Keluarga Kudus dan Dilemanya

Cerpen “Keluarga Kudus” karya Sunlie Thomas Alexander adalah sebuah fiksi yang, menurut Saut Situmorang dalam perbincangan di facebook setahun lalu (2021), merupakan cerpen yang gagal sebagai fiksi. Cerpen ini menurutnya hanya semacam laporan jurnalistik.

“Keluarga Kudus” keluar sebagai Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2021. Sekalipun berupaya objektif, pilihan Kompas atas cerpen ini tentu juga tak terlepas dari subyektifitas dewan juri (umumnya wartawan/jurnalis) yang notabene berasal  dari lembaganya sendiri. Atas sebab itu sebagian orang menilai bahwa produk sastra Kompas tidak layak menjadi standar mutu yang mampu merepresentasikan sastra Indonesia. Meskipun, pada faktanya, hanya Kompas yang memiliki tradisi memilih cerpen setiap tahun di Indonesia yang membangkitkan hasrat berkarya sejumlah sastrawan. Dalam tulisan pendek ini saya akan membahas “Keluarga Kudus” secara kritis.

Tinjauan Umum

Sunlie membuka cerita “Keluarga Kudus” dengan adegan kemarahan dan kecemasan. “Zaman sekarang ternyata ular betina pun bisa menjadi keluarga kudus,” ujar Mama Martha bersungut-sungut…” Kemarahan dan kecemasan Mama Martha itu menjadi gerbang pembuka konflik sepanjang cerita yang serupa potret sosial ini berjalan dan berakhir. Mama Martha dalam cerpen ini bukan tokoh utama atau protagonis yang berfungsi mengalirkan cerita sebagai karakter utama, tapi hanya pembuka kecemasan sosial yang berpusat pada gosip kebijakan gereja dan Elizabeth Bafoe, perempuan cantik yang disebut-sebut sebagai perempuan nakal, penggoda iman, namun religius, yang mendapatkan previlise sebagai keluarga kudus.

Melalui nada satire, Sunlie membangun ceritanya dengan semua gosip yang terkumpul sebagai persepsi sosial. Setiap orang membuat penilaian atas kebijakan gereja yang dianggap tidak adil, kurang bijak, mempermalukan jamaatnya yang belum membayar iuran derma, dan selebihnya yang terbaca adalah perilaku tiran atas nama agama. Setiap orang juga saling menilai dan terus bergosip di mana saja mereka bertemu.

Melalui narator maha tahu, pembaca diberikan informasi tentang kondisi keluarga Mama Martha yang ceriwis, selalu tidak puas dengan keadaan, namun rumah tangganya baik-baik saja karena memiliki suami seperti Bapa Josef yang easy going, penyabar, meskipun suka menenggak sopi di warung kopi. Dan narator menginformasikan bahwa alasan mengapa keluarganya tidak pernah terpilih menjadi ‘keluarga kudus’ adalah karena Bapa Josef tidak pernah mau membayar iuran derma gereja yang mahal.

Cerita kemudian bergerak melompat-lompat melalui narator ke beberapa tokoh seperti Bapa Andreas yang ketua lingkungan yang menjadi perpanjangan gereja paroki, dan juga Oom Titus yang dermawan, meskipun uangnya disebut dari sumber yang haram. Narator kemudian melompat pada gosip lainnya yang melibatkan alasan jamaat yang disebut tidak keberatan menderma tetapi kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya merasa berat. Kondisi ini kemudian dibenturkan oleh ketidakpercayaan Romo Linus dengan membawa dalil keimanan untuk menyerang gosip yang berkembang termasuk bila tak membayar derma.

Bab berikutnya narator kembali mengajak pembaca untuk mendengarkan masalah utama dari salah satu pusat konflik, yaitu Elizabeth Bafoe. Disebutkan oleh narator bahwa Bafoe dan suaminya juga belum lunas membayar derma, tapi mereka bisa terpilih menjadi keluarga kudus. Narator mengatakan dengan nada tanya. Tapi tidak ada jawaban, kecuali sekali lagi narator mengajak pembaca melihat situasi di mana Bafoe berjalan masuk ke gereja dengan menebar senyum sekaligus teror kecemasan para istri dan birahi para bapa. Cerita bagian ini ditutup dan sekaligus menutup seluruh rangkain cerpen oleh upaya prasangka baik Ibu Guru Anna yang faktanya juga belum tentu berhasil karena dia teringat suaminya yang suka main lirik-lirikan dengan Bafoe.

Pendekatan dan teknis

Cerpen “Rumah Kudus” pada dasarnya lebih dekat pada konsep naturalisme, daripada realisme. Naturalisme tentu sedikit berbeda dengan realisme, meskipun keduanya memiliki persamaan sebagai cara melihat kehidupan dalam cerita atau seni secara obyektif. Tak ada fantasi, supernatural, heroisme seperti halnya romantisme atau bahkan realisme magis yang menghadirkan realitas klenik dalam sebuah masyarakat. Hanya saja, bila realisme mewakili realitas sebagai ‘verisimilitude’ dan mengambil obyek kehidupan masyarakat kelas menengah sehari-hari, dalam naturalisme, manusia diperbudak oleh masyarakat dan lingkungan, yang sepenuhnya di luar kendali mereka dan menempatkan mereka dalam keadaan tak berdaya yang memaksa mereka untuk hampir menyerah pada nasib.

Emile Zola pencetus gerakan ini di abad 19 yang mengembangkannya dari ‘realisme’ Honore de Balzac, berpendapat bahwa naturalisme dalam sastra harus seperti eksperimen terkontrol di mana karakter berfungsi sebagai fenomena. Eksperimen adalah metode untuk menghasilkan kebenaran secara positif atas fenomena. Dalam cerpen “Keluarga Kudus” kita melihat seluruh karakter adalah fenomena sosial. Kekuasaan dalam lingkungan sosial-budaya mengangkangi nasib masayarakat di dalamnya. Hanya saja, kita tak menemukan karakter utama yang bisa kita ikuti sebagai representasi karakter fiksi, seperti karya penulis naturalis masa lalu Amerika The Open The Boat (1897) oleh Sthepen Crane atau To Build a Fire (1902) karya Jack London.

Naturalisme, seperti halnya dalam (asumsi) cerpen ini, juga berfokus pada kehidupan masyarakat kelas bawah yang berhadapan dengan fenomena alam besar yang sulit dilawan, termasuk di antaranya adalah kekuatan dogma agama, otoritas para imam agama, pemimpin negara atau situasi tertentu yang susah untuk dilawan masyarakat kecil.  Meskipun secara konvensi cerpen, teknik penulisan di dalam cerita ini tak berfokus pada satu karakter yang kuat, seperti misalnya jenis realisme psikologis — di mana gerak cerita berpusat pada satu karakter, bukan kejadian. Seluruh karakter yang hadir adalah karakter yang merepresentasikan dua keadaan. Pertama, masyarakat yang mengeluh dan menjadi korban, dan kedua kalangan tertentu yang menjadi sumber keluhan, yaitu gereja dan masyarakat yang mendapatkan previles.

Di dalam cerpen ini, narator maha tahu bercerita, melaporkan gosip yang berkembang. Persis seperti yang dinyatakan Saut Situmorang sebagai aktivitas jurnalistik dari narator. Sepanjang cerita tak ada karakter yang mendorong cerita pada penyelesaian kecuali potret-potret kejadian yang dinarasikan narator. Dalam tradisi realisme dan naturalisme, Victorian, atau bahkan romantisme dalam fiksi, tokoh atau karakter selalu merepresentasikan keadaan tertentu sebagai penggerak cerita dan berakhir sebagai sebuah kesimpulan. E.M Forster dalam Aspects of the Novel (1927) misalnya, menyebut kesimpulan akhir adalah jawaban dari pertanyaan dramatis yang didorong oleh kesimpulan pertanyaan dramatik plot, melalui jawaban ‘ya atau tidak’. Misalnya dalam “Keluarga Kudus” protagonisnya adalah Elizabeth Bafoe, kita akan mempertanyakan bagaimana perjalanannya sampai atau tidak. Tapi, tentu saja kita tidak mendapatkannya dalam cerpen Sunlie ini karena tidak ada protagonis dan plot di dalamnya.

Di dalam cerpen ini, narator maha tahu bercerita, melaporkan gosip yang berkembang. Persis seperti yang dinyatakan Saut Situmorang sebagai aktivitas jurnalistik dari narator. Sepanjang cerita tak ada karakter yang mendorong cerita pada penyelesaian kecuali potret-potret kejadian yang dinarasikan narator.

Dalam cerpen Sunlie ini, kita juga menemukan ciri-ciri fiksi naturalisme yang kuat seperti deternimisme, pesimisme, dan obyektisme. Hanya saja seluruh ciri itu merucut sebagai potret sosial yang berhenti, di mana kita melihat ada tekanan sebagai bentuk determinisme sosial dari pihak gereja pada warga atau seluruh karakter yang muncul, seperti Mama Martha dan suaminya, Bapa Josef, serta warga lain yang dikisahkan bergosip. Juga kecemburuan sosial akibat previlese tertentu. Kita juga menemukan pesimisme pada hampir semua karakter, dan terakhir Ibu Guru Anna. Namun, pada obyektivitas, cerpen ini tak memperlihatkannya secara sempurna, karena seluruh narasi adalah subyektif. Baik narator yang terkadang menyelipkan opini, atau para tokohnya. Bahkan tidak juga sebagai cerita fiksi dalam pendekatan naturalisme yang memiliki tujuan sebagai fungsi moral dengan pendekatan eksperimen, seperti tulis Zola dalam The Experimental Novel (1893). Karena seluruh cerita dibangun dari narasi tanpa pelibatan deskripsi detail, dan hanya diselipkan dialog sebagai strategi untuk memberikan informasi dan konfirmasi cerita fiksionalnya.

Pendekatan Modernisme

Lantas apakah cerpen ini menjadi gagal? Tentu saja tidak bisa serta merta disebut seperti itu juga, karena faktanya banyak orang bisa menikmatinya sebagai cerita yang kritis. Dalam hal ini, kita bisa merujuk misalnya Wallace Stevens dalam Notes Toward a Supreme Fiction (1942). Menurutnya, puisi adalah fiksi tertinggi, karena esensi puisi adalah perubahan dan esensi perubahan adalah memberikan kesenangan. Dalam konteks cerpen ini, kesenangan didapatkan oleh para kurator/dewan juri dan sebagian masyarakat sastra lainnya. Di sisi lain, bila kita menggunakan pendekatan modernisme, lompatan-lompatan kejadian dan karakter justru mengingatkan kita pada cara stream of consciousness dalam sastra modern bekerja. Hanya saja, dalam stream of consciousness, lompatan-lompatan peristiwa dikerjakan sebagai dialog atau monolog internal dari karakter seperti halnya cerpen Kew Gardens karya Virginia Woolf atau novel Ullyses karya James Joyce dan The Sound and Fury karya William Faulkner. Tapi, tentu saja Stream of Consiouness adalah stratergi artistik yang menggunakan pendekatan psikologis (William James) yang artinya membutuhkan satu karakter yang kuat untuk memberikan keleluasaan metode itu bekerja dengan maksimal. Seperti halnya cerpen Virginia Woolf, Kew Gardens.

Lantas apakah cerpen ini menjadi gagal? Tentu saja tidak bisa serta merta disebut seperti itu juga, karena faktanya banyak orang bisa menikmatinya sebagai cerita yang kritis.

Dalam konsep modernisme, cerpen ini tak memiliki masalah. Modernisme, pada dasarnya, secara prinsip berbeda dengan sastra tradisional, seperti romantisme, realisme, naturalisme, dan bahkan posmodern. Norman Cantor, misalnya, menyebut bila sastra di masa Victoria bertujuan membangun moral dalam cerita, realisme membentuk realitas obyektif, adapun dalam sastra modernisme tujuannya adalah pencapaian bentuk estetika. Seperti pula Saut sering menyebut secara sinis beberapa sastrawan sebagai ‘pemuja estetika’. Tentu yang dia maksud adalah kaum modernisme. Gerakan yang lahir di akhir abad 19 dan berakhir di tahun 1930-an dalam catatan Malcom Bradbury dalam A Dictionary Modern Critical Terms. Prinsip yang mendasar dari modernisme adalah perubahan terus menerus, yang dilandasi oleh frasa dalam kumpulan esai Ezra Pound, Make It New! (1934).

Karya Sunlie “Keluarga Kudus” dengan demikian bila dilihat dari pendekatan ini, tentu tidak ada masalah. Karena pendekatan stratergi ini adalah sah sebagai upaya untuk mendapatkan bentuk artistiknya. Setidaknya, penulis naturalis abad 20, seperti Tom Wolfe juga membuat perubahan dalam cara menuliskan laporan nonfiksinya dengan pendekatan fiksional. Lalu, apakah kritik Saut salah? Tidak salah tentu saja bila pendekatannya melalui perspektif sebagaimana sastra realisme, Victoria, atau naturalisme bekerja yang lazimnya sebuah cerita dalam fiksi dibawa oleh protagonis yang mengalirkan cerita melalui plot-plot. Lalu apa masalahnya? Masalahnya, mungkin saja karena kita tak memiliki standar aliran yang disepakati untuk dijadikan rujukan pasti.

Akhirnya, di luar teknis estetis tersebut, melalui cerpen ini kita, pembaca, disuguhi atau bisa melihat lanskap sosial dari sebuah latar masyarakat yang berada dalam determinasi sosial yang kompleks. Sastra multikulutral ini, memperlihatkan realitas ekonomi kelas bawah yang berhadapan dengan posisi jalan buntu keimanan yang seringkali membuat realitas berubah-ubah seperti halnya pasang-surutnya air di sungai. Kecemburuan sosial dan gosip yang senantiasa dilahirkan dari pusat labirin kekuasaan. Cerpen ini, setidaknya bagi saya adalah semacam refleksitas dunia yang lebih besar seperti halnya politik kekuasaan yang senantiasa melahirkan masalah ketidakpuasan. Jika itu sebagai sebuah alegori.

Ranang Aji SP
menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris dan naskahnya berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pacamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya” menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya Mitoni Terakhir diterbitkan penerbit Nyala (2021),