Mengenang Seno Nugroho (1972-2020)

Jika saya coba ingat pertemuan saya dengan wayang kulit kembali setelah sekian lama, dimulai lagi pada tahun 2016 di sebuah pementasan wayang kulit di daerah Pleret, Bantul, yang waktu itu kebetulan dalangnya adalah Ki Seno Nugroho. Saya masih ingat betul, di suasana hujan yang begitu deras saya berangkat dengan tergopoh-gopoh, dengan dihantui fikiran saya sendiri bahwa pementasan wayang kulit pasti tidak jauh dari membosankan dan mengajak saya untuk mengantuk berat.

Tetapi sesampainya di lokasi, sungguh saya terheran-heran melihat berjubel banyaknya orang yang rela berdiri, berdesak-desakan, dimana hal itu tidak pernah saya dapati di pementasan wayang di daerah saya. Mereka semua tampak antusias, mulai dari orang tua, anak muda, bahkan anak kecil dari berbagai lapisan, semuanya nampak serius memperhatikan dan sesekali mereka juga tertawa lepas. Sayapun kemudian ikut larut dengan mereka, waktu itu saya memilih menonton di belakang kelir, sungguh tidak terduga, saking menikmatinya pementasan wayang tersebut suara azan subuh tiba, yang artinya pementasan akan segera selesai. Jika bisa dibilang, mungkin itulah pengalaman pertama saya menonton wayang kulit sampai selesai dan peristiwa tersebut mungkin akan saya catat dalam sejarah hidup saya sebagai momen penting titik awal dimana saya mulai mencintai wayang kulit.

Setelah pagelaran selesai, saya kemudian jadi berfikir kenapa saya begitu menikmati pementasan wayang tersebut; apa kira-kira sebabnya. Di situlah saya baru memahami bahwa faktor dalang ternyata begitu menentukan untuk membawakan pagelaran wayang menjadi lebih menarik dan tentunya bisa menjangkau generasi saya. Dari sana juga, saya lebih tahu inilah Ki Seno Nugroho dalang yang lagi banyak digandrungi oleh warga Yogyakarta dengan berbagai pembaharuan yang dilakukanya.

Dari sana juga, saya lebih tahu inilah Ki Seno Nugroho dalang yang lagi banyak digandrungi oleh warga Yogyakarta dengan berbagai pembaharuan yang dilakukanya.

Memang malam itu yang nampaknya juga di setiap pementasan wayang Ki Seno Nugroho ada semacam hal yang membedakan pementasan dalang pada umumnya. Ki Seno dengan karakter suara yang sangat khas kemudian pembawaan cerita sanggitan yang terbilang baru tetapi juga tidak meninggalkan pakem kunci dalam sebuah pertunjukan wayang. Sehingga membuat wayang yang dibawakannya ketika di hadapkan pada kelir kemudian disorot lampu blencong layaknya hidup memberi gambaran cerita yang penuh makna, apalagi dengan dibumbui guyonan-guyunan segar yang nampaknya tidak bisa ditiru oleh dalang lainnya.

Perjumpaan dengan momen tersebut, secara naluriah terus mendorong saya untuk lebih jauh mengikuti pagelaran-pagelaran wayang Ki Seno Nugroho. Sebagai mahasiswa, jika saya sempat datang langsung di mana wayang digelar, saya menyempatkan untuk datang secara live, karena memang menonton secara live lebih menggetarkan dengan suasana riuh masyarakatnya. Walaupun begitu, bentuk eksplorasi dan adaptasi dengan perkembangan zaman melalui media digital di dalam platform You Tube yang dilakukan Ki Seno Nugroho, memudahkan saya untuk mengikuti pertunjukan wayang yang hampir digelar di setiap malam di berbagai tempat, dan tentu yang dilakukan Ki Seno saat itu tidak banyak dilakukan oleh dalang yang lainnya, sehingga apa yang dilakukan oleh Ki Seno tersebut bisa dikatakan sebagai era baru pertunjukan wayang kulit, dimana sebelumnya mulai dari era radio dengan dalangnya Ki Narto Sabdo, kemudian era televisi dengan dalang Ki Mantep Sudarsono.

Lahirnya channel You Tube Ki Seno ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Melalui channel tersebut banyak orang semakin mengenal Ki Seno dan tentu dengan pementasan wayang yang digelarnya. Hal ini dapat dilihat dari setiap live streaming yang pasti ditonton ribuan orang. Melalui hal itu wayang kulit menjadi semakin akrab di kalangan anak muda yang hari ini begitu lekat dengan berbagai platform media digital yang sulit untuk dilepaskan. Tidak hanya itu, melalui apa yang dilakukan spektrum pementasan wayang kulit juga semakin luas dikenal, tidak hanya dinikmati masyarakat Jawa yang ada di sekitaran Yogyakarta, tetapi meluas hingga mampu menjangkau diaspora masyarakat Jawa di seluruh dunia.

Wayang dan Ajaran dalam Pementasan Ki Seno Nugroho.

Banyak orang kadang tidak menyadari bahwa dalam pementasan wayang Ki Seno Nugroho selalu terdapat ajaran dan nilai-nilai yang sebenarnya inti dari pementasan wayang itu sendiri. Namun dengan kelihaian permainan Ki Seno, ajaran dan nilai-nilai terkait filosofi hidup sebagai orang Jawa sekaligus umat beragama di setiap pementasanya selalu di-slamuri dengan gojekan khas Yogya yang membuat tuntunan yang disampaikan tidak secara verbal sampai menyinggung orang yang mendengarkan. Tetapi malah menyentuh perasaan, mengingatkan kita pada hakikat hidup yang sebenarnya apa yang mesti kita kerjakan di dunia ini.

Jika dulu pementasan wayang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk mendakwahkan ajaran-ajaran Islam, agaknya prinsip dasar itu yang terus dipegang di setiap pementasan wayang Ki Seno Nugroho di setiap pagelaranya. Hal ini bisa dilihat dari setiap lakon-lakon yang dibawakan Ki Seno, mulai dari lakon klasik sampai yang sanggitan baru, Ki Seno sangat handal mementaskanya dengan begitu menawan. Dan yang tidak bisa dilepaskan bahwa pitutur dari ajaran-ajaran Islam yang diperas oleh para wali terutama Sunan Kalijaga terus dikorelasikan dengan konteks persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Sehingga wayang purwo yang di dalamnya memuat tiga perinsip utama yaitu, tuntunan, tatanan, dan tontonan bisa hadir sekaligus mewarnai dinamika kebudayaan masyarakat Jawa. Menjadikan pagelaran wayang tidak semata hiburan, namun juga sebagai sebuah pranata sosial yang selalu menjaga tata nilai masayarakat Jawa, lebih jauh menjadi manifestasi dari ajaran agama yang tidak lagi terjebak pada formalisme, tetapi merangsek ke dalam kesadaran kolektif masyarakat kita melalui kesenian dan adat budaya.

Menjadikan pagelaran wayang tidak semata hiburan, namun juga sebagai sebuah pranata sosial yang selalu menjaga tata nilai masayarakat Jawa, lebih jauh menjadi manifestasi dari ajaran agama yang tidak lagi terjebak pada formalisme, tetapi merangsek ke dalam kesadaran kolektif masyarakat kita melalui kesenian dan adat budaya

Dalam hal ini, tentu Ki Seno banyak melakukan penyesuaian agar pementasanya mampu menarik penonton yang sudah semakin dinamis perubahanya. Salah satu yang dilakukanya di antaranya adalah Ki Seno mencoba mengabungkan gagrak (gaya) wayang Yogya dan Solo yang nampak belum dilakukan oleh banyak dalang lainnya. Ki Seno selalu berusaha dengan kreatif mengatur komposisi yang tepat antara jalan cerita yang mesti tetap sesuai pakem yang ada, tetapi juga bisa tetap menarik penonton menikmati pertunjukan wayang sampai subuh tiba. Tidak hanya itu, walaupun banyak orang tertarik dengan salah satu sesi yaitu limbukan atau goro-goro dalam pementasan Ki Seno, tetapi menurut penuturan teman saya yang sekolah di jurusan pedalangan, Ki Seno merupakan salah satu dalang yang tetap mempertahankan dan konsisten mengunakan perangkat wayang klasik, hal ini dilihat dari pengunaan gending dan perangkat karawitan yang tidak dicampur-adukan dengan tembang-tembang campursari atau menggunakan alat-alat elektronik. Begitu juga dengan keutuhan lakon yang dibawakan, Ki Seno dengan durasi yang harus disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan, selalu berusaha sesuai dengan lakon atau cerita yang ada.

Dari hal itu, sebenarnya Ki Seno menunjukan bahwa pergeseran zaman tidak harus selalu diikuti dengan perubahan yang di dalamnya dapat mereduksi keotentikan suatu tatanan. Seperti yang selalu dipesankan pada kita yaitu “Anglaras ilining banyu angeli nanging aja keli” (kita harus mengikuti laju perubahan tetapi tidak hanyut dengan perubahan itu sendiri). Jadi apa yang diupayakan Ki Seno dalam hal ini adalah bagaimana mempertahankan tatanan dan nilai-nilai tradisi dengan mendialogkan dengan perubahan zaman, sehingga memunculkan kebaruan tetapi tidak mereduksi tradisi dan tata nilai yang ada sebelumnya.

Kini Ki Seno Berpulang

Suatu kabar yang sungguh mengagetkan saya, berpulangnya dalang kondang Ki Seno Nugroho yang tersebar di dalam grub-grub WA pada Selasa, (3/11), malam pukul 22.30. Awalnya saya sempat tidak percaya, pasalnya pagi hari saya masih melihat postingan di feed beliau terkait anaknya di Istagram. Namun apa daya kabar itu memang benar adanya.

Saat mendengar kabar itu, apa yang saya ingat adalah pementasan wayang Ki Seno Nugroho dengan lakon Kalimasadha Kajarwo yang dipentaskan di Singosaren, Wukirsari, Imogiri pada tahun 2018  tiga tahun yang lalu. Kebetulan pada bulan puasa yang lalu, saya tonton full lakon itu sampai selesai melalui You Tube, dan apa yang saya dapatkan dari lakon itu adalah sebuah pementasan wayang kulit yang cukup membuat tergetar hati saya. Dimana dalam lakon itu diceritakan salah satu dari Pendowo yaitu Puntadewa ingin muksa tetapi tidak bisa, maka ia bingung hingga akhirnya ia menemukan ajaran Islam dan ia dibaiat oleh Sunan Kalijaga untuk masuk Islam dengan membaca kalimat sahadat. Menurut Ki Seno sendiri, lakon tersebut merupakan lakon wingit dan tetapi cukup bagus, hasil dari sanggitan Gusti Yudhanegara. Lakon itu memang jarang dipentaskan, menurut cerita lakon itu hanya pernah dipentaskan tiga kali dan kebetulan sekali untuk pentas pertamanya dilakukan pada tahun 2011 pada acara 500 Sunan Kalijaga yang diadakan oleh Pondok Pesantren Kaliopak, yang menurut penuturan Ki Seno pentas itu merupakan salah satu pentas terbaiknya selama mendalang. Bagaimanapun itu memang lakon Kalimosodho Kajarwo yang dibawakan Ki Seno Nugroho bagi saya memang merupakan pementasan terbaik beliau dengan ajaran yang disampaikan di dalamnya.

Bagaimanapun itu memang lakon Kalimosodho Kajarwo yang dibawakan Ki Seno Nugroho bagi saya memang merupakan pementasan terbaik beliau dengan ajaran yang disampaikan di dalamnya.

Tetapi kini itu semua hanya tinggal cerita dari saya yang hanya mengenal Ki Seno Nugroho dari jarak jauh di depan layar media. Walaupun begitu, bagi penggemarnya Ki Seno adalah sosok yang begitu dekat dengan guyonan-guyonannya yang sering kali mewakili perasaan kita sebagai wong cilik. Kritiknya terhadap pemerintah yang sewenang-wenang kepada rakyatnya yang sering kali diwakili oleh sosok Bagong bisa ngosak-ngasik tatanan Karang Kadempel, tentu menjadi ikon penting dalam setiap pementasan wayang Ki Seno. Bahkan sosok Bagong bisa dikatakan ruh dari setiap pagelaran wayang yang dipentaskan oleh Ki Seno Nugroho.

Tadi siang akhirnya Ki Seno Nugraho benar-benar brangkat kembali kepada pangkuan sang Ilahi. Walaupun saya hanya mengikuti prosesi pemakamannya dari live streaming You Tube beliau, saya bisa merasakan banyak orang begitu kehilangan sosok dalang nomer satu Indonesia ini dengan banyaknya yang menonton dan komen hingga ratusan ribu orang. Hal ini menunjukkan bahwa jagat kesenian tradisi kita sedang kehilangan penggiat budaya, seorang dalang besar yang dicintai penggemar dan masyarakatnya.

Hingga akhirnya sesuai pesannya “Jenenge jagad iki ora sepira, ibarate muk mampir ngombe, ibarat mimpi urip kui muk sedelok, mumpung isih padang rembulane isih jembar kalangane, goleao sangu ‘go sowan marang gusti”

“Jenenge jagad iki ora sepira, ibarate muk mampir ngombe, ibarat mimpi urip kui muk sedelok, mumpung isih padang rembulane isih jembar kalangane, goleka sangu ‘go sowan marang gusti”

Dengan diiringi gending ladrang Gajah Seno, laras Slendro Pathet Sanga anggitan Ki Joko Porong menyertai keberangkatan beliau sowan marang gusti. Maturnuwun Ki Seno Nugroho, mugi suwargo langgeng kagem panjenengan.