Beda Lidah, Satu Ibadah

Euforia hijrah yang cenderung fanatik pada tampilan luar, Islam hampir disama artikan dengan Arab. Oknum fanatik hijrah jenis itu meyakini bahwa menjadi Islam haruslah berpakaian layaknya bangsa Arab, perempuan berjilbab bahkan mengenakan cadar, sementara para lelaki seharusnya mengenakan jubah dan bukan sarung apalagi celana.

Selain itu, istilah-istilah dalam kehidupan bersosial pun harus menggunakan istilah Arab untuk dianggap lebih Islami. Sebagai contoh ialah munculnya label syariah pada industri perbankan, perhotelan, industri makanan, dan masih banyak lagi. Jika untuk urusan di sosial-kemasyarakatan saja gejala Arabisme begitu kuat digembar-gemborkan, urusan ibadah dengan Tuhan jelas tidak lepas dari kecenderungan itu.

Gejala Arabisme bisa disimak salah satunya melalui film Doa Suto (2021) hasil kolaborasi NU Online dan Koperasi Film Halte Moencrat. Film yang disutradarai Anton Magaski itu berangkat dari ide cerita budayawan Ahmad Sobary di buku Kang Sejo Melihat Tuhan (Gramedia Pustaka Utama, 1993). Doa Suto menceritakan pergulatan spiritual lelaki berlogat Jawa yang memendam sejumlah pertanyaan mendasar mengenai ibadah salatnya. Maklum, selama ini Suto tak fasih membaca ayat suci, sehingga bacaan salatnya lebih dekat pada logat Jawa yang medok.

Ia sangsi, apakah Gusti Allah berkenan menerima salat hambanya yang tak fasih. Terlebih setelah ustaz yang menyimaknya saat membaca Alquran menyatakan bahwa ketidakfasihan membaca ayat suci membuat salat seseorang tidak sah.

Perdebatan Usang

Suto tinggal di sebuah indekos di kawasan perkotaan. Sementara anak semata wayangnya, Siti tinggal di kampung bersama Sugeng suaminya. Sehari-hari, Suto yang berprofesi sebagai penjahit permak pakaian keliling itu mengendarai sepeda onthel dengan mesin jahit terpasang di bagian belakang. Menyusuri kompleks menawarkan jasa permak pakaian.

Suatu hari, saat Suto sudah siap berangkat kerja dengan kaos oblong dan handuk melingkar di leher, Siti anaknya menelepon. Rupanya Suto ulang tahun. Dalam perbincangan telepon itu, Siti memberi ucapan dan doa untuk keselamatan Suto.

Mendengar ucapan dan doa anaknya, Suto memanjatkan syukur dengan mengucap hamdalah. Ia juga mengajak Siti membaca Surat Al-Fatihah. Logatnya khas orang Jawa yang medok, “alkamdulillah, alpatekah”.

Tak hanya itu, Siti juga menawarkan supaya Suto pulang ke kampung, menyudahi petualangannya mencari rezeki di kota dan tinggal bersama anak dan menantunya. Jawaban Suto khas orang tua pada umumnya yang bertekad mencari penghidupan sendiri selama masih mampu, lantaran enggan menyusahkan anak.

Logat medok Suto saat melafalkan ayat suci dan tekadnya hidup mandiri mengingatkan saya pada nenek di rumah. Tak ubahnya Suto, nenek saya juga melafalkan bacaan-bacaan salat dengan logat njawani, alih-alih fasih tajwid dan makharijul hurufnya. Tapi berbeda nasib dengan Suto yang menghadapi seorang ustaz berpendirian kaku, para kiai di kampung maklum pada pelafalan bacaan salat orang-orang seperti nenek.

Para kiai kampung mafhum, fasih melafalkan bacaan salat itu memang baik di satu sisi, tapi bukan termasuk syarat sahnya salat. Terlebih di kampung dengan kultur kedaerahan yang khas, orang-orang terutama kalangan tua sebagian besar memahami bacaan salat dengan logat khas tempat tinggalnya. Toh ini sama sekali tidak mencederai salat seorang muslim.

Adegan di mana Suto mengaji pada seorang ustaz yang berpendirian kaku berkenaan dengan kefasihan melafalkan bacaan salat lantang menghadapkan penonton pada problema sosial di sekitar. Di mana yang kearab-araban serta merta dianggap Islam dan dibenturkan dengan tradisi-kebudayaan lokal. Padahal sejatinya, dalam konteks keindonesiaan, Islam melebur dan berpadu ritmis dengan budaya lokal masyarakat.

Kalau meminjam lema Gus Dur, keterpaduan Islam dan kebudayaan lokal ini disebut pribumisasi Islam. Islam yang senapas dengan perkembangan kebudayaan masyarakat lokal sejauh keduanya bertemu di jalan kebaikan menjelang ridho Allah SWT. Bagi Gus Dur, agama diturunkan untuk manusia dengan segala kandungan kemanusiaannya, termasuk pluralitas kehidupan sosial dan kulturalnya (Bisri Effendy dalam tulisan pengantar untuk buku Tuhan Tak Perlu Dibela, 1999).

Dengan demikian, memaksakan setiap orang mampu melafakan bacaan salat dengan tingkat kefasihan menyerupai bangsa Arab sama sekali tidak relevan dengan bagi umat Islam Indonesia. Sebaliknya, umat Islam Indonesia yang tersebar di berbagai pulau sangat mungkin lebih menghayati keislamannya justru melalui nilai-nilai kedaerahannya, termasuk aksen-aksen medok saat melafalkan bacaan salat dan ayat suci Alquran.

Semua Bisa Jadi Guru

Di tengah kegalauannya, Suto berbagi cerita dengan Wito, tetangga kos yang sehari-hari menjajakan berbagai penganan di angkringan pinggir jalan. Mulanya Suto ragu-ragu, namun sikap simpati Wito akhirnya mendorong ia curhat juga.

Sembari meniup kopi hitam di cangkir, Suto menyampaikan bahwasanya ia hanya ingin kembali ke hadirat Tuhan dengan amalan salat dan doanya. Namun, selama ini bacaan salatnya tidak fasih. Ucapan ustaz tempo hari tak bisa lepas dari ingatannya. Bagaimana jika selama ini salatnya tidak diterima Gusti Allah lantaran ia tidak fasih.

Menanggapi kekhawatiran Suto, Wito mencoba berbicara dari hati ke hati. Ia mengajak Suto untuk tidak memusingkan urusan fasih, pasalnya Gusti Allah tidak mungkin hanya melihat salat seseorang dari bibir. Lagi pula, jika salat hanya dinilai dari bibir, maka hanya orang Arab yang ada di surga, bangsa lain seluruhnya menjadi penghuni neraka.

Pemahaman Wito mewakili pemahaman keagamaan para kiai NU, yang menandaskan bahwasanya diterima tidaknya amalan salat bukan menjadi urusan seorang hamba. Sebagaimana urusan surga dan neraka yang menjadi hak prerogatif Allah SWT.

“Kita hanya diperintahkan yakin, sebab itu puncak keimanan. Dan keyakinan itu untuk diri sendiri,” ujar tokoh Wito dalam bahasa Jawa.

Wito yang mengaku tak rajin mengaji itu nyatanya mampu menghayati keberagamaannya sesuai ajaran Islam. Sosoknya yang demikian tak bisa dilepaskan dari guru tempat ia menimba ilmu agama. Konon, di angkringan ketika sedang tidak ada pembeli, tokoh Wito menyimak pengajian Gus Baha secara daring.

Barangkali dari pengalamannya menemukan sosok guru dari diri Gus Baha, Wito berani berpesan pada Suto untuk terus mengaji pada seorang ustaz yang mampu menerima segala kekurangannya dalam menjalankan praktik keagamaan. Bukan ustaz yang gampang berang karena ketidaksempurnaannya. Di saat bersamaan, Suto merasa bertemu gurunya.

Pada tengah malam, sepeda onthel dengan mesin jahit di bagian belakangnya terparkir di halaman musala. Saat hendak mengumandangkan azan subuh, Wito menemukan Suto sangat khusyuk dalam sujudnya. Di atas atap musala, rembulan mekar sempurna.

Buku Langgar Shop
Rizka Nur Laily Muallifa
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo. Berpamrih di @lailymuallifa