Budi Darma dan Makna Takdir yang Dihayatinya

Barangkali poin pokok yang hendak dibicarakan dalam tulisan ini adalah jawaban sementara atas pertanyan-pertanyaan yang sering berkecamuk dalam pikiran saya tentang sosok Budi Darma. Sosok maestro sastra Indonesia yang amat saya kagumi. Sosok pengarang yang nampak menjalani hidup secara sederhana namun sangat “liar” dalam melahirkan karya-karya imajinatifnya.

Mungkin, semua sudah menjadi kehendak takdir, dan saya menulis tulisan ini pun juga sudah menjadi suratan takdir. Maksud saya, saya dengan segala keterbatasan pemahaman di dunia sastra, sepertinya tidak akan pernah dapat menulis tentang Budi Darma, andai kata beliau masih hidup hingga hari ini.

Saya juga sadar betul bahwa apa yang saya tulis ini, boleh jadi sudah sering atau sudah pernah diungkapkan oleh Budi Darma sendiri maupun penulis-penulis lain sebelum saya. Oleh sebab itu, melalui kesempatan yang baik ini, saya bermohon maaf, andai kata ada kesamaan pembahasan, ide maupun gagasan yang saya uraikan nantinya, berpotensi membuat penulis yang bersangkutan merasa tersinggung. Dan saya juga meminta maaf, sekiranya dalam uraian saya nantinya terkesan, terlampau berlebihan atau terkesan kontradiktif dengan kenyataan yang sebenarnya.

Niat saya hanya ingin mengenang dan mencoba merefleksikan kembali beberapa gagasan pokok Budi Darma, sebagai sosok yang saya kagumi dan sosok yang sering berkelebat dalam pikiran saya, meskipun dengan citranya yang masih tetap absurd hingga detik ini.

Mula-mula saya akan mencoba menguraikan, bagaimana sosok Budi Darma memahami takdir yang ia jalani sebagai individu atau orang biasa. Kemudian, saya akan mencoba menguraikan hubungan antara kekuatan takdir dan ekspresi batin sebagai basis kreativitasnya sehingga ia dapat melahirkan karya-karya sastra yang terkesan rumit. Dan terakhir, saya mungkin mencoba menguraikan hikmah di balik gagasan utama Budi Darma tengtang takdir, sebagai pembelajaran, untuk memperbaharui pemahaman kita tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Budi Darma  dan Kekuatan Takdir yang Dihayatinya

Subagio Sastrowardoyo, salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, sepertinya pernah mengemukakan pandangannya yang men-sejajar-kan sastra dengan filsafat dan ilmu jiwa. Sebab, walaupun karya sastra berangkat dari imajinasi penulisnya, namum tidak berarti bahwa sastra juga tidak bersinggungan dengan persoalan kebenaran yang menjadi objek kajian filsafat dan ilmu jiwa.

Nampaknya, Budi Darma juga cenderung memiliki pandangan yang serupa dengan Subagio. Budi Darma menilai bahwa sastra, juga kerap merefleksikan tentang pergulatan manusia dengan persoalan-persoalan filsafat dan ilmu jiwa, dalam hal mencari makna dari realitas kehidupan. Mungkin, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang berhubungan dengan eksistensi makna yang lahir dari pergumulan manusia dengan persoalan-persoalan mendasar dalam hidupnya.

Budi Darma menilai bahwa sastra, juga kerap merefleksikan tentang pergulatan manusia dengan persoalan-persoalan filsafat dan ilmu jiwa, dalam hal mencari makna dari realitas kehidupan.

Baginya, karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mempu melebur dengan kebenaran dan mampu merefleksikan nilai-nilai pergulatan kemanusiaan dengan baik pula. Sehingga, semakin baik sebuah karya menggambarkan pergulatan manusia tentang persoalan-persoalan mendasar dalam hidup seperti cinta, kasih, kebencian, ambisi, kematian, kesepian dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya, maka makin tinggi pula mutu karya sastra tersebut.

Sosok Budi Darma, adalah sosok pengarang yang sangat percaya dengan kekuatan takdir. Ia percaya bahwa seluruh tindakannya dituntun dan dikuasai oleh takdir. Dan barangkali ia juga yakin betul, bahwa takdir hidupnya adalah sebagai seorang sastrawan (praktisi maupun akademisi sastra).

Sadar bahwa dirinya ditakdirkan sebagai seorang sastrawan atau pengarang, maka ia merasa berkewajiban untuk menjalani hidup atau melaku, sebagaimana sikap seorang pengarang. Sebagai seorang pengarang, ia dituntut untuk menulis karya sastra. Untuk menulis karya sastra dengan baik, ia wajib memiliki wawasan yang luas tentang sastra. Untuk memiliki wawasan yang luas tentang sastra, ia harus membaca karya-karya sastra dunia yang berpengaruh. Untuk dapat memahami hasil bacaan-bacaanya tersebut, Budi Darma mengoptimalkan anugrah dari Tuhan untuk manusia berupa akal-pikiran dan intuisi, secara berimbang.

Budi Darma memanfaatkan akal-pikiran atau “otak” untuk mempelajari seluruh aspek rasional yang dibutuhkan oleh seorang pengarang. Sepertinya, usaha untuk mengembangkan wawasannya tentang sastra itu ia jalani sebaik-baiknya.

Sebab, ketika ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi di Amerika Serikat, di Universitas  Hawaii-Honolulu dan di Universitas Indiana-Bloomington. Budi Darma tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang itu, untuk mempelajari puisi, roman, novel, cerpen, esai dan karya-karya sastra “penting” dunia lainnya.

Sedangkan untuk menangkap makna terdalam dari realitas kehidupan keseharainnya. Budi Darma terus menerus mengasah kepekaan jiwanya, menajamkan intuisinya dan mengembangkan setiap persepsi-persepsinya dengan obsesi “seorang pengarang” yang ia miliki. Karena baginya, obesesi seorang pengarang adalah serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang mendorongnya untuk terus menerus menulis atau berkarya.

Sedangkan untuk menangkap makna terdalam dari realitas kehidupan keseharainnya. Budi Darma terus menerus mengasah kepekaan jiwanya, menajamkan intuisinya dan mengembangkan setiap persepsi-persepsinya dengan obsesi “seorang pengarang” yang ia miliki.

Kiranya, totalitas usaha Budi Darma mendekati dunia sastra inilah yang mengantarkan dirinya sebagai sosok pengarang, yang memiliki pengaruh besar di dunia sastra, setidak-tidaknya di panggung sastra Nasional.

Di panggung sastra Nasional, Budi Darma dikenal sebagai sosok pengarang yang memiliki kepribadian tangguh, mandiri dan berkarakter. Kedudukannya di dunia sastra Indonesia barangkali layak disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan terkemuka lainnya. Atau mungkin dengan sastrawan-sastrawan yang sudah dapat menerawang makna hakiki di balik realitas kehidupan yang absurd. Makna hakiki atau kebenaran yang tidak tertembus oleh orang lain (orang yang bukan sastrawan). Makna hakiki yang ditemukan dari fakta atau realitas, kemudian dibaca sebagai sesuatu yang lebih esensial, lebih hidup dan lebih bermakna lagi.

Sebagaimana pandangannya yang pernah ia kemukakan, bahwa kehidupan pengarang itu kerap dirundung oleh rasa sakit tetapi juga rasa syahdu sekaligus. Rasa sakit yang muncul karena kemampuannya untuk meneropong eksistensi kebenaran di sebalik kenyataan yang mungkin bagi orang biasa, bermakna salah.

Rasa sakit yang dialami pengarang itu berlangsung terus menerus. Meneror jiwanya, sehingga menambah kesengsaraannya sekaligus membangkitkan nalurinya untuk memberontak. Memberontak sesuatu yang hakiki, sesuatu yang tidak mungkin tumbang. Tahu bahwa yang digugat itu tidak mungkin tumbang, maka pengarang kerap merindukan sesuatu. Pribadi seorang pengarang menjadi semakin mudah tersentuh, mudah merasakan kesyahduan. Perasaan syahdu karena bernostalgia dengan sesuatu yang tidak mungkin tercapai.

Budi Darma dan Proses Kreatifnya

Di sisi lain, sehubungan dengan kesadaran dan peneriaam Budi Darma menjalani takdir hidupnya sebagai seorang pengarang. Nampaknya, dalam proses kreatifnya atau dalam upaya menulis karya sastra seperti novel dan cerpen, ia juga cenderung menempatkan persoalan kekuatan takdir dan ekspresi batin sebagai basis kerativitasnya. Budi Darma cenderung menggarap persoalan takdir dan ekspresi batin karena hal tersebut, ia nilai sebagai persoalan yang paling mendasar dalam hidup.

Namun, jika dikaitkan dengan takdir, sekiranya perlu saya batasi terlebih dahulu bahwa kekuatan takdir dalam konteks ini, bukanlah kekuatan takdir yang membuat orang menyerah atau memilih menjadi “pecundang” yang memasrahkan seluruh hidupnya kepada takdir, lantas berpangku tangan, tidak mau melakukan usaha apapun. Melainkan, takdir sebagai ekspresi batin atau pengakuan manusia akan ketidak-berdayaannya menolak kehendak Tuhan, yang   menentukan jalan hidupnya.  

Sedangkan ekspresi batin yang dimaksudkan oleh Budi Darma,  boleh jadi merupakan ekspresi batin manusia sebagai individu yang seluruhnya ditentukan oleh takdir, bukan ekspresi batin manusia yang terbentuk oleh pengaruh lingkungan sosial masyarakat. Karena persoalan ekspresi batin dalam kedudukan manusia sebagai individu ini, baginya merupakan persoalan yang lebih utama (primer) dan cakupannya lebih luas, ketimbang persoalan-persoalan manusia dalam kedudukannya sebagai mahluk sosial yang sifatnya sekunder. Singkat kata, Budi Darma kerap menggarap persoalan yang berhubungan dengan jiwa atau sukma manusia yang senantiasa mencari identitas kediriannya sebagai objek tulisannya.

Singkat kata, Budi Darma kerap menggarap persoalan yang berhubungan dengan jiwa atau sukma manusia yang senantiasa mencari identitas kediriannya sebagai objek tulisannya.

Selanjutnya, untuk memperjelas makna kekuatan takdir dan ekspresi batin yang ia maksud, Budi Darma mengambil contoh tentang peristiwa kelahiran dan kematian manusia. Menurutnya, kelahiran dan kematian manusia adalah gambaran sederhana dari kekuatan takdir yang telah ditetapkan. Manuisa dinilainya, tidak dapat memahami dan menentukan kapan dan di mana ia hendak lahir, maupun kapan dan di mana ia harus mengakhiri hidupnya (mati).

Selain tidak dapat memilih kapan ia hendak lahir dan kapan ia mati, manusia juga tidak dapat memahami atau menentukan kapan ia harus bahagia dan kapan ia semestinya mengalami penderitaan (kesengsasraan), sebab semua peristiwa itu sudah ditentukan oleh kehendak takdir. Meskipun, manusia dikaruniai otak, insting, jiwa dan perasan untuk membantunya memahami kenyataan, namun semua itu tidak mampu menolak takdir, semua juga tunduk atau takluk di hadapan takdir.

Refleksi Pemikiran Budi Darma

Berbicara mengenai esensi takdir yang digagas oleh Budi Darma, sekiranya cukup menarik untuk menyinggung takdir dari perspektif yang berbeda. Yakni takdir dalam perspektif epos Mahabarat, yang diungkapkan dalam salah satu fragman, dialog antara Arjuna dan Krisna di Kuruksetra (tempat berlangsungnya perang Baratayudha), dalam Bagavatgitha.

Waktu itu Arjuna atau kesatria dari kubu Pandawa, mencurahkan isi hatinya kepada Krisna. Di hadapan Krisna ia mengungkapkan bahwa ia sepertinya tidak sampai hati bertempur menghadapi saudara-saudaranya (Karna dan Kurawa), orang tuanya, gurunya dan kerabat-kerabat dekat lainnya. Ia juga mengutarakan pandangannya, apa sebaiknya ia mengalah (menyerah) saja, memberikan kemenangan kepada kubu lawan, supaya ia tidak membunuh orang-orang terdekatnya.

Namun, cepat-cepat Krisna menguatkan mental dan mengingatkan Arjuna, dengan mengatakan bahwa tugasnya sebagai kesatria adalah berperang. Takdir seorang kesatria adalah berperang membela kebenaran dan menumbangkan kebatilan. Arjuna tidak seharusnya memikirkan persoalan kebaikan dan keburukan moral yang merupakan tugas atau dharma seorang pemimpin agama (brahmana) sekalipun.

Dalam kehidupan nyata yang tak mudah dimengerti ini. Barangkali persoalan besar maupun persoalan kecil yang terjadi di sekitar kita selama ini adalah takdir. Namun, sepertinya kita juga patut memikirkan, jangan-jangan kekacauan tersebut disebabkan oleh diri kita atau orang lain yang sempat melupakan takdir hidupnya masing-masing. Sehingga keseimbangan atau keselarasan kosmik menjadi terganggu.

Tidak sulit untuk menemukan contoh dari fenomena penyimpangan Takdir. Di tataran yang paling umum misalnya, nyaris setiap saat kita menyaksikan pemandangan orang-orang besar maupun kecil, terlibat dalam permasalahan yang bukan urusannya. Mereka, tanpa rasa bersalah, mengomentari, mencela atau bahkan mengutuk tindakan orang lain atas dasar ketidak sukaan, bukan atas dasar profesionalisme.

Di sisi lain, begitu banyak kalangan pemimpin dan cendikiawan yang seharusnya berkerja dan berpikir keras agar membawa perubahan (emansipasi) kearah yang lebih baik bagi masyarakatnya, malah asyik terlibat ke dalam urusan-urusan di luar dari tugas pokoknya itu.

Singkatnya, ada begitu banyak darma bakti atau tugas pokok manusia untuk menjaga keseimbangan, tatanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini, yang seharusnya ditangani oleh tenaga ahli, justru malah dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang yang tidak mengerti benar permasalahan yang tengah dihadapinya..

Dari uraian singkat tentang kekcauan realitas hidup tersebut, sekiranya cukup tepat jika kita merefleksikan kembali nilai-nilai universal yang lahir dari pandangan dan sikap hidup seorang Budi Darma, yang dengan tekun, konsisten dan bertanggung jawab dalam menjalani takdirnya sebagai seorang pengarang.

Hal tersebut, sekiranya penting untuk kita jadikan sebagai bahan renungan untuk mengenali kembali dan mengoreksi persepsi kita tentang makna takdir. Supaya nantinya dapat menumbuhkan sikap mental atau prilaku yang selaras dengan alam, dan mungkin juga dengan Tuhan, melalui tangan takdir-Nya.  

Sehingga kita dapat meresapi betul, makna sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang menyebutkan: “kabeh iku wus ginaris, manungsa mung sakdurma ngelakoni”. Yang artinya kurang lebih seperti ini: “Semua sudah ada yang menentukan (Tuhan), manusia hanya tinggal menjalaninya”. Terimakasih.


Sumber Bacaan:

Darma, B. (1980). Orang-orang Bloomington. Jakarta: Sinar Harapan.

_______. (1983). Olenka. Jakarta: Balai Pustaka.

_______. (1984). Solilokui-Kumpulan Esai Sastra. Jakarta: Gramedia.

_______. (1988). Rafilus. Jakarta: Balai Pustaka.

_______. (1995). Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. (2017). Kumpulan cerita Kritikus Adinan. Yogyakarta: Bentang.

Horison Majalah Sastra, Edisi XXXV, No.1/2002

Mulyono, S. (1978). Tripama, watak satria dan sastra jendra (Vol. 9). Gunung Agung.

Siswanto, W. (2010). Tokoh Ganjil dalam Karya Sastra Budi Darma. Humaniora22(1).

Buku Langgar Shop
Lamuh Syamsuar
Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga yang senang mengaji di Langgar dan suka menulis puisi.