ULASAN | FRIDAY, 5 JUNE 2026 | 20:59 WIB

Muhammad Fariz Ardan

Muhammad Fariz Ardan adalah penulis dan alumnus Fakultas Ilmu Budaya,...

Ilusi Persahabatan Kolonial dalam Film Oeroeg

“Oeroeg was mijn vriend.” Kalimat pembuka novel Oeroeg (1948) karya Hella S. Haasse terdengar sederhana, bahkan terasa dalam sekali. Sebuah pengakuan yang personal, tentang dua...

Oeroeg was mijn vriend.” Kalimat pembuka novel Oeroeg (1948) karya Hella S. Haasse terdengar sederhana, bahkan terasa dalam sekali. Sebuah pengakuan yang personal, tentang dua orang tumbuh bersama di Hindia Belanda. Namun, semakin cerita berjalan, kalimat itu terasa aneh, seperti ada sesuatu yang pecah di dalamnya. Pertanyaan inti dalam Oeroeg sebenarnya bukan “bagaimana Johan dan Oeroeg pernah bersahabat?” tapi “apakah mereka pernah benar-benar setara?”.

Empat puluh lima tahun setelah novel itu terbit, ceritanya mengalami ekranisasi (alih wahana menjadi film). Oeroeg (1993) yang disutradarai Hans Hylkema, masih membawa pertanyaan itu ke layar: dengan latar kolonial sampai revolusi kemerdekaan Indonesia. Film ini mengikuti perjalanan Johan ten Berghe, orang Belanda yang lahir dan besar di Hindia Belanda. Masa kecilnya dihabiskan bersama Oeroeg, anak pribumi yang keluarganya bekerja di perkebunan Kebon Djati, Jawa Barat. Pada masa kanak-kanak, mereka tumbuh dekat, seakan tak ada sekat antara keduanya. Arena jelajah mereka hanya di sekitar Kebon Djati—telaga, hutan, pemandangan tropis, lanskap itu jadi bagian hidup. Mereka selalu bersama. Saya merasa film ini benar-benar menguatkan gambaran persahabatan mereka.

Lalu, zaman memaksa nasib Johan dan Oeroeg jadi berbeda. Setelah kembali ke Belanda sebentar, Johan “pulang” ke Hindia Belanda, tetapi kali ini sebagai bagian dari tentara Belanda. Agresi Militer membawa gejolak; Johan ingin mencari ayahnya dan teman masa kecilnya, Oeroeg. Di sini konflik film mulai terasa. Film ini tak hanya soal masa kecil mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolonialisme, relasi kuasa, dan ketidaksetaraan menarik untuk direnungkan.

Film ini tak hanya soal masa kecil mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolonialisme, relasi kuasa, dan ketidaksetaraan menarik untuk direnungkan.

Nostalgia Persahabatan dan Relasi Kuasa Kolonial

Oeroeg (1993) masih relevan hari ini. Film ini tidak cuma bicara soal masa lalu, tapi soal cara pandang yang masih ada sampai sekarang. Kolonialisme, ternyata, tidak selalu hadir dengan kekerasan. Kadang ia muncul lewat bagaimana orang melihat dunia dan sesama manusia. Edward Said, dalam Orientalism, menulis bahwa The Orient (Timur) itu hampir sepenuhnya ciptaan Eropa.1 Timur bukan sekadar wilayah di peta dunia, tetapi imajinasi yang dikonstruksi Barat: eksotis, liar, emosional, dan penuh misteri. Dalam orientalisme, Timur jarang dapat mendefinisikan dirinya sendiri; lebih sering jadi objek pandangan Barat.

Sudut pandang seperti ini terasa kuat sekali di film Oeroeg. Indonesia—Hindia Belanda—di film ini hadir lewat mata Johan. Tanah nostalgia, kenangan bermain, suara hutan, cerita rakyat wewe gombel, kabut gunung, dan persahabatan yang hilang. Dari awal, penonton masuk ke dunia Johan, bukan Indonesia sebagai realitas mandiri. Ada satu adegan masa kecil yang menonjol: Johan dan Oeroeg bermain di Telaga Hideung. Kamera merekam kebebasan mereka, seolah-olah ras dan kelas sosial tidak ada penghalangnya. Adegan itu hangat, hampir utopis. Tapi ironisnya, di situ justru kolonialisme bekerja diam-diam.

Walaupun mereka bermain di lingkungan yang sama, realitas sosial-budaya di sekitar mereka tidak pernah setara. Johan tetap anak keluarga Belanda, memiliki privilese kolonial; akses pendidikan, keamanan, status sosial. Sedangkan Oeroeg, anak pribumi di bawah struktur kolonial. Tentu, Johan kecil belum paham sepenuhnya, tapi sistem sudah mengaturnya. Salah satu sebab Oeroeg bisa bersekolah dan selalu dekat dengan Johan dikarenakan ayah Johan merasa bersalah setelah Deppoh (ayah kandung Oeroeg) mati tenggelam, jadi Oeroeg diberi akses pendidikan.

Kontras privilese kolonial juga terlihat ketika mereka hendak menonton Film Tarzan di bioskop. Oeroeg yang tidak bisa masuk ruang kulit putih bersama Johan, akhirnya menonton dari balik layar bersama orang-orang pribumi—gambar terbalik, tapi tetap bisa dilihat. Johan pun berbicara kepada Oeroeg jika ia tak ikut masuk menonton dan memilih menghabiskan waktu di luar. Film usai diputar, Oeroeg mendekati dan melihat sisi depan layar–dengan banyak kursi yang kosong dan lebih nyaman dibandingkan sisi pribumi yang hanya kursi kayu seadanya. Namun, betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa Johan sebenarnya juga ikut menonton dari sisi depan layar. Johan ikut menonton tanpa sepengetahuan Oeroeg. Tatapan Oeroeg penuh kecewa, merasa dikhianati.

Kolonialisme di Oeroeg bergerak lewat sesuatu yang lebih halus: normalisasi ketimpangan. Johan tidak pernah benar-benar merasa sebagai penindas. Dia cinta Hindia Belanda, dekat dengan masyarakat pribumi, menganggap Oeroeg seperti saudara sendiri. Tapi justru di situ kolonialisme membangun kekuatan: saat orang punya privilese, secara tak sadar, sejatinya ia sedang berkuasa.

Frantz Fanon, dalam Black Skin, White Masks, menulis bahwa orang yang dijajah akan naik derajat jika mengadopsi standar budaya negara induk.2 Dalam relasi kolonial, penerimaan terhadap pribumi tergantung seberapa jauh mereka mendekati standar kolonial; jas, bahasa Belanda, pengetahuan tata krama. Oeroeg bisa “bersahabat” dengan Johan selama ia main di ruang aman, di bawah struktur kolonial. Oeroeg mungkin fasih berbahasa Belanda dan menggunakan jas rapi layaknya meneer Belanda, namun ia tetap tak bisa masuk dan setara menonton film Tarzan dari layar depan. Hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan kekuasaan, dominasi, dan hegemoni. Relasinya selalu soal kuasa, bahkan meski  akrab dan personal.3

Johan merasa dekat dengan Oeroeg, tapi kedekatan itu tetap terpusat dalam narasi kolonial. Misal, saat Johan ulang tahun dan bermain bersama teman-teman Belanda, Oeroeg ditolak masuk, Johan kebingungan soal identitasnya. Johan jadi subjek yang mengingat dan mencari, sementara Oeroeg lebih sering jadi sosok dikenang—tak sepenuhnya punya suara sendiri.

Bahkan judul film ini ironis. Judulnya Oeroeg, tapi hampir seluruh cerita melalui perspektif Johan. Kenapa tidak diberi judul “Johan” saja? Penonton mengenal Oeroeg dari ingatan Johan. Oeroeg tetap “yang lain”—terus didekati, tapi tidak pernah benar-benar dimengerti atau dimiliki. Gayatri Chakravorty Spivak pernah bertanya dalam esainya “Can the subaltern speak?”.4 Dalam Oeroeg, pertanyaan itu hidup. Oeroeg jadi pusat simbolik, tapi suaranya dibatasi lewat perspektif Johan. Oeroeg hadir lebih sebagai figur dalam ingatan kolonial, bukan subjek yang mengendalikan narasi sendiri.

Penonton mengenal Oeroeg dari ingatan Johan. Oeroeg tetap “yang lain”—terus didekati, tapi tidak pernah benar-benar dimengerti atau dimiliki.

Saat Johan kembali ke Indonesia di masa revolusi, dia datang sebagai tentara Belanda—menganggap Hindia Belanda masih rumah. Akan tetapi, Indonesia sudah berubah; jalanan penuh ketegangan, orang pribumi tak lagi menganggap Belanda sebagai bagian negeri. Revolusi mengguncang relasi penjajah dan yang dijajah. Di titik ini, Johan dilanda krisis. Dia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap milik­nya. Namun, film ini memantik kita bertanya: Apakah Indonesia pernah benar-benar milik Johan? Itulah inti tragedi Oeroeg. Johan mencintai Indonesia, tapi cintanya lahir dari posisi kolonial. Ia cinta Indonesia selama negeri itu masih bisa jadi ruang nostalgia dan kenyamanan buatnya. Ketika Indonesia memilih jalan sendiri, Johan malah merasa asing.

Pertemuan kembali Johan dengan Oeroeg sangat terasa berbeda. Oeroeg yang dulu diam dan selalu mengikuti Johan, sekarang berubah. Ia ikut dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Johan sulit menerima perubahan itu; ia masih melihat Oeroeg lewat bayangan masa kecil. Percakapan mereka di akhir film pun penuh ketegangan emosional. Johan berupaya mempertahankan kedekatan, tapi Oeroeg justru menunjukkan jarak yang selama ini tersembunyi. Sejarah akhirnya memperlihatkan: mereka memang tidak pernah berdiri di posisi yang sama.

Detaill menarik justru ditunjukkan dalam tokoh Lida di film ini. Lida, karakter Belanda yang perlahan sadar kolonialisme harus berakhir, menjadi tokoh yang kontras bagi Johan. Lida mampu menerima kenyataan bahwa Indonesia harus merdeka, berbeda dengan Johan yang terjebak nostalgia. Lida mirip Geertje dalam cerpen Selamat Tinggal Hindia karya Iksaka Banu. Keberpihakannya menunjukkan masalahnya bukan cuma soal identitas nasional, tetapi rela melepaskan privilese kolonial. Cinta pada Indonesia tak cukup kalau tetap memosisikan Belanda sebagai pusat.

Orientalisme dan Warisan Kolonial dalam Dunia Modern

Oeroeg sangat relevan hari ini. Kolonialisme formal memang telah berakhir (semoga), tapi orientalisme hidup dalam bentuk-bentuk modern yang halus. Barat masih sering dianggap pusat modernitas, rasionalitas, dan kemajuan, sementara Timur menjadi ruang eksotis yang dikagumi atau “diselamatkan”. Homi K. Bhabha, dalam The Location of Culture, menyebutnya colonial ambivalence—relasi kolonial terus bergerak antara ketertarikan dan dominasi. Timur dikagumi, tapi perbedaannya dijaga, tetap di bawah kontrol simbolik Barat. Konsep perbedaan budaya berfokus pada masalah ambivalensi otoritas budaya: upaya untuk mendominasi atas nama supremasi budaya yang pada dasarnya hanya muncul pada saat terjadinya diferensiasi. Dan justru otoritas budaya itu sendiri—sebagai pengetahuan tentang kebenaran referensial—lah yang menjadi pokok permasalahan dalam konsep dan momen enunciation. 5

Kita dapat melihat fenomena ini dalam industri film, media sosial, dinas pariwisata, sampai pariwisata internasional. Asia dan Afrika sering digambarkan sebagai tempat spiritual atau “otentik” untuk orang Barat yang ingin istirahat, mencari ketenangan, atau kabur dari modernitas mereka. Orang Barat hendak melihat sisi lain dari Timur yang jadi pengalaman emosional bagi Barat.

Fenomena “digital nomad” di Bali, misalnya, memperlihatkan bentuk baru dari pola itu. Orang Barat datang ke Asia Tenggara “menemukan diri”, menikmati “kesederhanaan hidup lokal”, atau mencari ketenangan spiritual batin. Namun, ketimpangan ekonomi yang membuat pengalaman itu mungkin jarang dibahas. Masyarakat lokal sering jadi latar untuk pengalaman orang Barat. Dalam film Oeroeg, Johan sendiri rasanya merupakan figur dari awal pola itu. Ia cinta Indonesia, tapi cintanya mengelilingi pengalaman pribadinya. Indonesia jadi bagian dari perjalanan emosional Johan. Ketika Indonesia berubah jadi subjek politik tersendiri, Johan kehilangan arah.

Orientalisme bekerja lewat mekanisme itu: Timur dicintai selama dia jadi objek pandangan Barat.

Orientalisme bekerja lewat mekanisme itu: Timur dicintai selama dia jadi objek pandangan Barat.

Oeroeg menyakitkan karena Johan bukan monster. Ia bukan kolonialis brutal penuh kebencian. Justru ia merasa dirinya terbuka, penuh kasih, dekat pribumi. Akan tetapi, niat baik tidak otomatis menghapus relasi kuasa. Privilese sering kali malah sulit dikenali oleh pemiliknya. Johan bisa bermain bersama Oeroeg, merasa sangat mengenalnya. Namun, ketika dunia runtuh, Johan tetap bisa kembali ke Belanda. Oeroeg tidak punya kemungkinan itu. Ketimpangan yang tadinya samar waktu kecil, jadi terang saat revolusi.

Pada akhirnya, Oeroeg bukan cuma kisah kehilangan sahabat. Ini soal runtuhnya ilusi kolonial: ilusi bahwa kedekatan personal bisa menghapus ketidaksetaraan struktural. Dan mungkin itu sebabnya film ini tetap relevan. Oeroeg memperlihatkan luka kolonial tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Kolonialisme paling langgeng bukan melalui tentara dan senjata. Namun, ia diam-diam tinggal di dalam bahasa, nostalgia, budaya, dan cara orang memandang satu sama lain.

Penyunting: Cahya Saputra

Daftar Pustaka

  1. Edward Said. (1979). Orientalism. New York: Vintage Books. Hlm. 1. ↩︎
  2. Frantz Fanon. (1986). Black Skin, White Masks. London: Pluto Press. Hlm. 18. ↩︎
  3. Homi K. Bhabha. (1994). The Location of Culture. London: Routledge. Hlm. 5. ↩︎
  4. Gayatri Chakravorty Spivak. (1988). “Can the Subaltern Speak?” dalam Marxism and Interpretation of Culture. Cary Nelson dan Lawrence Grossberg (Eds.). Urbana and Chicago: University of Illinois Press. Hlm. 283. ↩︎
  5. Homi K. Bhabha. (1994). The Location of Culture. London: Routledge. Hlm. 34-35. ↩︎
128
Rekomendasi