Ambiguitas Tragedi dan Komedi dalam Ghost in the Cell
“The child is innocence and forgetfulness, a new beginning, a sport, a self-propelling wheel, a first motion, a sacred Yes,” – Friedrich Nietzsche1 Satu pepatah...
“The child is innocence and forgetfulness, a new beginning, a sport, a self-propelling wheel, a first motion, a sacred Yes,” – Friedrich Nietzsche1
Satu pepatah yang sering disalahpahami adalah “habis gelap terbitlah terang”. Bukan. Bukan maknanya yang salah, akan tetapi kondisi terang setelah gelap hampir selalu diandaikan biner dan statis. Happy ending, istilah filmnya. Dan film Ghost in The Cell akan mengubah pemaknaan kita atas pepatah tersebut. Joko Anwar, sang sutradara, akan menunjukkan bahwa gelap dan terang datang di saat yang bersamaan. Horor dan tawa. Tragedi dan komedi. Mereka bergerak sangat dinamis. Layaknya seorang anak yang berhenti menangis setelah diberi permen, dan menangis kembali saat permen itu diambil darinya.
Tak seperti kebanyakan film horor komedi yang pernah beredar di Indonesia, kali ini, peristiwa horor ditampilkan bak realitas yang tak dapat dihindari. Ia bukan horor yang dibalut tawa, seperti Agak Laen (2024). Bukan pula Sekawan Limo (2024) di mana sang setan takut dengan setan lain. Ghost in the Cell murni menampilkan adegan horor yang mencekam dan komedi yang mengundang gelak tawa dalam satu layar yang sama.
Film berdurasi 1 jam 46 menit ini menawarkan alur maju yang menarik. Bercerita tentang munculnya sosok hantu sebagai kekuatan adikuasa yang datang menghukum—dengan cara membunuh—manusia beraura merah pekat, aura yang menunjukkan kemarahan dan keputusasaan mendalam dan menjadikan mereka sebagai karya seni.
Penonton setia film-film Joko Anwar pasti tahu, hampir seluruh karyanya selalu dekat dengan realitas di sekitar, seperti substansi cerita, yang turut diaplikasikan dalam teknis produksi film. Pencahayaan yang redup menampilkan efek dramatis. Variasi angle serta teknik close up membuat emosi tokoh tampak realistis. Horor yang dibawanya juga bukan imajiner. Seperti Pengabdi Setan, mahluk supranatural muncul, namun efek psikis, rasa takut, serta kisah kelam masa lalu yang menjadi latar belakang tokoh-lah yang lebih bermain. Lapis-lapis realitas itu yang lebih menghantui, alih-alih hantu itu sendiri. Sederhananya: realitas yang kompleks dan jujur, dingin dan kelam, di situlah letak horornya. Ya. Realitas itu dingin dan kelam. Realitas itu bernama tragedi.
Kendati demikian, dalam film terbarunya ini, Joko Anwar mengajak penonton untuk berkelana lebih jauh dengan realitas yang dingin dan kelam itu. Hadirnya komedi satir menjadi pelipur kelam. Komedi itu menghangatkan suasana film dan, bahkan, seisi ruangan bioskop. Membawa atmosfer baru, bahwa kita dapat tertawa di atas segala yang kelam yang melingkupi hidup kita. Namun bukan untuk berdamai dengannya. Tetapi melihat peristiwa itu secara menyeluruh, menuju lapis yang lebih inti, bahwa sejatinya manusia dapat melampaui peristiwa senang dan sedih; kelam dan tawa; bahagia dan derita.
Bahwa bungah (kebahagiaan) dan susah (penderitaan) adalah pasangan abadi2. Dan manusia, sebagai “aku”, adalah realitas sejati yang melampaui keduanya.
Tragedi dan Komedi Itu Tidak Biner
Apa yang dipikirkan oleh Joko Anwar? Bisa-bisanya ia memberi beban berat pada para aktor untuk memerankan peran yang, bisa jadi, sangat membebani mental. Kita dapat menyebut tentang apa yang dialami Aming Sugandhi, pemeran tokoh bernama Tokek. Mari kita simak secuil profil Gibran Nugroho alias Tokek, yang ditulis dan dibagikan di laman Facebook Joko Anwar:
“Ketika Tokek berusia 8 tahun, Ibunya tak pulang selama dua hari. Ternyata ia mengalami kecelakaan. Tak bisa mencari nafkah, ibu tokek menyerahkan Tokek ke para laki-laki dan perempuan untuk dilecehkan dengan memberi uang kepada Ibu Gibran. Tokek besar dengan nilai hidup yang carut marut. Kepedihan hidup membuatnya mencari pelarian dengan cara menyakiti hewan sejak dia berusia 9 tahun.”
Betapa malang nasib Tokek. Sejak kecil ia harus mengalami banyak hal yang tak sepantasnya dialami oleh anak sekecil itu. Cerita Tokek tak ubahnya seperti kisah para psikopat yang sejak kecil suka menyiksa hewan. Tentunya bukan untuk eksperimen di laboratorium, tetapi untuk kesenangan pribadi. Senang ketika melihat hewan tersiksa dan mati perlahan.
Tokek, dalam film itu, muncul sebagai pria dewasa yang memiliki perilaku layaknya hewan yang buas dan liar. Ekspresinya lepas, dengan tawa yang akan membuat setiap yang melihatnya bergidik ketakutan. Selapis lebih dalam, tawa yang sama justru menunjukkan betapa rapuh dirinya. Rapuh di hadapan realitas yang ia rasa, dan memang, tak memihak padanya. Air matanya telah lama mengering, begitu juga batinnya yang tak pernah terjamah kasih sayang. Kisah hidup Tokek adalah sebuah tragedi kemanusiaan.
Sehabis mandi, pasca-gagal melecehkan Dimas, sang jurnalis yang baru saja masuk sel penjara, Tokek marah sejadi-jadinya. Ia tak mampu melampiaskan hasrat serta nafsu hewani yang meronta-ronta. Kegagalan itu tiba-tiba mewujud menjadi hantu yang menarik kilas balik kehidupan Tokek yang kelam. Memaksanya menerima kenyataan bahwa Tokek hanyalah makhluk yang tak diinginkan, tak berdaya, dan tak bisa melakukan apapun. Akhirnya Tokek mati dibunuh hantu itu, dan tubuhnya disusun sedemikian rupa sehingga membentuk pola yang artistik. Jika boleh diandaikan, sepertinya Joko Anwar sedang ingin memberi gambaran bahwa trauma yang amat dalam adalah sebuah seni yang mengerikan sekaligus membuat takjub.
Jika boleh diandaikan, sepertinya Joko Anwar sedang ingin memberi gambaran bahwa trauma yang amat dalam adalah sebuah seni yang mengerikan sekaligus membuat takjub.
Gelap, bukan!? Ya, dalam kisah yang kelam itu, Aming harus menceburkan diri. Aming, melalui wawancara bersama Tempo, menceritakan bahwa ia harus mengorek masa lalu yang membuatnya trauma hanya untuk mendalami karakter Tokek yang amat kompleks. Aming menyebut karakter Tokek sebagai campuran dari puncak emosi tak terkontrol dan ketidakberdayaan kronis yang membuatnya kuat sekaligus rapuh. Hasilnya adalah akting yang sangat memukau dari Aming, meski karakter yang ia perankan sempat terbawa hingga ke kehidupan nyata.
Lalu, di mana letak komedi dalam kisah kelam Tokek? Komedi itu, ternyata, justru hadir dalam respon-respon yang diberikan oleh tokoh lain. Yaitu ketika Dimas, dalam kondisi telanjang karena sedang mandi, ketakutan untuk mengambil sabun batang yang dijatuhkan Tokek, dan terdengar kalimat yang berulang dari tokoh lain, “Jangan nungging… jangan nungging… jangan nungging!” Dalam sekejap, audiens dikondisikan dalam gelak tawa terlebih dahulu, sebelum dihujam adegan sadis ketika Tokek mati terbunuh oleh kisah kelamnya sendiri.
Komedi itu juga muncul dalam adegan yang ditayangkan sekilas melalui official trailer. Yaitu ketika Wildan, seorang yang dikenal religius dengan simbol peci yang ia kenakan, memberi saran kepada rekan sejawatnya agar mereka melaksanakan kegiatan yang dapat membuat aura mereka tidak kelam, sehingga tidak menjadi korban hantu selanjutnya. Sarannya ialah, “Melakukan kegiatan yang positif… beribadah… dan seni,” katanya. Sontak para napi berlari tertatih-tatih menuju masjid dan mendatangi kelas menari yang dipandu oleh Novilham. Adegan lalu menunjukkan suasana lapas yang mendadak religius: banyak orang mengaji, shalat, dan berzikir, baik di kamar lapas maupun di tempat ibadah. Juga Novilham yang kelasnya ramai diserbu napi lain yang kesusahan mengikuti gerak tubuhnya yang luwes. Pada momen ini penonton tertawa lepas.
Tapi… tunggu! Kita mungkin akan mengira bahwa letak komedinya hanya ketika Joko Anwar berusaha membalik imaji tentang para preman yang garang dan berhati kering beramai-ramai menuju musala hingga tempat itu penuh, beberapa napi sibuk mengaji, dan juga cara napi yang seram itu mengikuti instruksi Novilham dalam senam aerobik yang membuat tubuh meliuk-liuk. Sangat lucu melihat preman yang garang namun ternyata hatinya ciut nan lembut.
Namun, komedi itu, pada akhirnya juga dapat diartikan sebagai sebuah tragedi. Peristiwa preman berhati Hello Kitty adalah bentuk patahan persepsi kita tentang superioritas yang diluluhlantakkan oleh keadaan yang membuatnya menjadi “korban”. Yaitu ketika melihat orang-orang mulai menghalalkan segala cara agar aura mereka tetap positif supaya tidak dibunuh hantu. Kita melihat bagaimana napi-napi itu, yang digambarkan seram, meringkuk ketakutan atas sesuatu yang lebih kuat dari mereka, berupaya menghindari maut untuk bertahan hidup. Dan kita tertawa atasnya.
Jika menggunakan cara pandang ini, maka tragedi dan komedi hanyalah bagian yang terus berulang. Atau bahkan ia tidaklah biner, melainkan satu peristiwa tunggal bernama realitas faktual yang menampung keduanya sekaligus. Maka, menjadi kuat bahwa, sekali lagi, tragedi dan komedi adalah peristiwa abadi. Dan manusia adalah realitas sejati yang melampaui keduanya.
Jika menggunakan cara pandang ini, maka tragedi dan komedi hanyalah bagian yang terus berulang. Atau bahkan ia tidaklah biner, melainkan satu peristiwa tunggal bernama realitas faktual yang menampung keduanya sekaligus.
Lampaui Realitas yang Tunggal Itu!
Walhasil, apa yang ditawarkan oleh Joko Anwar kepada penonton atas realitas ini? Saya kira, justru komedi tragislah yang menjadi nilai utama dalam film Ghost in The Cell. Ia bukan hanya horor (setan-setanan) yang berbalut tawa dan humor, melainkan tragedi kehidupan yang sekaligus dapat ditertawakan layaknya sebuah panggung komedi. Penonton disuguhkan tragedi dan komedi yang hanya akan menjadi biner ketika seseorang melihat dari satu sudut pandang tertentu, dan akan menjadi berbeda dalam sudut pandang yang lain. Maka, Joko Anwar sebenarnya ingin menawarkan penonton untuk masuk dalam realitas faktual nan tunggal itu.
Ia ingin penonton tenggelam dalam sensasi antara tawa dan duka dalam satu tarikan nafas. Antara tragedi dan komedi. Antara iya dan tidak. Rasa yang demikian akan mengingatkan kembali bahwa seorang manusia sejatinya adalah individu yang dapat merengkuh sekaligus melampaui dualitas itu. Manusia sejati adalah ia yang mampu mengambil jarak atas gejolak dalam batinnya. Persis seperti yang dirasakan oleh seorang anak kecil. Atau mungkin, kalau boleh saya katakan, Joko Anwar mengajak kita untuk kembali menjadi anak kecil. Ya. Anak kecil!
Apa signifikansi dari anak kecil? Tiga metamorfosis jiwa Friedrich Nietzsche akan menjelaskannya. Melalui Thus Spoke of Zarathustra, Nietzsche menyebut bahwa jiwa manusia akan bermetamorfosis menjadi tiga bentuk: unta, singa, dan anak kecil—A. Setyo Wibowo menerjemahkan the child menjadi “bayi”3.
Berdasarkan uraian Nietzsche, pada mulanya jiwa—atau juga dapat diterjemahkan sebagai roh—manusia berubah menjadi unta, sebuah perlambang hewan yang sering dijadikan tunggangan. Dalam masyarakat dagang, unta juga sering kali digunakan untuk mengangkut barang dagangan pemiliknya. Sehingga, jiwa unta adalah jiwa yang menanggung beban di luar dirinya. Beban itu disebut “kau harus”4 hingga sang unta lari menuju gurun pasirnya sendiri. Ia ingin bebas dari beban-beban itu, lalu keinginannya itu mengubah wujud roh itu menjadi singa.
Seekor singa mempunyai auman keras, tubuh yang gesit, dan cakar yang tajam untuk menolak dominasi “kau harus”. Ia ingin mengatakan “tidak” dan mengubah dominasi itu menjadi “aku mau”5. Tapi, bagi Nietzsche, roh singa masih harus bermetamorfosis sebagai “bayi” karena ia adalah manifestasi dari afirmasi kudus. Bait itu diterjemahkan oleh A. Setyo Wibowo menjadi:
“Sebabnya adalah karena Bayi adalah kepolosan dan pelupaan, permulaan baru, permainan, roda yang bergerak dari dirinya sendiri, penggerak pertama, afirmasi kudus.”6
Demikianlah, menurut Nietzsche, perjalanan untuk menjadi seorang yang melampaui (Übermensch), akan sampai pada jiwa anak kecil/bayi yang polos dan lupa; seorang yang tak terbebani oleh penderitaan di masa lampau dan selalu memulai permulaan baru, sebagai manifestasi dari “kehendak” itu sendiri. Dalam hal ini, hanya jiwa bayi/anak kecil yang dapat melampaui realitas itu sendiri.
Akhirnya, Joko Anwar ingin mengatakan bahwa perasaan setelah menonton peristiwa tragis dan komedi dalam tempo yang sangat dekat adalah ambiguitas. Yaitu sebuah sensasi yang hanya bisa muncul pada jiwa anak kecil/bayi dalam merespon realitas faktual yang tunggal. Ambiguitas itu adalah manifestasi dari manusia yang melampaui (Übermensch). Dan ambiguitas inilah yang mengakhiri film itu.
Ambiguitas itu adalah manifestasi dari manusia yang melampaui (Übermensch). Dan ambiguitas inilah yang mengakhiri film itu.
Hantu yang menjadi momok bagi para napi di lapas itu benar-benar pergi karena berhasil menuntaskan misinya untuk membunuh Prakasa Kitabuming, seorang pejabat korup yang membabat hutan tempat tinggal hantu/sosok adikuasa itu. Penjara kembali damai. Dimas keluar dari penjara. Tak ada haru sedih dan senang bahagia. Tak ada adegan setan itu kembali menghantui seisi penjara. Hidup kembali berjalan seperti apa adanya. Tidak ada happy ending ataupun sad ending. Ia mengambang begitu saja.
Membingungkan bukan? Ya. Karena kita telah lama meninggalkan jiwa anak kecil itu. Kita lebih sering terhanyut dalam fiksasi tragedi dan komedi. Kita lupa bahwa manusia adalah realitas sejati yang melampaui keduanya.
Penyunting: Cahya Saputra
Daftar Pustaka








