Memahami Sengkarut Adat Melalui Burung Kayu

Burung Kayu

Sebagaimana lazimnya masyarakat adat saat ini yang terus menerus menghadapi ironi‒mulai dari gempuran modernisasi, kepercayaan asing yang menghegemoni dan mendiskriminasi secara sistemik‒Niduparas Erlang melalui novelnya yang berjudul Burung Kayu (2020) mencoba memotret kegetiran dan berbagai kompleksitas persoalan yang dialami oleh masyarakat adat Mentawai. Mereka gagap dan limbung, hingga akhirnya dipaksa oleh keadaan untuk terus mengarus guna mempertahankan identitas diri, tanah serta kepercayaan leluhur.

Niduparas Erlang, berhasil menertawakan kegetiran yang dialami masyarakat adat dengan nada satire, dengan sentilan-sentilan terhadap para penguasa: negara, kepercayaan asing, serta modernisme. Namun, ia tidak mengutuknya. Alih-alih ia mencoba untuk mengiyakan berbagai idiologi asing sebagai sebuah kehendak zaman yang tidak bisa dihindari. Dan karenanya, ia mencoba objektif dengan menghadirkan sedikit sentuhan optimis tentang yang ‘asing’, yang ‘lain’ dan kritik terhadap adat dengan tetap menjadikannya sebagai Subjek kendati sebagian besar bernada getir.

***

  Novel ini dibuka dengan ‘Maturuk (1)’, bab pertama yang sebenarnya merupakan puzzle terakhir dari ‘masa lampau’, menjadi titik berangkat sekaligus konteks novel. Bab ini mengisahkan ritual pentahbisan sebagai sikerei, sosok yang dipilih sebagai pusat semesta dalam adat yang mereka yakini, menjadi penghubung antara dunia kiri para arwah dan dunia kanan para manusia. Bab ini dilanjutkan dengan sub bab ‘Silumang’, puzzle lain yang masih belum beraturan. Nidu sepertinya sengaja membiarkan pembaca mengambil jeda untuk bab-bab yang tidak dipahami karena alur yang acak, seperti memungut puzzle demi puzzle untuk bisa memahaminya secara menyeluruh.

Sub bab ‘Silumang’ berkisah tentang keluarga inti ‘batih’ terdiri dari para tokoh utama Saengrekerei, Taksilitoni dan Legeumanai kecil. Mereka memisahkan diri dari keluarga besar ‘uma’ menuju barasi, sebuah desa buatan milik pemerintah. Alur dalam sub ini berjalan mundur ke belakang, dari kepergian mereka ke barasi hingga awal mula keluarga batih ini terjalin. ‘Silumang’ berkisah tentang Saengrekerei yang birahi terhadap Taksilitoni, janda kaka kandungnya sendiri yang kemudian ia jadikan istri. Dalam sub bab ini Nidu memulai sentilan pertamanya terhadap penguasa.

“Barangkali, mereka sungguh-sungguh berencana pindah -sebagaimana dibincangkan dalam paruru’ malam itu -atau sekadar mengikuti anjuran pemerintah yang konon menjanjikan kesejahteraan sekaligus menawarkan konsep kemajuan pembangunan. Kesejahteraan -kemajuan yang juga pernah ditawarkan pemerintah pada masa teteu-nya dulu, yang disambut-diterima dengan sukacita oleh sebagian uma, tapi ditolak-dihindari oleh uma mereka yang memilih menyingkir ke hulu. Pembangunan yang hingga kini terus saja didengungkan Dinas Sosial yang katanya untuk “memajukan” mereka dan “mengejar ketertinggalan”.

Kritik terhadap pembangunan pemerintah dipertegas dengan pernyataan tokoh yang mengatakan bahwa kepergiannya ke barasi, salah satunya karena percekcokan yang terus menjadi dalam ‘uma’. Masing-masing saling rebut harta waris hingga isu adanya proyek pembangunan pemerintah yang terus meluas, juga ihwal pelarangan memelihara babi, salah satu makanan pokok mereka. Sentilan terhadap negara tidak saja dilakukan melalui percakapan-percakapan, namun juga melalui penamaan, sebagaimana para tokoh menamai anjing mereka dengan kata ‘pemerintah’ dan ‘sistem’. Dan saya kira, penyebutan dunia roh, dunia nenek moyang yang sangat di hormati dengan sebutan dunia sebelah kiri, juga tidak lain ditujukan untuk mengonter anggapan buruk terhadap yang ‘kiri’, yang dalam sejarahnya hingga hari ini terus-selalu didengungkan para elit penguasa.

Pada bagian ‘Umat Simagere’, sebagaimana ‘Silumang’ juga memiliki alur mundur. Mengisahkan tentang Aman Legeumanai yang tengah mengukir burung kayu untuk ditenggerkan di pohon katuka, pohon tinggi besar dan tak lagi berdahan di bantaran sungai roh kunang-kunang. Burung kayu bagi mereka, adalah simbol kemenangan terhadap lawan, uma lain di lembah seberang. Aman Legeumanai adalah suami Taksilitoni, kakak kandung dari Saengrekerei. Bagian ini mengisahkan tentang permusuhan abadi antara suku-tunggul-kelapa dan suku-sura’boblo, leluhur Saengrekerei. Seekor babi yang dijadikan alat toga pernikahan, kembali ke majikan sebelumnya dan kemudian menjadi santapan pesta. Dalam aturan adat mereka, hal tersebut adalah sebuah kesalahan dan karenanya harus membayar tulou, denda adat. Sayangnya, pelaku mengingkarinya dan karena itulah pertengkaran abadi antar kedua suku terjadi.

Bab kedua yakni Muturuk (2), melanjutkan proses pentahbisan bagi sikerei muda, tentang mantra pemanggil arwah, tentang berbagai sesembahan, dan sikerei yang terus menari tiada henti. Ia terus meloncat-loncat ke dalam api, menarikan tarian bilou yang bergelantungn dari dahan ke dahan. Sampai di sini, Niduparas Erlang berhasil membuat pembaca mengerutkan dahi, menebak-nebak maksud dari sajian Muturuk (2). Dalam novel ini ada empat bab yang ditandai dengan Muturuk (1), (2), (3), dan (4) yang masing masing berkisah tentang ritual pentahbisan sikerei. Saya tidak yakin apakah ini semacam bab yang masing-masing terdiri dari beberapa sub bab, atau merupakan bab yang berdiri sendiri dan dengan demikian bagian Muturuk (1), (2), (3), dan (4) hanyalah semacam jeda. Tetapi mari kita sepakati bahwa Muturuk (1), (2), (3), dan (4) adalah bab yang terdiri dari beberapa sub bab.

Pada bagian ‘Semak Popoupou’ melanjutkan mundurnya alur menuju pertemuan antara Aman Legeumanai dan Taksilitoni. Perjumpaan dua insan, perpaduan dua hati yang saling menghasrati satu sama lain, seperti tercermin pada tiga paragraf berikut:

“Membayangkan ciuman itu -sebagaimana ciuman salah saeorang bajak-nya dengan perempuan entah siapa yang sempat dipergokinya di dalam hutan -darahnya berdesir sembari matanya lekat menatapi bibir Taksilitoni yang tengah menjepit dan menggigit ulat sagu terakhir”.

“Liur di mulut Bagaiogok memburai, tapi tenggorokannya terasa kerontang. Bagaiogok menelan ludah dan menelan ludah. Terasa benar berahi dalam dirinya membadai, dan debur jantungnya serupa ombak yang bergulungan menghantam tebing terjal curam di sisi barat pulau ini. Barangkali, rindunya yang sedemikian dalam mesti dituntas-lunaskan senja ini juga”.

 “Napas keduanya saling memburu. Berkejaran. Seperti anjing-anjing yang menyalak mengejar babi hutan buruan yang terluka”.

Sampai di sini, Nidu berhasil mengecoh pembaca. Membaca bab sebelumnya, Nidu membuat pembaca berfikir bahwa Novel ini akan dipenuhi suguhan tentang permasalahan internal adat Mentawai, tentang percintaan atau cekcok antara dua pria kaka dan adik memperebutkan perempuan Taksilitoni hingga membuat uma mereka pecah misalnya. Atau, melanjutkan kisah perang abadi antar suku, dan babi-babi barangkali. Tapi rupanya tidak. Kisah-kisah selanjutnya bergerak menuju tempat yang lebih luas, dengan alur maju mundur dan tidak terprediksi. Sebuah kerumitan dalam memahami, namun sekaligus memaksa otak untuk berkreativitas lebih, menyelami berbagai makna yang tersaji dalam setiap puzzle. Nidu seolah sengaja memberi banyak celah agar pembaca memiliki banyak tafsir. 

Dalam ‘Katuka’, mengisahkan tentang Aman Legeumanai yang berhasil memanjat pohon katuka untuk menenggerkan burung kayu, pertanda ia telah mengalahkan lawan di seberang lembah. Sebuah gambaran kebanggaan akan diri sebagai seorang laki-laki yang berhasil mengalahkan suku lawan. Dari ketinggian pohon Katuka, ia melihat anaknya, Legeumanai kecil yang menari-nari menyambut kemenangan ayahnya. Namun di saat bersamaan, kebanggaan itu terenggut oleh penyakit malaria yang ia dera sejak lama. Ia, kembali ke semesta pencipta, menyusul para arwah moyangnya.

Kematian tokoh Aman Legeumanai saat memanjat pohon katuka guna mentenggerkan burung kayu, menjadi titik balik dari novel ini. Burung kayu, sekali lagi, dianggap sebagai simbol kemenangan peperangan bagi mereka yang sedang terlibat pako’. Dan saya kira, hal itu menjadi salah satu alasan kenapa ‘Burung Kayu’ dijadikan judul.

Burung kayu, sekali lagi, dianggap sebagai simbol kemenangan peperangan bagi mereka yang sedang terlibat pako’. Dan saya kira, hal itu menjadi salah satu alasan kenapa ‘Burung Kayu’ dijadikan judul.

 Pada ‘Ti ti’ Gagai’, Nidu menyajikan kegetiran sebagai perempuan ketika ia menjanda. Satu isu yang menjadi titik balik kritik terhadap diri, terhadap masyarakat adat.

“Setelah usai segala ritual, setelah eeruk yang menandai akhir masa berduka dan keluarga uma suaminya boleh memakai lagi berbagai bagai warna ceria, Bai Legeumanai mesti bersiap untuk kembali ke uma orang tuanya. Kembali ke haribaan saudara-saudara lelakinya, menanggalkan nama Bai Legeumanai, ibu dari Legeumanai, dan menyandang sebutan sebagai silumang atau kembali mengenakan nama kecilnya: Taksilitoni.”

“Sementara Legeumanai, anak lelaki satu-satunya, akan mewarisi segala yang ditinggalkan mae-nya: berpuluh ekor babi, ber-long-long ayam, beratur batang sagu, berpuluh batang pohon durian, kelapa, langsat, sebilah parang, kuali, dan kelambu-kelambu. Tentu setelah semua itu dijaga-dirawat para bajak-nya -yang mungkin sebagian akan mereka ambil dan warisi-hingga Legeumanai dianggap matang untuk menerima dan mengelola segalanya. Selain itu, Legeumanai juga akan mewarisi nama uma atau suku dair mendiang mae-nya yang akan diterakan di belakang namanya.”

“Betapa berat duka perempuan-janda. Bahkan, anak lelakinya pun akan direnggut-diceraikan darinya.”

Isu perempuan adat juga diwujud-tampakkan pada sub bab selanjutnya, ‘Tippu Sasa’. Seorang bayi di barasi mereka, anak Bai Sanang, mengalami sekarat meski kelahiran bayi sudah dimantrai dedaunan dan ditempelkan di kening, meski para sikerei telah diminta untuk mengusir roh jahat yang mengganggu mereka, namun nafas bayi tetap tersengal. Bai Sanang ibu si bayi lemas, tak mampu berbuat apapun sementara suaminya, Aman Sanang, pergi menemui keluarganya untuk berunding apakah bayi bisa di bawa ke Puskesmas atau tidak. Jika Bai Sanang nekad membawa ke Puskesmas tanpa persetujuan pihak keluarga suami dan si bayi meninggal dalam perjalanan, atau setelah dari Puskesmas, maka ia akan dikenakan tulou, denda adat.

“Bai Legeumanai bermenung dan barangkali merasa beruntung. Ia tahu bahwa tak banyak yang berubah bagi perempuan-perempuan di dusunnya, sejak tinggal di uma keluarga suami di hulu sampai menetap di barasi. Segala keputusan tetap mesti dirundingkan oleh para lelaki. Hanya oleh para lelaki. Sementara para perempuan, hanya boleh mengikuti segala keputusan keluarga suami. Namun, ia merasa cukup beruntung karena Saengrekerei begitu sering mendengarkan keluhannya, dan kerap mengambil keputusan dengan memeprtimbangkan keinginannya. Bahkan, keputusan untuk tetap bertahan di barasi setelah kekacauan antara suku-kembang-bambu dan suku-rumpun-tebu bertahun lalu, adalah karena keteguhan hati Bai Legeumanai yang tak mau kembali ke uma di hulu” (H.97).

Dalam keseluruhan isi novel, Niduparas Erlang menyentil berbagai isu seperti pariwisata, lingkungan, pendidikan, perebutan lahan, jawaisasi dan termasuk penggantian makanan pokok dari sagu ke beras yang keseluruhannya bernada satire. Namun, dalam isu perempuan, Nidu seolah ingin membeberkan bahwa yang ‘asing’, yang ‘lain’ juga tidak selamanya buruk. Sebaliknya, masyarakat adat juga tidak digambarkan sepenuhnya sebagai korban dan sepenuhnya baik. Dalam kasus bayi yang sekarat, Saengrekerei, si kepala desa yang sudah belasan tahun tinggal di barasi dan banyak bersinggungan dengan orang asing yang ‘modern’, justru memperlakukan istrinya dengan lebih baik dibandingkan dengan para pria di uma-nya terdahulu, atau pria di barasi lainnya yang tidak banyak bersinggungan dengan orang asing.    

Masih dengan kasus yang sama, melalui percakapan Bai Legeumanai dengan perempuan lainnya, Nidu berusaha menengahi konflik antara pihak adat yang meyakini upaya penyembuhan tradisional, dengan pihak asing yang mengupayakan penyembuhan secara modern. Ia tetap menempatkan tokoh -masyarakat adat dengan segenap cara-cara tradisionalnya sebagai Subjek. Di sisi lain, ia juga menghadirkan tokoh modern, Bu Dokter sebagai sosok terdidik yang bijaksana, yang mampu memahami kondisi para perempuan di barasi. Nidu berusaha untuk menyajikan sengkarut permasalahan yang dialami masyarakat adat sebagai sesuatu yang objektif. Kadang-kadang menyentil yang ‘lain’, kadang menghadirkan kelemahan Subjek utama. Berbagai perubahan yang dialami masyarakat adat, ditanggapi sebagai sebuah laju zaman yang perlu diiyakan, kendati terasa getir.

“Sembari menyimak pembicaraan itu, Bai Legeumanai membayangkan dokter dan para perawat di Puskesmas bekerja sama dengan para sikerei dalam menangani orang sakit. Ia sadar bahwa dunia di sekelilingnya telah berubah, meskipun perempuan-perempuan di dusunnya tak mampu menjadi perempuan-perempuan yang boleh mengambil keputusan sendiri, sebagaimana Istri guru Baha’I atau Bu Dokter yang murah senyum ini. Tapi ia membayangkan, yang kemudian disampaikannya kepada Bu Dokter dan Istri Guru Baha’I bahwa mungkin akan baik jika sikerei dan dokter kerja sama”.

“Bai Legeumanai membayangkan kerja sama antara dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Benda-benda baru yang berdatangan dari luar bisa diperkenalkan kepada benda-benda lama agar bajou-bajou yang dimiliki benda-benda itu tak saling mencelakai. Obat-obatan bisa diperkenalkan kepada dedaunan-baik. Peralatan medis di Puskesmas bisa dipertemukan dengan jejenang dan lagu-mantra para sikerei.”

Dalam ‘Tippu Sasa’, alur cerita kembali ke depan, melanjutkan kehidupan para tokoh: Saengrekerei, Taksilitoni yang sudah menjadi istrinya, dan anak angkatnya sekaligus ponakannya Legeumanai kecil ketika memulai hidup baru di barasi, sebuah desa buatan pemerintah yang masing-masing rumah merupakan keluarga primer, bukan dalam keluarga besar sebagaimana kehidupan mereka sebelumnya di uma. Dalam ‘Bara di Barasi’, dan bagian selanjutnya para tokoh akan dipertemukan dengan kehidupan modern, negara dan kepercayaan asing. Puzzle-puzzle yang penuh kritik dan kegetiran sebagai masyarakat adat yang secara sistem terdiskriminasi dan terasingkan dari tanah dan kepercayaannya sendiri. Mereka yang terombang ambing, bimbang pada jalan kehidupan, antara bertahan sebagai diri, atau bertahan dengan menjadi yang ‘lain’.

 “Di bawah tatapan polisi, tak ada lagi anak-anak muda yang bernyali merajah tubuhnya dengan ti’ti. Tak ada lagi sikerei-sikerei yang mengakui diri sebagai yang paling sakti. Semua orang sekadar mengaku sebagai simata belaka- sebagai orang awam saja. Sebagian mengaku telah menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Bahkan, sebagian benar-benar mencampakkan bakkat katsaila dan menggantinya dengan besi-kecil-bersilang yang dengannya, konon, seorang di suatu tempat teramat jauh -beratus tahun yang lalu- telah diangkat ke surga.”

 Sentilan terhadap kepercayaan asing juga nampak pada bagian ‘Tippu Sasa’ (94). Nidu menggambarkan masyarakat adat yang berpindah agama dikarenakan alasan-alasan remeh seperti ingin mendapatkan mie instan dan beras. Mereka yang memilih menjadi muslim tapi tak rela kehilangan jatah makan babi. Atau memilih agama lain yang diizin-fasilitasi negara karena alasan serupa, untuk mendapatkan keuntungan praktis termasuk keamanan.

“Minggu kemarin kau ke mana?” tanya si lelaki juling kepada si kuku-titik-air. “seepertinya kami tak melihatmu di gereja?”

“Saya pindah ke hari Jumat”

“Hari Jumat?” tanya yang lain berbarengan.

“Saya Sipuisilam sekarang.”

Eiii, Sipuisilam…Tak boleh makan babi.”

“Tak. Tapi seminggu sekali saya akan dikasih beras, mi instan, ikan kaleng, juga dikasih kain, kelambu, baju dan ini…,” si suku-titik-air mengeluarkan kopiah hitam dari balik kemeja dan memakainya di kepala.

Eiii…Maeru’, maeru.” Tapi masih lebih bagus luat sikerei.”

 “Tapi kalau ada punen, ada pesta, diberi otcai, saya tak bisa kalau tak makan babi.”

***

Perjumpaan dengan yang ‘asing’, yang ‘lain’ paling dinampakkan pada isu pendidikan. Isu ini menjadi titik loncat perjumpaan masyarakat adat dengan modernisme. Si tokoh, Legeumenei menunjukan transformasinya menuju dunia modern dengan menjadi mahasiswa di Padang. Pendidikan modern yang sebenarnya menceraikan anak-anak adat dari akar budaya mereka, dari berbagai ilmu tradisional yang secara turun temurun diajarkan nenek moyang.  

 

Pendidikan modern yang sebenarnya menceraikan anak-anak adat dari akar budaya mereka, dari berbagai ilmu tradisional yang secara turun temurun diajarkan nenek moyang.  

“Saengrekerei mengingat Legeumanai yang akan segera di jemputnya dari asrama dan dikirimnya ke Padang. Legeumanai yang-sejak kasus pembunuhan antara suku-rumpun-tebu dan suku-kembang-bambu- tak lagi diajarinya berburu, menumbangkan sagu, atau memelihara babi. Legeumanai yang tak pernah berulah dan hanya mementingkan sekolah dan sekolah dan sekolah. Legeumanai yang penurut dan selalu mengikuti ke mana ia berpindah agama. Legeumanai yang tak lagi mewarisi gaya hidup di uma…”

Tokoh Legeumanai, juga merepresentasikan anak-anak adat umumnya yang mengalami krisis identitas, antara berpegang teguh dengan kepercayaan leluhur, meninggalkannya, atau mempraktikkan keduanya. Dalam perjalanannya, ia Legeumanai meninggalkan adatnya sendiri, mencicipi berbagai agama asing: Baha’I, Katholik, Protestan, dan akhirnya kembali ke kepercayaan adat leluhurnya ‘Sabulungan’ namun sekaligus tetap menjadi muslim. Memeluk salah satu agama yang diizin-fasilitasi negara namun disaat bersamaan membelakanginya dengan tetap mempraktikkan kepercayaan leluhur adalah fenomena yang banyak dilakukan masyarakat adat di nusantara.

“Dan kita mesti menerimanya. Kita pernah mengenal Baha’I, agama persaudaraan. Itu baik. Tapi kita pernah juga jadi Protestan. Itu juga baik. Lalu kita pindah ke Katolik yang lebih berkenan menampung peninggalan-peninggalan leluhur kita. Itu juga baik. Arat Sabulungan ataupun arat Katolik dan arat Isilam, tak mesti kita pertentangkan.”

 Legeumanai kembali pulang, memikirkan perjalanan yang pernah ia tempuh, dan cerita-cerita mae-nya tentang Arat Sabulungan beserta kisah-kisah nenek moyang yang telah lama ia tinggalkan. Ia pulang untuk memenuhi panggilan para arwah yang menginginkannya menjadi pusat semesta, menuntut berkat dari Ulaumanua dengan menjadi sikerei. Prosesi pentahbisan yang termaktub pada Maturuk (1), (2), dan (3). Sebuah awal dan juga akhir dari ‘Masa lampau’. Dan kepingan-kepingan puzzle pada akhirnya dirampungkan oleh Maturuk (4).

Bagian terakhiradalah permulaan dari Masa kini’, sebuah ritual pentahbisan sikereisikerei kecil dihadapan kamera dan para dewan juri festival, ritual pentahbisan tanpa sakralitas yang ditujukan untuk mengundang pengunjung wisata. Dan itulah ‘Masa Kini’, sebagaimana yang dialami banyak masyarakat adat, penganut kepercayaan leluhur lainnya di nusantara.

***

Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang (2020), hanya berisi 174 halaman dengan alur cerita yang berloncatan maju mundur dan serapan bahasa lokal yang banyak dijumpai dan harus dipahami sendiri oleh pembaca. Meski membuat pembaca sedikit mengerutkan kening, saya kira dua point terakhir tidak begitu substantial untuk dipermasalahkan dan mungkin justru dimaksudkan sebagai strategi untuk memancing kreativitas penafsiran pembaca. Namun bagi saya, novel ini terlampau dipadati isu. Seluruh isu yang masuk seolah hanya percikan-percikan permukaan. Nidu nampak serakah ingin memasukkan semua ide: percintaan, konflik internal antar suku, agama dan kepercayaan, perempuan, isu lingkungan, konflik perebutan lahan, jawaisasi, pendidikan juga pariwisata. Namun, masing-masing isu masuk dengan begitu tanggung, terasa tidak utuh.

Buku Langgar Shop
Chusnul C
Mahasiswa Center for Religious and Cross-Culture Studies (CRCS) UGM. Kini tengah sibuk bermain-main dengan kucing kesayangan si ‘Kaleng’. Kalau mau lihat foto-foto kucingku, boleh dikontak di email dhelotus@gmail.com atau instagram Dhedhe Lotus.