ULASAN | SATURDAY, 16 MAY 2026 | 18:08 WIB

Khumaid Akhyat Sulkhan

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang menggemari topik-topik...

Para Perasuk dan Upaya Manusia Berebut Otoritas Gaib

Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja memberi pengalaman yang relatif baru bagi saya dalam menonton film tentang roh dan orang kerasukan. Dua elemen ini biasanya hadir...

Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja memberi pengalaman yang relatif baru bagi saya dalam menonton film tentang roh dan orang kerasukan. Dua elemen ini biasanya hadir melalui bentuk film horor, terutama untuk konteks Indonesia, yang merupakan tanah subur bagi persebaran kisah-kisah demit dengan segala imaji keseramannya. 

Dalam Para Perasuk, saya tidak melihat orang yang, gara-gara kerasukan jin, bisa merayap di dinding seperti tokek atau punya kemampuan bikin tembok retak hanya dengan jeritan. Alih-alih demikian, menurut saya film ini menghadirkan roh dan orang kerasukan dalam bentuk yang lebih dekat dengan ingatan sehari-hari penonton, yaitu sebagai komoditas budaya serupa jatilan atau debus. 

Alih-alih demikian, menurut saya film ini menghadirkan roh dan orang kerasukan dalam bentuk yang lebih dekat dengan ingatan sehari-hari penonton, yaitu sebagai komoditas budaya serupa jatilan atau debus.

Saya pribadi, sejak dari nonton trailer-nya, sudah langsung teringat dengan pengalaman-pengalaman saya menyaksikan orang kesurupan. Saya pertama kali melihat peristiwa semacam itu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu hari, serombongan grup debus singgah di kampung saya dan mereka menggelar pertunjukan pada malam harinya di lapangan sekolah. Saya, sebagai bocah yang penasaran, tentu saja tak mau ketinggalan menonton. Meski orang tua sudah melarang, pada malam pertunjukan saya tetap menyelinap di antara kerumunan.

Awalnya saya menikmati pertunjukan demi pertunjukan dengan santai: seorang lelaki menggesek-gesekkan mata parang di kulit lengannya, seorang bapak-bapak berkumis lebat mengunyah beling seolah-olah itu bakwan, dan pemuda kurus yang mengenakan blangkon melantunkan kidung entah apa setelah dikubur hidup-hidup. Tapi kemudian, perasaan santai itu segera tergusur ketika seorang penampil datang dengan membawa roh seekor macan dalam dirinya. 

Didampingi oleh semacam pawang, ia merangkak di tengah lapangan, mengaum, tangan-tangannya mencengkeram tanah, dan mulutnya mengapit seekor ayam hidup. Tak lama kemudian ia mencabik-cabik binatang malang itu, melempar jeroannya ke arah saya, dan dengan mata pembunuhnya, menatap saya tajam seakan-akan saya adalah mangsa berikutnya.

Saya tidak bisa tidur nyaris semalaman gara-gara adegan itu. Bukan karena takut pada si lelaki macan, melainkan karena saya terus membayangkan wajah si ayam sebelum mati.

“Konon, orang itu memakan kucing pas tampil di kampung sebelah,” besoknya teman saya berkata seperti itu di sekolah.

“Sempat gigit leher orang juga katanya,” yang lain menambahi. “Pawangnya kewalahan.”

Saya berkeringat dingin hanya dengan mendengar cerita-cerita mereka, yang bahkan belum tentu benar itu, dan selama beberapa hari saya kehilangan selera menyantap daging ayam.

Bertahun-tahun kemudian, saat menempuh pendidikan di pesantren dan trauma soal ayam itu sudah tersembuhkan oleh waktu, saya justru lumayan akrab dengan “atraksi” kesurupan, karena sebagian teman-teman santri saya amat suka belajar ilmu kanuragan. Dan khazanah saya tentang mereka, sekalipun didapat melalui tutur lisan yang versinya sangat bergantung pada kelompok mana saya mencari tahu, semakin bertambah secara signifikan. 

Teman-teman santri saya senang mencari roh-roh di areal pekuburan, di pohon-pohon besar, atau makam-makam keramat. Mereka juga sesumbar satu sama lain atas roh-roh yang mereka peroleh, apakah itu naga, harimau, buaya putih atau bahkan monyet besar. Bahkan ada kalanya mereka mempertandingkan roh-roh tersebut. 

Misalnya, si A memasukkan roh buaya ke dalam tubuhnya, sedangkan si B memasukkan roh monyet, lalu mereka saling adu kekuatan, kadang-kadang secara fisik, tapi seingat saya lebih sering adu ilmu kebatinan. Biasanya, mereka saling berdiri berhadap-hadapan dengan mulut menggeram, diselingi gerakan-gerakan khas binatang yang mereka panggil. Kalau dilihat sepintas, apa yang mereka lakukan memang tampak sinting dan tidak jelas juntrungannya. 

Sebagian kawan santri itu juga mengeklaim bisa memerintahkan hewan-hewan gaib mereka untuk menjaga lemari supaya harta-bendanya tak dicuri. Namun, selalu berujung sia-sia: mereka tetap kehilangan pasta gigi, sikat, sabun, dan sesekali juga uang. Si hewan gaib, jangankan menjaga, memberi kesaksian atas siapa pencuri itu pun mereka sama sekali tak sanggup. Ketika diinterogasi di tubuh santri yang bersedia jadi objek untuk dirasuki, hewan-hewan ini cuma bisa mengatakan hal-hal umum, seperti rambut si pencuri keriting, kulitnya cokelat, dan sebagainya. Deskripsi semacam itu jelas mustahil dijadikan petunjuk untuk meringkus seorang pencuri.

Kegagalan itu, alih-alih menggugurkan keyakinan mereka, justru memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: bahwa yang sedang dipertahankan bukanlah akurasi informasi dari roh-roh tersebut, melainkan keyakinan bahwa mereka bisa diperintah, bisa dikontrol. Oleh karena itu, melalui esai ini, saya tidak ingin berbicara soal benar atau tidaknya peristiwa kerasukan dari pengalaman-pengalaman tersebut. Tapi, sebagai sebuah fenomena kemanusiaan, mereka bikin saya berpikir bahwa, usaha untuk memiliki otoritas terhadap entitas roh, atau yang gaib, sebenarnya juga menunjukkan hasrat manusia untuk menguasai, mempekerjakan, dan mengontrol entitas lain, apa pun itu, demi keuntungannya.

Tapi, sebagai sebuah fenomena kemanusiaan, mereka bikin saya berpikir bahwa, usaha untuk memiliki otoritas terhadap entitas roh, atau yang gaib, sebenarnya juga menunjukkan hasrat manusia untuk menguasai, mempekerjakan, dan mengontrol entitas lain, apa pun itu, demi keuntungannya.

Dalam Para Perasuk ada tradisi “Pesta Sambetan” yang dipimpin oleh Perasuk—istilah untuk menyebut praktisi spiritual atau pawang roh di film tersebut. Dan melalui alat musik tertentu, misalnya selompret, tam-tam, sampai bahkan gitar listrik, para perasuk dapat membuat orang-orang yang bersedia jadi pelamun, mediator roh di film ini, mengalami kerasukan. 

Saat kesadaran mereka diambil alih, para Pelamun akan merasakan halusinasi yang beragam, sesuai kemampuan roh yang merasuki mereka. Misalnya, kesambet roh bulus bikin mereka kebal dari sabetan rotan karena punggung jadi keras layaknya cangkang kura-kura atau kesambet roh semut bikin mereka sanggup memakan apa saja: mengunyah daun serasa mengunyah steak wagyu, mengunyah piring seperti mengunyah kerupuk. 

Pesta Sambetan menjadi atraksi yang menarik masyarakat desa untuk berbondong-bondong jadi audiens. Mereka beli tiket demi menyaksikan roh binatang-binatang memberi kemampuan terhadap orang-orang yang barangkali terpaksa mereka rasuki, atas instruksi para perasuk. Saya berargumen demikian, karena di sepanjang film, roh-roh itu pasif belaka. Mereka hanya bergerak jika manusia menggerakkan. 

Jadi, pada akhirnya, Para Perasuk memotret pula imaji bahwa ketika kita mampu menguasai dan mengontrol yang gaib, kita jadi punya wewenang untuk bikin mereka bergerak sesuai kemauan kita. Menjadikan mereka sebagai tontonan, misalnya, seperti yang juga saya lihat dalam atraksi sang lelaki macan, semasa saya masih kanak-kanak.

Nalar opresif semacam itu saban hari dapat kita lihat pula dari bagaimana manusia memperlakukan alam. Hutan, hewan-hewan, pepohonan, mereka semua dianggap bermakna sejauh mereka bisa berguna sebagai komoditas, sebagai dagangan. Nalar yang membawa kita pada berbagai bentuk kerusakan lantaran menganggap manusia sebagai pusat dan yang lain harus berada di bawah kuasanya. 

Kembali pada konteks otoritas gaib, saya bahkan melihat upaya manusia untuk menguasai yang lain, tidak hanya berhenti pada urusan komoditas. Lebih jauh, otoritas terhadap yang gaib, yang absen, juga dapat menjadi modal budaya sekaligus simbolik untuk memperoleh kedudukan tertentu di masyarakat. 

Kawan-kawan santri saya di pesantren, yang dianggap memiliki khodam binatang gaib, misalnya, relatif menjadi kelompok tak tersentuh, dalam artian, tak ada yang ingin mengganggu mereka, sebab orang-orang menghindari risiko jika si santri kerasukan dan mengamuk seperti binatang. Dengan begitu, otomatis dia terhindar sepenuhnya dari perundungan, bahkan di beberapa kasus, dia disegani dan menjadi semacam pemimpin dalam kelompok pergaulannya. 

Di level yang lebih luas, performativitas orang dalam menunjukkan otoritasnya terhadap yang gaib ini bisa membuat seseorang itu dianggap linuwih, sakti, atau mampu menjadi jembatan spiritual dan sebagainya. 

Di level yang lebih luas, performativitas orang dalam menunjukkan otoritasnya terhadap yang gaib ini bisa membuat seseorang itu dianggap linuwih, sakti, atau mampu menjadi jembatan spiritual dan sebagainya. 

Para perasuk dalam karya Wregas Bhanuteja pun digambarkan demikian. Tokoh protagonis utama film ini, Bayu (Angga Yunanda), berusaha keras menjadi perasuk supaya memperoleh berbagai privilese: gaji naik, dihormati sebagai praktisi spiritual, juga sekaligus memiliki daya tawar lebih untuk menggaet Laksmi (Maudy Ayunda), perempuan depresi yang ia taksir. 

Namun paling tidak, film ini masih punya tawaran yang, menurut saya, mengarah pada usaha emansipatif, terutama ketika para perasuk menjadi aktor sosial dengan kemampuan mereka mengontrol roh-roh binatang. Kita bisa melihatnya, mulai dari usaha mereka menggelar Pesta Sambetan untuk mengumpulkan dana agar sumber mata air tempat roh-roh eksis tidak digusur dan, dengan demikian, tidak mengganggu mata pencaharian mereka. 

Sebagai tokoh, yang memiliki modal sosial, simbolik, bahkan kultural, praktisi spiritual jelas menjadi salah satu aktor gerakan sosial terkuat, yang mampu mendorong masyarakat untuk memperjuangkan ruang hidup mereka. Wregas Bhanuteja saya pikir berhasil menebalkan kesan itu di sepanjang film, walau gerakan para perasuk sifatnya masih terpusat pada kepentingan manusia belaka.

Sialnya, selama beberapa tahun terakhir, berita yang sampai di hadapan kita lebih banyak berbicara tentang guru atau praktisi spiritual mencuri uang sampai memperkosa murid-muridnya. Sejauh ini, lebih banyak orang yang menggunakan klaim-klaim kuasa spiritualitas mereka untuk menipu dan melegitimasi penindasan terhadap sesama manusia, ketimbang membangun gerakan sosial yang emansipatif. 

Sejauh ini, lebih banyak orang yang menggunakan klaim-klaim kuasa spiritualitas mereka untuk menipu dan melegitimasi penindasan terhadap sesama manusia, ketimbang membangun gerakan sosial yang emansipatif. 

Kalau bukan dalam urusan kriminal, klaim itu juga biasanya malah jadi legitimasi individu tertentu dalam usahanya menggaet jemaah sebanyak mungkin. Seringkali bahkan disertai cerita-cerita yang secara rasional menggelikan: mampu memahami bahasa semut atau punya leluhur yang sanggup mengeluarkan tali tambang dari langit, misalnya. 

Yogyakarta, 2026

Penyunting: Cahya Saputra

261
Rekomendasi