
Mengenang Prie GS dan Seni Menggebuk Hidup
Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas, “Hidup ini keras, maka gebuklah!” Prie GS. Tertulis di tembok bagian dalam sekretariat pers mahasiswa semasa saya kuliah. Waktu itu, Pak Supriyanto Gendut...

Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas, “Hidup ini keras, maka gebuklah!” Prie GS. Tertulis di tembok bagian dalam sekretariat pers mahasiswa semasa saya kuliah. Waktu itu, Pak Supriyanto Gendut...

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Hari sudah berganti tentu saja. Dini hari itu...

Jika saya coba ingat pertemuan saya dengan wayang kulit kembali setelah sekian lama, dimulai lagi...

“Tidak ada ilmu pengetahuan atau satu penelitian etnografi yang betul-betul objektif dan bebas nilai. Pada...

Salah seorang dari sedikit penyair Tanah Air yang memiliki “sidik jari” kepenyairan adalah Sapardi Djoko...

“The child is innocence and forgetfulness, a new beginning, a sport, a self-propelling wheel, a...

Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja memberi pengalaman yang relatif baru bagi saya dalam menonton film...

Ketika hari libur nasional, jalanan kota Yogyakarta sering dilanda macet. Apalagi hari libur itu seturut...

Tulisan ini sebelumnya terbit di laman Facebook Mohammad Basyir pada 19 April 2026 dengan judul...

Kemunculan kembali Para Priyayi karya Umar Kayam dengan sampul baru1 membuat saya menyadari satu hal:...

Ada satu pertanyaan yang sering alpa dalam diskusi sastra Indonesia mutakhir padahal bobot permasalahannya sangat...