Dari Jalan Bypass yang belum bernama di Kota Padang, saya salah jalan. Seharusnya saya pilih jalan menurun di jembatan layang Simpang Kasang. Sebab arah Pariaman yang akan saya tuju, November lalu, melewati bagian bawah jembatan itu. Namun saya terus menyusuri bagian atas sehingga saya nyasar ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Dalam tersesat, saya masih ingat buku Wisran Hadi, Anak Dipangku, Kemenakan di BIM (2013) yang merupakan plesetan dari pepatah idealis Minang, “Anak dipangku, kemenakan dibimbing”. Jalan ke bandara memang lumayan sesak, dan saya duga bukan hanya dipenuhi anak-kemenakan yang datang dan pergi, tapi mungkin juga pihak mamak yang tak ketinggalan wara-wiri.

Beruntung, ujung jalan itu bukan menuju satu-satunya ke bandara, namun ada simpang ke kanan, ke arah Pariaman. Lega, saya ikuti simpangnya yang penuh papan iklan, meninggalkan bandara yang dulu diusulkan bernama Bandara Tan Malaka itu—dan kita tahu, ditolak.

Jadilah saya ke Pariaman, tepatnya Kota Pariaman, melewati “pintu belakang”, jika jalan Padang-Bukittinggi diibaratkan “pintu depan”. Bila lewat depan, saya tentu akan menempuh pertigaan Lubuk Alung, kota kelahiran cendikiawan Azyumardi Azra. Atau bisa juga lewat pertigaan Sicincin yang kemacetannya mulai meniru Jakarta, sementara jalan tol sebagai solusinya masih dalam proses panjang (entah kenapa tidak semulus dan secepat proses di Jawa).

Tapi tak jauh dari situ ada sebuah tempat bersejarah, Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayu Tanam, sebuah lembaga pendidikan yang menyebut dirinya sebagai “Ruang Pendidik”, sama inspiratifnya dengan sebutan “Taman Siswa”.

INS didirikan tahun 1926 oleh Muhammad Syafei, jauh sebelum ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kabinet Syahrir II. Sekolah alternatif ini juga pernah diasuh sastrawan A.A. Navis pada akhir tahun 90-an.

Ah, karena lewat jalur belakang, rindu saya melihat gedung-gedung bersejarah INS ditunda dulu. Jalur ini tak selapang jalan utama, tapi tak kalah mulus dan relatif sepi, melewati kampung-kampung pantai dan deretan pohon kelapa yang alhamdulillah belum berganti kelapa sawit. Adem. Tanpa terasa, tak lebih setengah jam, saya sudah masuk kawasan Kecamatan Ulakan-Tapakis di perbatasan Kota Pariaman.

Ingat Ulakan (tapi jarang ingat Tapakis), saya segera ingat makam Syekh Burhanuddin dan Tarekat Syattariyah. Ya, makam dan sosok yang terkubur di situ tidak akan dilupakan orang ketika merujuk pusat pengembangan agama Islam di Minangkabau. Ingatan itu masih langgeng hingga sekarang, terbukti banyak peziarah yang datang. Saya dan keluarga pun ingin menjadi “barang bukti”, lengkap dengan jasad dan niat hati.

Ulakan, nagari di selatan Kota Pariaman (secara administratif masuk Kabupaten Padang Pariaman), dikenal sejak lama ketika Syekh Burhanuddin memulai dakwah dan kajian tasawufnya di Surau Tanjung Gadang. Setelah Sang Syekh wafat, makamnya di Padang Sigulandi, jadi magnet para peziarah. Di makam itulah kini saya berada.

Kompleks makam sedang dipugar sehingga kian luas dan besar seolah berpacu dengan sebuah kotak besi yang ditaruh di pintu makam. Lengkap dengan dua tulisan yang juga besar: “Kotak Imfak”. Ukuran dan warna kuning mencolok serta penempatannya yang persis di bagian kaki makam Sang Syekh, di pintu yang sempit, terasa sesak dan, terus-terang, “kurang indah”. Saya kira perlu penempatan yang pas.

Bagian depan areal makam Syekh Burhanuddin
Suasana sekitar kompleks makam Syekh Burhanuddin
Lantai papan dalam areal makam Syekh Burhanuddin
Makam Syekh Burhanuddin

Teringat Nenek

Apapun, kompleks makam Syekh Burhanuddin sekarang terasa sangat luas. Meliputi Masjid Agung, gedung-gedung madrasah, kantor, dan pelataran parkir. Sebuah pasar cendera mata berdiri di luar pagar, dengan deretan kios pedagang sebagaimana lazimnya kawasan makam wali atau tempat ziarah lainnya di Pulau Jawa. Istri saya bahkan mendapatkan kain perca khas Minang (bersulam dan berhias pecahan kaca) yang sejak lama diinginkannya, di pedagang kaki lima Ulakan, bukan di Bukittinggi atau Payakumbuh sebagai pusat kerajinan.

Masjid yang lebih kecil juga masih berdiri di dekat pasar, tampaknya masjid lama dengan banyak kubah. Sebatang pohon beringin rimbun dibiarkan berdiri di antara pagar dan pusat makam, memunculkan kesan “mistis” dan suasana Minangkabau tempoe doeloe. Areal makam Burhanuddin berarsitektur rumah gadang gaya Koto Piliang memperkuat nuansa itu. Dindingnya bersepuh cat merah-kuning-hitam seperti warna marawah (bendera, umbul-umbul) Pagaruyung, mencuatkan kesan “ortodoks” ala Syattariyah.

Ada pun pusat makam dibuat menyerupai surau tua, beratap warna hitam, sekilas mirip atap ijuk. Area itu berlantai papan yang, uniknya, di celahnya yang terbuka terdapat deretan nisan. Saya tak tahu siapa saja dimakamkan di dalam sini, tapi salah satunya terbaca nama dan alamat: Karia Datuk Bandaharo Ambung Kapur, Sungai Sarik.

Di lantai papan itu orang sembahyang dan berzikir pada musim basapa, sebuah ritual khas di makam tersebut. Hal ini telah memancing perdebatan dari pihak yang tak setuju. Mereka menganggap itu bertentangan dengan hadis Nabi yang tak membolehkan orang berada di atas kuburan, apalagi untuk bersembahyang. Hal lain yang dikritik adalah praktek meminum air dalam wadah cangkang karang yang berserak di lokasi makam dan dipercaya ampuh mengobati penyakit. Peziarah juga biasa membawa tanah atau pasir dari makam untuk disebarkan di sawah pengusir hama pianggang (wereng).

Namun boleh dikata perdebatan semacam ini lumrah dalam tradisi ziarah makam, sebagaimana sering dialamatkan kepada kalangan NU di Jawa. Fenomena ziarah kubur yang tidak terkait langsung dengan Al-Quran dan pelaksanaannya kadang demikian khas, menurut Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot dalam Ziarah dan Wali di Dunia Islam (2007), membuat para penantangnya tak kekurangan alasan mencapnya sebagai praktek yang menyimpang. Padahal, lanjut Loir dan Guillot, jika amal sembahyang di masjid mencerminkan kesatuan dan keseragaman dunia Islam, maka amal ziarah ke makam wali mencerminkan budaya-budaya yang tercakup dalam dunia Islam (2007: 15).

Di samping bersetuju dengan Loir dan Guillot, saya juga melihat bahkan merasakan sendiri ketakziman saat berada di makam orang suci. Karena itulah saya menempatkan perdebatan di seputar ritual ziarah makam Ulakan sebagai “pergolakan kecil” yang tak perlu diperbesar. Semua tergantung iman dan niat masing-masing.

Saya lebih tertarik berbagi suasana makam melalui foto yang saya kirim via WA kepada seorang kawan yang suka ziarah. Ia tinggal di Buleleng, Bali, merintis sebuah pondok yang melibatkan anak-anak muda kampung. Kawan tersebut lalu meng-upload di akun facebook miliknya, dan Jumadil Alfi, perupa asal Lintau Buo yang bermastautin di Bantul, Yogyakarta, mengomentari,”Jauh berubah sekarang, ya.”

Ya, kompleks makam Syekh Burhanuddin jauh berubah, meski di kampung saya gema perubahannya justru melemah. Dulu, pada masa kanak dan remaja saya ingat betul bagaimana bersemangatnya Nenek saya (Al-Fathihah untuk beliau) bila menyebut nama Ulakan. Padahal kampung kami terletak lebih 200 km di selatan. Bukan hanya semangat menyebut, Nenek saya juga semangat untuk datang ke Ulakan menjalani ritual basapa.

Merujuk Oman Fathurahman (2008), basapa merupakan ziarah serentak dengan segala ritualnya, diadakan rutin setiap hari Rabu setelah tanggal 10 bulan Safar. Tujuannya memperingati wafatnya Syekh Burhanuddin, 10 Safar 1111 H/1691 M. Lebih dari itu, tradisi ini melebur batas kawula dan segala aliran. Maklum, yang hadir bukan hanya penganut Syattariyah melainkan masyarakat luas yang dikoordinir langsung oleh Pemkab Padang Pariaman. Di kalangan pengikut Tarekat Syattariyah sendiri, “pesauman agung” itu dijadikan momen membicarakan berbagai persoalan keagamaan. Itulah yang melandasi ikhtiar dua orang murid Syekh Burhanuddin, Syekh Kapalo Koto Pauh Kambar dan Syekh Tuanku Katapiang Tujuh Koto menetapkan “pakem” waktu ziarah: Rabu pasca 10 Safar.

Dalam basapa, peziarah akan berzikir sepanjang waktu, kadang diikuti tarian dan nyanyian (apakah yang dimaksud ratib tegak dan salawat dulang?), sehingga Hamka pernah menuding ritual di pusara mendiang sebagai praktek-praktek keagamaan aneh (Azra, 1994: 289). Mungkin itu tidaklah kelewat aneh, tak jauh beda dengan haul di makam-makam kyai Jawa atau sholawatan di makam-makam tuan guru Banjar.

Yang jelas, “pakem” dan tradisi ritual itu telah menggerakkan Nenek saya datang ke Ulakan bersama rombongannya mencarter kendaraan, dan sebagian berangkat dalam kelompok-kelompok kecil menumpang angkutan umum. Karena waktunya sudah ditentukan, maka sejak awal Nenek mengumpulkan uang beserta keperluan lainnya, saya bayangkan persis orang mau umroh atau naik haji.

Nenekku jelas pelakon Tarekat Syattariyah yang taat, dan orang-orang yang sesurau dengan beliau (Surau Ambacang Pasar Taratak) sering bilang bahwa Ulakan adalah Makkah kedua. Ibaratnya (ibaratnya lho ya!) jika tak bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ke Makkah, minimal ke Ulakan tujuh kali cukuplah. Tapi saya sendiri tak pernah mendengar ungkapan itu langsung dari Nenek. Sebagaimana kini saya tak pernah lagi mendengar nama Ulakan diucapkan orang kampungku setakjub waktu dulu.

Adakah mereka tahu bahwa makam itu sudah jauh berubah atau pertanda lenyapnya para pewaris tasawuf  “ortodoks” di kampungku?

Masjid lama Ulakan

Sekilas Syekh Burhanuddin

Syekh Burhanuddin atau Burhan Al-Din (1056-1104) yang kemudian dikenal sebagai Syekh atau Tuanku Ulakan merupakan ulama penyebar Islam di Minangkabau pada awal abad ke-17, utamanya melalui praktek Tarekat Syattariyah. Beliau berguru kepada seorang mujaddid terpenting di Nusantara sebagaimana disebut Azyumardi Azra dalam buku babon-nya, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII (1994).  Sang guru mujaddid itu adalah ‘Abd Al Ra’uf Al Sinkili (1024-1105 H), yang namanya merujuk kota kelahirannya sekaligus tempat ia berkubur: Singkil. Masih menurut Azra, Al Sinkili memiliki koneksi jaringan inti ke Haramayn melebihi Al-Raniri.

Singkil berada di pinggiran Kesultanan Aceh, tapi merupakan pusat Islam penting dan titik penghubung antara orang Melayu dengan muslim Asia Barat dan Asia Selatan. Letak Singkil, jika ditarik garis pantai dari Pariaman atau Ulakan, sejajar dengan sejumlah tempat penting lainnya di pantai barat Sumatera: Tiku, Air Bangis, Natal dan Barus di bagian utara; Bayang, Bandar Sepuluh dan Indrapura di bagian selatan.

Setelah berguru hampir 10 tahun kepada Al-Sinkili, Burhanudin kembali ke Pariaman dengan mendirikan sejenis ribat atau dayah, surau atau pesantren di Ulakan. Surau Ulakan segera menjadi pusat Islamisasi kuat di tengah masyarakat Minangkabau, melalui murid-murid sang syekh yang menyebar dari pesisir hingga darek dan rantau—seolah membenarkan pola sebuah bidal Minangkabau bahwa “syara’ mandaki, adat manurun”.

Artinya, orang Minangkabau meyakini bahwa agama berasal dari pesisir (dataran rendah) dibawa ke pedalaman (dataran tinggi, darek); sedangkan adat diturunkan dari darek ke pesisir dan rantau. Pertemuan keduanya itulah yang menguatkan konsepsi alam Minangkabau,”Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”.

Meskipun Burhanudin bukan penyebar Islam pertama di Minangkabau sebagaimana dinyatakan sejumlah pihak, tapi jelas ia berperan memperkuat Islamisasi di pantai barat. Ia dikenal penyebar Tarekat Syattariyah yang berhasil sebagaimana diinisiasi sang guru, Al-Sinkili. Meski begitu, Syattariyah yang berkembang di kawasan Melayu-Nusantara, menurut Azra bukanlah jenis yang awal seperti di India, atau yang berkembang di Arab, Turki, dan Iran. Al-Sinkili telah memperbaruinya sedemikian rupa. Kawan seperguruan Burhanuddin yang dianggap berhasil menyebarluaskan Tarekat Syatariah yang diperbaruhi itu di wilayahnya masing-masing, adalah ‘Abd Al Muhyi asal Pamijahan, Tasikmalaya dan Abd Al Malik atau Tok Pulau Manis di Trengganu. (Azra, 1995: 209).

Syattariyah (dan) Pembaharuan

Tarekat Syattariyah bersama Tarekat Qadariah dan Naqsabandiyah menyumbang pembaharuan kehidupan keagamaan di Minangkabau, meskipun menghadapi sejumlah pergolakan. Tapi pergolakan di kalangan Syattariyah lebih soft. Kesadaran untuk memperkuat praktek tasawuf dengan syariat—sebagaimana dasar yang dikembangkan Al Sinkili—misalnya, muncul di tengah mengendornya unsur syariat di Ulakan tapi tanpa mengencangkan urat saraf. Juga tak harus dengan embel-embel neo-sufisme.

Suryadi (2001: 195) mencatat bahwa praktek tasawuf di Ulakan sangat kompromistis pada adat. Akibatnya ada celah untuk diserang para pembaharu yang lebih progresif dan modernis. Golongan “saudara tua” mereka dari Tarekat Naqsabandiyah misalnya, menolak konsep Martabat Tujuh yang dianut kalangan Syattariyah.

Salah satu pembaharu adalah Tuanku Nan Tuo. Namun, sekeras-kerasnya Tuanku Nan Tuo, ia masih berperan jadi rem bagi pola pembaharuan yang keras lagi “revolusioner”. Sikap ini bisa saja dianggap merujuk Al Sinkili, Sang Guru Besar Tarekat Syattariyah Nusantara, yang disebut Azra memiliki suatu ciri yang mencolok: toleransi pribadinya sangat tinggi. Dalam kasus silang-pendapat tentang kekuasaan Sultanah (sultan perempuan) di Aceh, misalnya, Al-Sinkili tidak memberi penjelasan gamblang apakah perempuan boleh menjadi penguasa atau tidak. Di satu pihak, itu tidak memecahkan masalah secara layak, bahkan terkesan mengkompromikan integritas intelektualnya karena ia hidup dalam lindungan Sultanah, tapi di pihak lain, alih-alih itulah “toleransi” pribadinya, tulis Azra.

Sikap semacam ini, saya duga menitis ke Burhanuddin, yang mempunyai murid Tuanku Mansiangan, dan Tuanku Mansiangan “menitiskan” pula ke muridnya, Tuanku Nan Tuo. Tak ada yang meragukan sikap reformis Tuanku Nan Tuo—di mana suraunya sendiri, Surau Cangkiang, dianggap bertolak-belakang dengan Surau Ulakan. Tapi tak pelak tetap membuat rasa tak puas dari salah seorang muridnya, Tuanku Nan Renceh.

Nan Renceh ingin Tuanku Nan Tuo lebih keras lagi menghadapi praktek-praktek adat yang dianggap tak sesuai ajaran Islam. Kelak Renceh dapat kawan sepadan atas kepulangan tiga orang haji dari Makkah (Haji Miskin dkk) yang memuncak pada Gerakan Paderi. Awal abad ke-20 pergolakan muncul kembali setelah kepulangan empat orang haji (Haji Rasul cs), yang mempersempit ruang gerak tarekat Syattariyah. Itu pun memuncak pada perdebatan panjang “Kaum Muda” vs “Kaum Tua” sebagaimana dicatat Burhanuddin Daya dalam Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib (1990).

Pergesekan kaum Syattariyah dengan kaum adat di pantai barat tidak terlalu terasa, bahkan menurut catatan Suryadi, sebuah surau di Pariaman dinamakan “Surau Gelanggang” karena masih memberi ruang bagi tempat adu ayam. Tapi kita juga bisa menilai bahwa posisi “Surau Gelanggang” tidak persis seperti ditafsirkan Ajo Suryadi. Boleh jadi apa yang disebut “Surau Gelanggang” itu merupakan surau yang didirikan “di atas bekas” gelanggang adu ayam, bukan dalam pengertian,”selesai mengaji orang masih boleh mengadu ayam”.

Tugu Tabuik di Kota PariamanApapun, unsur adat memang mewarnai praktek keagamaan di Pariaman, karena itu pula kita melihat kompleks makam Syekh Burhanuddin kental bernuansa lokal Minang, termasuk membangun pasar dan mempertahankan pohon beringin besar. Namun demikian, pelan dan pasti ajaran-ajaran syekh dijamin oleh keilmuan yang mumpuni oleh penerus beliau, salah satunya Ungku Kali atau Syekh Lubuk Ipuh yang terbukti memiliki keluasan pengetahuan dalam sebuah perdebatan yang akan kita lihat sebentar lagi.

Gerbang Kota Pariaman

Syekh Ipuh vs Syekh Daud

Alkisah, sikap kompromistis, kata lain dari sinkretis, ala Syattariyah Ulakan, mendapat serangan telak dari Syekh Daud, seorang ulama putra Sunur. Sunur merupakan kampung di sebelah utara Ulakan, jadi dua kampung yang bertetangga dekat. Tapi Syekh Daud memilih berguru ke Surau Cangkiang di darek (Luhak Agam). Surau ini didirikan Tuanku Nan Tuo yang tadi kita singgung. Serangan Syekh Daud atas Ulakan menciptakan plot dan narasi menarik, dan saya pikir perlu dieksplorasi dalam sebuah karya sastra mutakhir, hmmm….

Konon, setelah lama berguru di Cangkiang, Syekh Daud pulang kampung ke Sunur. Ia segera membuka ruang “pergolakan” di jantung Ulakan, dengan menyerang praktek keberagamaan kaum Syattariyah. Selain menyerang ritual yang dianggap bid’ah, ia juga menilik kehidupan sosial jemaah. Ia misalnya menyerang Sutan Bandaharo, tokoh adat setempat yang punya istri lima orang.

Semua cerita dan perdebatan itu dicatat cukup lengkap oleh Suryadi, putra Sunur, yang kini sebagai staf pengajar di Leiden Universitet—karena itu ia kadang menulis namanya jadi Suryadi Sunuri. Catatan Suryadi tersebut saya temukan dalam sebuah kertas kerja “Yang Pergi dengan Dendam dan Kembali dengan Cerita: Sekilas tentang Latar Belakang Sejarah dan Isi Syair Makah dan Madinah” dalam buku Penelitian Naskah Nusantara dari Sudut Pandang Kebudayaan Nusantara (Masyarakat Pernaskahan Sumbar, 2001).

Untuk kebutuhan bagian ini, saya menukil semuanya dari Suryadi. Ia menceritakan bahwa Syekh Lubuk Ipuh, murid Burhanuddin, akhirnya mengajak Syekh Daud berdebat. Syekh Ipuh sudah tak tahan melihat orang-orangnya yang “berkiblat” ke Ulakan diserang Syekh Daud terus-menerus. Syekh Daud menerima tantangan itu. Perdebatan pun dilangsungkan di tengah gelanggang orang banyak.

Alhasil, perdebatan dimenangkan Syekh Ipuh. Syekh Daud merasa malu. Pamornya jatuh. Ia kemudian memutuskan pergi dari kampung halaman meninggalkan istri dan seorang anak perempuan yang disayanginya. Kekalahan positif itu membuatnya bukan hanya memperdalam ilmu agama, tapi juga belajar sastra, khususnya syair. Ia berkelana di beberapa pelabuhan transit Aceh untuk akhirnya pergi ke Makkah. Di jazirah Arabia selain berhaji, ia menulis “Syair Mekkah dan Madinah” yang segera populer di kalangan orang yang datang atau pulang dari tanah suci. Syair itu bahkan dikenal sebagai “Syair Rukun Haji”.

Setelah bertahun-tahun pergi, Syekh Daud pulang ke Pariaman untuk kembali berdakwah. Boleh jadi ia akan berhadapan lagi dengan Syekh Ipuh. Jika itu terjadi, tentu Syekh Ipuh akan mendapat lawan yang lebih sebanding, sebab orang yang dulu ia kalahkan sudah menambah ilmunya sampai ke Mekkah.

Tapi pergolakan di lapangan tak terjadi. Yang terjadi adalah pergolakan dalam diri Syekh Daud sendiri—tentu saja tak kalah besar—ketika mengetahui bekas “lawan beratnya”, Syekh Ipuh, telah menikahi anak perempuannya, Umi Salamah!

Syekh Daud merasa kecewa dan tak lama kemudian ia pun putar haluan. Ia berniat kembali ke Tanah Suci. Namun dalam perjalanan melalui pelabuhan transit Aceh, tepatnya di Trumon, sebuah kerajaan lokal dekat Singkil, ia jatuh sakit. Beruntung, setelah sembuh, ia diterima di istana Trumon. Syekh Daud menikah di situ, punya seorang putra, Syekh Muhammad Adam namanya, anak yang kelak punya hubungan baik dengan guru-guru tarekat di Minangkabau. Di Trumon pula Syekh Daud berhasil menggubah karyanya yang lain “Syair Sunur” yang antara lain berisi kerinduannya pada putri semata wayangnya yang ia tinggalkan di kampung. Syair ini sudah dialihbahasakan oleh Suryadi dan terbit dalam sebuah buku sekitar tahun 2000-an.

Syekh Daud meninggal di Singkil dan dimakamkan tak jauh dari kompleks makam Al-Singkili, guru Syekh Burhanuddin yang punya murid Syekh Ipuh, yang pernah dilawannya. Inilah takdir sejarah.

Daerah Sunur, kampung Syekh Daud

Aru Palaka, Kota dan Ziarah yang Berubah

Di luar pergolakan keagamaan, termasuk pergolakan batin seorang ulama plus “tukang syair”, pergolakan tak henti Pariaman tempat Ulakan dan Sunur berada, juga dalam bentuk politik dan peperangan. Maklumlah, Kota Pariaman merupakan bandar penting pengumpul rempah, budak dan kuda. Menurut Rusli Amran (1981), kalau Pariaman punya teluk atau muara sungai yang lebih menguntungkan, pastilah ia tak kalah, jika bukan lebih besar, dibanding Padang. Amran bahkan memuji Pariaman sebagai “kota cendekia”.

Kolonial Belanda, Inggris dan Kesultanan Aceh berebut menguasai Pariaman. Aceh kuat di sebuah kota agak ke utara, Tiku, namun sekali-dua merangsek juga ke Pariaman kota. Inggris membawa pasukan dari Kerala, India, yang meninggalkan tradisi Tabuik di Pariaman, atau Tabot di Bengkulu, sebagai ritual mengenang wafatnya cucu Baginda Nabi, Hussein, di Karbala. Sejauh ini tak ada yang mempersoalkan ritual itu “berbau” Syiah, sebab mungkin berhubungan dengan pariwisata bahkan identitas daerah (lihatlah Tugu Tabuik di perempatan Kota Pariaman).

Ada pun Belanda hilir-mudik di Pariaman setelah dapat dukungan para orang kaya, lalu mereka mulai menggergoti Pariaman dari dalam. Menilik kajian Elizabeth E. Graves (2007), boleh jadi itu salah satu strategi Belanda untuk menciptakan pusat orientasi baru orang Minangkabau, dengan membesarkan Padang di selatan dan (sengaja) meninggalkan kota lain seperti Indrapura, Painan dan Pariaman. Dengan begitu kaum elit Minangkabau modern cepat terbentuk, terlokalisir, dan mudah dikendalikan.

Tapi itu bukan tanpa resiko. Berkali-kali pertempuran pecah di Pariaman dan sekitarnya. Pertempuran paling diingat adalah ketika VOC mengirim pasukan dari Batavia. Komandannya Komisaris Verspreet. Ikut dalam pasukan itu 400-an “tentara” Bugis yang dikomando Aru Palaka dan 200-an “tentara” Ambon yang dikomando Kapten Jonker. Setelah sukses menggempur Pauh, Koto Tangah dan tempat-tempat “militan” lain di Kota Padang, tanggal 28 September 1666, Verspreet menggempur Pariaman. Maklum daerah ini termasuk juga basis “garis keras” tempat “kaum radikal” Padang bersembunyi. Ulakan diduduki pasukan Bugis dan Arung Palaka diberi gelar “Raja Ulakan”, sedangkan Kapten Jonker sukses menjadi “Panglima Pariaman” melalui perjanjian sepihak yang dipaksakan (Rusli Amran, 1981: 180).

Demikianlah Ulakan dan Pariaman, dulu dan kini. Jika dulu ia dikenal dalam selarik lagu indang “Pariaman tadanga langang” (Pariaman terdengar lengang)—mungkinkah efek dikalahkan Aru Palaka?—kini Pariaman menggeliat ramai. Sejak otonomi daerah diberlakukan, Pariaman naik status menjadi kota sendiri. Pada era Orde Baru, Pariaman pernah berstatus Kota Administratif, bersama Klaten, Batu dan Purwokerto. Kini Klaten, Batu dan Pariaman “sukses” jadi kota baru, Purwokerto tidak (sekadar membandingkan bahwa kota pantai di Sumatera ini “mengalahkan” sebuah kota di pusat Pulau Jawa!).

Tahun 90-an ketika masih berseragam putih abu-abu, sebagai koresponden Harian Semangat, Padang, saya pernah menyusup dalam rombongan atlet Kabupaten Pesisir Selatan yang berlaga di Pekan Olahraga Daerah (Porda), entah yang keberapa. Pariaman waktu itu jadi tuan rumahnya. Kesempatan tersebut saya gunakan menyusuri Pariaman (kota ketiga yang saya lihat setelah Painan dan Padang). Jalanan dan simpang-simpangnya masih sepi, meski saya akui lebih hidup dibanding kota kabupaten saya sendiri, Painan, di selatan. Pariaman juga selalu banyak mendapat liputan media, baik RRI Padang maupun koran-koran yang terbit di Padang, dan bagi saya selalu menarik perhatian. Misalnya tentang tokohnya yang visioner, Anas Malik, yang berhasil mentransformasikan spirit badoncek (menyumbang bersama) dalam membangun nagari.

Selain ritual basapa dan tabuik, Pariaman punya cerita lain yang bikin penasaran: kawin bajapuik. Sementara kesenian indang dan salawat dulang, tak usah lagi dibilang, sudah mendarah-daging. Sampai juga pada cime’eh (cemooh) tentang “jamban terpanjang di dunia”. Adapun kesenian rabab dan beruk (monyet terlatih pemetik kelapa) kabupaten saya juga punya. Rabab pasisie dan rabab piaman, satu rumpun kesenian tapi beda style. Hanya beruk di Kabupaten Pesisir Selatan mulai langka karena kurangnya peremajaan kelapa dan kelapa sawit merajalela; di Pariaman malah ada sekolah beruk!

Ya, Pariaman kini jauh berkembang. Kota tertata, bersih dengan trotoarisasi, Tugu Tabuik di perempatan dan papan iklan. Meski tak ada toko swalayan berjejaring besar, tapi toko sejenis ada di tiap sudut kota. Hanya namanya yang beda. Wisata Pariaman juga terbilang maju, didukung moda kereta api dari Padang (satu-satunya jalur kereta yang masih bersisa di Ranah Minang). Menariknya, seolah tak mau kalah dengan Ulakan, kota ini juga punya titik ziarah di Pulau Angso Duo. Itulah makam Syekh Katik Sangko, sahabat Syekh Burhanuddin. Pulau kecil ini hidup dalam pantun klasik Minang: Pulau Pandan jauh di tangah/ Di balik Pulau Angso Duo/ Hancur badan dikandung tanah/ Budi baik dikenang juo.

Sementara itu, Kabupaten Padang Pariaman, meski ditinggal Kepulauan Mentawai yang memisahkan diri jadi kabupaten sendiri, tapi rasanya tak mengurangi julukannya yang klasik itu, yakni  “Piaman laweh” (Pariaman luas)!

Sebelum ditutup, kita kembali ke Ulakan. Sebelum merantau ke Bali dan Jawa, setidaknya dua kali saya pernah “mampir” ke kompleks Makam Syekh Burhanuddin. Waktu itu kompleks makam masih kecil dan sederhana (saya juga belum mengenal istilah “ziarah” seperti di Jawa). Situasi saat saya “mampir” dulu dibanding berkunjung akhir November lalu (saat saya sudah mengenal kata “ziarah” ala Jawa) memang pas dengan ungkapan Alfi, ”Jauh berubah.”

Lalu apakah perubahan itu mempengaruhi makna “mampir” dan “ziarah” dalam diri saya? Semoga suatu saat nanti bisa saya jawab, mungkin lewat puisi, sebagaimana Syekh Daud menulis pergolakan batinnya dalam syair-syair rindu-dendamnya. Wallahu’allam bissawab.