April 1995. Jelang perayaan jabatan di tahun pertamanya, seorang tua mengatakan, “tahun 1999, saya sudah berumur, saya telah uzur, tak harusnya terus sibuk dalam urusan kenegaraan.”

Padahal, jika mau, ia bisa langsung mengikrarkan diri sebagai pemimpin tak tersentuh, ia bisa seperti Mugabe, Pinochet, Marcos atau Soeharto. Tapi lelaki yang warna kulitnya mirip kopi, dengan tulang pipi naik, tangan gemuk, jari setebal sosis, tinggi enam kaki dua inci, tak melakukannya.

Ia tidak hendak jadi despot. Atau seorang tiran. Ia memilih bersikap sebagai lelaki santun, bahkan ketika beban dunia menumpuk pundaknya, dan orang menganggapnya juru selamat.

Sejarah mencatat dan kita menyaksikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan ilmu politik: 1999. Di usia ke-81, ia memilih berhenti dari dunia politik, ia tampik jabatan seumur hidup yang disarankan orang banyak. Ketika akhirnya orang meninggalkan politik, katanya, ia kembali hidup tenang. Ada waktu lebih buat membaca dongeng.

“Saya sudah terlalu sering melihat kebencian di jalan-jalan, saya sering benar-benar bahagia bila sedang di rumah, bisa membaca berlama-lama; duduk di depan meja makan sambil berdoa; berkeliling di kebun bersama istri serta bocah-bocah.”

“Saya anak desa (Qunu),” katanya. “Saya menyukai rumah.” Tapi waktu itu, di zamannya, percik darah tumpah di mana-mana, perbudakan membelenggu. Orang-orang dengan kulit kopi gosong ditahan. Menjerat siapa saja. Dan itu sulit dielakkan.

Lalu apa yang terjadi setelah segregasi rasial, setelah politik memisahkan hampir segala hal? Orang mengajukan protes dan tak pernah kembali. Tapi bagi lelaki tua itu, jauh di sana, pengampunan tetap jadi bagian hidupnya, “Kita akan mendapat lebih banyak dengan mengampuni, daripada lewat pembalasan.” Kata-kata itu diucapkan setelah ia dituduh pengacau, diseret ke penjara, dan para sipir kulit putih menggebukinya hampir tiap hari.

Dan tahun 1999, waktu ia ingin memutuskan mundur dari panggung politik. Ia masih melihat negerinya yang terancam jatuh dalam perang sipil. Ia tak tinggal diam.

Pada akhirnya, di tengah ketidakpastian itu, ia masih berharap melihat banyak kebaikan. Dan lelaki tua itu tak pernah ragu untuk hal satu ini -semangat mengampuni.

 

“Ketika kau telah menaklukkan musuhmu, jangan pernah membanggakan diri. Ketika kau mencapai kemenangan dan mendapat tepuk riuh, sebaiknya kau bersikap penuh kasih.”

 

Kata-kata itu menggugah, tapi sanggupkah menyelamatkan negerinya dari perang saudara?

“Menjadi merdeka bukan semata-mata melempar jauh rantai yang membelenggu diri…,” kata lelaki tua itu. “Tapi hidup dengan menghormati dan meneguhkan kemerdekaan orang lain.” Ia menulis itu di bagian akhir otobiografinya.

Dari ucapannya, tampaknya kita bisa percaya bila revolusi bukan hanya soal menarik pelatuk dan memercik darah di bumi. Juga perkara kelegaan hati. Dan kita memang butuh manusia yang lega dengan diri sendiri.

 

Yang bisa saling mengampuni

Yang bebas dari perasaan benci

 

Sesuatu yang sengak itu: kebencian. Dilukiskan dalam tulisannya yang lain. “Tak satu pun dari kita lahir dalam keadaan saling benci…,” katanya. “Dan jika orang bisa belajar membenci, mestinya mereka bisa diajarkan buat mencintai, sebab cinta datang lebih alami, lebih murni.”

Barangkali kita bisa mencatat: Lelaki tua itu adalah orang yang mengorbankan hidupnya pada ideal sederhana yang tampak absurd bagi zaman ini: Kesabaran. “[…] Aku tahu, jika tak kutinggalkan kegetiran dan amarahku, aku tetap seorang yang terpenjara,” ungkap lelaki tua itu.

Tapi dunia tahu, sejak ia berjalan menuju pintu kebebasannya, ia sudah berubah, ia jadi lembek. Ia bukan lagi tukang hasut, bukan orator hebat. Tapi mulai gemar membaca pidato panjang dalam satu intonasi, bertele-tele, dan bikin ngantuk.

Dan dengan cepat ia mengatakan jika sosialisme menggerogoti pencariannya akan demokrasi. Ia mulai berdamai dengan para pemimpin kulit putih –hal yang disesali dan dianggap hina penulis novel Bumi Manusia.

Sejak itu pula tak dijumpai lagi pidatonya yang menggebu-gebu seperti berikut. “Kebencianku terhadap keadaan rakyat yang mengerikan di luar penjara, di seluruh negeri jauh lebih kuat dari ketakutanku terhadap hukuman mengerikan yang akan kuterima.”

 

Atau…

 

Sepanjang hidup “Aku telah berjuang melawan dominasi kulit putih dan menentang dominasi kulit hitam. Aku hargai gagasan tentang masyarakat demokratis -bebas. Di mana semua orang bisa hidup bersama, selaras, dan punya kesempatan yang setara. Itu adalah gagasan ideal, aku ingin melihatnya. Dan, jika diperlukan, aku siap mati untuknya.”

Pidato itu, yang disampaikan di depan mahkamah Rivonia, adalah pidato pembelaan waktu ia diadili atas tuduhan “revolusi berdarah,” adalah satu dari pidato paling mengharu-biru dalam orasi politik modern.

Politik memang degil, bisa sentimentil. Ketika ia mengubah pandangan dan mengaku salah. Orang masih menyanjungnya. Ia terus dipuja jutaan massa sebagai santa, dielu-elukan bak dewa. Tak bercela. Sempurna. Ia tak pernah dituduh sebagai penilap duit rakyat -padahal beberapa laporan telah menyinggungnya.

Baginya, justru sebaliknya. Ia orang pertama yang memprotes dirinya jauh dari suci. Ia -ada yang memanggilnya Madiba- mengakui ada benih yang keji dalam diri.

Saya bukan orang suci, dan, ketika berdiri di sini, bukan pula nabi, hanya pelayan kalian. Lebih dari itu, saya bukan malaikat, saya bukan juru selamat. Tapi manusia yang rapuh, terbuat dari darah dan daging, sama seperti kalian, bisa salah dan asing. Kata Madiba, kata Mandela kepada seorang yang mewawancarainya, hari itu.

Lalu angin henti berembus. Udara jadi kering. Dan kata tinggal gema dalam dinding.[]