Mengail Jejak Sejarah Desa di Daerah Tulungagung

Desa jarang terbukukan dari sisi sejarah, kecuali dalam kerja-kerja penelitian. Pun narasi sejarah mengenai desa kebanyakan disampaikan secara turun-temurun melalui tutur lisan. Parahnya, karena tidak ada bukti otentik yang menguatkan, sejarah desa dari tutur lisan ini kerap dianggap tidak valid dalam kacamata ilmiah; mitos, dongeng, dan legenda.

Hanya saja, saya merasa narasi sejarah desa yang berangkat dari tutur lisan ini cukup penting untuk terbukukan karena mengingat dua hal; Pertama, sejarah desa di masa silam dituturkan oleh para pendahulu yang diyakini pernah mengalami peristiwanya secara langsung, baik terlibat maupun mendengar tuturan dari pendahulunya. Kemudian yang kedua, sejarah desa memiliki muatan penting bagi generasi yang datang sesudahnya sebagai pengingat jati dirinya bermuasal dari siapa, bagaimana jalan ceritanya, dan seperti apa jati diri itu peroleh relevansi dalam konteks kekinian.

Agus Ali Imron Al Akhyar di bukunya bertajuk Membingkai Tradisi Tutur Lisan di Daerah Tulungagung (2021) memberi penjelasan lebih lanjut mengenai pentingnya mengamati kemudian mempelajari sejarah desa. Ia memberi keterangan bahwa setiap desa, bahkan dusun sekalipun, memiliki sejarah yang mungkin hari ini jarang ditilik sebagai bagian dari khazanah pengetahuan. Katanya di buku: “Antar wilayah desa memang memiliki perbedaan jejak-jejak sejarahnya, bahkan dusun pun sudah berbeda kisah asal mula penamaan dusun yang terdapat di daerah lainnya. Untuk itu keragaman kisah sejarah yang dituturkan oleh sebagian warga adalah kekayaan tradisi tutur mengenai sejarah lokal” (hlm, 20).

“Antar wilayah desa memang memiliki perbedaan jejak-jejak sejarahnya, bahkan dusun pun sudah berbeda kisah asal mula penamaan dusun yang terdapat di daerah lainnya. Untuk itu keragaman kisah sejarah yang dituturkan oleh sebagian warga adalah kekayaan tradisi tutur mengenai sejarah lokal” (hlm, 20).

Di buku itu ia membeberkan sekian pembentukan desa di Tulungagung dari dulu sampai sekarang. Kendati kajiannya terkesan spesifik ‘hanya’ di Tulungagung, namun pola yang digali saya rasa juga dapat digunakan untuk mengurai benang kusut sejarah desa-desa dari daerah lain.

Melalui istilah ndudhuk, ndhudhah, dan gugah, ia memberi jalan mudah bagi siapa saja yang tertarik untuk meniti khazanah sejarah di desanya sendiri. Ndudhuk sebagai langkah awal dengan cara menggali informasi kepada siapa dan apa saja yang ada di desa. Namun itu saja belum cukup, jika ndhudhah sebagai langkah untuk menambah daftar bacaan yang berkaitan dengan desanya tidak dilakukan. Kedua langkah ini lamat-lamat akan memicu munculnya perasaan gugah atau tergugah, lantas menarasikannya sesuai data-data yang diperoleh, dipilah, dan teranalisis (hlm, 47).

Dalam penelusurannya, ia menemukan bahwa kebanyakan desa di Kabupaten Tulungagung memiliki kaitan erat dengan situasi Perang Jawa yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro (hlm, 83). Sekian pengikut lari menyelamatkan diri pasca ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh kolonial. Mereka berstrategi dengan beralih nama, membabad desa baru, dan memberi piwulang kepada generasi yang akan menyambut masa kecamuk sebagai bekal supaya tidak mudah goyah oleh tekanan kondisi dan situasi.

Sekian pengikut lari menyelamatkan diri pasca ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh kolonial. Mereka berstrategi dengan beralih nama, membabad desa baru, dan memberi piwulang kepada generasi yang akan menyambut masa kecamuk sebagai bekal supaya tidak mudah goyah oleh tekanan kondisi dan situasi.

Kendati dugaan tanda masanya ditemukan, namun Agus tetap kesulitan untuk menemukan secara persis atau minimal mendekati benar ihwal tahun berapa desa-desa di Kabupaten Tulungagung itu mulai ada. Desa mana saja yang menjadi awal lantas dimekarkan menjadi banyak desa. Dan desa mana yang beralih nama, dihilangkan, atau muncul lagi dengan bentuk desa yang baru setelah negeri ini mencercap kemerdekaan.

Tapi baginya, menggali sejarah desa tidak hanya berkaitan dengan urusan tahun berapa, meski ini pun tetap menjadi tugas penting untuk ditemukan. Katanya di buku itu: “Memahami dan mempelajari sejarah lokal (desa) tidak hanya urusan mengingat maupun menghafal angka-angka tahun dan suatu peristiwa yang sudah terjadi saja, melainkan nilai-nilai humanisme yang harus dimunculkan untuk mendapatkan intisari dari peristiwa sejarah” (hlm, 102).

“Memahami dan mempelajari sejarah lokal (desa) tidak hanya urusan mengingat maupun menghafal angka-angka tahun dan suatu peristiwa yang sudah terjadi saja, melainkan nilai-nilai humanisme yang harus dimunculkan untuk mendapatkan intisari dari peristiwa sejarah” (hlm, 102).

Nilai humanisme ini menurutnya dapat ditemukan dan digali dalam narasi babad sejarah desa dengan penuturan lisan secara turun-temurun tersebut. Karena babad desa tidak hanya berarti ada orang yang membuka hutan untuk pemukiman penduduk, lantas lamat-lamat ramai dikunjungi orang untuk menetap dan beranak-pinak. Tetapi, babad desa juga berarti, ada orang datang yang di situ sudah ada pemukiman penduduk, meski kuantitasnya masih sedikit. Orang tersebut lantas memberi sentuhan warna baru atau mengubah peradaban yang semula dirasa kurang pantas menjadi lebih baik (hlm, 115). Ketika wafat, ia dimakamkan, dihormati, dan kisah hidupnya diceritakan secara turun-temurun.

Masyarakat desa di Kabupaten Tulungagung sendiri, biasanya menandai makam pembabad desa ini dengan adanya sebuah petilasan atau punden (hlm, 117). Tempat ini dinilai keramat dan bertuah. Siapa saja yang berbuat sembrono apalagi tidak senonoh, malapetaka bisa datang dengan tiba-tiba. Pun sebagai wujud rasa syukur, beberapa desa di Kabupaten Tulungagung masih melestari-tunaikan bersih desa di setiap tanggal 1 di Bulan Syuro.

Selain makam pembabad desa, buku ini juga memberi uraian beberapa tanda yang menjadi bagian dari sejarah desa di masa silam yang masih lestari sampai sekarang: tugu pembatas desa, balai desa, dan pasar. Bahkan tanda-tanda ini semakin jamak ditemukan dengan sentuhan modern dan berestetika, namun mereka alpa untuk merawat makna-makna adiluhung yang melekat di dalam tanda-tanda tersebut.

Seperti misal, ada beberapa tugu lama di desa-desa di Kabupaten Tulungagung masih bisa ditemukan, kendati rupa wujudnya sudah kotor, berdebu, berlumut, dan sebagai sandaran baliho kampanye partai politik. Lazimnya, warga memilih membangun tugu baru yang lebih gagah, indah, dan tentu saja menelan sekian puluh juta dari anggaran desa daripada merawat kembali tugu yang sudah ada sejak lama. Padahal tugu lama itu menjadi semacam wujud prasasti kekuasaan dari pemerintahan desa di masa silam (hlm, 239). Ada kemungkinan juga, tugu itu dibangun untuk menandai peristiwa tertentu, supaya generasi yang datang sesudahnya tetap merawat ingat ketika menatap kisah suka atau ratap melalui simbol tugu yang ada di desa.

Kemudian berkaitan dengan balai desa, saya rasa setiap desa di Kabupaten Tulungagung sudah memilikinya. Karena antara kantor kerja milik perangkat desa dengan balai desa sendiri saling terhubung. Sampai-sampai warga desa kerap keselip menyebut ingin pergi ke balai desa untuk urusan membuat surat dan semacamnya. Padahal yang dituju adalah kantor kerja kepala desa dan atau carik, bukan balai desanya.

Balai desa ini biasanya dibangun dengan model joglo khas bangunan masyarakat Jawa yang atapnya berbentuk limas. Bangunan ini ditopang dengan soko guru yang jumlahnya genap: 4, 8, atau 12. Selain fungsinya sebagai tempat berkumpul guna membahas program kerja yang selaras dengan orientasi pemerintah (hlm, 244), juga sebagai sarana bagi warga desa untuk melestarikan kebudayaan yang telah ada; guyub dengan ngobrol dan nongkrong, pertunjukan wayang, serta mungkin sebagai garis mulai, finish, atau lokasi penilaian pada karnaval peringatan di bulan kemerdekaan.

Terakhir pasar desa yang menjadi lokasi gerak roda perekonomian bagi masyarakat. Buku ini menemukan nama-nama pasar desa di Kabupaten Tulungagung selalu berkaitan erat dengan lokasi atau peristiwa tertentu. Hal ini pada akhirnya berimplikasi pada waktu operasional pasar. Di buku disebut: “Masyarakat Tulungagung juga mengkombinasikan pasaran Jawa dengan hari-hari biasa, seperti halnya Senin Wage waktunya menjual dagangannya di Pasar Kuncen Karangrejo, karena pada waktu pasaran tersebut suasana pasar semakin ramai daripada hari-hari biasanya” (hlm, 251). Ada kemungkinan masyarakat di masa silam menandai bahwa hari dengan pasaran tersebut sebagai hari baik, sehingga banyak pedagang yang untung berjualan dan pembeli yang merasa puas dengan barang pembeliannya.

Pasar desa ini saya rasa secara tidak langsung juga melestarikan keberadaan pedagang sayur keliling atau bakul ethek. Mereka bisa bertahan di tengah gempuran sayur berlabel segar dan halal di mall, belum lagi dengan penjual sayur via online yang semakin ke sini menjadi marak dilakukan. Dari bakul ethek ini, saya rasa tidak hanya terjadi jual beli semata. Melainkan masyarakat desa juga bisa berkomunikasi secara kolektif, sekali pun terkadang, muatannya berupa desas-desus.

Hanya saja jangan keburu memberi penilaian baik pada buku ini dari narasi yang telah saya sampaikan di atas. Sebab posisi buku ini dalam kajian sejarah, terutama sejarah desa-desa di Kabupaten Tulungagung hanya sebagai pemantik. Karena itu, data dan muatannya cenderung membahas hal-hal tentang desa, tapi yang ada di permukaan dengan pola-pola yang lebih umum.

Selain itu, buku sejarah ini agak sedikit menyulitkan bagi akademisi atau peneliti ketika digunakan sebagai bahan rujukan. Kesulitan itu karena ketidaktersediannya indeks di halaman akhir buku. Sekali pun bisa diatasi dengan melihat daftar pustaka, tapi saya rasa, adanya indeks akan cukup membantu siapa saja yang hendak mengutip atau ingin membaca di bagian tertentu saja.

Kendati demikian, di bagian akhir Agus berpesan pada siapa saja yang hendak menulis sejarah desa bahwa, sejarah desa itu membutuhkan pembahasan yang menyuluruh. Katanya, “Penelusuran jejak sejarah lokal (desa) ibarat jaring laba-laba, satu sama lainnya saling mengait dan memiliki titik temu untuk saling menguatkan antar jaringnya”. Kira-kira begitu.

Judul : Membingkai Tradisi Tutur Lisan di Daerah Tulungagung | Penulis: Agus Ali Imron Al Akhyar | Penerbit : Diandra | Halaman : xvi + 292 halaman | Tahun : September 2021 | ISBN : 978-623-240-250-8

Ahmad Sugeng Riady
Masyarakat biasa merangkap menjadi marbot Masjid Jendral Soedirman di pinggiran Kota Yogyakarta