Mengenang Radhar Panca Dahana: Mengeraskan Tulang Budaya dan Ekonomi Bangsa

Orang kurus biasanya terlihat lebih tua dari usianya. Lebih-lebih bila isi kepala dan jangkauan imajinasinya menyorot jauh ke depan, sudah bukan lagi usia yang dilampauinya, bahkan zaman bisa jadi: pastilah itu. Radhar Panca Dahana, bagi saya orang semacam itu.

Jika pada Kamis, 22 April kemarin ia dikabarkan tutup usia, saya tidak terlalu terkejut. Apalagi sampai menggigil, merinding. Tidak. Saya sendiri tidak punya persinggungan langsung dengan kolumnis yang juga seniman teater, kelahiran 26 Maret 1965 ini. Kendati itu, justru ketika mengikuti ulang rekam jejak, “titik-koma” dedikasinya terhadap kedaulatan kebudayaan bangsa ini, sekujur ujung kepala sampai kuku kaki saya meremang. Orang ini benar-benar terlalu “keras tulang”. Terlalu kuat prinsipnya yang, sampai melupakan kalau tubuhnya punya batas tampung.

Radhar tersadar akan bakatnya sejak usia belasan. Di usia yang seharusnya berharum kesenangan muda, ia sudah membuntang literasi. Memang banyak orang bisa saja telah berkenalan dengan sastra dan literasi di usia belia, akan tetapi tak banyak yang menembus level kualitas dan konsistensi yang dibutuhkan, sampai akhirnya menjadikan seni dan keliterasian sebagai jalan hidup. Radhar adalah sedikit dari jenis ini. Orang yang telah menemukan jalan hidup berkarya, berkesenian sejak masih hijau.

Sosok Muda

Kita bisa membandingkannya mungkin dengan Ajib Rosidi. Tetapi antara Radhar dan Ajib, punya semesta batin dan energi kekaryaan yang berbeda. Ajib adalah sastrawan, juga budayawan, jelas. Tetapi pada Radhar, kuat terdapat kesan ‘ilmuwan sosial’, teoritikus juga. Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme (Buku Kompas, 2015), dan tulisan-tulisannya yang lain tentang kemasyarakatan, ekonomi, dan politik, menguatkan kesan itu. Sangat kuat.

Sejak muda, Radhar memiliki habbit membaca yang liat. Dia bercerita, “kebiasaan saya mengulang sampai lima-enam kali membaca kitab-kitab yang sangat menarik”, menunjukkan dia bukan pembaca lembek. Dia sudah berkenalan dengan Ki Ageng Suryomentaram di usia empat belas tahun. Melalui koleksi Pak Dhe-nya yang punya banyak buku, ia menemukan empat belas jilid karya pemikir Jawa itu, empat belas buku itu tuntas dibacanya (pengantar dalam Puncak Makrifat Jawa: Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram, Jakarta: Noura Books,2012). Empat belas jilid, yang walaupun tipis, di usia empat belas tahun, sungguh terlalu muda bagi pembaca ‘teori serius’ pada umumnya.

Minat dan ketahanan bacanya yang luar biasa terhadap buku, turut menjadi alasan dia kerap berseberangan dengan para pengajar di sekolah. Pertanyaan dan gugatannya terhadap penjelasan di ruang kelas, membuatnya dikenal sebagai pendebat alot: pemberontak berotak. Saya melihat, ada kemiripan antara Radhar dengan Gus Dur di aspek ini. Mereka dikenal sebagai pembaca teori berat sejak dini.

Saya melihat, ada kemiripan antara Radhar dengan Gus Dur di aspek ini. Mereka dikenal sebagai pembaca teori berat sejak dini.

Pada bangku SMP—bahkan sejak SD—Radhar sudah menulis puisi dan cerpen yang kerap dimuat di media-media cetak mapan. Menginjak SMA penetrasi kiprah berkeseniannya semakin dalam. Di usia ini, dia sudah berkenalan dengan Rendra, sempat masuk Bengkel Teater, walau tak lama. Mereka berbeda. Memang hanya satu singa yang boleh tinggal, di satu gunung. Walau begitu, persinggungan tersebut, tentu memberi pengaruh tersendiri bagi sense dan arah berkeseniannya. Kiprah karyanya, belakangan, menunjukkan pengaruh itu: kritis ketika menyoal perpolitikan bangsa.

Arswendo Atmowiloto, satu nama lagi yang bersentuhan dengan Radhar muda. Ia sempat jadi bagian repoter di Koran Remaja yang diasuh oleh Arswendo. Agus Noor menuturkan bila Arswendo adalah sosok penulis yang punya nyawa ganda, bahkan berlipat lipat, dalam menulis. “Ia biasa menjejer-jejer mesin ketik, di satu meja. Dan terpakai semua, untuk menulis tulisan yang berbeda”, kenang Agus Noor (dokumentasi Phutut EA, di chanel Youtube mojokdotco). Inipun pasti ter-radar oleh Radhar Panca Dahana.

Ritme kekaryaan di masa muda ini harus berhenti, terpaksa, karena orang tua Radhar menyuruhnya berhenti. Ia tak dibolehkan terlalu total dalam kerja yang mengesampingkan sekolah. Radsomo, bapaknya, ingin ia fokus bersekolah.

Tidak ada yang salah dengan orang tua Radhar. Dorongan untuk menyelesaikan sekolah, membuat ia menyelesaikan studi sosiologi (S1 di UI) dan berkesempatan memperdalam wacana sosial (S2 di Prancis), khususnya terkait perkembangan teori dan ideologi-ideologi kunci, yang menjadi basis kebijakan sosio politik secara luas. Hal ini menjadikan Radhar tidak hanya masak sebagai pertapa ‘sastra-seni-budaya’ yang bermodal perenungan mendalam belaka. Radhar memiliki kekuatan sangat besar sebagai seorang akademisi. Analisis dan pandangannya tendensional dan ilmiah.

Panggilan Jiwa

“Aku tak kuat menahan diri. Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam teror”, kenang Radhar saat memutus beasiswa doktoralnya. Dia pulang dari studi di Prancis yang sebenarnya belum usai. Kita tahu, di sana, di Prancis, dia sebenarnya sudah terjamin: kuliah, terbiayai. Tetapi dia memilih kembali ke sini, ke Indonesia, yang kala itu—bahkan sampai sekarang, kan—sedang abu-abu.

“Aku tak kuat menahan diri. Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam teror”, kenang Radhar saat memutus beasiswa doktoralnya.

Pria jebolan (S2) Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS) ini, tak pernah lelah menyimak permasalahan bangsa. Dia membuka lebar telinga, menyusun bahasa, lalu bicara. Radhar memiliki pijakan kuat dalam melalukan pengawalan dan pengawasan budaya. Kritik-kritiknya subtansial dan mendalam. Dengan diksi dan sistem logika yang tertata rapi, ia merinci sisi-sisi gelap kapitalisme global dan latensi sikap pikir para sarjana yang terlalu ke-Barat-Barat-an. Menurut Radhar keduanya mengindikasikan bahaya, yang berpotensi mematikan akar budaya bangsa. Style berpikir dan berekonomi melulu pada capital ekonomi, akan membuat bangsa ini menghapus seluruh jejak-jejak khas ‘budaya babon’ negeri ini yang kompleks dengan segenap sisi-dimensi spiritual, estetik dan multiverse.

Tulisan pria yang seluruh saudaranya bernama “Radhar” juga ini, memiliki gaya diksi (terlampau) rapi dan tajam. Tipikal penulis dengan gaya semacam ini bisa kita temukan pada Ahmad Syafi’i Ma’arif, misalnya. Atau pada taraf akademisi luar negeri, Noam Chomsky. Namun Radhar Panca Dahana ini benar-benar berbeda ‘warna’. Ia yang langsung bersentuhan dengan gerakan budaya—menulis puisi, berteater—sekaligus masuk ke dapur redaksi media (Kompas, tentu salah satunya), memiliki kobar ‘api’ diksi yang khas: ilmiah, indah, bertenaga.

Tenaga menulis dan berkarya pada diri Radhar, memang tak pernah habis. Tak lama setelah kepulangannya dari EHESS, ia sakit (2001). Parah. Gagal ginjal yang mengharuskan ‘cuci darah’ setiap sepekan 2-3 kali. Dan ia bertahan sampai Kamis kemarin (22/04/2021), ini adalah daya tahan yang luar biasa. Saya kira, ini melampaui kewajaran tubuh. Dan selama—rentang 20 tahun—masa sakitnya itu, dia masih sangat aktif menjalankan perannya sebagai ‘kuncen’ budaya. Satu istilah yang dikatakannya sendiri dengan binar bangga.

Ekonomi Kultural

Demi kedaulatan Indonesia, khususnya pada dimensi mentalitas dan budaya, dia tegas dan serius atas siapa ‘lawan’ yang harus diperangi: yakni, kapitalisme global atau globo-kapitalisme menurut sebutan Radhar. Menurutnya, ketika paham ini dianut, dipercayai, dan dijadikan sandaran bernegara, maka ‘keadilan sosial’ tidak lagi memiliki premis untuk ada. Ekonomi yang dibangun dengan basis kapitalisme liberal, cenderung menguntungkan ‘sedikit’ elit pengusaha. Melalui modal besar, mereka akan ongkang-ongkang di atas hasil kerja orang lain yang menjadi buruh. “Proses pemiskinan secara sistemik sudah menjadi keniscayaan kapitalistik” (Radhar, 2015).

Ekonomi yang dibangun dengan basis kapitalisme liberal, cenderung menguntungkan ‘sedikit’ elit pengusaha. Melalui modal besar, mereka akan ongkang-ongkang di atas hasil kerja orang lain yang menjadi buruh. “Proses pemiskinan secara sistemik sudah menjadi keniscayaan kapitalistik” (Radhar, 2015).

Globo-kapitalisme di Indonesia, berupaya membangun tiga menara penopang dan pelestari keberadaannya. Radhar menyebutnya sebagai “Trio P”, yaitu Pengusaha-Pemerintah-Parlemen. Saat ketiganya benar-benar klik, “demokrasi sungguh telah menjadi sekedar kedok untuk memeras rakyat, memperdaya sejarah, mengembalikan hidup bangsa ini pada tirani-feodal masa lalu” (Radhar, 2015). Ketiganya adalah penanggung jawab atas kelesuan, bahkan kematian, budaya di negeri ini. Pada sisi ini, pandangannya mirip Chomsky, “Sepanjang sejarah, pemerintah cenderung berkoalisi dengan bentuk kekuasaan yang lain, di era ini kekuasaan ekonomi” (Noam Chomsky, How the World Works, 2016).

Model ekonomi kapitalistik tersebut juga mengancam kelestarian alam. Alam tak lagi mampu menampung nafsu ekspansi kekayaan yang melaju tak terkendali. Bahkan oleh pemodalnya sendiri. Apalagi elemen-elemen masyarakat yang lain. “Sumberdaya natural yang ada pun diperkosa habis-habisan untuk menghasilkan keuntungan tanpa batas, hingga titik alam menjerit dan membalasnya dengan semacam kemarahan lewat bencana tiada habisnya” (Radhar, 2015).

Radhar menawarkan semodel alternatif berekonomi yang (lebih) berbudaya, humanis dan ekologis. Budaya yang ia maksud mengacu kepada peradaban lokal yang khas dan telah berakar ribuan tahun. “Manusia menjadi bagian organik dari alam sekitarnya. Interdependensi tercipta, saat manusia dengan kesadarannya memberi respek pada semua yang ada di lingkungannya untuk bertahan hidup dan berkembang bersama” (Radhar, 2015). Watak kultural dalam ekonomi ini tentunya bisa Jawa, Bugis, Batak, atau yang lainnya. Yang jelas bukan budaya dari memori “asing” dari seberang Eropa, Amerika, bahkan Arab.

Karena alam telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia untuk melangsungkan hidupnya, maka tidak lagi perlu habis-habisan mengurasnya. Apalagi sampai menghabisi jatah tetangga, saudara, dan generasi setelahnya. Kita cukup berekonomi untuk CUKUP. “Tak ada desakan atau kebutuhan menimbun dalam budaya ini, karena alamnya, terutama di Indonesia, menyediakan seluruh kebutuhan di semua iklim yang memang tidak keras, tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas” (Radhar, 2015).

Gagasan memper-adab-kan gerak ekonomi bangsa ini, tentu butuh penelitian lebih lanjut. Radhar juga menyadari hal itu. Tetapi sebelum itu semua, dibutuhkan ‘reparasi’ kesadaran terlebih dahulu, bahwa kapitalisme yang sudah dimufakati hampir seluruh penduduk bumi ini, tidak pas diterapkan di Indonesia. Kapitalisme adalah penyakit. Imbasnya menggerogoti tubuh budaya dan mentalitas bangsa ini menjadi lesu, loyo, kalahan, dan akhirnya menunggu mati. Segala kelesuan budaya—menunggu mati—yang sedang dirasakan bangsa ini, bukan tanpa obat.  Obatnya adalah kesadaran bersama, khususnya para penggerak sosio-politik, untuk mengisi gerak ekonomi dengan orientasi “cukup”. Bukan dengan nasfu melipat-lipatkan kekayaan.

Radhar Panca Dahana, sekarang telah pergi. Tugasnya telah purna. Pada dirinya berkobar-kobar dahana sumbangsih budaya yang, walau kadang redup-terang, tetap terjaga di dada kita. Demikian, saya, kita mengenangnya sebagai seorang yang mengeraskan tulang budaya dan ekonomi bangsa ini.

Selamat jalan, tuan! []

Buku Langgar Shop
Akhmad Faozi
Penulis adalah peziarah Ki Ageng Suryomentaram. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Lahir di Pati, nyantri di Kajen, tinggal di Bantul.