Dian Hardiana, penyair kelahiran Bandung, 25 Januari 1983 ini boleh dibilang cukup nekat menerbitkan buku puisi pertamanya, Menghadaplah Kepadaku (Penerbit Buruan, Agustus 2020) ketika momentumnya sudah lewat.

Saya mengenal Dian sekitar tahun 2008-2009 di Bandung ketika saya masih seorang mahasiswa tingkat satu program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia. Pada saat itu Dian tercatat sebagai mahasiswa tingkat tujuh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus yang sama. Kami bertemu dan berkenalan di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), sebuah ruang yang tampaknya lebih menyerupai komunitas ketimbang organisasi mahasiswa. Di ASAS pula, lewat Dian dan teman-teman lain, saya mulai intens belajar puisi dan sastra.

Dian Hardiana bersama Bode Riswandi, Edeng Syamsul Maarif, Faisal Syahreza, dan Toni Lesmana menjadi utusan provinsi Jawa Barat untuk mengikuti kegiatan Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) IV di Solo tahun 2009.

Kala itu, diakui atau tidak, ada kesan bahwa menghadiri pertemuan-pertemuan sastrawan begitu yang seringkali tidak jelas dasar dan luaran-nya (output) adalah sebuah pencapaian. Apalagi bagi penulis muda di sekeliling saya, acara macam MPU begitu dalam kesepakatan tidak tertulis telah menjelma menjadi semacam legitimasi yang instan, bahwa ‘ketika kau diundang, artinya kau sudah resmi menyandang gelar sastrawan’.

Pernyataan demikian beralasan. Para peserta MPU dari Jawa Barat umumnya dipilih pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) berdasarkan rekomendasi sastrawan senior, antara lain: Acep Zamzam Noor dan Ahda Imran untuk para penulis berbahasa Indonesia. Kemudian terdapat Godi Suwarna untuk karya-karya dalam bahasa Sunda, serta (alm.) Ahmad Syubanuddin Alwy untuk karya-karya berbahasa Cirebon. Ya, saban MPU kontingen Jawa Barat selalu berisikan para peserta dari empat latar belakang bahasa termasuk mereka yang menulis dalam bahasa Melayu dan Bekasi yang saya tidak tahu kuratornya.

Tanpa keterangan tertulis (hal yang memang tidak diminta penyelenggara), para tetua itu biasanya merekomendasikan nama-nama peserta berdasarkan amatan mereka terhadap para pegiat sastra. Tentu saja putusan mereka amat subjektif dan jelas betul keterbatasannya. Biar begitu, komposisi peserta Jawa Barat ini boleh dibilang yang paling ideal. Tahun 2019, kegiatan rutin ini diikuti oleh 10 provinsi, di antara pesertanya tidak jarang malah ditunjuk langsung oleh orang dinas: pejabat yang seringkali tidak tahu apa-apa tentang dinamika kesusastraan di daerahnya.

“Parah. Jogja gak ada sastrawannya. Peserta kegiatan temu sastra malah orang Disparbud semua.” kata Faisal Syahreza sepulangnya dari Solo.

Lewat keterangan tentang keikutsertaan Dian dalam MPU IV itu pendeknya, saya ingin mengatakan bahwa ingatan saya terhadap karya dan sosok bertubuh jangkung ini tidak bisa dilepaskan dari kesan-kesan dan pengalaman seorang pemula ‘junior’ terhadap seseorang yang kala itu sudah jadi ‘patron’.

***

Beberapa karya Dian acapkali dimuat di rubrik Khazanah Harian Umum Pikiran Rakyat, yang dulu digawangi Ahda Imran. Rubrik tersebut boleh dibilang karismatik, mengingat rajin menayangkan karya-karya para penulis tua maupun muda dari berbagai penjuru negeri sekalipun statusnya hanyalah koran daerah dan honornya tidak pernah lebih dari dua ratus lima puluh ribu rupiah (untuk puisi). Jumlah yang tidak pernah bertambah hingga hari ini.

Dari rubrik Khazanah itu pula saya menemukan dua puisi Dian yang membekas hingga sekarang, yakni Pantai Apra dan Antara Cidaun-Pangalengan. Seingat saya, keduanya tayang bersamaan sepuluh tahunan silam. Sebagai penikmat puisi-puisi perjalanan, saya menganggap puisi tersebut punya kedudukan tersendiri seperti halnya Pasar Kumbasari, Denpasar, Klungkung, dan Uluwatu (sekadar menyebut tiga contoh) karya Acep Zamzam Noor. Saya merasa dekat sekaligus betah tinggal di tempat-tempat dalam puisi tersebut, meskipun belum pernah mengunjunginya secara langsung.

PANTAI APRA

Tanpa tanda dan riwayat luka

aku menemukanmu.

Labuhan sejarah dari cabang dan ranting cuaca

setelah badai berulangkali melabur di pantai ini.

 

Pasir menghitam, darah semerah pinang

pasang dari ilalang pandan yang tumbang.

 

Matahari tak benar-benar tenggelam

bayangan tak juga hancur dipecah karang.

 

Di sini, kesetiaan lisut di tubir waktu

langit terbakar, muara berdiam di angka enam.

 

Di atas garis pantai yang terbuka

sepasang camar bergegas ke selatan

menyelisik catatan kelam yang dilenyapkan.

Bandung 2010

“Memang lebih bagus puisinya ketimbang Pantai Apra itu sendiri.” komentar Dian diiringi tawa. Ketika saya sampaikan bahwa seorang teman malah kecewa dan mencemooh setelah mendapati pantai di selatan Cianjur itu atas rekomendasi saya yang didasarkan pada pengalaman membaca puisi Dian semata tak menemukan apa-apa. “Malah banyak sampah,” katanya.

Sebagian orang yang saya kenal menyebut puisi-puisi Dian begitu lembut dan sebab itu ia sering disebut-sebut sebagai titisan Cecep Syamsul Hari, meski tanpa banyak alusi terhadap teks-teks lain di sana-sini. Tapi, entah apa pertimbangannya, sajak-sajak Dian yang dulu saya anggap lembut itu, misalnya Surat Cinta Ketika Hujan tidak ia masukkan dalam kumpulan ini.

Ketimbang Faisal Syahreza atau Heri Maja Kelana juniornya, Dian kalah produktif. Tapi justru karena itulah karya-karyanya lebih ditunggu-tunggu orang. “Di mana Dian sekarang? Masih menulis puisi atau tidak?” Demikian pertanyaan Kang Acep suatu ketika saat saya berkunjung ke rumahnya.

Puisi-puisi Dian yang juga kadang tayang di Harian Republika dan terhimpun dalam antologi penyair muda empat kota Herbarium (2007) sempat menarik perhatian Iyut Fitra. Kira-kira tahun 2007-2008 keduanya bahkan menjalin komunikasi yang ganjil.

“Entah bagaimana awalnya, di tahun-tahun itu masuk sms ke hp Ericsson saya yang ngedrop parah. Saya lupa persis isinya. Hp-nya juga sekarang entah di mana. Isi sms itu seperti sebait sajak (saya tidak berani menyebutnya puisi dan memang sepertinya bukan diambil dari puisi). Kemudian sms itu saya balas juga dengan isi yang sok-sok an puitis tanpa bertukar nama atau kabar atau basa-basi yang lain. Balas berbalas sms semacam itu berlanjut dalam rentang waktu yang lama. Dengan isi sms yang melulu seperti itu, jadi TTS: Teman Tapi Sms.” beber Dian di akun Facebooknya.

Salah satu proses kreatif Dian memang berlangsung dengan cara seperti itu. Dian juga mengakui bahwa kegiatan berbalas SMS model begitu yang ia duga juga dilakukan Pak Iyut kepada penyair muda lainnya telah mengajarkan paling tidak dua hal: memadatkan kata tanpa kehilangan tujuan serta selektif memilih kata tanpa menghilangkan keindahan bunyi. Kemudian akhirnya menjadi semacam rambu-rambu bagi sosok berambut ikal ini dalam menulis puisi.

Seingat saya, Bandung ketika Dian mekar-mekarnya sebagai penyair menjadi kota yang ingar bingar oleh rupa-rupa kegiatan sastra. Komunitas-komunitas baru bermunculan, diskusi-diskusi rutin digelar termasuk di kota-kota lain di Tatar Sunda dan para penyair muda menerbitkan buku mereka. Adapun dalam skala nasional, pertemuan demi pertemuan sastrawan dihelat di mana-mana. Para penulis tentu saja berlomba-lomba mengirimkan karyanya.

Dan seperti halnya Temu Sastra MPU lolos dalam kegiatan Temu Sastra lainnya kerap dianggap sebagai bentuk pengakuan juga. Namun tidak dipungkiri, beberapa nama yang pernah ikut acara semacam Temu Sastra Indonesia (TSI) atau Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), sekarang tidak diketahui perkembangan karyanya, seperti penyair Eko Putra, kawan dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Meski kegiatan sastra semarak, Dian seolah-olah tak tergerak. Memang ia pernah ikut TSI II di Bangka-Belitung (2009). Tetapi setelahnya, alih-alih mencemplungkan diri lebih giat lagi, ia malah menyepi dan tinggal di pelosok Pandeglang, konsekuensi yang mesti ia lakoni sebagai ujung tombak program pemerintah.

Ya, pada 2011 Dian lolos seleksi Pemuda Pelopor, sebuah program yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Beberapa tahun setelahnya, penggemar Liverpool ini bahkan menjadi utusan resmi Provinsi Banten yang diundang ke Istana Negara. Di antara penyair kelahiran 1980-an ke atas yang saya kenal, tampaknya cuma Dian yang berkesempatan foto bersama mantan tentara sekaligus penulis sajak dan lirik lagu, yakni (kini mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Sayang, masa subur “Pak Prihatin” sebagai pegiat seni justru berlangsung saat ia masih menjadi kepala negara alih-alih setelah lengser).

Di Pandeglang, waktu Dian nyaris seluruhnya habis buat masyarakat. Selain larut dalam kegiatan-kegiatan penataran, Dian juga merintis dan mengawal usaha ternak burung. Usaha yang hingga kini dilakoni sebagian pemuda di pelosok Pandeglang itu.

Kedengarannya itu juga salah satu bentuk puisi atau laku hidup yang puitis, bukan?

Sayangnya, setelah menjadi abdi dalam pemerintah itu, hubungan Dian dengan kesusastraan seolah-olah terputus. Apalagi, kata Dian, “Nomor lama saya hilang. Dan SMS seperti itu tidak pernah datang lagi.”

***

Dilansir dari tulisan Hasan Aspahani pada situs matapuisi.com, “Yang Liris dan Yang Imajis”, Sapardi Djoko Damono menyebut puisi liris yang kuat mengandung dua elemen penting: menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara sederhana menyatukannya dengan alam sekitar. Pada puisi-puisi Dian yang berhasil dua hal tersebut terpenuhi. Dian adalah pengamat dan pencatat yang baik atas perasaan-perasaannya sendiri dan pada saat bersamaan seorang yang peka dan cermat menginsafi berbagai hal di sekitar.

Di sini, di bibir muara yang terbuka ke utara
aku berdiri mengingatmu.

Perahu-perahu naga tertambat dalam diriku
membawa gula dan kain sutra
mengirim harapan dan angan-angan

Di bibir dermaga yang terburu
aku berdiri menghadapmu.

Bocah lanang berloncatan dari tepian
berenang riang di antara riak belanak dan impian.
Ketika cahaya keperakan berkilauan pada tubuhmu
gedong-gedong duwur terlihat ringkih dan layuh
menangkap sepi di sekelilingnya
menampakan lesi di sekujur dindingnya.

Pada penggalan puisi berjudul Cimanuk di atas, kepekaan Dian menangkap berbagai hal di sekitar tercermin lewat benda-benda konkrit (belanak: ikan laut, gedong duwur: kompleks cagar budaya di Indramayu) tanpa jatuh ke dalam reportase yang kering. Benda-benda konkrit itu juga berfungsi sebagaimana mestinya: mereka memberi kesan dan citraan yang kuat tentang Sungai Cimanuk di Indramayu tanpa membuatnya menjadi sekadar tempelan atau ornamen buat bergenit-genit belaka. Hal yang lazim dilakukan demi dan atas nama lokalitas sekalipun dampaknya bagi pembaca dari luar lingkup budaya dimaksud malah lebih sering bikin kening berkerut.

Saya bayangkan, sekiranya Dian menerbitkan buku barang 8-10 tahun lalu, paling tidak dalam konteks kepenyairan di Jawa Barat, puisi-puisi Dian tidak kalah layak dibicarakan ketimbang Hikayat Pemanen Kentang (2011) karangan Faisal Syahreza atau Mendaki Kantung Matamu (2010) yang digubah Bode Riswandi, dua rekan seangkatannya di MPU Solo itu.

Tapi, tentu saja momentum bukan segalanya dan puisi kerap punya jalan sekaligus takdirnya sendiri. Sebab itu, pada masa di mana kata-kata, lebih-lebih di media sosial begitu bising seperti saat ini membicarakan puisi-puisi Dian saya kira menarik bahkan cenderung menantang seperti halnya Jalan Pedang.

Jalanku, jalan lengang labirin taman

engkau lampu terang, aku bangku kusam yang disisihkan.

(hal. 27)

***

Dian adalah penyair yang dengan sadar menceburkan diri ke arus deras puisi liris Indonesia. Sementara belakangan sependek amatan saya sejumlah buku puisi yang terbit justru ditulis dengan kehendak besar melepaskan diri dari kecenderungan lirisisme. Sekadar menyebut tiga contoh: Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa karya Heri Joni Putra (2017); Kertas Basah dari Dea Anugrah (2020); dan yang paling eksperimental adalah Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 kepunyaan Martin Suryajaya (2020). Selanjutnya, saya akan menyebut antologi ini dengan istilah Antologi 3T.

Badrul Mustafa disusun dalam bentuk naratif cenderung lebih dekat pada puisi epik atau balada dalam gaya satir bahkan karikatural ketimbang puisi liris. Penyair Heru melepaskan diri dari laku beraku-aku dalam puisinya (hal yang rasa-rasanya nyaris musykil diterapkan dalam puisi Indonesia, tapi ia mampu) lantas mengutus Badrul Mustafa, tokoh yang bisa menjelma menjadi apa saja mulai dari panglima perang hingga kotoran kuda, jantung pisang bahkan janggut seorang ulama untuk menyampaikan pelbagai hal yang ia soroti kepada pembaca.

Sementara pada Dea, meski aku lirik masih ada dan tentu saja hal itu sah-sah belaka, ada keterangan menarik pada lembar pertama buku ini: Kertas Basah: Puisi, Antipuisi. Meski penjelasan mengenai puisi dan antipuisi dalam pandangan Dea ada pada halaman pengantar, menurut saya saat dibaca lebih dalam lagi kedua kategori itu justru demikian samar batas-batasnya. Manakah puisi dan antipuisi bila pesona sajak-sajak imajisme cukup mengemuka di dalamnya. Namun demikian, sebagai kesempatan baru untuk bermain-main, saya pikir upaya penyair asal Sungailiat, Bangka, ini berhasil.

Lain Heru dan Dea lain pula Martin Suryajaya. Konten Antologi 3T boleh dibilang amat ganjil untuk ukuran antologi tunggal. Penyajiannya dikemas dalam bentuk bunga rampai, menghimpun puisi-puisi Indonesia dalam rentang satu abad susunan kritikus bernama Sulaiman H. bukan Martin! Alih-alih muncul penyair Martin, puisi dalam kumpulan ini justru memunculkan sejumlah nama (heteronim) dan suara lengkap dengan biodata masing-masing penyairnya dalam kerangka fiksional.

Ingat antologi semacam Gema Tanah Air karya H.B. Jassin atau Langit Biru Laut Biru susunan Ajip Rosidi? Nah, kurang lebih begitu isi buku puisi Martin Suryajaya ini. Tawaran menariknya, sekalipun fiksional puisi-puisi dalam Antologi 3T justru dibikin Martin berdasarkan kondisi faktual kesusastraan Indonesia, sekalipun pegiat filsafat tersebut menyebut pendekatannya sekadar pendekatan sejarah spekulatif belaka. Seperti halnya pada Dea, upaya bermain-main dalam diri Martin demikian kentara. Dan sebagai pembaca, saya terhibur dibuatnya.

Dibandingkan dengan ragam bentuk dan langgam tiga buku puisi di atas, yang tentu saja tidak representatif untuk menggambarkan perkembangan puisi Indonesia modern, namun terlalu menarik untuk dilewatkan dalam pembicaraan ini. Buku puisi Dian adalah yang paling tradisional. Salah? O, tentu saja tidak. Malah, sekali lagi, bagi saya pribadi pembacaan atas Menghadaplah Padaku, ini jadi kian menantang.

Buku puisi Dian adalah yang paling tradisional. Salah? O, tentu saja tidak. Malah, sekali lagi, bagi saya pribadi pembacaan atas Menghadaplah Padaku, ini jadi kian menantang.

Puisi, seperti halnya produk kebudayaan apa pun tidak dinilai dari bentuknya semata. Bagaimana puisi itu sanggup berkomunikasi dengan pembaca; memberi pengalaman lain (semacam interupsi) di tengah kerutinan manusia berhadapan dengan aneka teks dan produk bahasa atau syukur-syukur malah sanggup memberikan pencerahan buat pembaca apa pun wujudnya, bagi saya adalah tolak ukur puisi berkualitas.

Dan puisi-puisi Dian yang berhasil memang layak disebut sebagai puisi berkualitas. Simak saja puisi-puisi pastoral dan travelogue-nya yang demikian liris. Meski formulanya tidak baru, Dian menautkan perasaan pribadi dan pengamatan terhadap alam sekitar dengan pembacaannya atas berbagai hal yang berlangsung jauh di masa lalu, yang ia temui lewat buku maupun cerita turun-temurun yang masih hidup di masyarakat. Puisi-puisi Dian cukup asyik dan menggentarkan.

MULTATULI

Masih mengingat untuk apa aku datang

            tanjakan curam

akar-akar kiara di gigir jalan

            mengantarku ke ceruk lembah

                        di sela gunung-gunung perawan.


Multatuli! Multatuli!

Inikah yang membuatmu berpaling dan menjauh

dari kemasyhuran?


Nyanyi penumbuk padi adalah lagu asali

menelisik dalam batinku

            menembang tenang di pucuk rembang.


Angin merundukkan padi ke selatan

semakin condong, semakin tinggi dan berisi.


O, inikah kisah yang dibuka dalam buta, dalam luka

antara cangkeuteuk-rangkasbitung

            antara ciujung-cikahuripan.


Petang meruapkan wangi teki-tekian

ke udara, ke setiap persimpangan dari pintu ke pintu

            melubangi percakapan di beranda dan halaman.


Sementara anak-anak mengeratkan genggaman tangan

            membacamu berulang riang

melambaikan masa lalu

            mengajak tualang dan bertahan dalam hening

perbukitan.


Lebak 2015

Puisi-puisi Dian boleh dibilang didominasi ‘puisi emosi’ (meminjam ungkapan Asrul Sani, dan pada saat bersamaan, salah satu judul puisi Dian adalah Sajak Perasaan). Dilihat dari sisi tema, kumpulan ini cukup beragam. Dian menuliskan puisi-puisi tentang klangenan (Akuarium, Ode untuk Kucing Astro, Tekur Tikukur, dan Kenari yang Rontok Bulu), kuliner (Jamur Bulan), lanskap dan perjalanan (antara lain: Ode Bandung Selatan, Ode Bandung Utara, Tanjung Lesung, Situ Lembang, Curug Putri, serta Antara Cidaun dan Pangalengan) LGBTQ (Dia Bersama Orang Lain), hingga protes sosial (Patmi, Taman Lansia).

Asrul Sani menyandingkan istilah ‘puisi emosi’ dengan ‘puisi gigantik’. Bertolak dari pandangan itu, beragamnya tema yang dibicarakan Dian seolah menunjukkan upayanya sebagai penyair untuk keluar dari keakuan emosinya semata. Sebab itu, jika menyebut puisi-puisi Dian ‘hendak-gigantik’, sebagian puisi dalam kumpulan pertamanya ini memang menampakkan emosi, hanya pendorong perasaan yang dijalani penyair untuk dirasakan penikmat dan sebagian yang lain bersumber pada serba manusia, serba yang tidak terbatas pada dunia.

Pertanyaan saya kemudian, apakah setelah Dian, sebut saja menulis puisi bercorak hendak-gigantik tadi, maka puisi semacam itu berhasil pula memberikan sesuatu kepada pembaca lebih-lebih kepada peradaban manusia? Dalam hal ini, saya menyerahkan penilaian objektif kepada sidang pembaca. Hanya, yang terang bagi saya, sebagian besar puisi suasana Dian terkesan lebih kuat ketimbang puisi-puisi sosialnya.

Mengapa bisu meski kerap terantuk pejalan kaki

dan pemilik rumah di utara kepalamu

lebih sering berjanji daripada mengayomi.

(Taman Lansia)

 

Pohon-pohon di dalam hutan memanggil

Kemari! Berlari!

riuh bagai surili

bergetar pada kaca mobil dan merah lampu.

(Patmi)

Pada puisi pertama, upaya memberi kritik kepada pemerintah yang tinggal di sebelah utara Taman Lansia (Gedung Sate), disampaikan lewat jargon “lebih sering berjanji daripada mengayomi”. Memang sah-sah saja penyair punya tendensi seperti itu. Namun, ketika ditampilkan dalam sajak yang baris-baris di atasnya bernuansa liris, jargon itu terasa mengganggu jika tidak disebut memaksakan. Singkat kata, untuk menyatakan protes dengan baris pamungkas seperti itu atas nama konsistensi, mengapa tidak sekalian menulis sajak pampflet saja?

Sementara pada puisi Patmi, imaji tentang ‘pohon-pohon di dalam hutan’ jadi terasa ganjil saat disandingkan dengan larik ‘bergetar pada kaca mobil dan merah lampu’.

Saya menduga, kelemahan semacam itu muncul dari mininmnya intensitas pergulatan Dian dengan objek yang dihadapinya, atau dengan sekitar yang diamatinya beda dengan sajak Multatuli yang saya kutip utuh di atas.

Imbasnya, jika pengamatan semacam itu tidak penuh, seluruh puisi yang dihasilkan berkemungkinan besar gagal menjalin komunikasi. Kegagalan semacam itulah yang kemudian menyebabkan publik kerap menyebut-nyebut ‘sajak gelap’.

 

TANJUNG LESUNG

Ia duduk menghadap laut

membuka kotak es krim, menikmati lumer vanila.

 

“Sore seperti ini tidak akan berulang di masa depan,” katamu.

Aku masih mengingat-ingat nama pantai itu.

 

“Ombak di sini serat hijau daun pisang,” katamu lagi.

Aku hanya ingat sore itu minggu terakhir di bulan Maret.

 

“Apa yang paling kamu sesali?” Aku bertanya.

Ia tersenyum tanpa menjawab.

 

“Kau harus mengatakannya

sebelum terlambat,” aku mengejar.

Ia tersenyum lagi dengan mata tertutup.

 

Ia tidak ingin kembali

dan berjanji menghindarinya

meski tanpa sadar ia terus menghadap kepadanya.  

Bandung 2020

 

Perhatikan subjek lirik yang dicetak miring dan tebal pada puisi di atas. Membingungkan. Mula-mula penyair menjadi semacam narator, hingga baris ketiga. Tapi setelahnya, ‘aku’ lirik hadir. Pada baris keempat, ‘Aku hanya ingat sore itu minggu terakhir di bulan Maret’, ‘aku’ lirik bisa saja ditafsirkan merujuk pada sosok ‘ia’ lirik yang tampil sejak baris pertama. Maksud saya, dengan asumsi hanya ada dua subjek lirik pada puisi di atas, yakni ‘ia’ lirik dan ‘kamu’ lirik, maka baris keempat yang tadi saya kutip adalah tanggapan implisit si ‘ia’ lirik terhadap lawan bicaranya ‘kamu’ lirik. Namun asumsi tersebut buyar dan berantakan, sebab pada baris berikutnya malah hadir ‘aku’ lirik dengan pertanyaan yang tegas sudahlah diberi tanda tanya diterangkan pula bahwa itu kalimat tanya: ‘Apa yang paling kamu sesali? Aku bertanya’.

Meski sama-sama bercirikan puisi pastoral, lanskap, atau puisi perjalanan dengan judul berupa nama tempat, puisi berjudul Tanjung Lesung ini beda jauh kualitasnya dengan puisi Cimanuk. Tak ada idiom atau diksi yang tepat menyaran pada objek, juga tak ada perenungan, gumam, atau tanggapan atas suasana social historis terhadap Tanjung Lesung, sebuah pantai di ujung barat Pulau Jawa. Dalam sajak ini, saya kira alih-alih menjadi pengamat yang telaten, penyair malah terjebak dalam ingatan dan perasaannya sendiri. Sedangkan pada saat bersamaan, ia pun gagap mengartikulasikan dengan baik ingatan dan perasaannya itu. Syukurlah, puisi semacam ini tidak banyak jumlahnya.

***

Ketika Sapardi Djoko Damono menerbitkan Duka-Mu Abadi (1969), Goenawan Mohamad menyambutnya dengan menyatakan bahwa penyair asal Solo itu telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat.

Konteks pernyataan GM, kita tahu adalah kembalinya puisi lirik setelah sajak-sajak pada tahun 50-60-an dipenuhi slogan-slogan. Memang, tentu tidak imbang membandingkan kemunculan puisi-puisi Sapardi di tengah maraknya sajak-sajak berjuang waktu lampau dengan kehadiran puisi-puisi Dian Hardiana di sela-sela maraknya eksperimen bentuk dan gaya ucap.

Tapi, ingat di antara puisi-puisi eksperimental yang hasilnya menyenangkan, tiga di antaranya sudah saya sebut di atas, publik sastra tanah air juga berhadapan dengan puisi-puisi yang saya anggap membingungkan semacam Sains Puisi gubahan Shiny Ane El’poesya (2019). Diakui atau tidak, baik kubu yang berhasil bikin pembaca bertempik sorak maupun mengelus-elus dada, saya kira keduanya sama-sama bertolak dari kecenderungan yang sama: keinginan menghindari kejumudan lirisisme yang begitu-begitu saja. Dan untuk kepentingan sejarah sastra—bila ada yang ingin mendalami bidang ini sebagaimana pesan Chairil, “Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.”

Di muka saya menyebut Dian nekat menerbitkan buku puisinya saat momentumnya sudah lewat. Sekarang izinkan saya meralat pertanyaan tersebut. Keputusan Dian menerbitkan buku puisinya saat ini atau kapan pun, pada dasarnya tepat-tepat saja. Di samping menunjukkan kesabaran Dian dalam berproses, bagaimanapun puisi liris adalah sungai besar dalam perpuisian Indonesia dan karenanya ia akan senantiasa ditulis dan mungkin digemari khalayak, apa pun situasinya, sekalipun bagi sebagian orang dianggap menjemukan.

Sebab itu, kehadiran Menghadaplah Padaku di tengah terbitnya buku-buku puisi yang eksperimental serta berkeras melepaskan diri dari lirisisme merupakan ajang pembuktian tersendiri:  benarkah puisi-puisi liris penyair Indonesia kontemporer sudah demikian menjemukan atau malah bakal punya fungsi menjadi semacam oase di tengah berbagai kebisingan kata-kata belakangan ini, terutama di media sosial baik dalam konteks mempergunjingkan puisi, sastra, politik, pemerintah, pandemi, dan lain sebagainya.

Dian, saya percaya sudah berupaya menulis sebaik mungkin sejauh yang dia bisa. Fakta bahwa karyanya berterima atau tidak biarlah itu menjadi urusan sejarah. Hanya, dengan kecenderungan lirisisme yang kuat, judul Menghadaplah Kepadaku ini saya kira tidak sekadar seruan penyair kepada publik agar mereka tidak melupakannya. Ingat, Dian sudah cukup lama menghilang dari peredaran, namun sekaligus seruan agar publik tidak meninggalkan puisi lirik sepanjang ia memang layak dan perlu dibaca.

Pembaca yang budiman, kini giliran Anda untuk memeriksa salah-benar tanggapan saya.

 


Sumber Bacaan:

Anugrah, Dea. Kertas Basah. Yogyakarta: Gambang Buku Budaya. 2020.

Aspahani, Hasan. “Yang Liris dan Yang Imajis”. Matapuisi.com. (https://matapuisi.com/2018/03/26/yang-liris-dan-yang-imajis/; akses pada 21 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB)

El’poesya, Shiny Ane. Sains Puisi. Jakarta: Penerbit Mata Aksara. 2019.

Hardiana, Dian. Menghadaplah Kepadaku. Bandung: Penerbit Buruan. 2020.

Mohamad, Goenawan. Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Jakarta: Pustaka Alvabet. 2005.

Putra, Heru Joni. Kitab Puisi Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa. Bandung: Nuansa Cendikia. 2017.

Sani, Asrul. Surat-surat Kepercayaan. Jakarta: Pustaka Jaya. 1997.

Suryajaya, Martin. Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045. Jakarta: Penerbit Anagram. 2020.

 

 

 

 

 

Zulkifli Songyanan
Zulkifli Songyanan, lahir di Tasikmalaya, 02 Juni 1990. Menulis puisi, esai, berita, dan iklan. Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017) adalah kumpulan puisinya yang pertama.