“Tidak ada ilmu pengetahuan atau satu penelitian etnografi yang betul-betul objektif dan bebas nilai. Pada dasarnya semua memiliki kepentingan politis. Klaim bahwa etnografi adalah penggambaran objektif atas satu etnis atau kebudayaan pada masyarakat tertentu, hanyalah isapan jempol belaka.”

Kata-kata itu saya dengar dari Mas Bisri (begitu kami sering menyapanya), pada suatu senja, di satu komunitas lokal, di Sulawesi Selatan.

Terus terang, karena kata-kata itu saya tidak catat, maka kalimat persisnya saya lupa. Ingatan saya akan kata-kata persisnya, samar-samar, tetapi substansi pesannya betul-betul melekat dalam benak.

Mas Bisri, yang bernama lengkap Bisri Effendy, ketika itu sedang berdiskusi dengan kami, anak-anak LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) tentang pentingnya etnografi, atau penelitian yang memihak pada komunitas-komunitas marjinal yang diteliti.

“Lupakan bahwa meneliti itu untuk mendapatkan pengetahuan objektif. Sejak awal, mulailah dengan keyakinan, bahwa penelitian kita ini ditujukan untuk pembelaan dan perubahan yang radikal untuk kemaslahatan yang diteliti.”

“Lupakan bahwa meneliti itu untuk mendapatkan pengetahuan objektif. Sejak awal, mulailah dengan keyakinan, bahwa penelitian kita ini ditujukan untuk pembelaan dan perubahan yang radikal untuk kemaslahatan yang diteliti.”

Kami yang waktu itu baru belajar etnografi dalam arti sesungguhnya, tentu saja, dibuat tercengang.

Sebagai pembelajar yang masih meraba-raba tentang post strukturalis dan cultural studies yang diperkenalkan oleh Mas Bisri, kami masih bingung bagaimana menerapkan etnografi yang memihak ini.

Sejauh yang kami pahami, kendati waktu itu masih samar-samar, etnografi adalah penggambaran satu kebudayaan tertentu yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan.

Melalui penelitian, biasanya dalam waktu yang cukup lama, seorang peneliti diharapkan menangkap realitas kebudayaan seobjektif mungkin. Setelah itu, etnografer akan menuliskannya secara naratif sesuai kenyataan yang disaksikan.

Belakangan, saya ketahui itu sebagai “emik”, yakni meminjam Clifford Geertz, sebagai pengalaman dekat dari masyarakat yang diteliti dengan kebudayaannya. Lazim disebut native point of view (sudut pandang asli).

Asumsi, bahwa etnografi adalah penggambaran kenyataan sebagaimana adanya, semakin lama semakin kami sadari betul-betul omong kosong belaka.

Dengan cara yang betul-betul setara, Mas Bisri menunjukkan fakta-fakta sekaligus literatur, yang menunjukkan, bahwa etnografi adalah tafsir. Di dalamnya melibatkan kerangka berpikir dari seorang etnografer. Ada seleksi data dan sudut pandang tertentu. Sama sekali tidak netral.

Contoh menarik yang sering dikemukakan Mas Bisri, adalah cara Geertz menerapkan thin description (deskripsi permukaan) dan thick description (deskripsi mendalam).

Belakangan saya ketahui, istilah thick bahkan contoh menyertainya yang sangat terkenal, twitch (kedutan mata) dan wink (kedipan mata) dipinjam dan dikembangkan Geertz (1973) dari Gilbert Ryle.

Mas Bisri, sekali lagi, dengan caranya sendiri tanpa kami merasa sedang diajari, menunjukkan,  bahwa etnografi sejatinya bukan sekadar ingin memahami apa yang terlihat, tetapi menyelami  makna kebudayaan lapis demi lapis.

Etnografi bukan sekadar mendeskripsikan mata yang berkedut (twitch), melainkan menelusuri makna kebudayaan dari kedipan mata tersebut. Itulah sebenarnya yang dimaksud interpretasi kebudayaan oleh Geertz. Begitu Mas Bisri katakan, pada saat itu.

Etnografi bukan sekadar mendeskripsikan mata yang berkedut (twitch), melainkan menelusuri makna kebudayaan dari kedipan mata tersebut. Itulah sebenarnya yang dimaksud interpretasi kebudayaan oleh Geertz. Begitu Mas Bisri katakan, pada saat itu.

Dalam praktik etnografi, interpretasi inilah yang tidak bebas nilai. Ketika orang-orang Barat datang ke Timur, menyaksikan Timur, kemudian menggambarkannya dan disajikan berupa laporan perjalanan, bahkan catatan harian sekali pun, karakter kolonialismenya pun begitu menonjol.

Julie Marcus (2001), yang ikut menyumbang satu artikel dalam Handbook of Ethnografi, menulis secara khusus jalin-temalin antara etnografi dan orientalisme ini.

Marcus menekankan, jalan pertama orang-orang Barat mengenal dan kemudian mengonstruksi tentang ketimuran, adalah melalui etnografi.

Marcus, tentu saja, mengutip di sana-sini Edward Said, yang merupakan salah satu intelektual paling serius dalam memahami kerja-kerja pengetahuan orientalis ini.

Melalui etnografi, para orientalis menancapkan asumsi-asumsi mereka tentang keunggulan Ras Barat (kulit putih) atas ras timur-hitam.

Dalam kerja-kerja etnografi, Timur didefinisikan sebagai sesuatu yang lain “the other”, yang unik, yang eksotis, sebagai pembanding Barat yang rasional dan maju.

Pada akhirnya, etnografi soal Timur diperlukan Barat untuk membangun pengetahuan tentang adanya ras (masyarakat Timur) yang inferior di hadapan Ras Barat yang lebih superior.

Tentu sekelumit pemahaman kami,  tentang kepentingan Barat dalam etnografi yang dilengkapi teori post-colonial, muncul belakangan setelah membaca Said maupun setelah belajar pada Ahmad Baso, salah satu penafsir Said di Indonesia. Tetapi sejatinya, tanpa disadari, Mas Bisri telah membuka jalan kepada kami untuk memahami hal tersebut.

Selanjutnya, Mas Bisri, lagi-lagi dengan caranya sendiri, memberi pemahaman tentang pentingnya memihak pada komunitas-komunitas lokal yang diteliti.

Ia mengajak kami untuk tidak hanya meneliti komunitas lokal, tetapi juga membela kepentingannya. Penelitian yang kami lakukan terhadap komunitas lokal harus bisa menunjukkan suara dan kepentingan komunitas tersebut dalam pertarungan diskursus pengetahuan.

Ia mengajak kami untuk tidak hanya meneliti komunitas lokal, tetapi juga membela kepentingannya. Penelitian yang kami lakukan terhadap komunitas lokal harus bisa menunjukkan suara dan kepentingan komunitas tersebut dalam pertarungan diskursus pengetahuan.

Maka, mulailah kami turun ke komunitas-komunitas melakukan etnografi kecil-kecilan. Mengamati dan memahami pandangan mereka tentang kemajuan, mendengarkan keyakinan mereka, serta menulis pendapat mereka tentang pembangunan.

Menelusuri cara-cara mereka membangun strategi bertahan hidup survival strategic, memahami langkah-langkah komunitas ini menegosiasi perubahan-perubahan, serta cara mereka melakukan resistensi kebudayaan terhadap tekanan, baik dari pemerintah maupun agamawan.

Selanjutnya, suara-suara itu kami munculkan di ruang publik. Suara-suara komunitas lokal pun nyaring terdengar dalam Halakah Kebudayaan, didengungkan di koran-koran, muncul di jurnal-jurnal, dan berdentum dalam talk show di radio-radio.

Ketika semua itu telah kami jalani, barulah kami sadari, bahwa inilah sesungguhnya salah satu jawaban dari pertanyaan yang menohok salah seorang proponent post-colonial studies, Gayatri Chakravorty Svivak: “Can the subaltern speak?”

Konsekuensi sebagai bagian dari negara post-kolonial adalah, mau tidak mau, wajib melakukan kerja-kerja pengetahuan dan etnografi dalam rangka mengangkat suara-suara lokal. Menyuarakan suara-suara kelompok yang dikoloni dan membela mereka yang terpinggirkan.

Kesadaran itu harus muncul, sebab kita pun pada akhirnya tahu, bahwa kerja-kerja etnografi dan pengetahuan Barat atas Timur, sarat dengan kepentingan untuk menundukkan.

Namun, sebagai catatan, upaya menyuarakan suara-suara komunitas lokal dalam etnografi tersebut, tidaklah berarti meromantisir komunitas lokal belaka. Sekali lagi, Mas Bisri diam-diam mengajarkan kami tentang hal itu.

“Kita menulis pembelaan kepada komunitas lokal, tidak berarti sekadar mengais-ngais kejayaan masa lalu, menunjukkan keunikan, lalu mempertahankan mati-matian,” kata Mas Bisri, suatu ketika.

“Kerja-kerja membela komunitas tidak terfokus pada pakaian mereka yang unik, tariannya yang sakral, musiknya yang ajaib. Tetapi pada praktik-praktik kebudayaan mereka (tentu termasuk cara berpakaian, tari atau nyanyian) sebagai cara agar mereka bisa tetap survive.” Begitu saya tangkap dari penjelasan Mas Bisri.

“Revitalisasi kebudayaan selama ini yang disuarakan pemerintah atau beberapa budayawan, sejatinya tidak lain adalah romantisasi kebudayaan,” kata Mas Bisri, lagi.

“Dalam revitalisasi semacam itu,” begitu katanya, “yang dipentingkan adalah mencari-cari hal unik untuk ditampilkan kembali. Tidak peduli apakah hal-hal unik yang ditampilkan itu berguna untuk kepentingan komunitas bersangkutan dalam mengarungi hidup atau tidak. Tidak juga hirau apakah yang ditampilkan itu menguntungkan komunitas bersangkutan atau tidak.”

Mengawali Mendampingi Komunitas dengan Etnografi

Pandangan Mas Bisri soal etnografi yang memihak ini, sekaligus memberikan pemahaman baru pada kami, bahwa pendampingan, selayaknya dimulai dengan terlebih dahulu menggali kebudayaan masyarakat bersangkutan. Memahami cara mereka membangun, menjalani, dan mempertahankan  kebudayannya. Hal itu dilakukan melalui penelitian etnografi.

Sebelum berkenalan dengan etnografi memihak ala Mas Bisri ini, sering kali kita datang ke komunitas dengan konsep pemberdayaan tertentu.

Kita menyadari, bahwa komunitas bersangkutan tertindas, lalu bagai pahlawan, datang menawarkan cara-cara pada mereka untuk terbebas dari penindasan tersebut.

Sering kali, konsep-konsep pemberdayaan itu sendiri, adalah konsep yang dibentuk dalam masyarakat terpelajar, dibangun dari konsep-konsep modern, menggunakan teori kelas  ala Marxis, lantas inilah yang tawarkan untuk membebaskan masyarakat.

Cara ini pun sejatinya, tidak berbeda dengan cara-cara kolonial. Asumsi dasarnya, kita mempunyai pengetahuan soal pemberdayaan, sedangkan masyarakat lokal tidak memilikinya. Karenanya, mereka harus diajari agar bebas dari penindasan.

Etnografi memihak ini, justru tidak demikian. Alih-alih datang mengajari, pertama-tama seseorang yang ingin mendampingi komunitas lokal tertentu, harus belajar dulu pada komunitas. Mereka harus mempelajari cara-cara komunitas itu bertahan, bernegosiasi, dan meresistensi melalui kebudayaan mereka.

Selanjutnya, temuan-temuan dalam satu penelitian etnografi itulah, yang kemudian menjadi pijakan antara dirinya bersama komunitas bersangkutan untuk melakukan langkah-langkah pembebasan. Pembelaan atas komunitas lokal dan etnografi, dengan demikian, harus berjalan beriringan. Keduanya bagai sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Cara ini mungkin mirip Participation Action Research (PAR), riset yang menekankan keterlibatan warga untuk menemukan masalah, sekaligus menjawab masalah mereka bersama si peneliti. Mirip tapi tidak sama.

Yang menonjol dari etnografi memihak Mas Bisri ini, karena langkah-langkah pembebasan itu ditekankan dan didasarkan pada kebudayaan masyarakat bersangkutan, serta dilakukan melalui cara-cara kebudayaan pula.

Karena itu, etnografi memihak ala Mas Bisri ini, menghindari pembebasan dengan cara saling memperhadap-hadapkan antara komunitas lokal dengan kelompok-kelompok yang dianggap menindas mereka.

Karena itu, etnografi memihak ala Mas Bisri ini, menghindari pembebasan dengan cara saling memperhadap-hadapkan antara komunitas lokal dengan kelompok-kelompok yang dianggap menindas mereka.

Sebaliknya, kelompok yang dianggap menindas didorong untuk mengenal kebudayaan komunitas lokal. Caranya, dengan model dialog dan melalui pengetahuan yang terus menerus disebar. Pengetahuan itu sendiri direproduksi dari suara-suara masyarakat lokal.

Beberapa tahun kemudian, etnografi memihak yang diam-diam telah ditransmisikan oleh Mas Bisri kepada kami, ternyata menjadi populer.

Muncullah kemudian istilah-istilah Activist Ethnography. Sharad Chari dan Henrike Doner (2010), bahkan menulis: “Ethnographies of Activism: A Critical Introduction.”

Ada pula Patrick C Reedy (2017), dengan artikelnya, “Critical Performativity in the Field: Methodological principles for Activist Ethnographers.” Di kesempatan lain, Neil Sutherland (2012), menulis: “Activist ethnography and social movements: Opportunities and potentialities.”

Para penulis tadi menyadari satu hal. Selama ini, sering kali teori gerakan sosial gagal mengatasi persoalan praktis. Hal ini terjadi, karena teori gerakan sosial itu hanya diproduksi untuk kepentingan kalangan akademis saja.

Begitu halnya dengan studi-studi etnografi atau antropologi di kampus, yang kebanyakan dilakukan untuk perbincangan akademis semata, tetapi tidak relevan dalam melakukan pembelaan terhadap komunitas lokal.

Kesadaran semacam ini mungkin telah hadir di benak banyak intelektual, tapi belum menjadi bagian dari gerakan sosial.  Etnografi belum menjadi sarana untuk membantu pemihakan para aktivis.

Dalam situasi semacam itulah, Mas Bisri diam-diam telah melakukan dan mentransmisikannya pada anak-anak muda di berbagai tempat di Indonesia. Dan, karena lembaga-lembaga  penelitian waktu itu belum bisa mewadahi etnografi memihak ini, Mas Bisri pun memilih hengkang dari satu lembaga penelitian pemerintah. Diam-diam, ia pun memilih membangun sendiri etnografi memihaknya ini, dan menerapkannya di berbagai tempat.

Kami sangat beruntung mengenal dan belajar pada Mas Bisri. Melaluinya, diam-diam dan tanpa kami sadari, telah mengenali etnografi yang memihak pada kaum pinggiran.

Tentu saja, pengetahuan kami memang hanya secuil. Masih sangat dangkal untuk dibanggakan. Tetapi, yang pasti, kami akan terus belajar dan berusaha melanjutkan gagasan etnografi memihak Mas Bisri Effendy.

Dan, mungkin pula, semuanya dilanjutkan dengan cara diam-diam, sesenyap cara-cara Mas Bisri melakukan kerja-kerja intelektualnya.

Pada akhirnya, selamat jalan Mas. Selamat berjumpa dengan Tuhanmu, Tuhan Yang  Maha Melindungi orang-orang yang dilemahkan. (*)

 


Sebelumnya artikel ini pernah dimuat dalam portal media blamakarassar.co.id, dengan tujuan penyebar luasan gagasan  langgar.co memuat ulang artikel ini.