teman saya yang juga isinan, pemalu, seperti saya.  Bila nanti ada nama mbah Sutandharu,  beliau ini simbah-simbah yang sering saya sowani,  minta pertimbangan dan sesekali sangu. Beliau sosok yang sering saya sambati.  Simbah, guru saya.  Meskipun sebenaranya ini rahasia lho.  Wong,  saya takut menyebut diri sebagai murid,  karena malu.  Murid yang belum lulus-lulus je.  mBah Sutandharu itu,  ee,  sebentar.  Lain waktu saja.  Sekilas saja perkenalannya.

Kalau pak dhe Togog,  orang yang begitu yakin dalam bersuara terhadap tuannya.  Padahal beliau ini juga abdi rakyat lho.  Punya semacam kedudukan di kotapraja, tapi,  larena begitu sulit menemui beliau,  hanya sesekali saja saya diberi kesempatan berbincang dan menimba ilmu.

Sedangkan Pak dhe Bagong,  perawakanannya memang mirip tokoh panakawan itu,  jadi saya memanggil beliau dengan sebuatan pak dhe bagong,  sebagaimana beliau didaulat di atas panggung pentas.  Beliau juga sangat tidak keberatan. Seniman tulen,  alumni wayang orang tobong era 80-an,  pemain kethoprak beneran.  Dan tentu,  pakar dalam adegan gara-gara .

Kalau Yuantiwedi,  bojo,  istri bocahe Wisagenit, teman setia Wisagneit.  Nyaris setiap hari glundhang-glundhung,  ngalor-ngidul gentoyongan bersama Wisagenit.  Ya,  sesekali juga ikut nonton titer,  atau pementasan di kotapraja.  Meski mereka tinggal di desa, pinggir sawah blejet.  Karena,  sebagaimana kata orang,  hidup itu ajar nonton,  jangan hanya ajar ditonton saja.  Persis seperti ajar mendengar, jangan maunya didengar saja.  Ah,  sudahlah,  malah kayak ngujar-ngujari, menasihati,  bikin mangkel Anda yang memang begitu muak dengan ceramah dan nasihat-nasihat usang.

Izinkan jika nanti  diberi luang juga kesempatan  berbagi pengalaman sehari-hari kami. Juga bersama teman-teman ngangkring kami, Pak Mul, Lik Sangkauni, Mbah Mangun dan lainnya. Karena pengalaman rombongan kami, kethoprak tanpa juragan ini, ya  cuma pengalaman di angkringan atawa warung koboi.  Bukan  di kawasan yang elit bin ngedab-edabi semacam kampus, kafe, atau tempat-tempat lain.  Juga bukan  dari ruang-ruang ngaji yang serius dan layak diikuti. Porsi kami sebagai rombongan kethoprak wedi pentas, ibarat makanan adalah krupuk. Ada atau tidak tetap aman saja. Menu utama, sudah tersedia kaya juga di situs ini.

Sekali lagi,  ocehan Wisagenit beserta rombongan anggap saja obrolan saat Anda di angkringan.  Angkringan yang ada radionya.  Kadang terdengar siaran klenengan,  dangdut lama juga koplo, dan sesekali pengajian. Pun sesekali akan lewat iklan-iklan obat sakti dan ajaib.  Saat baca Anda boleh makan di dingklik kayu sambil jegang,  atau nyruput wedang teh nasgithel, menikmati es teh atau menyendok sega kucing sambel teri. Kemerdekaan sepenuhnya di tangan Anda.

~~~

Kula nuwun,  saya bersama Wisagenit dan rombongan mengucapkan terima kasih jika nanti bisa belajar nulis ala cekeremes dan ndesa ini. Semoga Anda tidak pusing dan tensi Anda naik.  Kalau tensi naik,  tolong dicek,  semoga bukan karena tulisan ini,  barangkali ada penyebab lain. Mungkin soal pacar,  uang kos yang belum ada,  atau mungkin tugas rumah,  kumbahan yang menumpuk,  atau,  honor tulisan yang belum masukk rekening. Atau deadline yang belum tunai. Ya, silakan dicek terlebih dahulu.

Salam jumpa dengan kami,  rombongan kethoprak jarang tanggapan ini. Mari kepalkan tangan, kita gemakan,  Salam sate usus!

 

Sukandar

Juru catat rombongan

Sukandar (Cak Kandar)
Sukandar adalah seorang penyair serta merupakan punggawa utama di Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta.